Tagged: guitar

Lagu Bulan Ini: Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang) oleh Swami, juga tentang Bandung, dan Distopia

Beralih dari pembicaraan beberapa bulan lalu tentang lagu yang pertama saya nyanyikan ketika bapak saya merekam suara saya untuk kali pertama, kali ini saya akan bercerita tentang lagu yang pertama kali bikin saya merinding dan menitikkan air mata bahkan ketika saya belum sepenuhnya paham musik dan liriknya. Seiring saya bertambah tua, kemerindingan dan cercah air mata saya tidak juga pudar ketika sendiri di suatu malam saya duduk dan lagu ini diputar atau terputar (karena daftar putar lagu yang diprogram acak).

“Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang)” adalah lagu keempat di sisi pertama (karena saya pertama kali memutarnya dalam format kaset) dari album pertama Swami, kolektif musik yang bolehlah dibilang salah satu supergrup rock Indonesia, yang awalnya terdiri atas Iwan Fals (vokal, gitar akustik), Sawung Jabo (vokal, gitar akustik), Nanoe (gitar bas), Naniel Yakin (seruling, rekorder, perkusi, vokal), dan Innisisri (dram, perkusi) dibantu oleh Jerry Soedianto (gitar listrik) dan Tatas (kibor). “Esek Esek Udug Udug” bolehlah dibilang sebagai lagu balada pelan yang mendinginkan tegangan dan gelombang panas yang ditimbulkan oleh tiga lagu rock berenergi tinggi di awal album: “Bento”, “Bongkar”, dan “Badut”.

Butuh waktu tahunan bagi saya untuk sadar bahwa “Esek Esek Udug Udug” sebenarnya adalah penerjemahan dalam kata irama utama dari lagu ini, dengan bunyi esek-esek yang berasal dari alat perkusi kocokan (shaker) dan bunyi udug-udug berasal dari kendang/ketipung yang muncul sejak tengah lagu. Subjudul dalam kurung “Nyanyian Ujung Gang” sesungguhnya sangat tepat, setidaknya bagi saya. Dibandingkan dengan tiga lagu pertama yang terdengar luas, ramai dan megah, “Esek Esek Udug Udug” terdengar sempit dan agak klaustrofobik, seolah dinyanyikan dalam lingkaran di ujung sebuah gang di larut malam ketika tidak ada lalu lintas, atau mungkin gang itu memang buntu. Ramuannya pun lebih sederhana, dengan gitar akustik, gitar bas, dan shaker, walaupun di akhir lagu instrumen-instrumen lain merambah masuk tanpa merusak kesahajaan yang terbangun di awal lagu.

Beberapa kali pertama saya mendengar lagu ini, sebagai seorang anak kelas satu SD di tahun 1989, saya ingat sering terdiam mungkin untuk menghayati lagu ini, alih-alih ikut bernyanyi seperti halnya ketika saya mendengar “Bento” dan “Bongkar”. Di saat yang hampir bersamaan, rumah keluarga besar kami, yang dibeli dan dibangun oleh almarhum kakek (aki) dibuldoser oleh pemerintah kota untuk kemudian dibangun pusat perkantoran dan pertokoan. Di depan sebuah warung, di ujung suatu gang sewaktu rumah itu masih ada, adik bungsu ibu saya sering nongkrong bersama remaja-remaja tetangga, bermain gitar dan bernyanyi macam-macam lagu, termasuk lagu-lagu Iwan Fals.

“Esek Esek Udug Udug” adalah satu-satunya lagu di album Swami yang tidak dinyanyikan oleh Iwan Fals dan/atau Sawung Jabo. “Esek Esek Udug Udug” adalah lagunya Naniel, dinyanyikan oleh Naniel dengan bantuan harmoni vokal teman-teman satu bandnya. Mungkin suara Naniel yang lirih, dan juga kesempitan dan kesederhanaan lagu ini, yang membuat saya merinding, sedikit sedih dan jengah tetapi penasaran untuk memahami lagu ini.

Beberapa tahun berselang, dan kaset Swami masih sering disetel di rumah dan di dalam mobil, kami menengok Lebak Gede, tepatnya kampung di belakang dan bawah hutan kota Babakan Siliwangi. Kampung yang semula sangat padat dengan rumah kos-kosan ini sudah separuh digusur oleh pemerintah kota. Para penghuninya berangsur-angsur pindah; salah satu keluarga yang masih bertahan adalah keluarga yang dahulu menyewakan satu kamar di rumah mereka untuk tempat tinggal bapak dan ibu sewaktu mereka baru mulai berumah tangga. Kami berkunjung sebenarnya untuk urusan penuh kedukaan. Ibu kos orang tua saya meninggal dunia belum lama berselang; ia adalah ibu untuk bapak saya selama masa-masa sulit kuliah di ITB dan awal berumah tangga. Dua anak lelaki kembarnya, Wowo dan Ato, sudah seperti adik bagi bapak saya (yang tak punya adik) dan seperti paman bagi saya. Keluarga mereka adalah salah satu keluarga yang terakhir pindah, sebelum wilayah itu ditutup dan kemudian ketika dibuka menjelma jadi Sasana Budaya Ganesa dan Sarana Olah Raga ITB.

Di kampung di Lebak Gede itu, gang-gang memendek, ujungnya semakin dekat. Semakin sedikit remaja yang nongkrong untuk sekadar merokok atau bermain gitar dan bernyanyi. Suara aliran sungai Cikapundung semakin jelas di telinga, peredamnya baik yang alami maupun buatan manusia telah rata dengan tanah. Wowo dan Ato memancing beberapa ekor ikan mas, sebagian dimasak untuk makan malam, sebagian untuk kami bawa pulang. Tetapi mereka tidak memancing di sungai Cikapundung dekat rumah; tak ada ikan besar di situ, hanya air yang keruh dan sampah  plastik, kantong keresek dan botol air mineral. Saya berjalan ke tepi sungai untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Wowo dan Ato benar; seketika saya bersenandung dua baris dari “Esek Esek Udug Udug”:

Mengalir sungai-sungai plastik, jantung kota
Menjadi hiasan yang harusnya tak ada

Saya melihat sekeliling, tembok-tembok batu baru berdiri, dinding-dinding yang membuat kampung yang semula akrab menjadi asing. Walaupun tak tepat benar, saya kembali bersenandung dari “Esek Esek Udug Udug”, “Selamat datang, kawan, di belantara batu.”

Saya kemudian menjadi siswa SD kelas enam, bersiap untuk Ebtanas. Pulang agak sore setelah pelajaran tambahan, dan memilih berjalan santai untuk menyegarkan pikiran sebelum akhirnya pulang naik angkot Margahayu Raya-Ledeng dari bilangan Jalan Supratman. Di perempatan Supratman-Ahmad Yani, angkot berhenti pada lampu merah. Dua pengamen mendekat; satu orang bergitar, yang lain membawa botol kecil minuman probiotik entah berisi pasir atau beras, yang menjadikannya alat perkusi. Mereka bernyanyi “Esek Esek Udug Udug”; tak sampai dua ratus lima puluh meter dari tempat mereka bernyanyi, adalah bekas rumah aki dan nini saya, tempat ibu saya dilahirkan. Saya merasa mata saya berkaca-kaca dan basah; saya berpura-pura tertidur dengan kepala tertunduk terbekap tas ransel.

Selama bertahun-tahun berselang, saya selalu berusaha kembali ke “Esek Esek Udug Udug” dan selalu merenung, merinding, dan terkadang menitikkan air mata; ia bukan hanya lagu yang menarik bagi saya secara artistik, tetapi lebih dari itu, “Esek Esek Udug Udug” adalah lagu yang atmosfer musik dan liriknya membantu saya memahami permasalahan di sekitar saya, termasuk yang memengaruhi keluarga saya dan kota tempat kami tinggal. “Esek Esek Udug Udug” mungkin tidak diciptakan oleh Naniel untuk kota Bandung dan gang-gangnya, tetapi ia selalu membawa saya kembali ke rumah keluarga kami yang telah digusur, rumah keluarga Wowo dan Ato, dan ratusan keluarga lain, yang kini sudah tak ada lagi, hutan kota yang semakin terancam, pembangunan Bandung Utara yang semakin marak dan tak terkendali, dan sungai Cikapundung yang tercemar. Saya terkadang berpikir, mungkin asosiasi yang saya bangun cenderung terlalu banal, emosional, atau sentimental, tetapi mungkin inilah cara saya untuk tetap diingatkan tentang masalah-masalah yang tidak hanya terjadi di masa lampau, tapi juga terus berlangsung sampai saat ini: lingkungan urban yang semakin padat, mendesak, dan tak sehat baik secara jasmani maupun rohani.

Beberapa tahun belakangan ini, sebagai penekun fiksi sains, saya pun tetap kembali ke “Esek Esek Udug Udug”; ia adalah karya fiksi sains, visi distopis masa depan yang bersandar pada gagasan-gagasan megah tentang belantara batu dan robot-robot bernyawa, tetapi abai pada perkara-perkara dasar yang memungkinkan segala kehidupan (bukan hanya hidup manusia) terus berlangsung: udara yang bersih, air yang jernih, dan ketenangan serta keheningan.

 

Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang)

(Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel)

menangis embun pagi yang tak lagi bersih
jubahnya yang putih tak berseri ternoda
daun daun mulai segan menerima
apa daya tetes embun terus berjatuhan

mengalir sungai sungai plastik di jantung kota
menjadi hiasan yang harusnya tak ada
udara penuh dengan serbuk tembaga
topeng topeng pelindung harus dikenakan

dinding desa ku dinding kotaku
dinding negriku yaaaa

robot robot bernyawa tersenyum menyapaku
selamat datang kawan di belantara batu
kulanjutkan melangkah antara bising malam
mencari tempat mencari harapan

aku melihat aku bertanya
aku terluka yaaaaaaaaaaaaaa

wahai kawan hei kawan bangunlah dari tidurmu
masih ada waktu untuk kita berbuat
luka di bumi ini milik bersama
buanglah mimpi-mimpi
buanglah mimpi-mimpi (buang)
buanglah mimpi-mimpi (buanglah)

Advertisements

Lagu Minggu Ini: “Aku Tak Berdosa” (Favourite’s Group)

Minggu lalu dan minggu ini saya rindu sekali pada satu lagu yang dulu sering saya dengarkan waktu saya masih kecil; saking sukanya saya pada lagu itu, ketika alm. bapak merekam suara saya untuk pertama kali, saya nyanyikan lagu itu. Dengan kekuatan YouTube, akhirnya saya temukan lagu yang saya rindukan itu, bahkan sekaligus dalam album orisinalnya yang ditransfer dari piringan hitam dengan cermat oleh bung John Kwa Indonesia, yang sebelumnya dikenal telah pula mengunggah diskografi lengkap Koes Bersaudara dan Koes Plus. Lagu yang saya kangeni adalah lagu pertama di album bertajuk Favourite’s Group Vol(ume) 4, yang dirilis sekitar tahun 1974 (umumnya album-album pop Indonesia pada masa itu tidak berangka tahun).

 

Seingat saya, lagu ini pertama kali saya dengar bukan dari Volume 4, tapi dari kaset kompilasi bertajuk The Very Best of Favourite’s Group. Almarhum bapak membeli kaset itu karena seleksi lagunya sangat bagus dan lebih banyak berfokus pada formasi klasik Favourite’s Group (dijelaskan sedikit di bawah), formasi yang paling ia suka. Saya mulai ikut-ikutan memutar kaset itu dan menyukai banyak lagu di dalamnya, di antaranya lagu “Aku Tak Berdosa” ini, “Ma Onah”, “Cinta Monyet”, dan “Cari Kawan Lain”.

Jadi, siapa saja sebenarnya anggota formasi klasik Favourite’s Group? Favourite’s Group pertama didirikan pada tahun 1972 atas cetusan A. Riyanto, pencipta lagu, pemain kibor, dan produser veteran yang telah menulis banyak lagu sukses pada 1960an dan awal 1970an dan mengiringi beberapa penyanyi di studio rekaman bersama band-nya 4 Nada; beberapa penyanyi yang paling sukses ditanganinya adalah Tetty Kadi dan Arie Koesmiran. Formasi pertama Favourite’s Group bisa dikatakan adalah 4 Nada yang berganti nama, dan ditambah Mus Mulyadi sebagai penyanyi utama (walau A. Riyanto ikut pula bernyanyi beberapa lagu). Formasi pertama hanya bertahan sampai album pertama mereka usai direkam. Is Haryanto (dram) dan Harry Toos (gitar) bergabung untuk rekaman album kedua, dan Mus Mulyadi mengisi posisi gitar bas, instrumen yang ia mainkan sewaktu masih bergabung dengan band Ariesta Birawa. Tommy WS (bas) bergabung untuk album ketiga dan seterusnya, dan lengkaplah formasi klasik Favourite’s Group. Formasi ini awalnya hanya merekam dua album, Volume 3 dan 4, sebelum Mus Mulyadi memutuskan untuk fokus bersolo karir. Formasi ini kemudian bereuni pada tahun 1978 dan merilis beberapa album hingga pengunduran diri Harry Toos pada tahun 1989.

Lagu “Aku Tak Berdosa” dari Volume 4 ini mungkin lagu Favourite’s Group’s yang paling (atau mungkin salah satu yang paling) psikedelik dan bergitar. Lagu ini dibuka dengan melodi gitar sederhana yang berulang selama setengah menit yang mendadak dipotong oleh distorsi gitar satu not, diikuti dengan gitar ritem yang terdengar mirip “Hi Ho Silver Lining”-nya Jeff Beck Group. Lagu kemudian berlanjut dengan lirik utama yang dinyanyikan oleh A. Riyanto dan Mus Mulyadi, lirik dan melodi yang membius saya sewaktu saya kelas satu SD dan memutar kaset ini hampir setiap hari sepulang sekolah.  Refrain lagu ini dinyanyikan oleh A. Riyanto yang sepertinya terlalu memaksakan pita suaranya untuk mencapai nada tinggi, tapi menurut saya justru inilah bagian paling krusial sekaligus paling menggelikan dari lagu ini. Bagian refrain lagu ini kemudian mendadak pindah ke bagian bridge yang sangat sepi, dan sangat psikedelik, sebelum kembali lagi ke refrain. Lagu ini diakhiri dengan solo gitar Harry Toos hingga akhirnya menghilang dan selesai. Singkatnya, ini adalah lagu keren dan unik dalam katalog lagu  Favourite’s Group; lagu ini cenderung lebih keras dengan aransemen yang lebih longgar, cukup berbeda dibandingkan lagu-lagu balada mereka yang cenderung simfonik atau lagu-lagu upbeat mereka yang terasa lebih ringan dan umumnya dipengaruhi unsur musik keroncong atau dolanan Jawa.

Selama bertahun-tahun sejak tahun 1989 saya berusaha memahami maksud lirik lagu ini (lihat di bawah), tetapi terlalu banyak interpretasi bermunculan di benak saya. Apakah ini lagu tentang dosa asal (original sin)? Apakah ini lagu tentang kepolosan manusia di tengah alam, dan kemudian membandingkan dirinya dengan kepolosan alam? Apakah lagu ini ungkapan terima kasih pada Tuhan atas anugerah hidup dan penebusan dari dosa? Entahlah. Saat ini saya sebaiknya menikmati saja lagu keren ini.

Aku Tak Berdosa

(A. Riyanto)

*
Siapa yang berdosa
Tak dapat ku berkata
Siapa yang bersalah
Susah ditelaah
Mari kita
Kita renungkan

(Ulang *)

Refrain 1:
Siapakah harus berdosa?
Siapakah harus dicela
Bila rambut panjang terurai?

Mengapa tidak kau restui?
Mengapa tidak kau hayati
Indah dan bebas dan alam ini?

Bridge:
Pohon lebat daunnya
Begitu pun rambutku
Telah diciptakanNya sejak dahulu

Refrain 2:
Di mana tempatku berdiri
Indahnya alam kunikmati
Syukur pada Tuhan Yang Esa

(Ulang *, Bridge, Refrain 2, dan *)

 

 

What I Did with a Guitar When I Was Young

When I was young and my heart was an open book… Okay, that was not it. I never was and never am a guitar player. I picked up guitar back in 2000 and, until today, I never managed to get past basic chords and scales. However, in 2003 and 2004, I had a very strong drive to create some guitar-driven music, which was mainly fueled by the surrounding experimental and noise music scene at that time, which circled around toying with a guitar or guitars, unusual instruments and electronic embellishments. Since I had almost no budget to afford a guitar, I borrowed two guitars on two separate occasions. The first one was borrowed from Dody (Hermayadi Ardisoma), my neighbor and senior at the university, some time in 2003. It was a generic-looking black Samick guitar, whose sound I have taken to like. The second was borrowed from a friend of mine (name classified) during KKN (field work) in 2004. It was a Japan-made ivory Fender Telecaster that had been sitting in his cupboard for almost a year. It was a bit rusty and dirty, but useable.

The recording process was amateurish at best: guitar directly plugged into computer soundcard without external DAC/pre-amp or interface. This accounts for some noise that was later reduced during editing and mixing process. Takes were recorded using SoundForge (back then it was SonicFoundry’s, not yet Sony’s), and synthesizer and drum tracks were created on Fruity Loops (now FL Studio). These were all finally mixed and mastered, if you can call them mixing and mastering, on SoundForge. So, voila, here are six tracks from a person who could not actually play guitar. The seventh track is a bonus track featuring my friend, Andy Dwi (a real guitarist) on guitar with me on piano and drum programming. Pardon the lack of melody and virtuosity. Consider you’ve been warned.

Fanfare for the Self
Sandya Maulana: synthesizer, guitar, drum programming

The Room Re-revisited (including the Madcaps) (2009 remix)
Sandya Maulana: guitar, ballpoint caps, synthesizer

After All
Sandya Maulana: guitars, synthesizer, drum programming

Dinosaurs in D
Sandya Maulana: guitar, vocals, treatment, drum programming
Contains performances of excerpts from “I Know What I Like” by Genesis and samples of “Closer to the Heart” by Rush

Is It?
Sandya Maulana: Synthesizer, TS808, guitar, drum programming

The Room Revisited (including the Schedule)
Sandya Maulana: guitar, treatment, computer keyboard

Self-Indulgent Blues
Sandya Maulana: piano, synthesizer, drum programming
Andy Dwi: guitar