Tagged: review

Bee Gees 1st at its 50th

Bee Gees 1st was released fifty years ago yesterday. Contrary to its own title, it was not the Bee Gees’ first long-play or full-length release. It was titled and marketed as such to mark the then-quintet’s (the three brothers and two other unrelated musicians) first foray into the international music market, following their considerable success in the brothers’ adopted homeland Australia with a string of singles and a couple of long-plays.

bee_gees27_1st

As an album released in both the US and the UK in 1967, it was facing stiff creative competition from many great albums also released in the same year (just look at Robert Christgau’s list of influential 1967 albums (https://www.robertchristgau.com/xg/rs/albums1967-07.php); How dare he missed July and not included 1st?), including that little album called Sgt. Pepper and the Lonely Hearts Club Band just released in the preceding month of June. However, the singles persevered and the Bee Gees went on to become pop sensations themselves as the hits kept coming.

1st also marked the Bee Gees’ first taste at international pop stardom, with the singles taken off the album charting highly in many places, including the now-classic “Holiday”, “New York Mining Disaster 1941”, “To Love Somebody”, and “I Can’t See Nobody”. The longevity of these singles and the brothers’ subsequent chart success have somewhat overshadowed the excellence of the rest of the album, which showcases that the brothers were an energetically psychedelic songwriting powerhouse.

1st is certainly not a very unified and conceptual effort compared to the likes of Sgt. Pepper and the Moody Blues’s Days of Future Passed, but it is a journey through the many creative possibilities that the brothers explored throughout the album. The album opens with “Turn of the Century”, a note on the fascination of the late Victorian era accompanied with a clever orchestration and studio production that imparts an old record sound; Robin Gibb’s trembling voice only strengthens this image. The bleak and haunting yet beautiful melody of “Holiday” soon follows. Just after “Holiday” ends with a cold “dee dee dee dee dee”, a loud drum fill suddenly segues into “Red Chair Fade Away” , a short psychedelic trip, with odd time signatures and far out lyrics. “One Minute Woman” is a sappy ballad that shouldn’t have had any place in the album, but somehow it just works thanks to Barry Gibb’s excellent delivery. This is again contrasted with the following “In My Own Time” which hails back to the garage-y sound they explored in Australia combined with a certain strain of Revolver/Rubber Soul Beatlesque influence. Bringing the contrast game even further, the album continues with the eerie “Every Christian Lion-hearted Man Will Show You” which opens with a haunting Mellotron intro and Barry Gibb singing in Latin in a very low register, resembling a Gregorian chant, which is then broken off by guitar strumming and a clever three-part harmony melody. Up to this point, it is evident that the brothers (particularly Barry and Robin) excelled at any kind of form they experimented in, had two magnificent singers in Barry and Robin (whose unique voice is further explored in “Craise Finton Kirk Royal Academy of Arts”, a Kinks-ish tune), and had a strong three-part harmony (with Maurice giving the ample low end to the two singers) which would soon become their trademark characteristic.

“New York Mining Disaster 1941” continues the bleak but beautiful approach of “Holiday”, and adds an interesting narrative quality through its lyrics of a monologue of a person trapped in a mine shaft, inspired by actual mining disasters. At this point, it can also be concluded that Barry and Robin are lyricists who took very interesting, rather unusual points of view in their often narrative lyrics, which was also evident in the following “Cucumber Castle”, a rather puzzling story of a person and his attachment to his property, accompanied by a dramatic orchestration. “To Love Somebody” and “I Can’t See Nobody” prove that the then-current proto-psychedelic wave wasn’t the Bee Gees’ only influence. These were certainly influenced by that decade’s soul music and R&B, particularly Motown; it is interesting to hear that the former song showcases Barry at his most soulful, while the latter portrays Robin in a very similar light. Between these two is “I Close My Eyes” a very catchy and enjoyable psychedelic romp. “Please Read Me” follows the same vein as “Red Chair” but with the vocal harmony sustained throughout the song. The album ends with the excellent “Close Another Door” which starts out with Robin’s lamenting voice which suddenly burst into a rocking middle, and ends tastefully in orchestration and Robin’s majestic ad-libbed cadenza.

1st is a truly swirling journey from start to end. It is an album I would definitely recommend to people starting to get interested in psychedelic music, people who appreciate crafty songwriting and harmony singing, and even casual Bee Gees listeners who want to find out more than the brothers’ usual One Night Only set. It is also an album from 1967 I would definitely recommend among many other great albums released in that very crowded year in popular music in English.

Berburu CD Musik di Lawrence (bagian 1)

Satu hal yang dulu saya impikan untuk dilakukan di Amerika Serikat dan sekarang sering saya lakukan adalah adalah thrift shopping, berburu barang-barang bekas (dan terkadang baru) dengan harga sangat miring di berbagai tempat. Di Lawrence, Kansas tempat saya tinggal, terdapat beberapa thrift stores, toko-toko yang khusus menjual barang-barang sumbangan dengan harga miring, misalnya jaringan nasional seperti Goodwill dan Salvation Army serta pula toko-toko lokal seperti St. John’s Rummage Shop dan Social Service League. Sebagian hasil penjualan barang-barang ini umumnya disumbangkan untuk program-program kemanusiaan seperti pengentasan kemiskinan dan pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Akan tetapi, thrifting tidak hanya berhenti di thrift stores saja. Ada banyak kesempatan untuk berburu barang-barang murah dengan harga sangat miring di tempat-tempat lain, semisal di garage sale yang bisa jadi diadakan oleh perorangan atau komunitas pada akhir pekan. Garage sale jadi semacam kegiatan akhir pekan favorit bagi kami, berkunjung ke garasi tetangga yang menjual sebagian barang yang sudah tidak digunakannya lagi dengan harga sangat murah dan terkadang bisa ditawar.

Bisnis ritel di Amerika Serikat saat ini melesu dan thrifting menjalar ke toko-toko yang akan bangkrut. Toko-toko yang akan tutup ini umumnya melakukan liquidation sale, menjual semua aset dengan harga sangat miring. Salah satu jaringan department store yang sudah bangkrut di Lawrence adalah Hastings, yang sempat saya kunjungi pada bulan Oktober lalu sebelum tutup selamanya pada bulan November. Yang akan tutup berikutnya sepertinya adalah jaringan toko pakaian JC Penney, yang saat ini sedang melakukan liquidation sale.

Saya berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan thrifting ini dengan mengoleksi musik dalam format CD. Mengapa CD? Tentunya karena CD lebih mudah ditemui di Amerika Serikat daripada kaset, yang banyak saya koleksi di Indonesia. Harga CD di thrift stores pun lebih bersahabat, umumnya berkisar hanya dari 50 sen hingga 2 dolar saja per CD, dan di garage sale bisa jadi malah lebih murah, bahkan untuk album yang bisa dibilang langka, setidaknya langka bagi saya yang tidak pernah menemukan album tersebut di Indonesia. Sebagai pendengar musik rock klasik, tujuan utama saya dalam berburu CD adalah album-album yang rock 60an dan 70an yang kerap dianggap klasik, tetapi saya pun terkadang juga membeli album-album yang menurut saya menarik atau punya nilai emosional dan nostalgik.

Saya pertama kali berburu CD di Hastings, toko yang saya sebut di atas, sekitar sebulan sebelum toko itu tutup. Seluruh koleksi CD diobral dengan harga mulai dari 80 sen saja. Berikut ini adalah beberapa CD yang saya peroleh di Hastings, selain juga beberapa DVD, buku komik, dan pakaian.

Blood, Sweat and Tears – Child Is Father to the Man (1968, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142159_HDR

Album ini adalah salah satu album yang telah lama masuk ke dalam daftar album yang paling ingin saya miliki, dan saya menemukannya di Hastings dengan harga hanya sedolar saja! Ini adalah album pertama Blood, Sweat and Tears, band yang didirikan oleh Al Kooper yang awalnya populer karena suara organ yang ikonik di single elektrik pertama Bob Dylan, “Like a Rolling Stone”, padahal Al Kooper sendiri awalnya adalah seorang gitaris. Di Indonesia, Blood, Sweat and Tears dikenal pertama kali lewat lagu “I Love You More Than You’ll Ever Know” yang bluesy, single pertama dari album ini. Akan tetapi, album ini lebih dari sekadar blues dan suara organ Hammond. Ini mungkin adalah salah satu album rock paling eksploratif dengan sentuhan orkestra, blues, jazz, aroma psikedelik yang kental, dan seksi tiup yang integral (sebelum Chicago datang setahun kemudian). Ini adalah album yang unik dan mungkin terbaik dalam sejarah Blood, Sweat and Tears, karena setelah ini Al Kooper memilih mundur dari band yang didirikannya dan Blood, Sweat and Tears memilih jalur yang lebih komersial tetapi tidak pernah seinovatif ini.

King Crimson – In the Court of the Crimson King: An Observation by King Crimson 40th Anniversary Edition (1969, versi rilis CD 2009)

IMG_20170607_142133_HDR

Ia teriak karena disimpan di atas sprei polkadot.

IMG_20170607_142359_HDR

CD 2 dengan foto masing-masing personel di sebelah kanan

IMG_20170607_142430_HDR

CD 1 dengan lanjutan lukisan sampul depan di sebelah kiri

Ketika saya melihat album ini di rak Hastings, saya hampir berteriak, seperti lukisan Barry Godber yang menjadi sampul album ini. In the Court of the Crimson King edisi khusus 40 tahun, 2 CD, baru hanya seharga $1.78 pula! Ini adalah album yang cukup sulit didapat di Indonesia, yang ketika tersedia pun umumnya harganya cukup mahal. Bagi para pendengar rock progresif, ini adalah salah satu album pelopor dalam eksplorasi progresif. Ini adalah album yang tetap segar dan menua dengan sangat baik; putar “21st Century Schizoid Man” dan sulit untuk tidak mengira bahwa Tool, Porcupine Tree, dan Mars Volta terpengaruh oleh band ini. Hasil remix stereo Steven Wilson (ya, Steven Wilson dari Porcupine Tree) di edisi ini membuat album ini terdengar lebih segar dan detil. Bagi yang menginginkan pengalaman yang lebih dekat dengan versi tahun 1969, CD 2 berisi edisi master orisinil yang pernah dirilis sebelumnya pada tahun 2004.

Kula Shaker – K (1996, edisi CD pertama)

IMG_20170607_142103_HDR

K adalah album yang saya dengar dalam berbagai fase hidup saya sejak saya masih SMP (walaupun pada waktu itu saya masih belum bisa menikmati album ini sepenuhnya) lewat kaset pinjaman dari seorang teman sekelas, tetapi ini juga album yang tidak pernah saya punya dalam format apapun sampai saat ini. Ini adalah album yang masih saya nikmati sampai sekarang, terutama sejak saya membeli CD ini bulan Oktober lalu. Secara musikal, ini adalah rock Inggris (atau Britpop, terserah deh) psikedelik yang sangat bagus dan secara personal, ini adalah album yang penuh nostalgia.

New Kids on the Block – Step by Step (1990, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142229_HDR

“I really think it’s just a matter of tiiiiimeee… Step by step, ooh baby, you’re always on my mind.”

Akhir tahun 1990 bagi saya adalah serial animasi New Kids on the Block di TPI pada Minggu pagi dan video klip “Step by Step” dan “Tonight” di malam hari. Di antara dua tayangan tersebut, saya biasa menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman yang kerap berbaju gombrong ala Danny Wood atau Jordan Knight atau bertopi hitam seperti Donnie Wahlberg. Album pertama yang orang tua saya belikan khusus untuk saya adalah album Step by Step dalam format kaset. Walaupun kegemaran saya akan NKOTB tidak berlanjut hingga saya remaja, Step by Step menurut saya masih salah satu album pop terbaik pada masanya dan album boyband terbaik dari segi musik. Ketika saya menemukan album ini dalam format CD di Hastings, tentunya tidak ada pilihan lain selain membelinya (lagipula harganya hanya sedolar)!

Sampai jumpa di artikel berburu CD musik berikutnya dengan CD-CD yang saya temukan di thrift stores!

 

 

 

Gotye – Making Mirrors: Memandangi Cermin-cermin, Mencerna Ragam

Artis:                     Gotye

Label:                    Sample ‘n’ Seconds Records, Universal Island Records

Produser:            Wally de Becker

Tahun:                  2012

Rekomendasi:    Eyes Wide Open, State of the Art, Smoke and Mirrors

Percaya atau tidak, saya mendengarkan lagu Gotye (dibaca seperti membaca nama Perancis “Gaultier”) “Somebody That I Used To Know” untuk kali pertama di radio di dalam sebuah angkutan kota yang lumayan lowong, sehingga lagu ini terdengar jelas dan lantang. Lagu ini sudah terkenal selama lebih kurang dua bulan pada waktu saya mendengarkannya pertama kali. Tentu saja pada awalnya saya tidak mengenali lagu ini. Intro dan bagian verse-nya justru mengingatkan saya pada lagu-lagu Peter Gabriel pada masa album 3 dan 4 (Security) antara tahun 1980-1982. Ketika sampai pada refrain, barulah saya mengenali lagu ini sebagai lagu yang pada waktu itu sedang banyak dibicarakan dan dinyanyikan kembali oleh banyak orang, tapi tak ayal bagian refrain ini pun mengingatkan saya pada cara Peter Gabriel umumnya mengawali refrain pada lagu-lagunya. Sesi pertama mendengarkan di angkot ini membuat saya penasaran.

Sepertinya saya tidak perlu bercerita lagi mengenai bagaimana “Somebody That I Used To Know” menjadi “modern and instant classic” dan bagaimana Gotye menjadi selebritas YouTube. Saya justru tidak terlena untuk menyaksikan puluhan, mungkin ratusan, versi lain dari “Somebody That I Used To Know” yang bertebaran di YouTube. Saya justru mencari lagu Gotye lain dan mendapati “Eyes Wide Open,” single pendahulu “Somebody That I Used To Know” yang tidak setenar penerusnya. Pada awalnya saya mengharapkan lagu-lagu yang senafas dengan “Somebody That I Used To Know,” tetapi ketika mendengar “Eyes Wide Open,” ternyata Gotye menyuguhkan sesuatu yang berbeda: video yang canggih (tidak seperti video “Somebody That I Used To Know” yang minimalistik) dan tempo cepat dengan irama serta melodi yang terdengar seperti lagu pop 80an tetapi juga pada saat yang sama mengingatkan pada Keane (!).

Pamer CD-nya ah… Biar keliatan beli, bukan ngunduh.

Ketika akhirnya saya memutuskan membeli album Making Mirrors, yang saya harapkan adalah menemukan keragaman yang mengisi kutub antara “Somebody That I Used To Know” dan “Eyes Wide Open.” Saya sebenarnya cukup senang karena keragaman itu saya temukan ketika pertama kali mendengarkan CD Making Mirrors. Hanya saja, seperti yang banyak dikatakan ulasan-ulasan sebelumnya, album ini memang kekurangan fokus. Sepertinya, Gotye lebih tertarik untuk bereksperimen di setiap lagu daripada mengikuti sebuah konsep yang ajeg. Alhasil, lagu-lagu dalam album ini beragam, walaupun hampir seluruhnya menunjukkan eksperimentasi bebunyian yang dikumpulkan oleh Gotye, baik yang ia mainkan sendiri, berasal dari sample, dan bahkan berasal dari instrumen yang tidak konvensional seperti Winton Musical Fence, pagar sungguhan yang disetem sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk bermain musik.

Album dibuka dengan senandung “Making Mirrors” yang minimalis dan singkat (hanya semenit), dilanjutkan dengan “Easy Way Out” yang menohok dan lumayan berenergi. Lagu ini langsung segue (bahasa Indonesianya apa ya) ke “Somebody That I Used To Know” yang menampilkan Kimbra dengan porsi yang sangat pas. Setelah itu ada “Eyes Wide Open” yang sejauh ini merupakan lagu favorit saya dari album ini. Lagu-lagu lain cukup menarik, walaupun arahnya agak sedikit sulit ditentukan. “Smoke and Mirrors” rif Wurlitzer-nya cukup nyangkut dan agak terasa seperti Pink Floyd tahun 80an, tapi “In Your Light” terlalu terdengar seperti musik pop hari ini. “Save Me” terdengar, sekali lagi, seperti Keane (dengan energi dan struktur lagu yang mirip) tapi dengan vokalis yang register suaranya lebih tinggi. Sementara itu, “Bronte” justru ngelangut, dengan suara Gotye yang lamat-lamat. Lagu “I Feel Better” malah menghentak seperti single-single upbeat Motown, walaupun upaya untuk mereplikasi gaya rekayasa dan produksi Motown yang riuh agak meleset, sehingga pada beberapa titik (terutama pada rif brass section) lagu ini terdengar terlalu bising dan beresiko memekakkan telinga apabila didengar dengan volume tinggi.

Banyak yang mengeluhkan “State of the Art” sebagai lagu yang paling tidak berterima dan bahkan lagu terburuk di dalam album ini. Lagu ini memang cukup aneh mengingat di 11 lagu lain, Gotye menjelajahi jangkauan vokal yang luas dengan suara yang menurut saya cukup memincut. Akan tetapi, di lagu ini ia menutupi suaranya dengan berlapis-lapis efek vokal autotune dan vocoder yang ditingkahi irama reggae elektronik ala tahun 80an. Akan tetapi, menurut saya di lagu ini justru Gotye tidak ingin suaranya dianggap terlalu serius. Dengan lirik yang bercerita tentang kemajuan teknologi digital dalam musik (The marriage of music to computers is quite natural), saya menengarai adanya sindiran dan ironi yang disengaja di lagu ini, yang sebenarnya menurut saya cukup brilian: Gotye menyindir kemajuan teknologi digital dalam musik tetapi dia sendiri menggunakannya dengan sadar, bahkan seluruh alat musik dan teknologi yang ia sebutkan di dalam lirik, semuanya digunakan dalam proses perekaman lagu ini(!)! Gila.

Album ini cocok sekali untuk mereka yang mengharapkan gabungan karya-karya yang eklektik yang semuanya berasal dari pikiran seorang Wouter “Wally” De Becker, nama asli Gotye, yang menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang penyanyi, tetapi juga penulis lagu yang versatile, penata musik, dan musisi multi-instrumentalis. Album ini seolah berisi cermin-cermin yang merefleksikan citra Gotye yang berbeda-beda, yang diwakili oleh lagu-lagu yang beragam dengan corak eksperimentasi yang beragam pula. Menarik untuk ditunggu pada cermin (-cermin) manakah Gotye akan berkaca pada album berikutnya. YA!

D-2/7 09152012