Tagged: suangsih

Obituary 1: Suangsih (193? – August 22, 2016)

Kami biasa memanggilnya Wa Acih atau Bi Acih atau terkadang Wa Aceu. Ia adalah kakak lain ibu dari ibu kandungku. Walaupun berbeda ibu, hubungan wa Acih dan ibu kandungku sangat dekat dan wa Acih sangat menyayangi adik-adiknya. Sejak menikah, wa Acih memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Setidaknya dua minggu sekali, wa Acih selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kota Bandung menengok keluarga adik-adiknya.

Sejak dulu sampai terakhir bertemu beberapa bulan lalu, wa Acih adalah salah satu anggota keluarga terlucu dalam keluarga besar kami. Kemampuan dan staminanya dalam membanyol, terutama dalam Bahasa Sunda, sulit ditandingi oleh anggota-anggota keluarga lain. Inilah yang membuat wa Acih sering dirindukan, terutama ketika beberapa tahun terakhir wa Acih didera diabetes dan tidak bisa lagi terlampau lincah bepergian ke kota Bandung.

Kabar kepergian wa Acih saya peroleh dari sepupu saya lewat grup WhatsApp keluarga sepulang kuliah hari pertama di semester pertama saya di University of Kansas, Amerika Serikat. Sungguh malam itu adalah malam yang hampa, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa seorang diri selepas sholat Isya yang terlampau malam. Tidak ada kesempatan untuk berkunjung, mengantar ke pembaringan terakhir, dan berdoa bersama sambil berbela sungkawa dan menghibur anggota-anggota keluarga yang ditinggalkan.

Saya sempat banyak melamun di hari berikutnya dan sedikit kurang focus belajar di hari kedua kuliah. Akan tetapi, keesokan harinya saya teringat salah satu banyolan terlucu Wa Acih, yang sulit untuk diceritakan kembali di sini karena alih kode yang sulit dijelaskan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sunda. Saya pun tertawa-tawa sendiri sepulangnya ke apartemen dan bisa mengenang Wa Acih pada saat terlucunya. Dalam ketiadaan pun ia tetap lucu, dan saya yakin Wa Acih akan tertawa-tawa bahagia sesampainya nun di sana. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

It is unfortunate that I should begin my updates on my first month in Lawrence with the sad news of the passing of my aunt. We usually called her Wa Acih or Bi Acih (lit. Aunty Acih) or less commonly, Wa Aceu. She was my mother’s half-sister from my grandfather’s previous marriage. Despite coming from a different mother, she loved her half-sisters very dearly. Since getting married in the early 1970s, Wa Acih decided to live in Majalaya, a suburban district of Bandung regency. At least once a month, Wa Acih went to Bandung city to visit the families of her sisters.

At least until several months ago, when I met her for the last time, she was one of the funniest family members in our extended family. Her ability and stamina to create jokes, especially in Sundanese, is hard to be matched by other relatives. This is what my relatives missed the most about Wa Acih, especially since in the past couple of years, she could not visit Bandung city at will due to diabetes.

The news of Wa Acih’s passing was relayed by a cousin through the family WhatsApp group, in the evening of the first day of class in my first semester at the University of Kansas. The night suddenly turned hollow, nothing else to do except for praying alone after the Isya prayer late at night. There was no opportunity to visit the internment and pray together in a congregation while expressing condolences and consoling the surviving family members.

I spent the following day pensively and even became less focused on the second day of class. The next day, however, I suddenly remembered one of Wa Acih’s funniest jokes, which is difficult to tell here because it involves code switching from Indonesian to Sundanese. I laughed all by myself once I got to my apartment and I was glad I could remember Wa Acih at her funniest. Even in her absence, she remains funny, and I am sure she will laugh happily once she gets up there. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.