Tagged: lawrence ks

Berburu CD Musik di Lawrence (bagian 1)

Satu hal yang dulu saya impikan untuk dilakukan di Amerika Serikat dan sekarang sering saya lakukan adalah adalah thrift shopping, berburu barang-barang bekas (dan terkadang baru) dengan harga sangat miring di berbagai tempat. Di Lawrence, Kansas tempat saya tinggal, terdapat beberapa thrift stores, toko-toko yang khusus menjual barang-barang sumbangan dengan harga miring, misalnya jaringan nasional seperti Goodwill dan Salvation Army serta pula toko-toko lokal seperti St. John’s Rummage Shop dan Social Service League. Sebagian hasil penjualan barang-barang ini umumnya disumbangkan untuk program-program kemanusiaan seperti pengentasan kemiskinan dan pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Akan tetapi, thrifting tidak hanya berhenti di thrift stores saja. Ada banyak kesempatan untuk berburu barang-barang murah dengan harga sangat miring di tempat-tempat lain, semisal di garage sale yang bisa jadi diadakan oleh perorangan atau komunitas pada akhir pekan. Garage sale jadi semacam kegiatan akhir pekan favorit bagi kami, berkunjung ke garasi tetangga yang menjual sebagian barang yang sudah tidak digunakannya lagi dengan harga sangat murah dan terkadang bisa ditawar.

Bisnis ritel di Amerika Serikat saat ini melesu dan thrifting menjalar ke toko-toko yang akan bangkrut. Toko-toko yang akan tutup ini umumnya melakukan liquidation sale, menjual semua aset dengan harga sangat miring. Salah satu jaringan department store yang sudah bangkrut di Lawrence adalah Hastings, yang sempat saya kunjungi pada bulan Oktober lalu sebelum tutup selamanya pada bulan November. Yang akan tutup berikutnya sepertinya adalah jaringan toko pakaian JC Penney, yang saat ini sedang melakukan liquidation sale.

Saya berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan thrifting ini dengan mengoleksi musik dalam format CD. Mengapa CD? Tentunya karena CD lebih mudah ditemui di Amerika Serikat daripada kaset, yang banyak saya koleksi di Indonesia. Harga CD di thrift stores pun lebih bersahabat, umumnya berkisar hanya dari 50 sen hingga 2 dolar saja per CD, dan di garage sale bisa jadi malah lebih murah, bahkan untuk album yang bisa dibilang langka, setidaknya langka bagi saya yang tidak pernah menemukan album tersebut di Indonesia. Sebagai pendengar musik rock klasik, tujuan utama saya dalam berburu CD adalah album-album yang rock 60an dan 70an yang kerap dianggap klasik, tetapi saya pun terkadang juga membeli album-album yang menurut saya menarik atau punya nilai emosional dan nostalgik.

Saya pertama kali berburu CD di Hastings, toko yang saya sebut di atas, sekitar sebulan sebelum toko itu tutup. Seluruh koleksi CD diobral dengan harga mulai dari 80 sen saja. Berikut ini adalah beberapa CD yang saya peroleh di Hastings, selain juga beberapa DVD, buku komik, dan pakaian.

Blood, Sweat and Tears – Child Is Father to the Man (1968, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142159_HDR

Album ini adalah salah satu album yang telah lama masuk ke dalam daftar album yang paling ingin saya miliki, dan saya menemukannya di Hastings dengan harga hanya sedolar saja! Ini adalah album pertama Blood, Sweat and Tears, band yang didirikan oleh Al Kooper yang awalnya populer karena suara organ yang ikonik di single elektrik pertama Bob Dylan, “Like a Rolling Stone”, padahal Al Kooper sendiri awalnya adalah seorang gitaris. Di Indonesia, Blood, Sweat and Tears dikenal pertama kali lewat lagu “I Love You More Than You’ll Ever Know” yang bluesy, single pertama dari album ini. Akan tetapi, album ini lebih dari sekadar blues dan suara organ Hammond. Ini mungkin adalah salah satu album rock paling eksploratif dengan sentuhan orkestra, blues, jazz, aroma psikedelik yang kental, dan seksi tiup yang integral (sebelum Chicago datang setahun kemudian). Ini adalah album yang unik dan mungkin terbaik dalam sejarah Blood, Sweat and Tears, karena setelah ini Al Kooper memilih mundur dari band yang didirikannya dan Blood, Sweat and Tears memilih jalur yang lebih komersial tetapi tidak pernah seinovatif ini.

King Crimson – In the Court of the Crimson King: An Observation by King Crimson 40th Anniversary Edition (1969, versi rilis CD 2009)

IMG_20170607_142133_HDR

Ia teriak karena disimpan di atas sprei polkadot.

IMG_20170607_142359_HDR

CD 2 dengan foto masing-masing personel di sebelah kanan

IMG_20170607_142430_HDR

CD 1 dengan lanjutan lukisan sampul depan di sebelah kiri

Ketika saya melihat album ini di rak Hastings, saya hampir berteriak, seperti lukisan Barry Godber yang menjadi sampul album ini. In the Court of the Crimson King edisi khusus 40 tahun, 2 CD, baru hanya seharga $1.78 pula! Ini adalah album yang cukup sulit didapat di Indonesia, yang ketika tersedia pun umumnya harganya cukup mahal. Bagi para pendengar rock progresif, ini adalah salah satu album pelopor dalam eksplorasi progresif. Ini adalah album yang tetap segar dan menua dengan sangat baik; putar “21st Century Schizoid Man” dan sulit untuk tidak mengira bahwa Tool, Porcupine Tree, dan Mars Volta terpengaruh oleh band ini. Hasil remix stereo Steven Wilson (ya, Steven Wilson dari Porcupine Tree) di edisi ini membuat album ini terdengar lebih segar dan detil. Bagi yang menginginkan pengalaman yang lebih dekat dengan versi tahun 1969, CD 2 berisi edisi master orisinil yang pernah dirilis sebelumnya pada tahun 2004.

Kula Shaker – K (1996, edisi CD pertama)

IMG_20170607_142103_HDR

K adalah album yang saya dengar dalam berbagai fase hidup saya sejak saya masih SMP (walaupun pada waktu itu saya masih belum bisa menikmati album ini sepenuhnya) lewat kaset pinjaman dari seorang teman sekelas, tetapi ini juga album yang tidak pernah saya punya dalam format apapun sampai saat ini. Ini adalah album yang masih saya nikmati sampai sekarang, terutama sejak saya membeli CD ini bulan Oktober lalu. Secara musikal, ini adalah rock Inggris (atau Britpop, terserah deh) psikedelik yang sangat bagus dan secara personal, ini adalah album yang penuh nostalgia.

New Kids on the Block – Step by Step (1990, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142229_HDR

“I really think it’s just a matter of tiiiiimeee… Step by step, ooh baby, you’re always on my mind.”

Akhir tahun 1990 bagi saya adalah serial animasi New Kids on the Block di TPI pada Minggu pagi dan video klip “Step by Step” dan “Tonight” di malam hari. Di antara dua tayangan tersebut, saya biasa menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman yang kerap berbaju gombrong ala Danny Wood atau Jordan Knight atau bertopi hitam seperti Donnie Wahlberg. Album pertama yang orang tua saya belikan khusus untuk saya adalah album Step by Step dalam format kaset. Walaupun kegemaran saya akan NKOTB tidak berlanjut hingga saya remaja, Step by Step menurut saya masih salah satu album pop terbaik pada masanya dan album boyband terbaik dari segi musik. Ketika saya menemukan album ini dalam format CD di Hastings, tentunya tidak ada pilihan lain selain membelinya (lagipula harganya hanya sedolar)!

Sampai jumpa di artikel berburu CD musik berikutnya dengan CD-CD yang saya temukan di thrift stores!

 

 

 

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!

 

 

Coffee in Lawrence part One: The Shops

One of my greatest concerns when I have to move in to a new place is access to good coffee. I am no all-rounder when it comes to coffee (meaning I can’t just enjoy any coffee) and I’m not a snob either. When I moved to the US, specifically in Lawrence, Kansas, I suspected the prevalence of Starbucks in the area (not a fan; I’m always a Dunkin’ guy), yet I believed that I would come across a number of independent, locally-owned (not to mention hippie-ish) coffee shops since Lawrence is a college town full of vibrant hipster atmosphere (perhaps).

Where to go

Well, my suspicion wasn’t wrong when I first came here in Lawrence. Starbucks are easy to find whenever Dillon’s grocery stores are, since in Lawrence they’re allied. If Starbucks is your thing and you crave for a cold venti of frappucino while in Lawrence, just head to one of the Dillon’s stores closest to you. Of, if you’d rather have your coffee while sitting down, you can visit the Starbucks at downtown Lawrence on the historic Massachusetts Street. I can never say much about Starbucks’s coffee; I always consider most of their non-sweetened offerings watery and their sweetened ones saccharine. If you think their cold brew is good, most other coffee shops in Lawrence blow it out of the water. Now, let’s move on to the places that blow Starbucks out of the water.

Dunkin’ Donuts

img_20160810_060852_hdr

My standard Dunkin’ Donut fare. This is an Americano with cream because my stomach was not feeling well at that time.

img_20160731_112620_hdr

My last Indonesian Dunkin’ fix

When I was in Indonesia, I was always a Dunkin’ guy. Why? Their hot coffee (essentially an Americano) tastes great, although it may not be consistent from one store to another. Here in Lawrence, there are only two Dunkin’ stores; one is on the West 6th Street and Michigan, the other is on the West 23rd and Louisiana. Even though the West 6th Dunkin’ is much closer to where I live (about three blocks away), I always prefer the West 23rd Dunkin’ for several reasons. The first is better coffee; the brew at West 23rd Dunkin’ seems to be stronger, darker and thicker which is evident when you order either an espresso or an Americano. The second is more professional service and barrista-ship (is this even a word?). Do try Dunkin’s cold brew. I always prefer it over their iced coffee.

The Roasterie Air-Roasted Coffee (https://www.theroasterie.com/)

img_20160829_114812_hdr

The Roasterie’s paper shot cup. It can hold up up to two shots of espresso.

The Roasterie is the official coffee partner of the University of Kansas (KU). It originates from neighboring Kansas City. You can find it almost everywhere on campus, at the Memorial Union building, the many foodcourts and the libraries. Their beans are locally sourced and they employ KU students, meaning that they provide much-needed on campus employment. Their coffee I sometimes find hit-and-miss. If you have to go for The Roasterie, settle for their dark roast Americano/drip coffee or their espresso if you prefer something stronger and briefer (I usually go for the double espresso). Their regular and decaf options are too light for my taste. For a KU student, paying for their regular roast and decaf is also considered unnecessary, except if you want some of their more unconventional offerings, such as the Bavarian or cinnamon coffee. Since The Roasterie is the official coffee provider for KU events, you can always get the regular and decaf for free at almost any university events that serve free refreshments.

Java Break (http://thejavabreak.com/home/)

img_20161125_135643_hdr

Java Break was the first coffee shop I visited in Lawrence and I can’t say much about it. It has a great place downtown, at the basement of a historic building, very spacious and hippie-ish. The barrista is nice, albeit grumpy-looking and sleepless because the place is open 24 hours. I haven’t tried many of their coffee drinks, but their regular coffee is even weaker, in my opinion, than The Roasterie’s regular. Their Java Break specialty (with some interesting spices) tastes nice, but it is a bit watery. However, if you happen to be downtown late at night and in need of some not-so-serious coffee and a place to hang out without resorting to one of the bars, Java Break may be the place for you.

UPDATE: I went to Java Break yesterday to study with some friends and I had a cup of Lawrence Slammer (pictured with a KU Jayhawks cap) for the first time. It was good! It’s a shot espresso diluted with the Java Break regular coffee, and it’s a great idea! It’s even better with a dash of turbinado (raw cane sugar) and a pinch of cinnamon powder!

La Prima Tazza (http://laprimatazza.com/)

La Prima Tazza is located just across the street from the downtown Starbucks and is easily the better of the two. It is housed in a historic building with a great vintage atmosphere that somewhat manages to not be too hipsterrific, which perhaps explains why it attracts people from different age groups instead of only the hippie youngsters. There are many house blends to choose from, but if the drip coffee is not your thing, the espresso is strong and rich. Making it a macchiato is even better. If you feel a little adventurous, you can try one of the coffee specialties. I have only tried the Indonesian specialty, a drink that I never actually found in Indonesia. It’s a strong and flavorful drink, a mixture of two shots of espresso and spiced milk. Give it a try!

Alchemy (http://www.alchemyks.com/)

img_20160813_134742_hdr

The best cold brew I’ve had so far

Alchemy is a locally owned coffee and bake shop. It is a quieter place altogether because it is located a little inside, about ten blocks away from the downtown coffee places listed here. I came to Alchemy for the hyped cold brew and it delivers! It is perhaps the best, the richest cold brew I have had so far, bar none. I forgot to ask about the beans and the method used, because I was there when it was about to close. Alchemy also makes the best blueberry pie I have ever had! My biggest gripe with Alchemy is the rather unfortunate operating hours, opening too early (at 7 am) and closing too soon (at 6 pm) which prevents me from having a refreshing glass of cold brew after classes. Still, I’ll be back and have more awesome coffee drinks to go with the blueberry pie!

I will continue to explore Lawrence and its surrounding areas for more coffee. So, I will keep this page updated! See you!

 

 

 

Obituary 1: Suangsih (193? – August 22, 2016)

Kami biasa memanggilnya Wa Acih atau Bi Acih atau terkadang Wa Aceu. Ia adalah kakak lain ibu dari ibu kandungku. Walaupun berbeda ibu, hubungan wa Acih dan ibu kandungku sangat dekat dan wa Acih sangat menyayangi adik-adiknya. Sejak menikah, wa Acih memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Setidaknya dua minggu sekali, wa Acih selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kota Bandung menengok keluarga adik-adiknya.

Sejak dulu sampai terakhir bertemu beberapa bulan lalu, wa Acih adalah salah satu anggota keluarga terlucu dalam keluarga besar kami. Kemampuan dan staminanya dalam membanyol, terutama dalam Bahasa Sunda, sulit ditandingi oleh anggota-anggota keluarga lain. Inilah yang membuat wa Acih sering dirindukan, terutama ketika beberapa tahun terakhir wa Acih didera diabetes dan tidak bisa lagi terlampau lincah bepergian ke kota Bandung.

Kabar kepergian wa Acih saya peroleh dari sepupu saya lewat grup WhatsApp keluarga sepulang kuliah hari pertama di semester pertama saya di University of Kansas, Amerika Serikat. Sungguh malam itu adalah malam yang hampa, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa seorang diri selepas sholat Isya yang terlampau malam. Tidak ada kesempatan untuk berkunjung, mengantar ke pembaringan terakhir, dan berdoa bersama sambil berbela sungkawa dan menghibur anggota-anggota keluarga yang ditinggalkan.

Saya sempat banyak melamun di hari berikutnya dan sedikit kurang focus belajar di hari kedua kuliah. Akan tetapi, keesokan harinya saya teringat salah satu banyolan terlucu Wa Acih, yang sulit untuk diceritakan kembali di sini karena alih kode yang sulit dijelaskan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sunda. Saya pun tertawa-tawa sendiri sepulangnya ke apartemen dan bisa mengenang Wa Acih pada saat terlucunya. Dalam ketiadaan pun ia tetap lucu, dan saya yakin Wa Acih akan tertawa-tawa bahagia sesampainya nun di sana. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

It is unfortunate that I should begin my updates on my first month in Lawrence with the sad news of the passing of my aunt. We usually called her Wa Acih or Bi Acih (lit. Aunty Acih) or less commonly, Wa Aceu. She was my mother’s half-sister from my grandfather’s previous marriage. Despite coming from a different mother, she loved her half-sisters very dearly. Since getting married in the early 1970s, Wa Acih decided to live in Majalaya, a suburban district of Bandung regency. At least once a month, Wa Acih went to Bandung city to visit the families of her sisters.

At least until several months ago, when I met her for the last time, she was one of the funniest family members in our extended family. Her ability and stamina to create jokes, especially in Sundanese, is hard to be matched by other relatives. This is what my relatives missed the most about Wa Acih, especially since in the past couple of years, she could not visit Bandung city at will due to diabetes.

The news of Wa Acih’s passing was relayed by a cousin through the family WhatsApp group, in the evening of the first day of class in my first semester at the University of Kansas. The night suddenly turned hollow, nothing else to do except for praying alone after the Isya prayer late at night. There was no opportunity to visit the internment and pray together in a congregation while expressing condolences and consoling the surviving family members.

I spent the following day pensively and even became less focused on the second day of class. The next day, however, I suddenly remembered one of Wa Acih’s funniest jokes, which is difficult to tell here because it involves code switching from Indonesian to Sundanese. I laughed all by myself once I got to my apartment and I was glad I could remember Wa Acih at her funniest. Even in her absence, she remains funny, and I am sure she will laugh happily once she gets up there. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Sebulan di Lawrence – First Month in Lawrence

Sebulan lalu (sudah lewat satu hari sebenarnya), saya berangkat dari Tanjungsari, Sumedang menuju Lawrence, Kansas, Amerika Serikat. Saya akan tinggal cukup lama di Lawrence, karena saya terdaftar sebagai mahasiswa purna waktu di program doktoral Sastra Inggris, Department of English, University of Kansas, yang artinya saya akan tinggal selama 4-5 tahun hingga program saya selesai. Hidup di sebuah kota kecil di tengah Amerika Serikat tentu berbeda dengan hidup di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Indonesia, dan tentu terasa semakin berbeda karena sebulan ini saya hidup sendirian, jauh dari keluarga (istri dan anak saya akan menyusul nanti), sahabat-sahabat, serta kolega-kolega. Akan tetapi, saya berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, kawan-kawan baru dan cara belajar baru. Karena saya tidak harus bekerja di sela-sela kelas, (sepertinya) saya pun akan punya waktu untuk menulis dan mengunggah sesuatu di blog saya yang sudah cukup berdebu karena lama ditinggalkan. Selamat membaca!

IMG_20160803_073718

Sorry for the eyesore! In front of the Kansas Union, a hub for students of KU and Lawrence community.

A month ago (a month and one day, to be exact), I left Tanjungsari, Sumedang, Indonesia for Lawrence, Kansas, United States of America. I am going to stay for quite a while in Lawrence, since I have been enrolled as a full-time student in the PhD in English Literature program, Department of English at the University of Kansas. This means that I am going to live in Lawrence for the duration of my program, which usually takes 4-5 years. Living in a small city in the middle of the US is certainly different from living in a small city in West Java, Indonesia and it is even more different since currently I have been living alone, far from my family (my wife and son will catch up soon), friends and colleagues. However, I am adjusting to living and studying here, while making new friends along the way. Since I don’t have to work in between classes (except for homework, that is), I can allocate time to write something and get this blog up and running after gathering dust for several months. Enjoy reading!