Tagged: peter gabriel

Gotye – Making Mirrors: Memandangi Cermin-cermin, Mencerna Ragam

Artis:                     Gotye

Label:                    Sample ‘n’ Seconds Records, Universal Island Records

Produser:            Wally de Becker

Tahun:                  2012

Rekomendasi:    Eyes Wide Open, State of the Art, Smoke and Mirrors

Percaya atau tidak, saya mendengarkan lagu Gotye (dibaca seperti membaca nama Perancis “Gaultier”) “Somebody That I Used To Know” untuk kali pertama di radio di dalam sebuah angkutan kota yang lumayan lowong, sehingga lagu ini terdengar jelas dan lantang. Lagu ini sudah terkenal selama lebih kurang dua bulan pada waktu saya mendengarkannya pertama kali. Tentu saja pada awalnya saya tidak mengenali lagu ini. Intro dan bagian verse-nya justru mengingatkan saya pada lagu-lagu Peter Gabriel pada masa album 3 dan 4 (Security) antara tahun 1980-1982. Ketika sampai pada refrain, barulah saya mengenali lagu ini sebagai lagu yang pada waktu itu sedang banyak dibicarakan dan dinyanyikan kembali oleh banyak orang, tapi tak ayal bagian refrain ini pun mengingatkan saya pada cara Peter Gabriel umumnya mengawali refrain pada lagu-lagunya. Sesi pertama mendengarkan di angkot ini membuat saya penasaran.

Sepertinya saya tidak perlu bercerita lagi mengenai bagaimana “Somebody That I Used To Know” menjadi “modern and instant classic” dan bagaimana Gotye menjadi selebritas YouTube. Saya justru tidak terlena untuk menyaksikan puluhan, mungkin ratusan, versi lain dari “Somebody That I Used To Know” yang bertebaran di YouTube. Saya justru mencari lagu Gotye lain dan mendapati “Eyes Wide Open,” single pendahulu “Somebody That I Used To Know” yang tidak setenar penerusnya. Pada awalnya saya mengharapkan lagu-lagu yang senafas dengan “Somebody That I Used To Know,” tetapi ketika mendengar “Eyes Wide Open,” ternyata Gotye menyuguhkan sesuatu yang berbeda: video yang canggih (tidak seperti video “Somebody That I Used To Know” yang minimalistik) dan tempo cepat dengan irama serta melodi yang terdengar seperti lagu pop 80an tetapi juga pada saat yang sama mengingatkan pada Keane (!).

Pamer CD-nya ah… Biar keliatan beli, bukan ngunduh.

Ketika akhirnya saya memutuskan membeli album Making Mirrors, yang saya harapkan adalah menemukan keragaman yang mengisi kutub antara “Somebody That I Used To Know” dan “Eyes Wide Open.” Saya sebenarnya cukup senang karena keragaman itu saya temukan ketika pertama kali mendengarkan CD Making Mirrors. Hanya saja, seperti yang banyak dikatakan ulasan-ulasan sebelumnya, album ini memang kekurangan fokus. Sepertinya, Gotye lebih tertarik untuk bereksperimen di setiap lagu daripada mengikuti sebuah konsep yang ajeg. Alhasil, lagu-lagu dalam album ini beragam, walaupun hampir seluruhnya menunjukkan eksperimentasi bebunyian yang dikumpulkan oleh Gotye, baik yang ia mainkan sendiri, berasal dari sample, dan bahkan berasal dari instrumen yang tidak konvensional seperti Winton Musical Fence, pagar sungguhan yang disetem sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk bermain musik.

Album dibuka dengan senandung “Making Mirrors” yang minimalis dan singkat (hanya semenit), dilanjutkan dengan “Easy Way Out” yang menohok dan lumayan berenergi. Lagu ini langsung segue (bahasa Indonesianya apa ya) ke “Somebody That I Used To Know” yang menampilkan Kimbra dengan porsi yang sangat pas. Setelah itu ada “Eyes Wide Open” yang sejauh ini merupakan lagu favorit saya dari album ini. Lagu-lagu lain cukup menarik, walaupun arahnya agak sedikit sulit ditentukan. “Smoke and Mirrors” rif Wurlitzer-nya cukup nyangkut dan agak terasa seperti Pink Floyd tahun 80an, tapi “In Your Light” terlalu terdengar seperti musik pop hari ini. “Save Me” terdengar, sekali lagi, seperti Keane (dengan energi dan struktur lagu yang mirip) tapi dengan vokalis yang register suaranya lebih tinggi. Sementara itu, “Bronte” justru ngelangut, dengan suara Gotye yang lamat-lamat. Lagu “I Feel Better” malah menghentak seperti single-single upbeat Motown, walaupun upaya untuk mereplikasi gaya rekayasa dan produksi Motown yang riuh agak meleset, sehingga pada beberapa titik (terutama pada rif brass section) lagu ini terdengar terlalu bising dan beresiko memekakkan telinga apabila didengar dengan volume tinggi.

Banyak yang mengeluhkan “State of the Art” sebagai lagu yang paling tidak berterima dan bahkan lagu terburuk di dalam album ini. Lagu ini memang cukup aneh mengingat di 11 lagu lain, Gotye menjelajahi jangkauan vokal yang luas dengan suara yang menurut saya cukup memincut. Akan tetapi, di lagu ini ia menutupi suaranya dengan berlapis-lapis efek vokal autotune dan vocoder yang ditingkahi irama reggae elektronik ala tahun 80an. Akan tetapi, menurut saya di lagu ini justru Gotye tidak ingin suaranya dianggap terlalu serius. Dengan lirik yang bercerita tentang kemajuan teknologi digital dalam musik (The marriage of music to computers is quite natural), saya menengarai adanya sindiran dan ironi yang disengaja di lagu ini, yang sebenarnya menurut saya cukup brilian: Gotye menyindir kemajuan teknologi digital dalam musik tetapi dia sendiri menggunakannya dengan sadar, bahkan seluruh alat musik dan teknologi yang ia sebutkan di dalam lirik, semuanya digunakan dalam proses perekaman lagu ini(!)! Gila.

Album ini cocok sekali untuk mereka yang mengharapkan gabungan karya-karya yang eklektik yang semuanya berasal dari pikiran seorang Wouter “Wally” De Becker, nama asli Gotye, yang menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang penyanyi, tetapi juga penulis lagu yang versatile, penata musik, dan musisi multi-instrumentalis. Album ini seolah berisi cermin-cermin yang merefleksikan citra Gotye yang berbeda-beda, yang diwakili oleh lagu-lagu yang beragam dengan corak eksperimentasi yang beragam pula. Menarik untuk ditunggu pada cermin (-cermin) manakah Gotye akan berkaca pada album berikutnya. YA!

D-2/7 09152012

Advertisements