Tagged: ports of lima

Perbincangan Singkat dengan Ade Firza Paloh dari SORE zeBAND

Ditulis sehari setelah saya berkesempatan untuk berbincang dengan Ade Firza Paloh

SORE datang kembali ke Bandung pada 17 Januari 2009 dalam rangka sebuah showcase untuk mempromosikan film Pintu Terlarang yang disutradarai oleh Joko Anwar. Showcase diselenggarakan di Blitz Megaplex, bioskop non-21 terbesar di Bandung, dan akan dilanjutkan dengan penjualan tiket dan merchandise Pintu Terlarang oleh para pemeran, yang terdiri atas Fachry Albar, Marsha Timothy, dan Ario Bayu, serta pemutaran dini film Pintu Terlarang. Saya datang untuk SORE, tentu saja, bukan untuk Pintu Terlarang, walaupun saya tertarik pada kontribusi SORE untuk soundtrack Pintu Terlarang. Saya datang bersama adik saya, Tyar dan serombongan sahabatnya. Datang juga Iqbal, sahabat saya yang juga kampiun SORE. SORE hanya bermain selama 20 menit dengan empat lagu dari pukul 21.10 hingga 21.30, benar-benar sebuah showcase. Sekali lagi, Awan berhalangan sehingga posisinya digantikan. Bemby hanya diberi sebuah snare drum yang digunakannya secara maksimal seperti bayi sehat sedang keasyikan dengan mainan barunya (I couldn’t find better words, sorry). Dono Firman pada synthesizer berhasil mengisi kekosongan instrumen-instrumen yang tidak mungkin ditampilkan pada malam itu. Penampilan SORE sebenarnya prima, tetapi dikacaukan oleh timbul tenggelamnya keluaran suara Ade. Selesai membawakan dua lagu, ‘Daisy Bird’ dan ‘Lullaby’, yang menjadi kontribusi mereka pada soundtrack Pintu Terlarang, SORE melengkapi showcase dengan dua single mereka dari Ports of Lima, ‘Merintih Perih’ dan ‘Setengah Lima’.

Merintih Perih

Selepas penampilan SORE, saya dan Iqbal tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto bersama SORE. Saya meminta izin terlebih dahulu kepada Unni, manajer SORE, karena takut mengganggu privasi para personel SORE. Ternyata di dekat pintu keluar, sudah cukup banyak orang yang berfoto bersama personel SORE. Saya bergantian bersama Iqbal untuk berfoto bersama SORE, hanya saja Mondo memang tidak kelihatan. Sepertinya ia memang tidak suka difoto (haha!). Setelah beberapa frame, ada dua orang ibu-ibu yang ingin berfoto bersama SORE, seakan memanfaatkan kesempatan, mumpung ada artis. Kedua ibu ini memanggil Ade, Echa, Dono, dan Bemby dengan sebutan ‘Om.’ Ya ampun, memang seberapa tua sih mereka? Kamera digital saya yang sudah uzur menghasilkan lebih banyak gambar kabur, tetapi lumayan lah, daripada tidak sama sekali. Penjualan tiket dan merchandise pun dimulai dan para personel SORE terpencar. Ade, Dono, dan Mondo memilih berdiri di luar dekat kafe outdoor dan tempat parkir karena membutuhkan ruang untuk merokok. Iqbal, yang juga mulutnya sudah terasa asam karena ingin merokok, meninggalkan mal sebentar untuk membeli rokok di luar. Saya menunggunya di dekat tempat para personel SORE berdiri.

Kebetulan saya berdiri tidak jauh dari Ade Firza Paloh. Saya tersenyum dan mengajaknya bersalaman dan kami berkenalan, saya memberitahu Ade bahwa saya sudah ada di daftar teman di account Facebooknya. Saya mencoba mengajaknya berbincang karena sebenarnya saya punya banyak sekali pertanyaan yang berhubungan dengan musik SORE dan menurut saya tidak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang, sesingkat apapun akan saya manfaatkan. Ternyata Ade sangat rendah hati dan cepat akrab, terutama ketika kami berbincang tentang musik SORE dan musik yang mempengaruhi SORE. Kami berbincang selama hampir dua puluh menit, mengobrol ngalor-ngidul (atau ngetan-ngulon?). Saya memanggilnya Bang Ade. Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah proses perekaman lagu-lagu SORE secara umum. Simpulan saya, SORE bekerja dengan cara yang cukup gila dan perfeksionis. Satu lagu membutuhkan sekitar enam shift rekaman (satu shift = enam jam) hingga mencapai kesempurnaan. Dengan hitungan yang asal saja, maka proses perekaman Ports of Lima membutuhkan waktu (kalo bener) sekitar 117 hari! SORE memanfaatkan teknologi multitracking digital untuk merekam 58 hingga 60 track untuk satu lagu. Yang dibikin pusing untuk menyatukan seluruh track ini tentu saja adalah Dono Firman, yang kebetulan waktu itu ada di depan saya tapi sedang asyik mengobrol dengan orang lain. Sudah terbayang di benak saya kerja berat Dono pada proses akhir perekaman album SORE. Saya juga menanyakan apakah ada kemungkinan bagi SORE untuk merekam menggunakan teknologi analog, seperti, saya beri contoh gila, Guruh Gipsy yang untuk mengisi track gitar saja melakukan take sampai 200 kali. Bang Ade bilang, “nah, itu gila.” Yang jelas, teknologi analog memang sekarang jadi barang dan mahal dan tidak praktis, perangkat rekamnya sudah sangat sulit untuk didapatkan, walaupun Bang Ade mengakui bahwa merekam dengan teknologi analog akan lebih memuaskan, terutama dalam keluaran suara.  Kami juga berbicara tentang rilisan SORE berikutnya, yakni sebuah EP yang akan beredar pada bulan April 2009 dengan kecenderungan musik baru yang akan menjadi jembatan menuju album ketiga SORE. Menurut Bang Ade, EP SORE nanti akan diperkaya oleh pengaruh shoegaze dan atmosfir musik yang lebih spacey, seperti scene shoegaze Kanada. Selanjutnya saya tidak ingin bertanya lebih jauh mengenai EP baru ini, supaya EP ini tetap menjadi kejutan, setidaknya bagi saya.

Bang Ade bertanya apakah saya orang Bandung asli. Saya jawab saja, saya memang orang Bandung asli karena saya lahir di Bandung. Bang Ade bertanya karena ia sering bertemu orang Bandung yang bukan asli Bandung, entah dari Jakarta atau dari tempat lain. Saya bercerita saya pernah bekerja (sangat) sebentar di Jakarta dan pernah bekerja setahun di Bekasi, tetapi tidak kerasan dan akhirnya kembali ke Bandung. “Gila aja lu, Bekasi lebih gila lagi,” begitu kata Bang Ade. Kami membicarakan tentang usia masing-masing. Usia saya menjelang 26, sementara Bang Ade sudah 32 tahun. Bang Ade rupanya memendam keinginan untuk meninggalkan Jakarta (yang katanya sudah tidak layak ditinggali lagi) dan pindah ke Bogor, kota impiannya, seperti yang dituliskannya dalam lagu ‘Bogor Biru.’ “Kalo udah ada lagunya berarti bakal pindah, dong?” saya bertanya pada Bang Ade. “Haha,kalo gitu ada lagu Vrijeman, saya juga bisa jadi preman, dong?” jawabnya. Wah, kalau premannya Bang Ade saya nggak takut. Pembicaraan soal lagu beralih ke ‘Senyum dari Selatan’, lagu favorit saya di album Ports of Lima. Saya mudah terbius oleh lagu pop yang menggunakan suara pipa yang dipukul, seperti vibraphone, xylophone, marimba, atau kolintang. Mungkin suara vibraphone yang lamat-lamat di ‘Senyum dari Selatan’ itu juga yang memikat saya. Ternyata suara vibraphone itu berasal dari vibraphone sungguhan yang sudah tua, yang dimainkan oleh Bang Ade sendiri. Vibraphone tua itu motornya sudah rusak. Motor ini fungsinya untuk menggetarkan nada yang dihasilkan (itulah mengapa namanya vibraphone, vibra = getaran) dan biasanya dikendalikan oleh pedal kaki. Dalam kasus ‘Senyum dari Selatan’, Mondo terpaksa harus memutar motor vibraphone itu secara manual ketika Bang Ade memainkannya! Nah, itu gila juga! Saya setuju dengan Bang Ade bahwa lagu ini berhasil menggambarkan suasana hopelessness dan sepertinya semua laki-laki pernah mengalaminya, mengalami cinta yang tak berbalas atau putus di tengah jalan (pasti pernah, kalo nggak pasti bo’ong kan? Gitu kata Bang Ade). Jadi sebenarnya, lagu ini ditujukan untuk … (sensor, menunggu izin dari Bang Ade. Go figure!). Tapi, hidup harus terus berjalan… Bagian yang paling disukai Bang Ade dari lagu ini, yang menurut dia paling menyentuh adalah bagian string terakhir yang dihiasi alunan suara Tika, yang bisa membuatnya tersentuh dan menangis. Ternyata seorang Ade Firza Paloh sangat sensitif dan mudah sekali tersentuh!

Bang Ade kemudian bertanya apakah saya suka Efek Rumah Kaca. Saya jawab dengan jujur bahwa saya suka dan saya baru beli album keduanya, Kamar Gelap (sebenarnya adik saya yang beli, tapi di rumah jadi milik bersama). Oya, Efek Rumah Kaca dan Bang Ade berkolaborasi pada lagu Jangan Bakar Buku di album Kamar Gelap. Dia merekomendasikan beberapa lagu di album Kamar Gelap, salah satunya adalah lagu Kamar Gelap sendiri. Bang Ade juga memuji Cholil (vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca) sebagai orang paling jujur dan konsisten dalam musik saat ini, yang juga dibuktikannya bukan hanya dengan ‘ngomong doang’ tapi juga dengan aksi nyata. ‘Debu-debu Beterbangan’ adalah salah satu lagu Efek Rumah Kaca kesukaan Bang Ade karena lagu tersebut sangat jujur, menyentuh, dan religius. “Nah, bait pertamanya itu, yang dimulai dengan “Demi masa, sungguh kita tersesat…”, nah itu kan “Wal ashri, innal insaana la fii khusrin,” begitu kira-kira penuturan Bang Ade yang menangis ketika Cholil menyanyikan lagu ini ketika mereka manggung bersama di Jakarta. Lagu religius ini memang tidak seperti lagu-lagu pop religius lain yang ditujukan hanya untuk jualan, memanfaatkan momen seperti bulan Ramadhan. Selanjutnya, Bang Ade juga mengakui bahwa gaya menulisnya sangat berbeda dengan Cholil yang cenderung langsung dan lugas. “Saya harus ke sana ke sini dulu kalau nulis,” katanya, seperti yang pernah diungkapkannya di majalah Rolling Stone Indonesia. Lirik-lirik SORE pun akan tetap melanjutkan spirit yang sama, yang telah dibangun pada album Centralismo dan Ports of Lima, melanjutkan spirit The Beatles menyampaikan cinta yang nyata, yang real. Bang Ade meminta saya menyimak lagu baru SORE berjudul The Hitman, yang akan dirilis dalam sebuah kompilasi, untuk melihat jembatan perkembangan musik dan lirik SORE ke arah yang baru tetapi tidak jauh berbeda dengan yang telah dirilis sebelumnya.

Setelah merilis EP pada bulan April, album SORE yang ketiga sepertinya masih akan lama berselang. Bang Ade, dengan setengah bercanda, berharap bisa merekam double album, tetapi semuanya bergantung pada waktu yang tersedia. Saat ini Bang Ade mengurusi perusahaan pertambangan yang merupakan perusahaan keluarganya. Selanjutnya kami berbicara tentang sesuatu yang lebih serius, tentang romantisisme. Saya mengakui bahwa romantisisme tidak akan pernah mati dan akan terus menerus diredefinisi. Sebagai seorang pengajar Sastra Inggris, saya kerap membicarakan tentang gerakan musik New Romantics pada tahun 1980an dan di Indonesia saat ini, pelanggeng romantisisme itu adalah SORE, dengan cara yang positif dan simpatik, yang menurut saya perlu menjadi tonggak sejarah musik Indonesia sebelum musik Indonesia menuju arah yang baru dan tak terduga. Menurut Bang Ade, inti musik SORE itu sebenarnya adalah celebration of life, perayaan dan penikmatan hidup (dan tentunya ini pun adalah salah satu tema romantisisme). “Lu gak perlu nyimeng kalo pengen nikmatin hidup, pengen dapetin esensi hidup.” Bang Ade kemudian menyebut lagu Essensimo, lagi dari Ports of Lima, sebagai salah satu lagu SORE yang mengangkat tema ini. Perbincangan kami terhenti sejenak karena kedatangan Bemby dan Unni yang mengajak Bang Ade makan malam, setelah itu datang pula Joko Anwar yang memberitahukan bahwa tiket dan merchandise Pintu Terlarang malam itu sudah habis terjual.

ki-ka: Ade Firza Paloh, saya, dan Reza Dwiputranto. Buram…

Kemudian kami membicarakan Jockie Soerjoprajogo, musisi yang sama-sama kami gemari dan juga mempengaruhi SORE. Kami berbicara tentang dedikasi Bang Ade untuk Jockie yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Immortals. Saya suka sekali dedikasi Bang Ade, yang menurut saya menyentuh hampir seluruh kehebatan Jockie. Sayangnya, kutipan lagu ‘Harapan’ yang ada di awal tulisan Bang Ade memang salah cetak dan cukup fatal pula, kata ‘mega’ berubah ‘sega.’ “Kalo Sega ya maen game.” Sayangnya lagi, Bang Ade tidak tahu (atau tidak sadar) kalau dia sudah dizalimi dua kali oleh Rolling Stone Indonesia. Pada edisi 44 bulan Desember 2008 dalam rubrik RS Classic: Yockie Suryoprayogo, nama lengkap Bang Ade ditulis Ade Surya Paloh! Bang Ade sempat menyebut saya ‘manusia Jockie’ ketika Bemby dan Mondo datang bergabung. Bang Ade menyebut Mondo sebagai ‘manusia super Jockie.’ “Tapi waktu ketemu Jockienya, diem aja,” kata Bemby. “Kayanya waktu ketemu idolanya jadi mengkeret, ya?” tanya saya. “Nggak sih, Mondo emang orangnya kaya gitu.” Tidak lama, Mondo langsung dengan santainya meninggalkan kami. Obrolan malam itu ditutup dengan pembicaraan tentang proyek Evolusi, reka ulang album SBY oleh Jockie. Saya berbicara tentang rendahnya kualitas album SBY, yang di beberapa lagu terdengar seperti diiringi organ tunggal. Ternyata album SBY itu dulu direkam di studio kepunyaan Bang Ade! Kami juga membahas tentang cara menemui Jockie karena biasanya Jockie sering sekali online di Facebook atau hampir setiap hari menulis di blog Multiply-nya. Mungkin dua bulan terakhir ini, Jockie sedang sangat disibukkan oleh proyek Evolusi. Bang Ade menitip salam untuk sang Kaisar Senja kalau suatu saat saya bisa berbincang dengan Jockie di dunia maya. Saya juga berharap Bang Ade bisa terus menjalin hubungan dengan sumber inspirasinya itu. Sayangnya malam itu saya belum sempat bertanya sebesar apakah pengaruh Jockie terhadap musik SORE. Perbincangan harus berakhir karena seluruh personel dan kru SORE telah turun untuk makan malam. Bang Ade pun menabik saya dan Iqbal dan saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Ade karena telah meluangkan waktu untuk mengobrol dengan saya.

Setelah perbincangan dengan Bang Ade, diam-diam saya pun memendam harapan untuk menghasilkan karya musik pada usia yang lebih matang. Mungkin nanti ketika saya berusia 30 atau 32, siapa tahu? Setidaknya SORE dan Efek Rumah Kaca telah membuktikan bahwa kedewasaan, kebijaksanaan, dan kecerdasan dalam bermusik bertambah seiring dengan menuanya usia.

Pertama Kali Nonton SORE zeBand

Tulisan di bawah ini dihasilkan pada bulan Desember 2008:

foto oleh Tyar Ratuannisa, 29 November 2008

SORE memberi saya alasan yang tepat untuk kembali menyambangi panggung-panggung musik yang dipenuhi oleh anak-anak muda (baca: yang usianya lebih muda daripada saya, yang sudah sedikit melewati seperempat abad). Konser musik terakhir yang saya kunjungi adalah konser reuni The Rollies dalam rangka mengenang almarhum Gito Rollies, pada 30 April 2008. The Rollies adalah band yang telah ada dan masih ada sejak tahun 1963 dan tentunya bisa diperkirakan siapa saja yang datang pada konser reuni mereka (sepertinya saya menjadi yang termuda pada waktu itu). Bandung, kota saya, adalah salah satu tempat yang sering disambangi oleh SORE. Akan tetapi, dari sekian banyak kesempatan yang tersedia, saya baru beruntung menonton SORE dua kali. Pada kesempatan pertama di kafe Opulence, saya sedang terlalu disibukkan oleh pekerjaan saya (saya mengajar di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran) sehingga lupa memesan tiket kepada teman saya. Kemudian, saya bermaksud menonton Jakarta Rock Parade untuk tiga tujuan saja: SORE, Efek Rumah Kaca, dan Gipsy yang bereuni (minus almarhum Chrisye, tentu saja). Ketika SORE ternyata mengundurkan diri dari Jakarta Rock Parade, antusiasme saya hilang. Kesempatan berikutnya, 18 Oktober 2008, adalah kesempatan yang seharusnya menjadi lebih baik karena SORE akan bermain untuk sebuah acara gratis di Mal Paris van Java, Bandung. Pada hari itu, nenek saya meninggal dunia dan sepertinya saya tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Barulah pada tanggal 29 November 2008, saya bisa menonton SORE bersama adik-adik saya dalam sebuah acara bernama Symphonesia 2 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Sayangnya, saya agak kecewa pada saat itu karena SORE tampil tidak lengkap. Awan berhalangan dan digantikan oleh Akoy, pemain bas Karon N’ Roll. Ade sedang menderita tifus dan digantikan oleh Dono Firman, sound engineer dan kemudian anggota keenam SORE. Untungnya, ‘Somos Libres’ masih bisa menonjok saya, di tengah kualitas sound yang naik turun. Penyelamat penampilan SORE malam itu adalah lagu terakhir, ‘Funk the Hole’, yang menampilkan Rekti (The S.I.G.I.T.) yang tampil total untuk mengisi posisi Ade. Yang menarik, saya merasa out of place di tengah-tengah penonton yang sebagian besar berusia 18 – 20 tahun, yang jelas-jelas menantikan penampilan band-band lain selain SORE (setelah SORE akan tampil pula Mocca dan Maliq and D’Essentials). I’m too old for the crowd, but never too old for the music. Lagipula para personel SORE rata-rata sudah berkepala tiga walaupun karir band ini terhitung masih bungsu bila dibandingkan dengan Mocca, misalnya. Pendapat ini dinegasikan lagi oleh kenyataan bahwa di kiri-kanan saya terdapat beberapa orang mahasiswa saya, yang tidak bisa melihat konteks ruang dan waktu dan tetap memanggil saya ‘bapak.’  Oh, come on!

Bagaimana Saya Menemukan SORE

Ketidakpuasan saya terhadap industri musik mainstream Indonesia sejak tahun 1990-an selalu membawa saya pada beberapa alternatif pelarian. Pertama, saya beralih pada musik mainstream Indonesia pada masa yang lebih cerah dan beragam, yakni era 1960an hingga 1980an. Era ‘pop kreatif’ (meminjam istilah Bens Leo) pada akhir 1970an hingga akhir 1980an selalu menjadi era yang berkesan bagi saya, terutama karena saya ‘kebagian ujungnya’ sebagai seorang anak SD yang dengan suara fals menyanyikan ‘Keraguan’ yang ditulis Erwin Saladin dan dipopulerkan oleh Trie Utami. Untuk alternatif pertama ini saya berterima kasih tak terhingga kepada almarhum ayah saya yang selalu menyediakan album-album musik Indonesia berkualitas yang masih terus saya dengarkan sampai hari ini. Kedua, saya beralih pada genre-genre musik yang memang miskin peminat di Indonesia, seperti jazz, walaupun untuk alternatif kedua ini saya lebih sering beralih mendengarkan musisi-musisi asing. Ketiga, saya mulai mengakrabi jalur independen sebagai jalur yang bisa lebih menyodorkan keberagaman musik dan terbebas dari cengkeraman pasar. Saya merasa sangat bodoh baru bisa mengenal karya awal Pas Band di akhir tahun 1998, tetapi sekaligus juga merasa sangat lega dan gembira karena musik mereka menawarkan wacana baru dalam khazanah pengetahuan musik saya (halah!).

Tahun 2005 adalah suatu masa yang saya sebut sebagai masa jahiliyah bagi telinga saya karena tidak ada satupun band dan penyanyi mainstream yang berkenan mampir di telinga saya (bahkan hingga hari ini pun belum ada, maaf) dan hubungan saya dengan karya-karya independen sedang merenggang. Pada suatu sore yang kusam di akhir tahun 2005 karena saya baru selesai bertengkar dengan pacar saya, saya menyengajakan diri menonton teve (sesuatu yang jarang saya lakukan sejak tahun 2004) dan memilih saluran Global TV yang pada waktu itu sedang menyiarkan MTV 100% Indonesia (ke mana ya program ini sekarang?). Sebuah video musik monokrom dengan filter biru muda kusam menarik perhatian saya. Hibriditas musiknya langsung menyengat saya dan membawa beberapa nama ke dalam benak saya: The Beatles, Beach Boys, Chicago, Blood Sweat and Tears, The Rollies, A. Riyanto, Eros Djarot, dan Jockie Soerjoprajogo. Saya ingat betul bahwa nama band ini sangat singkat dan judul lagunya pun singkat, sayangnya beberapa hari kemudian saya benar-benar lupa. Selama beberapa bulan, saya mencoba mengingat-ingat walaupun tidak berhasil, sambil menunggu siapa tahu Global TV akan kembali menyiarkan video musik tersebut yang saya yakini berasal dari sebuah band independen. Dengan hanya berbekal sedikit petunjuk, seperti nuansa filter biru kusam, solo saksofon yang meliuk-liuk, dan dua kata dari refrain lagu itu (Salahkah diriku…), saya bertanya pada Hidayat Syah, sahabat saya yang menjadi referensi musik independen Indonesia bagi saya. Perlu diketahui, Hidayat inilah yang memperkenalkan saya pada band-band independen Indonesia yang namanya semuanya berawalan ‘the’: The Adams, The Brandals, The Miskins, dan The S.I.G.I.T (yang menurut saya saat itu sangat cerdas, sangat nyeni, dan lirik bahasa Inggrisnya bagus). Hidayat menjawab dengan logat Betawi yang kental (darahnya tulen Batusangkar, Sumatera Barat): “mungkin band yang lu cari itu SORE. Gue juga udah pernah liat videoklipnya sekali, setelah itu kagak pernah lagi. Album penuhnye udeh keluar lumayan lama, tapi gue juga belon dapet, nunggu kiriman dari Jakarte.” Saya jawab: “Mungkin juga, Yat. Gue mau nungguin video itu lagi deh. Kalo lu udah dapet albumnya SORE itu, gue pinjem ye.” Hidayat jawab lagi: “Sip, dah, cuy.”

Alih-alih menemukan video musik yang sama, saya malah memperoleh video klip lain dari SORE, band yang disinggung Hidayat. Lagunya berjudul Somos Libres (waktu itu saya belum tahu artinya) dan setting video musiknya seperti film-film tahun 1940an atau 1950an. Nah, sekarang saya bisa melihat para personel SORE ini. Semuanya nampak padat berisi dan sama sekali tidak ada yang terlihat menarik secara fisik. Okelah, dari penampilan sudah qualified bahwa ini adalah band yang sama sekali bukan ‘nampang doang’, semuanya terlihat seperti pemusik berdedikasi dan yang paling menarik, tentu saja, adalah pemandangan dua pemain gitar dan pemain bas yang bermain kidal. Nah, setelah ‘judging a book by its cover’ saya mencoba menikmati setengah lagu Somos Libres dengan serius. Riff gitar Somos Libres menonjok saya dengan keras. Struktur lagunya, pemilihan suara-suaranya yang vintage, dan penggunaan brass section yang efektif meyakinkan saya bahwa inilah band yang sama dalam video musik biru kusam itu.

Pada pertengahan tahun 2006, saya berhasil meminjam dua buah album, entah dari siapa dan entah dengan cara apa, saya lupa. Yang pertama adalah Original Soundtrack Janji Joni dan yang kedua adalah album pertama SORE, Centralismo. Memang sudah sangat terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Original Soundtrack Janji Joni tiba di tangan saya dalam bentuk kaset tak bersampul sehingga agak susah mengetahui band apa yang sedang saya dengarkan, lagipula potongan-potongan dialog dari film Janji Joni mendistraksi konsentrasi saya (dan saya tidak memperhatikan ‘Funk the Hole’ di situ, sialan!). Centralismo datang dalam bentuk CD dengan kemasan yang utuh dan desain sampul yang menarik pula. Saya hanya punya sedikit kesempatan untuk mendengarkan Centralismo secara utuh karena dua alasan. Pertama, album ini memang tidak bisa langsung dicerna habis dalam sekali mendengarkan. Sebagai pendengar setia jazz dan rock progresif saya amat mafhum akan hal ini. Kedua, saya harus segera mengembalikan album ini kepada pemiliknya. Saya akhirnya menemukan bahwa lagu yang selama ini saya cari berjudul ‘Lihat.’ ‘Somos Libres’ mungkin adalah lagu baru terbaik yang pernah saya dengarkan pada kurun waktu 2005 – 2006. ‘Lirih’ memberikan definisi baru tentang kepedihan bagi saya. ‘Etalase’ membawa saya kepada nostalgia yang hadir di hadapan saya layaknya foto sepia yang dibingkai dengan sangat indah. Banyak momen lain yang cukup sulit dijelaskan ketika mendengarkan Centralismo, tetapi semuanya memperkuat eklektisitas SORE. Saya bisa mendengar jazz di situ, power pop di sini, psikedelia di sana, keroncong di atas, rock di bawah, musik kamar di kiri, dan brass section yang soulful di kanan. Saya pun berkenalan dengan para personel SORE, yang semuanya kebagian bernyanyi di album ini. SORE memecah hegemoni frontman-vocalist yang selama ada pada band-band di Indonesia.

Beberapa lama setelah saya mengembalikan Centralismo dan isinya hampir menguap dari kepala saya karena saya terlalu banyak bernyanyi ‘Halo Beni’, seorang teman (sekarang kampiun SORE) bernama Anna Wahyudi memperdengarkan kepada saya semacam rekaman rumahan berisi lagu-lagu The Beatles yang dibawakan oleh SORE secara akustik. Saya tidak tahu apakah ini hanya serangkaian rekaman pribadi yang bocor atau memang sengaja dipajang di internet, yang jelas saya hanya numpang mendengarkan. Rekaman ini berisi lima lagu The Beatles, direkam secara langsung dalam sebuah sesi informal dan nyeleneh. Gitar pada lagu ‘Norwegian Wood’ terdengar agak fals, yang langsung diakui oleh sahutan Ade Firza Paloh(terdengar seperti suaranya Ade). Yang paling saya ingat dari beberapa lagu ini adalah vokal Awan Garnida Kartadinata, yang bukan hanya mirip Paul McCartney, tetapi juga berada pada range yang sama, terutama pada lagu Blackbird. Bravo Awan! Baru kemudian saya tahu bahwa Awan adalah ‘Paul McCartney’ dalam band G-Pluck, band tribute The Beatles terbaik di Asia Tenggara. Setelah mendengarkan beberapa kali, saya tidak tahu ke mana perginya rekaman ini, toh saya juga akan merasa bersalah apabila saya memilikinya. Adik saya yang pertama, Tyar Ratuannisa, juga sempat ikut mendengarkan rekaman ini. Efek rekaman ini ternyata cukup dalam dan membuat adik saya menjadi penggemar SORE potensial. Sayangnya, setelah beberapa lama, SORE mengendap dalam alam bawah sadar saya untuk waktu yang cukup lama.

Saya menemukan SORE kembali ketika saya membeli dan menonton VCD original Berbagi Suami, yang musiknya digarap oleh personel SORE, Mondo Gascaro dan ‘Bemby’ Gusti Pramudya Dwi Mulya. Ternyata ada musik yang sangat bagus dalam film itu dan saya menemukan kembali ‘No Fruits for Today’, lagu SORE yang sing-along dan mungkin paling diingat. Lagu ini sangat bersalah dalam mengubah citra SORE. Tanpa mengindahkan signifikansi liriknya, banyak yang menyukai lagu ini dan merasa telah mengenal SORE. Saya pernah bertanya kepada seseorang yang mengaku pernah mendengarkan SORE dan yang bisa ia lakukan hanyalah menyanyikan refrain ‘No Fruits for Today.’ Well, you either love or hate this song. I cannot choose. I do both. ‘Pergi Tanpa Pesan’ adalah mutiara sesungguhnya yang hanya bisa ditemukan pada soundtrack Berbagi Suami, balada dengan nuansa era Ismail Marzuki yang kental yang terus terngiang-ngiang sampai sekarang.

Tahun berlalu, 2008 tiba dan Anna Wahyudi kembali berjasa dalam hidup saya. Ia mungkin orang pertama di kampus saya yang memiliki Ports of Lima, album kedua SORE. Sayangnya, saya hanya sempat melihat sampul albumnya saja. Baru beberapa hari kemudian saya mendengarkan ‘Ernestito’ secara berjamaah. ‘Ernestito’ mengingatkan saya pada The Band dan Blood Sweat and Tears dan menjadi cinta pertama saya pada Ports of Lima. ‘Bogor Biru’ memberikan suasana nglangut yang biasanya hanya saya rasakan ketika mendengarkan karya-karya Jockie Soerjoprajogo yang bernuansa senja. ‘Senyum dari Selatan’ adalah trek favorit saya. Melodinya mendayu tapi liriknya menghunjam. Sentuhan vokal Tika yang lirih menambah kepedihan dan struktur lagunya tidak repetitif tapi terus menjalar memuncak hingga akhirnya kembali kepada keheningan dengan suara vibraphone yang lamat-lamat. Dan, perlu diketahui bahwa saya mudah sekali terbius oleh penggunaan suara vibraphone dalam lagu rock atau pop (lagu Rolling Stones favorit saya adalah Under My Thumb). Entah mengapa, ‘Setengah Lima’ mengingatkan saya pada lagu Koes Plus yang sangat psikedelik ‘Hari yang Indah.’ Yang jelas, kedua lagu ini memang mampu membuat saya mati suri. Untuk pemilihan suara, saya sangat suka ‘Layu’, lagu upbeat yang pedih. Alih-alih menggunakan solo gitar pada break-nya, ‘Layu’ menggunakan suara pizzicato string yang dipadukan dengan gitar akustik, menghasilkan suara yang menyerupai beberapa dulcimer yang dimainkan secara unison. Hanya satu kata yang bisa saya ucapkan: masterful! There is never a dull moment in Ports of Lima. Semua lagu sepertinya dikerjakan dengan intensitas yang sama tingginya, bahkan lagu yang paling sepi sekalipun, ‘Apatis Ria.’ Ketika majalah Rolling Stone Indonesia menggelari Ports of Lima sebagai album Indonesia terbaik 2008, saya hanya bisa berkata ‘it is altogether proper and fitting.’

Tanpa saya sadari, adik saya, Tyar, juga menaruh perhatian besar kepada SORE, terutama setelah ia khatam mendengarkan Centralismo. Setelah sekian lama kami menjadi penggemar setia The Beatles, kami kembali menemukan kesamaan selera dalam SORE. Adik saya memperoleh pengalaman musik yang benar-benar berbeda dengan mendengarkan SORE. Karena SORE, optimisme saya terhadap musik Indonesia tumbuh kembali dan saya tahu ke mana harus menoleh: SORE telah menawarkan romantisme yang selama ini hanya bisa saya peroleh dari mendengarkan musik Indonesia pada era-era sebelumnya. Dahaga saya punah. Dua album SORE bagi saya adalah dosis yang lebih dari cukup untuk mati suri dengan perasaan campur aduk. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya nanti setelah SORE mengeluarkan album ketiga, keempat, dan seterusnya. Bersama adik saya, saya terus melengkapi katalog SORE kami dan mendengarkan ‘Funk the Hole’ dengan intensitas penuh akhirnya dapat saya lakukan. Boleh dikatakan bahwa saya baru benar-benar menyerap dan meresapi musik SORE secara menyeluruh pada pertengahan hingga akhir tahun 2008. Sekali lagi, memang sudah sangat terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Maka jadilah kami berdua Kampiun SORE yang belum sempurna: sampai November 2008 kami belum pernah menonton SORE secara langsung!