Tagged: musik Indonesia

What I Did with a Guitar When I Was Young

When I was young and my heart was an open book… Okay, that was not it. I never was and never am a guitar player. I picked up guitar back in 2000 and, until today, I never managed to get past basic chords and scales. However, in 2003 and 2004, I had a very strong drive to create some guitar-driven music, which was mainly fueled by the surrounding experimental and noise music scene at that time, which circled around toying with a guitar or guitars, unusual instruments and electronic embellishments. Since I had almost no budget to afford a guitar, I borrowed two guitars on two separate occasions. The first one was borrowed from Dody (Hermayadi Ardisoma), my neighbor and senior at the university, some time in 2003. It was a generic-looking black Samick guitar, whose sound I have taken to like. The second was borrowed from a friend of mine (name classified) during KKN (field work) in 2004. It was a Japan-made ivory Fender Telecaster that had been sitting in his cupboard for almost a year. It was a bit rusty and dirty, but useable.

The recording process was amateurish at best: guitar directly plugged into computer soundcard without external DAC/pre-amp or interface. This accounts for some noise that was later reduced during editing and mixing process. Takes were recorded using SoundForge (back then it was SonicFoundry’s, not yet Sony’s), and synthesizer and drum tracks were created on Fruity Loops (now FL Studio). These were all finally mixed and mastered, if you can call them mixing and mastering, on SoundForge. So, voila, here are six tracks from a person who could not actually play guitar. The seventh track is a bonus track featuring my friend, Andy Dwi (a real guitarist) on guitar with me on piano and drum programming. Pardon the lack of melody and virtuosity. Consider you’ve been warned.

Fanfare for the Self
Sandya Maulana: synthesizer, guitar, drum programming

The Room Re-revisited (including the Madcaps) (2009 remix)
Sandya Maulana: guitar, ballpoint caps, synthesizer

After All
Sandya Maulana: guitars, synthesizer, drum programming

Dinosaurs in D
Sandya Maulana: guitar, vocals, treatment, drum programming
Contains performances of excerpts from “I Know What I Like” by Genesis and samples of “Closer to the Heart” by Rush

Is It?
Sandya Maulana: Synthesizer, TS808, guitar, drum programming

The Room Revisited (including the Schedule)
Sandya Maulana: guitar, treatment, computer keyboard

Self-Indulgent Blues
Sandya Maulana: piano, synthesizer, drum programming
Andy Dwi: guitar

 

Advertisements

Perbincangan Singkat dengan Ade Firza Paloh dari SORE zeBAND

Ditulis sehari setelah saya berkesempatan untuk berbincang dengan Ade Firza Paloh

SORE datang kembali ke Bandung pada 17 Januari 2009 dalam rangka sebuah showcase untuk mempromosikan film Pintu Terlarang yang disutradarai oleh Joko Anwar. Showcase diselenggarakan di Blitz Megaplex, bioskop non-21 terbesar di Bandung, dan akan dilanjutkan dengan penjualan tiket dan merchandise Pintu Terlarang oleh para pemeran, yang terdiri atas Fachry Albar, Marsha Timothy, dan Ario Bayu, serta pemutaran dini film Pintu Terlarang. Saya datang untuk SORE, tentu saja, bukan untuk Pintu Terlarang, walaupun saya tertarik pada kontribusi SORE untuk soundtrack Pintu Terlarang. Saya datang bersama adik saya, Tyar dan serombongan sahabatnya. Datang juga Iqbal, sahabat saya yang juga kampiun SORE. SORE hanya bermain selama 20 menit dengan empat lagu dari pukul 21.10 hingga 21.30, benar-benar sebuah showcase. Sekali lagi, Awan berhalangan sehingga posisinya digantikan. Bemby hanya diberi sebuah snare drum yang digunakannya secara maksimal seperti bayi sehat sedang keasyikan dengan mainan barunya (I couldn’t find better words, sorry). Dono Firman pada synthesizer berhasil mengisi kekosongan instrumen-instrumen yang tidak mungkin ditampilkan pada malam itu. Penampilan SORE sebenarnya prima, tetapi dikacaukan oleh timbul tenggelamnya keluaran suara Ade. Selesai membawakan dua lagu, ‘Daisy Bird’ dan ‘Lullaby’, yang menjadi kontribusi mereka pada soundtrack Pintu Terlarang, SORE melengkapi showcase dengan dua single mereka dari Ports of Lima, ‘Merintih Perih’ dan ‘Setengah Lima’.

Merintih Perih

Selepas penampilan SORE, saya dan Iqbal tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto bersama SORE. Saya meminta izin terlebih dahulu kepada Unni, manajer SORE, karena takut mengganggu privasi para personel SORE. Ternyata di dekat pintu keluar, sudah cukup banyak orang yang berfoto bersama personel SORE. Saya bergantian bersama Iqbal untuk berfoto bersama SORE, hanya saja Mondo memang tidak kelihatan. Sepertinya ia memang tidak suka difoto (haha!). Setelah beberapa frame, ada dua orang ibu-ibu yang ingin berfoto bersama SORE, seakan memanfaatkan kesempatan, mumpung ada artis. Kedua ibu ini memanggil Ade, Echa, Dono, dan Bemby dengan sebutan ‘Om.’ Ya ampun, memang seberapa tua sih mereka? Kamera digital saya yang sudah uzur menghasilkan lebih banyak gambar kabur, tetapi lumayan lah, daripada tidak sama sekali. Penjualan tiket dan merchandise pun dimulai dan para personel SORE terpencar. Ade, Dono, dan Mondo memilih berdiri di luar dekat kafe outdoor dan tempat parkir karena membutuhkan ruang untuk merokok. Iqbal, yang juga mulutnya sudah terasa asam karena ingin merokok, meninggalkan mal sebentar untuk membeli rokok di luar. Saya menunggunya di dekat tempat para personel SORE berdiri.

Kebetulan saya berdiri tidak jauh dari Ade Firza Paloh. Saya tersenyum dan mengajaknya bersalaman dan kami berkenalan, saya memberitahu Ade bahwa saya sudah ada di daftar teman di account Facebooknya. Saya mencoba mengajaknya berbincang karena sebenarnya saya punya banyak sekali pertanyaan yang berhubungan dengan musik SORE dan menurut saya tidak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang, sesingkat apapun akan saya manfaatkan. Ternyata Ade sangat rendah hati dan cepat akrab, terutama ketika kami berbincang tentang musik SORE dan musik yang mempengaruhi SORE. Kami berbincang selama hampir dua puluh menit, mengobrol ngalor-ngidul (atau ngetan-ngulon?). Saya memanggilnya Bang Ade. Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah proses perekaman lagu-lagu SORE secara umum. Simpulan saya, SORE bekerja dengan cara yang cukup gila dan perfeksionis. Satu lagu membutuhkan sekitar enam shift rekaman (satu shift = enam jam) hingga mencapai kesempurnaan. Dengan hitungan yang asal saja, maka proses perekaman Ports of Lima membutuhkan waktu (kalo bener) sekitar 117 hari! SORE memanfaatkan teknologi multitracking digital untuk merekam 58 hingga 60 track untuk satu lagu. Yang dibikin pusing untuk menyatukan seluruh track ini tentu saja adalah Dono Firman, yang kebetulan waktu itu ada di depan saya tapi sedang asyik mengobrol dengan orang lain. Sudah terbayang di benak saya kerja berat Dono pada proses akhir perekaman album SORE. Saya juga menanyakan apakah ada kemungkinan bagi SORE untuk merekam menggunakan teknologi analog, seperti, saya beri contoh gila, Guruh Gipsy yang untuk mengisi track gitar saja melakukan take sampai 200 kali. Bang Ade bilang, “nah, itu gila.” Yang jelas, teknologi analog memang sekarang jadi barang dan mahal dan tidak praktis, perangkat rekamnya sudah sangat sulit untuk didapatkan, walaupun Bang Ade mengakui bahwa merekam dengan teknologi analog akan lebih memuaskan, terutama dalam keluaran suara.  Kami juga berbicara tentang rilisan SORE berikutnya, yakni sebuah EP yang akan beredar pada bulan April 2009 dengan kecenderungan musik baru yang akan menjadi jembatan menuju album ketiga SORE. Menurut Bang Ade, EP SORE nanti akan diperkaya oleh pengaruh shoegaze dan atmosfir musik yang lebih spacey, seperti scene shoegaze Kanada. Selanjutnya saya tidak ingin bertanya lebih jauh mengenai EP baru ini, supaya EP ini tetap menjadi kejutan, setidaknya bagi saya.

Bang Ade bertanya apakah saya orang Bandung asli. Saya jawab saja, saya memang orang Bandung asli karena saya lahir di Bandung. Bang Ade bertanya karena ia sering bertemu orang Bandung yang bukan asli Bandung, entah dari Jakarta atau dari tempat lain. Saya bercerita saya pernah bekerja (sangat) sebentar di Jakarta dan pernah bekerja setahun di Bekasi, tetapi tidak kerasan dan akhirnya kembali ke Bandung. “Gila aja lu, Bekasi lebih gila lagi,” begitu kata Bang Ade. Kami membicarakan tentang usia masing-masing. Usia saya menjelang 26, sementara Bang Ade sudah 32 tahun. Bang Ade rupanya memendam keinginan untuk meninggalkan Jakarta (yang katanya sudah tidak layak ditinggali lagi) dan pindah ke Bogor, kota impiannya, seperti yang dituliskannya dalam lagu ‘Bogor Biru.’ “Kalo udah ada lagunya berarti bakal pindah, dong?” saya bertanya pada Bang Ade. “Haha,kalo gitu ada lagu Vrijeman, saya juga bisa jadi preman, dong?” jawabnya. Wah, kalau premannya Bang Ade saya nggak takut. Pembicaraan soal lagu beralih ke ‘Senyum dari Selatan’, lagu favorit saya di album Ports of Lima. Saya mudah terbius oleh lagu pop yang menggunakan suara pipa yang dipukul, seperti vibraphone, xylophone, marimba, atau kolintang. Mungkin suara vibraphone yang lamat-lamat di ‘Senyum dari Selatan’ itu juga yang memikat saya. Ternyata suara vibraphone itu berasal dari vibraphone sungguhan yang sudah tua, yang dimainkan oleh Bang Ade sendiri. Vibraphone tua itu motornya sudah rusak. Motor ini fungsinya untuk menggetarkan nada yang dihasilkan (itulah mengapa namanya vibraphone, vibra = getaran) dan biasanya dikendalikan oleh pedal kaki. Dalam kasus ‘Senyum dari Selatan’, Mondo terpaksa harus memutar motor vibraphone itu secara manual ketika Bang Ade memainkannya! Nah, itu gila juga! Saya setuju dengan Bang Ade bahwa lagu ini berhasil menggambarkan suasana hopelessness dan sepertinya semua laki-laki pernah mengalaminya, mengalami cinta yang tak berbalas atau putus di tengah jalan (pasti pernah, kalo nggak pasti bo’ong kan? Gitu kata Bang Ade). Jadi sebenarnya, lagu ini ditujukan untuk … (sensor, menunggu izin dari Bang Ade. Go figure!). Tapi, hidup harus terus berjalan… Bagian yang paling disukai Bang Ade dari lagu ini, yang menurut dia paling menyentuh adalah bagian string terakhir yang dihiasi alunan suara Tika, yang bisa membuatnya tersentuh dan menangis. Ternyata seorang Ade Firza Paloh sangat sensitif dan mudah sekali tersentuh!

Bang Ade kemudian bertanya apakah saya suka Efek Rumah Kaca. Saya jawab dengan jujur bahwa saya suka dan saya baru beli album keduanya, Kamar Gelap (sebenarnya adik saya yang beli, tapi di rumah jadi milik bersama). Oya, Efek Rumah Kaca dan Bang Ade berkolaborasi pada lagu Jangan Bakar Buku di album Kamar Gelap. Dia merekomendasikan beberapa lagu di album Kamar Gelap, salah satunya adalah lagu Kamar Gelap sendiri. Bang Ade juga memuji Cholil (vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca) sebagai orang paling jujur dan konsisten dalam musik saat ini, yang juga dibuktikannya bukan hanya dengan ‘ngomong doang’ tapi juga dengan aksi nyata. ‘Debu-debu Beterbangan’ adalah salah satu lagu Efek Rumah Kaca kesukaan Bang Ade karena lagu tersebut sangat jujur, menyentuh, dan religius. “Nah, bait pertamanya itu, yang dimulai dengan “Demi masa, sungguh kita tersesat…”, nah itu kan “Wal ashri, innal insaana la fii khusrin,” begitu kira-kira penuturan Bang Ade yang menangis ketika Cholil menyanyikan lagu ini ketika mereka manggung bersama di Jakarta. Lagu religius ini memang tidak seperti lagu-lagu pop religius lain yang ditujukan hanya untuk jualan, memanfaatkan momen seperti bulan Ramadhan. Selanjutnya, Bang Ade juga mengakui bahwa gaya menulisnya sangat berbeda dengan Cholil yang cenderung langsung dan lugas. “Saya harus ke sana ke sini dulu kalau nulis,” katanya, seperti yang pernah diungkapkannya di majalah Rolling Stone Indonesia. Lirik-lirik SORE pun akan tetap melanjutkan spirit yang sama, yang telah dibangun pada album Centralismo dan Ports of Lima, melanjutkan spirit The Beatles menyampaikan cinta yang nyata, yang real. Bang Ade meminta saya menyimak lagu baru SORE berjudul The Hitman, yang akan dirilis dalam sebuah kompilasi, untuk melihat jembatan perkembangan musik dan lirik SORE ke arah yang baru tetapi tidak jauh berbeda dengan yang telah dirilis sebelumnya.

Setelah merilis EP pada bulan April, album SORE yang ketiga sepertinya masih akan lama berselang. Bang Ade, dengan setengah bercanda, berharap bisa merekam double album, tetapi semuanya bergantung pada waktu yang tersedia. Saat ini Bang Ade mengurusi perusahaan pertambangan yang merupakan perusahaan keluarganya. Selanjutnya kami berbicara tentang sesuatu yang lebih serius, tentang romantisisme. Saya mengakui bahwa romantisisme tidak akan pernah mati dan akan terus menerus diredefinisi. Sebagai seorang pengajar Sastra Inggris, saya kerap membicarakan tentang gerakan musik New Romantics pada tahun 1980an dan di Indonesia saat ini, pelanggeng romantisisme itu adalah SORE, dengan cara yang positif dan simpatik, yang menurut saya perlu menjadi tonggak sejarah musik Indonesia sebelum musik Indonesia menuju arah yang baru dan tak terduga. Menurut Bang Ade, inti musik SORE itu sebenarnya adalah celebration of life, perayaan dan penikmatan hidup (dan tentunya ini pun adalah salah satu tema romantisisme). “Lu gak perlu nyimeng kalo pengen nikmatin hidup, pengen dapetin esensi hidup.” Bang Ade kemudian menyebut lagu Essensimo, lagi dari Ports of Lima, sebagai salah satu lagu SORE yang mengangkat tema ini. Perbincangan kami terhenti sejenak karena kedatangan Bemby dan Unni yang mengajak Bang Ade makan malam, setelah itu datang pula Joko Anwar yang memberitahukan bahwa tiket dan merchandise Pintu Terlarang malam itu sudah habis terjual.

ki-ka: Ade Firza Paloh, saya, dan Reza Dwiputranto. Buram…

Kemudian kami membicarakan Jockie Soerjoprajogo, musisi yang sama-sama kami gemari dan juga mempengaruhi SORE. Kami berbicara tentang dedikasi Bang Ade untuk Jockie yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Immortals. Saya suka sekali dedikasi Bang Ade, yang menurut saya menyentuh hampir seluruh kehebatan Jockie. Sayangnya, kutipan lagu ‘Harapan’ yang ada di awal tulisan Bang Ade memang salah cetak dan cukup fatal pula, kata ‘mega’ berubah ‘sega.’ “Kalo Sega ya maen game.” Sayangnya lagi, Bang Ade tidak tahu (atau tidak sadar) kalau dia sudah dizalimi dua kali oleh Rolling Stone Indonesia. Pada edisi 44 bulan Desember 2008 dalam rubrik RS Classic: Yockie Suryoprayogo, nama lengkap Bang Ade ditulis Ade Surya Paloh! Bang Ade sempat menyebut saya ‘manusia Jockie’ ketika Bemby dan Mondo datang bergabung. Bang Ade menyebut Mondo sebagai ‘manusia super Jockie.’ “Tapi waktu ketemu Jockienya, diem aja,” kata Bemby. “Kayanya waktu ketemu idolanya jadi mengkeret, ya?” tanya saya. “Nggak sih, Mondo emang orangnya kaya gitu.” Tidak lama, Mondo langsung dengan santainya meninggalkan kami. Obrolan malam itu ditutup dengan pembicaraan tentang proyek Evolusi, reka ulang album SBY oleh Jockie. Saya berbicara tentang rendahnya kualitas album SBY, yang di beberapa lagu terdengar seperti diiringi organ tunggal. Ternyata album SBY itu dulu direkam di studio kepunyaan Bang Ade! Kami juga membahas tentang cara menemui Jockie karena biasanya Jockie sering sekali online di Facebook atau hampir setiap hari menulis di blog Multiply-nya. Mungkin dua bulan terakhir ini, Jockie sedang sangat disibukkan oleh proyek Evolusi. Bang Ade menitip salam untuk sang Kaisar Senja kalau suatu saat saya bisa berbincang dengan Jockie di dunia maya. Saya juga berharap Bang Ade bisa terus menjalin hubungan dengan sumber inspirasinya itu. Sayangnya malam itu saya belum sempat bertanya sebesar apakah pengaruh Jockie terhadap musik SORE. Perbincangan harus berakhir karena seluruh personel dan kru SORE telah turun untuk makan malam. Bang Ade pun menabik saya dan Iqbal dan saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Ade karena telah meluangkan waktu untuk mengobrol dengan saya.

Setelah perbincangan dengan Bang Ade, diam-diam saya pun memendam harapan untuk menghasilkan karya musik pada usia yang lebih matang. Mungkin nanti ketika saya berusia 30 atau 32, siapa tahu? Setidaknya SORE dan Efek Rumah Kaca telah membuktikan bahwa kedewasaan, kebijaksanaan, dan kecerdasan dalam bermusik bertambah seiring dengan menuanya usia.

Pertama Kali Nonton SORE zeBand

Tulisan di bawah ini dihasilkan pada bulan Desember 2008:

foto oleh Tyar Ratuannisa, 29 November 2008

SORE memberi saya alasan yang tepat untuk kembali menyambangi panggung-panggung musik yang dipenuhi oleh anak-anak muda (baca: yang usianya lebih muda daripada saya, yang sudah sedikit melewati seperempat abad). Konser musik terakhir yang saya kunjungi adalah konser reuni The Rollies dalam rangka mengenang almarhum Gito Rollies, pada 30 April 2008. The Rollies adalah band yang telah ada dan masih ada sejak tahun 1963 dan tentunya bisa diperkirakan siapa saja yang datang pada konser reuni mereka (sepertinya saya menjadi yang termuda pada waktu itu). Bandung, kota saya, adalah salah satu tempat yang sering disambangi oleh SORE. Akan tetapi, dari sekian banyak kesempatan yang tersedia, saya baru beruntung menonton SORE dua kali. Pada kesempatan pertama di kafe Opulence, saya sedang terlalu disibukkan oleh pekerjaan saya (saya mengajar di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran) sehingga lupa memesan tiket kepada teman saya. Kemudian, saya bermaksud menonton Jakarta Rock Parade untuk tiga tujuan saja: SORE, Efek Rumah Kaca, dan Gipsy yang bereuni (minus almarhum Chrisye, tentu saja). Ketika SORE ternyata mengundurkan diri dari Jakarta Rock Parade, antusiasme saya hilang. Kesempatan berikutnya, 18 Oktober 2008, adalah kesempatan yang seharusnya menjadi lebih baik karena SORE akan bermain untuk sebuah acara gratis di Mal Paris van Java, Bandung. Pada hari itu, nenek saya meninggal dunia dan sepertinya saya tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Barulah pada tanggal 29 November 2008, saya bisa menonton SORE bersama adik-adik saya dalam sebuah acara bernama Symphonesia 2 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Sayangnya, saya agak kecewa pada saat itu karena SORE tampil tidak lengkap. Awan berhalangan dan digantikan oleh Akoy, pemain bas Karon N’ Roll. Ade sedang menderita tifus dan digantikan oleh Dono Firman, sound engineer dan kemudian anggota keenam SORE. Untungnya, ‘Somos Libres’ masih bisa menonjok saya, di tengah kualitas sound yang naik turun. Penyelamat penampilan SORE malam itu adalah lagu terakhir, ‘Funk the Hole’, yang menampilkan Rekti (The S.I.G.I.T.) yang tampil total untuk mengisi posisi Ade. Yang menarik, saya merasa out of place di tengah-tengah penonton yang sebagian besar berusia 18 – 20 tahun, yang jelas-jelas menantikan penampilan band-band lain selain SORE (setelah SORE akan tampil pula Mocca dan Maliq and D’Essentials). I’m too old for the crowd, but never too old for the music. Lagipula para personel SORE rata-rata sudah berkepala tiga walaupun karir band ini terhitung masih bungsu bila dibandingkan dengan Mocca, misalnya. Pendapat ini dinegasikan lagi oleh kenyataan bahwa di kiri-kanan saya terdapat beberapa orang mahasiswa saya, yang tidak bisa melihat konteks ruang dan waktu dan tetap memanggil saya ‘bapak.’  Oh, come on!