Tagged: musik pop indonesia

Lagu Minggu Ini: “Aku Tak Berdosa” (Favourite’s Group)

Minggu lalu dan minggu ini saya rindu sekali pada satu lagu yang dulu sering saya dengarkan waktu saya masih kecil; saking sukanya saya pada lagu itu, ketika alm. bapak merekam suara saya untuk pertama kali, saya nyanyikan lagu itu. Dengan kekuatan YouTube, akhirnya saya temukan lagu yang saya rindukan itu, bahkan sekaligus dalam album orisinalnya yang ditransfer dari piringan hitam dengan cermat oleh bung John Kwa Indonesia, yang sebelumnya dikenal telah pula mengunggah diskografi lengkap Koes Bersaudara dan Koes Plus. Lagu yang saya kangeni adalah lagu pertama di album bertajuk Favourite’s Group Vol(ume) 4, yang dirilis sekitar tahun 1974 (umumnya album-album pop Indonesia pada masa itu tidak berangka tahun).

 

Seingat saya, lagu ini pertama kali saya dengar bukan dari Volume 4, tapi dari kaset kompilasi bertajuk The Very Best of Favourite’s Group. Almarhum bapak membeli kaset itu karena seleksi lagunya sangat bagus dan lebih banyak berfokus pada formasi klasik Favourite’s Group (dijelaskan sedikit di bawah), formasi yang paling ia suka. Saya mulai ikut-ikutan memutar kaset itu dan menyukai banyak lagu di dalamnya, di antaranya lagu “Aku Tak Berdosa” ini, “Ma Onah”, “Cinta Monyet”, dan “Cari Kawan Lain”.

Jadi, siapa saja sebenarnya anggota formasi klasik Favourite’s Group? Favourite’s Group pertama didirikan pada tahun 1972 atas cetusan A. Riyanto, pencipta lagu, pemain kibor, dan produser veteran yang telah menulis banyak lagu sukses pada 1960an dan awal 1970an dan mengiringi beberapa penyanyi di studio rekaman bersama band-nya 4 Nada; beberapa penyanyi yang paling sukses ditanganinya adalah Tetty Kadi dan Arie Koesmiran. Formasi pertama Favourite’s Group bisa dikatakan adalah 4 Nada yang berganti nama, dan ditambah Mus Mulyadi sebagai penyanyi utama (walau A. Riyanto ikut pula bernyanyi beberapa lagu). Formasi pertama hanya bertahan sampai album pertama mereka usai direkam. Is Haryanto (dram) dan Harry Toos (gitar) bergabung untuk rekaman album kedua, dan Mus Mulyadi mengisi posisi gitar bas, instrumen yang ia mainkan sewaktu masih bergabung dengan band Ariesta Birawa. Tommy WS (bas) bergabung untuk album ketiga dan seterusnya, dan lengkaplah formasi klasik Favourite’s Group. Formasi ini awalnya hanya merekam dua album, Volume 3 dan 4, sebelum Mus Mulyadi memutuskan untuk fokus bersolo karir. Formasi ini kemudian bereuni pada tahun 1978 dan merilis beberapa album hingga pengunduran diri Harry Toos pada tahun 1989.

Lagu “Aku Tak Berdosa” dari Volume 4 ini mungkin lagu Favourite’s Group’s yang paling (atau mungkin salah satu yang paling) psikedelik dan bergitar. Lagu ini dibuka dengan melodi gitar sederhana yang berulang selama setengah menit yang mendadak dipotong oleh distorsi gitar satu not, diikuti dengan gitar ritem yang terdengar mirip “Hi Ho Silver Lining”-nya Jeff Beck Group. Lagu kemudian berlanjut dengan lirik utama yang dinyanyikan oleh A. Riyanto dan Mus Mulyadi, lirik dan melodi yang membius saya sewaktu saya kelas satu SD dan memutar kaset ini hampir setiap hari sepulang sekolah.  Refrain lagu ini dinyanyikan oleh A. Riyanto yang sepertinya terlalu memaksakan pita suaranya untuk mencapai nada tinggi, tapi menurut saya justru inilah bagian paling krusial sekaligus paling menggelikan dari lagu ini. Bagian refrain lagu ini kemudian mendadak pindah ke bagian bridge yang sangat sepi, dan sangat psikedelik, sebelum kembali lagi ke refrain. Lagu ini diakhiri dengan solo gitar Harry Toos hingga akhirnya menghilang dan selesai. Singkatnya, ini adalah lagu keren dan unik dalam katalog lagu  Favourite’s Group; lagu ini cenderung lebih keras dengan aransemen yang lebih longgar, cukup berbeda dibandingkan lagu-lagu balada mereka yang cenderung simfonik atau lagu-lagu upbeat mereka yang terasa lebih ringan dan umumnya dipengaruhi unsur musik keroncong atau dolanan Jawa.

Selama bertahun-tahun sejak tahun 1989 saya berusaha memahami maksud lirik lagu ini (lihat di bawah), tetapi terlalu banyak interpretasi bermunculan di benak saya. Apakah ini lagu tentang dosa asal (original sin)? Apakah ini lagu tentang kepolosan manusia di tengah alam, dan kemudian membandingkan dirinya dengan kepolosan alam? Apakah lagu ini ungkapan terima kasih pada Tuhan atas anugerah hidup dan penebusan dari dosa? Entahlah. Saat ini saya sebaiknya menikmati saja lagu keren ini.

Aku Tak Berdosa

(A. Riyanto)

*
Siapa yang berdosa
Tak dapat ku berkata
Siapa yang bersalah
Susah ditelaah
Mari kita
Kita renungkan

(Ulang *)

Refrain 1:
Siapakah harus berdosa?
Siapakah harus dicela
Bila rambut panjang terurai?

Mengapa tidak kau restui?
Mengapa tidak kau hayati
Indah dan bebas dan alam ini?

Bridge:
Pohon lebat daunnya
Begitu pun rambutku
Telah diciptakanNya sejak dahulu

Refrain 2:
Di mana tempatku berdiri
Indahnya alam kunikmati
Syukur pada Tuhan Yang Esa

(Ulang *, Bridge, Refrain 2, dan *)

 

 

Advertisements

“Sekarang kau tinggal aku…”, Yon Koeswoyo (1940-2018)

koes18

Foto Koes Plus favorit saya dari sampul album Volume 8: in action, kiri-kanan: Tony Koeswoyo (gitar, kibor, vokal), Yon Koeswoyo (vokal, gitar), Yok Koeswoyo (gitar bas, vokal), Murry (dram, vokal).

Saya selalu berpikir bahwa suatu saat saya akan menulis tentang Koes Plus (dan juga tentang Koes Bersaudara), mungkin lewat satu racauan di blog saya atau mungkin secara lebih akademik ketika saya sudah tidak terlalu disibukkan dengan studi. Banyak yang bisa dibicarakan tentang Koes Plus: mereka salah satu ikon counterculture sekaligus ekses budaya populer Indonesia; romantisme mereka tentang Nusantara (di antaranya melalui lagu-lagu Nusantara yang berjilid-jilid itu) tentunya pantas ditelisik; suka atau tidak, peran mereka sebagai kepanjangan tangan sekaligus komentator Orde Baru melalui musik populer (seperti yang pernah dibahas secara umum, seingat saya oleh Budiarto Shambazy beberapa tahun lalu) juga perlu lebih ditelaah. Akan tetapi, saat ini saya sebaiknya memendam dulu segala gagasan tersebut dan berkubang dalam berbagai kenangan sebagai seorang pecinta musik Koes Plus, karena setelah 5 Januari 2018, Koes Plus seperti yang saya (dan kita yang familiar dengan musik mereka) kenal mungkin tidak akan ada lagi. Pada 5 Januari kemarin Yon Koeswoyo, penyanyi utama dan gitaris ritmis Koes Bersaudara dan Koes Plus, berpulang. Mengucapkan selamat jalan kepada Yon Koeswoyo adalah juga mengucap selamat jalan kepada Koes Plus yang saya tahu, yang diperjuangkan oleh Yon hingga akhir hayatnya.

Sampai menjelang nafas akhirnya, Yon adalah satu-satunya anggota asli Koes Plus yang aktif bermusik. Kakak pertamanya, Tony Koeswoyo, sudah terlebih dahulu berpulang pada 1987. Yok Koeswoyo sudah cukup lama undur diri dari kegiatan bermusik dan hanya sesekali bergabung dalam kesempatan tertentu. Terakhir kali tiga anggota asli Koes Plus manggung bersama adalah pada konser Unplugged Koes Plus tahun 2013. (Walau ketiganya terkadang kurang kompak dan kurang latihan dalam beberapa lagu, ini adalah konser yang intim dan penuh canda spontan). Tak lama setelah konser ini, Murry berpulang. Setelah itu, dan bahkan sebelumnya ketika Murry sakit, Koes Plus adalah Yon Koeswoyo. Bahkan jauh sebelumnya ketika mereka masih utuh berempat, Yon Koeswoyo adalah suara Koes Plus (dan juga Koes Bersaudara), walaupun terkadang Tony, Yok, dan Murry pula bergiliran menyanyi.

Saya bukan hanya terbiasa dengan suara Yon; saya suka suara Yon karena mungkin ia adalah penyanyi Indonesia dengan suara yang paling jujur, tanpa teknik vokal yang istimewa atau njelimet; walaupun terkadang terdengar pengaruh Everly Brothers dan Barry Gibb (tentu bukan falsetonya) dalam suaranya, Yon tidak pernah terdengar berusaha terlalu keras untuk terdengar seperti orang lain. Yon Koeswoyo adalah Yon Koeswoyo. Sebagai orang Jawa (lahir di Tuban, Jawa Timur), ia tidak pernah kehilangan kejawaannya dalam bernyanyi, bahkan dalam lagu Koes Plus yang paling rock n’ roll dan berbahasa Inggris sekalipun. Saya dan almarhum bapak kerap menertawakan kejawaan intonasi dan pengucapan Yon, tapi kami juga tidak memungkiri bahwa kejawaan suaranya itulah yang membuat kami sangat menyayangi suara Yon. Seperti suara vokalnya, permainan gitarnya pun jujur, polos dan sederhana. Akan tetapi, penggemar Koes Plus mafhum bahwa suara dan genjrengan gitar Yon adalah dua unsur yang tetap membuat Koes Plus bertahan setelah Tony dan Murry berpulang serta Yok undur diri.

Saya tumbuh diiringi musik Koes Bersaudara dan Koes Plus, seperti halnya almarhum bapak saya yang juga tumbuh bersama musik Koes Bersaudara dan Koes Plus ketika ia masih kanak-kanak dan remaja. Lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah musik akhir pekan di keluarga kami, dinyanyikan bersama-sama dalam karaokean di depan televisi pada Sabtu malam dan diputar lewat kaset atau CD pada Minggu pagi untuk menemani beres-beres rumah. Dalam perjalanan ke luar kota dengan mobil, selalu terselip setidaknya satu kaset atau CD kompilasi “The Best of” atau “Lagu-lagu Terbaik” Koes Plus.

Ketika saya mulai bermusik secara amatir untuk hobi, saya memilih bermain dram; pilihan ini dipengaruhi terutama oleh dua penabuh dram: John Bonham (Led Zeppelin) dan Murry (Koes Plus). Salah satu impian saya sebagai seorang penabuh dram adalah membawakan lagu-lagu Koes Plus, tetapi sebagai seorang pemuda di awal tahun 2000an tentunya saya kerap terjebak membawakan lagu-lagu terkini pada masa itu (terkitu?). Baru pada paruh kedua 2000an, saya bertemu dengan teman-teman yang juga bersemangat mengikuti jejak almarhum bapak saya ketika ia muda dulu: membentuk band tribute amatir Koes Plus. (Bapak saya pun dulu menabuh dram dan ia mengakui bahwa Murry sangat mempengaruhi permainan dramnya.) Kami berlima hampir berhasil. Sayangnya karena kami terlalu sibuk, kami lumayan jarang latihan dan akhirnya dari semula berlima kami menjadi hanya bertiga. Sebagai band garasi (bukan Garasi) power trio, kami sempat bermusik serius-tidak serius (lebih banyak tidak seriusnya) dengan nama Tiga Pemuda Idaman Gadis Manis Diterpa Gelombang Cinta di Lautan Asmara Nun Jauh di Sana (nama yang sungguh serius). Walaupun kami banyak berlatih lagu-lagu garage rock 1960an dan juga lagu-lagu Cream, sebenarnya yang paling sering kami bawakan di panggung adalah “Kelelawar” dan “Mobil Tua”, yang tentu saja adalah lagu-lagu Koes Plus.

Ketika saya mulai coba-coba menulis lagu, tentunya saya memulai dengan sederhana dengan tiga atau empat kord saja, seperti yang kerap dilakukan Koes Plus. Memang saya kemudian menjadi lumayan pretensius dan bereksperimen ketika mulai menulis lagu untuk dinyanyikan oleh rekan satu band saya, tapi saya selalu merasa bahwa saya berutang pada Koes Plus yang membuka jalan. Saya terutama sekali berutang pada Yon Koeswoyo dengan lagu-lagunya yang bersahaja.

Yon Koeswoyo adalah seorang pencipta lagu yang produktif, dan banyak lagunya bersama Koes Plus tetap didengar sampai hari ini. Album-album Koes Plus selepas album pertama umumnya menampilkan Tony dan Yon sebagai pencipta lagu utama yang mengisi dua pertiga atau tiga perempat bagian, sementara sepertiga atau seperempat bagian lain dibagi antara Murry dan Yok atau diisi dengan lagu-lagu yang ditulis bersama. Menurut saya, lagu-lagu Yon adalah penyeimbang sempurna lagu-lagu Tony. Lagu-lagu Tony cenderung diaransemen dengan lebih pekat, dengan bunyi-bunyian yang lebih kaya dan pengaruh dari berbagai genre musik, dan juga kerap menyelipkan melodi atau progresi kord yang agak rumit dan “pintar” untuk ukuran lagu pop. Lagu-lagu Yon lebih sederhana dan terus terang (dan Tony sebagai pengaransemen dan produser sebagian besar lagu Koes Plus paham benar pentingnya menjaga kesederhanaan lagu-lagu Yon), kendati kerap terdengar lebih kontemplatif. Saya mengagumi semuanya dan bagi saya Koes Plus sebagai entitas penghasil musik adalah keseimbangan antara kedua pencipta lagu utamanya yang diselaraskan oleh kontribusi dari kedua anggota lain. Seperti halnya saya mengagumi karya-karya Tony dengan segala eksperimentasinya, saya mengagumi karya-karya Yon seperti saya mengagumi suaranya: sama-sama jujur, sederhana, dan polos.

Ketika Distantyearningalert (band saya kala itu) akan manggung untuk pertama kali sebagai entitas pop elektronik dengan seorang vokalis pada tahun 2009, saya berpikir untuk me-reka ulang “Kau Tinggalkan Aku” karya Yon Koeswoyo, yang intro vibraphone-nya selalu berdenting di telinga saya. “Kau Tinggalkan Aku” memang bukan lagu Koes Plus yang populer, tetapi buat saya ia istimewa secara musikal. “Kau Tinggalkan Aku” adalah lagu yang sangat singkat tetapi sangat atmosferik, dengan melodi yang sederhana yang melengkapi lirik yang sangat singkat tentang kekecewaan karena ditinggalkan oleh seorang yang dicintai. Kesederhanaan dan kesingkatan lagu ini menghindarkannya dari kecengengan, dan aransemen dan instrumentasinya yang minim dengan hanya mengandalkan gitar ritmis, vibraphone (!), dan dram yang sedikit dibekap menghadirkan kekosongan dan kekecewaan dengan sangat efektif. Setiap mendengar lagu ini, saya selalu terkesima oleh ambiens yang dihasilkan dari kesederhanaan dan kekosongannya.

 

Ketika Distantyearningalert menjadi trio pada tahun 2011, kami memutuskan untuk merekam “Kau Tinggalkan Aku” dengan memodifikasi musik dasar yang saya susun di tahun 2009. Sialnya, sesi rekaman “Kau Tinggalkan Aku” tidak terselamatkan ketika harddisk kami rusak, dan kami tidak pernah lagi berkumpul bersama untuk merekam ulang. Mungkin dalam waktu dekat saya akan kembali mengakses musik dasar untuk “Kau Tinggalkan Aku” dan mencoba merekam vokal untuk lagu itu dengan bantuan seorang teman, dan mungkin saya akan mengunggahnya sebagai penghormatan terakhir saya untuk Yon Koeswoyo. Mungkin juga tidak. Mungkin saja tulisan blog yang tidak terstruktur dengan baik ini adalah penghormatan saya, untuk saat ini, bagi Koes Plus dan Yon Koeswoyo yang saya tahu, karena “sekarang kau tinggal aku”.

Kau Tinggalkan Aku

Yon Koeswoyo

Kau katakan padaku
Bersedia menunggu… Oh.

Sekarang kau tinggal aku
Putus harapanku

Doaku untukmu slalu berbahagia
Kau katakan padaku setia padaku
Tetapi janjimu palsu
Hancurkan hatiku
Doaku untukmu slalu berbahagia
La… La la la la la la la La la la la la la la

 

 

 

 

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!