Tagged: food

Coffee in Lawrence part One: The Shops

One of my greatest concerns when I have to move in to a new place is access to good coffee. I am no all-rounder when it comes to coffee (meaning I can’t just enjoy any coffee) and I’m not a snob either. When I moved to the US, specifically in Lawrence, Kansas, I suspected the prevalence of Starbucks in the area (not a fan; I’m always a Dunkin’ guy), yet I believed that I would come across a number of independent, locally-owned (not to mention hippie-ish) coffee shops since Lawrence is a college town full of vibrant hipster atmosphere (perhaps).

Where to go

Well, my suspicion wasn’t wrong when I first came here in Lawrence. Starbucks are easy to find whenever Dillon’s grocery stores are, since in Lawrence they’re allied. If Starbucks is your thing and you crave for a cold venti of frappucino while in Lawrence, just head to one of the Dillon’s stores closest to you. Of, if you’d rather have your coffee while sitting down, you can visit the Starbucks at downtown Lawrence on the historic Massachusetts Street. I can never say much about Starbucks’s coffee; I always consider most of their non-sweetened offerings watery and their sweetened ones saccharine. If you think their cold brew is good, most other coffee shops in Lawrence blow it out of the water. Now, let’s move on to the places that blow Starbucks out of the water.

Dunkin’ Donuts


My standard Dunkin’ Donut fare. This is an Americano with cream because my stomach was not feeling well at that time.


My last Indonesian Dunkin’ fix

When I was in Indonesia, I was always a Dunkin’ guy. Why? Their hot coffee (essentially an Americano) tastes great, although it may not be consistent from one store to another. Here in Lawrence, there are only two Dunkin’ stores; one is on the West 6th Street and Michigan, the other is on the West 23rd and Louisiana. Even though the West 6th Dunkin’ is much closer to where I live (about three blocks away), I always prefer the West 23rd Dunkin’ for several reasons. The first is better coffee; the brew at West 23rd Dunkin’ seems to be stronger, darker and thicker which is evident when you order either an espresso or an Americano. The second is more professional service and barrista-ship (is this even a word?). Do try Dunkin’s cold brew. I always prefer it over their iced coffee.

The Roasterie Air-Roasted Coffee (https://www.theroasterie.com/)


The Roasterie’s paper shot cup. It can hold up up to two shots of espresso.

The Roasterie is the official coffee partner of the University of Kansas (KU). It originates from neighboring Kansas City. You can find it almost everywhere on campus, at the Memorial Union building, the many foodcourts and the libraries. Their beans are locally sourced and they employ KU students, meaning that they provide much-needed on campus employment. Their coffee I sometimes find hit-and-miss. If you have to go for The Roasterie, settle for their dark roast Americano/drip coffee or their espresso if you prefer something stronger and briefer (I usually go for the double espresso). Their regular and decaf options are too light for my taste. For a KU student, paying for their regular roast and decaf is also considered unnecessary, except if you want some of their more unconventional offerings, such as the Bavarian or cinnamon coffee. Since The Roasterie is the official coffee provider for KU events, you can always get the regular and decaf for free at almost any university events that serve free refreshments.

Java Break (http://thejavabreak.com/home/)


Java Break was the first coffee shop I visited in Lawrence and I can’t say much about it. It has a great place downtown, at the basement of a historic building, very spacious and hippie-ish. The barrista is nice, albeit grumpy-looking and sleepless because the place is open 24 hours. I haven’t tried many of their coffee drinks, but their regular coffee is even weaker, in my opinion, than The Roasterie’s regular. Their Java Break specialty (with some interesting spices) tastes nice, but it is a bit watery. However, if you happen to be downtown late at night and in need of some not-so-serious coffee and a place to hang out without resorting to one of the bars, Java Break may be the place for you.

UPDATE: I went to Java Break yesterday to study with some friends and I had a cup of Lawrence Slammer (pictured with a KU Jayhawks cap) for the first time. It was good! It’s a shot espresso diluted with the Java Break regular coffee, and it’s a great idea! It’s even better with a dash of turbinado (raw cane sugar) and a pinch of cinnamon powder!

La Prima Tazza (http://laprimatazza.com/)

La Prima Tazza is located just across the street from the downtown Starbucks and is easily the better of the two. It is housed in a historic building with a great vintage atmosphere that somewhat manages to not be too hipsterrific, which perhaps explains why it attracts people from different age groups instead of only the hippie youngsters. There are many house blends to choose from, but if the drip coffee is not your thing, the espresso is strong and rich. Making it a macchiato is even better. If you feel a little adventurous, you can try one of the coffee specialties. I have only tried the Indonesian specialty, a drink that I never actually found in Indonesia. It’s a strong and flavorful drink, a mixture of two shots of espresso and spiced milk. Give it a try!

Alchemy (http://www.alchemyks.com/)


The best cold brew I’ve had so far

Alchemy is a locally owned coffee and bake shop. It is a quieter place altogether because it is located a little inside, about ten blocks away from the downtown coffee places listed here. I came to Alchemy for the hyped cold brew and it delivers! It is perhaps the best, the richest cold brew I have had so far, bar none. I forgot to ask about the beans and the method used, because I was there when it was about to close. Alchemy also makes the best blueberry pie I have ever had! My biggest gripe with Alchemy is the rather unfortunate operating hours, opening too early (at 7 am) and closing too soon (at 6 pm) which prevents me from having a refreshing glass of cold brew after classes. Still, I’ll be back and have more awesome coffee drinks to go with the blueberry pie!

I will continue to explore Lawrence and its surrounding areas for more coffee. So, I will keep this page updated! See you!





Sarapan Favorit: Tahu Petis Pasar Sumber Hurip Margahayu Raya

Entah berapa banyak orang Singaparna, Tasikmalaya yang berjualan kupat tahu di seantero Bandung. Yang jelas, di Margahayu Raya saja, di tempat saya tinggal, ada lima (atau mungkin lebih) pedagang kupat tahu. Para pedagang kupat tahu ini ada yang berjualan berkeliling, ada juga yang menyewa tempat semi permanen. Salah satu tempat makan kupat tahu yang paling ramai di Margahayu Raya adalah kupat tahu di Pasar Sumber Hurip Margahayu Raya, letaknya di tepat setelah pintu masuk utara pasar Sumber Hurip, Jl. Rancabolang. Tukang kupat tahu ini juga menyediakan varian kupat tahu favorit saya, yakni tahu petis. Umumnya, pedagang kupat tahu yang menyewa tempat semi permanen atau permanen tidak hanya berjualan kupat tahu saja, tapi juga berjualan setidaknya salah satu dari dua varian kupat tahu: kupat sayur atau tahu petis. Di tukang kupat tahu ini, hanya tersedia kupat tahu standar (seperti biasa dengan tahu kuning, kupat/lontong, tauge, bumbu kacang, dan kecap) dan tahu petis.

Biasanya saya datang ke tukang kupat tahu ini sekitar pukul 9 atau 10. Apabila saya datang lebih pagi, biasanya tempat ini ramai sekali, terutama oleh mereka yang memesan kupat tahu untuk dibawa pulang. Memesan tahu petis perlu kesabaran ekstra, karena biasanya si akang penjualnya melayani para pembeli kupat tahu terlebih dahulu, mengingat kupat tahu lebih gampang diracik, hanya tinggal memotong tahu dan kupat, menambahkan tauge, dan membubuhkan bumbu kacang yang sudah disiapkan malam sebelumnya. Sementara tahu petis membutuhkan persiapan yang lebih panjang. Tahu petis Tasikmalaya adalah varian kupat tahu dengan bumbu khusus yang merupakan gabungan bumbu kacang kering, petis, air, dan beberapa komposisi lain, umumnya bawang putih dan cabe rawit. Petis sendiri dapat dikatakan sebagai hasil olahan udang yang lebih halus daripada terasi (mungkin bahasa Inggrisnya refined shrimp paste. Mungkin). Aroma udang pada petis tidak semenyengat aroma terasi. Aroma udang pada petis lebih halus dan subtil, aroma yang, buat saya, membangkitkan selera makan.

Kupat Tahu Petis nu matak kapengpeongan.

Kupat Tahu Petis nu matak kapengpeongan.

Bumbu tahu petis di kupat tahu Sumber Hurip ini tidak encer juga tidak terlalu kental, dengan aroma petis yang cukup menggugah, bersanding dengan aroma bumbu kacang. Potongan tahunya besar-besar, empuk, gurih dan dijamin masih hangat karena langsung diangkat dari penggorengan, ditambah kupat yang padat dan tauge yang segar. Buat saya ini sarapan yang sempurna, apalagi ditambah dengan suasana yang cukup ramai dengan orang-orang dari berbagai golongan, terutama para pemilik lapak di pasar yang menyempatkan sarapan, para pekerja yang sengaja berangkat kesiangan untuk mencicipi kupat tahu atau tahu petis, dan juga si mas penjual gudeg teman selapak tukang kupat tahu, yang sering mengobrol dengan saya karena kami sama-sama penggemar Koes Plus.

Warung Sate Solo Madu Mekar

Senin, 15 Februari 2010
(telah dimuat sebelumnya di ensiklonangor.blogspot.com)

Sebagai surganya jajanan murah dan beraneka bagi mahasiswa, Jatinangor telah sekian lama mengalami defisit sate. Tanpa mempertimbangkan tukang-tukang sate keliling, jumlah warung sate dari Sukawening hingga perbatasan Jatinangor – Cileunyi benar-benar dapat dihitung dengan jari. Akan tetapi, keterbatasan jumlah ini bukan berarti di Jatinangor tidak ada tempat nyate yang enak. Salah satu tempat yang perlu diperhitungkan adalah warung sate Solo Madu Mekar. Warung sate ini, sesuai dengan namanya, menawarkan sate dengan citarasa manis yang merebak khas sate Jawa Tengahan, lengkap dengan dua pilihan saus yang legit, sambal kecap dengan jebakan rawit di mana-mana dan bumbu kacang yang sedikit gurih. Pilihan dagingnya pun beragam, daging kambing, sapi, dan ayam, walaupun daging yang lain-lain tidak ada, seperti daging kalong, monyet, dan wirog. Daging yang disajikan dijamin matangnya pas dan lembut atau empuk-eyub, seperti kata Haryoto Kunto.
Selain sate yang maknyus, warung ini juga menyediakan menu-menu lain yang tak kalah lekkernya, seperti tongseng dan gulai. Untuk mereka yang suka sesuatu yang unik, tersedia menu tongseng kering dan tonglai (tongseng campur gulai). Tongseng kering bisa jadi menu yang harus dicoba. Tongseng kering dimasak lebih lama daripada tongseng biasa, sehingga kuahnya mengering dan bumbunya lebih menyerap ke dalam daging, serta jebakan rawitnya lebih merata gigitannya.
Warung ini cukup luas, bisa menampung lebih dari 30 orang, dan buka dari pukul 4 sore hingga larut malam, sehabisnya daging. Selain makanan, warung ini pun menyediakan minuman yang biasanya diharapkan ada di sebuah warung sate, seperti teh manis dan seduhan jeruk peras, baik panas maupun dingin (asal jangan pesan es jeruk hangat atau es teh manis panas). Jika berminat, minuman baru hasil inovasi kawan kami, Ilyas Agusta (http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=100000148053394&ref=ts), yang diberi nama Teh Merica dapat diracik sendiri di warung ini, tetapi tentu saja kami tidak merekomendasikannya karena sejauh ini minuman tersebut baru diuji coba oleh Ilyas seorang saja. (red/sandya maulana)

Tambahan (22 Desember 2012):

Selain di Jatinangor, warung sate Madu Mekar juga ada di Cileunyi, tidak seberapa jauh dari Jatinangor. Letaknya dekat Yomart Cileunyi, tidak jauh dari pertigaan terminal Cileunyi ke arah Cinunuk. Menu yang ditawarkan lebih kurang sama, dan di kedua Madu Mekar ini sekarang ada menu sate dan tongseng kelinci. Sayangnya, Warung Madu Mekar Cileunyi lebih sempit dan tidak senyaman warung Madu Mekar di Jatinangor.

Sate Sapi Madu Mekar. Enak, cenderung manis, matangnya pas, gajih (bongkahan lemak) sedikit.

Sate Sapi Madu Mekar. Enak, cenderung manis, matangnya pas, gajih (bongkahan lemak) sedikit.

Doodle Donuts Jatinangor

Jadi ceritanya di depan travel Arnes yang melayani angkutan shuttle Bandung – Jatinangor pp, belum lama ini berdiri sebuah kedai donat yang namanya Doodle Donuts. Selain donat dengan berbagai topping, Doodle juga menawarkan donat custom yang kombinasi toppingnya ditentukan oleh pembelinya dan langsung dibuat atau di-doodle sesuai pesanan. Ketika saya datang, donat polos untuk di-doodle sudah habis, jadi saya beli hanya donat-donat yang kebetulan tersedia pada waktu itu.


Kemasannya sangat menarik. Sepertinya desain aslinya dilukis tangan.

Harga sebuah donat di Doodle Donuts 4.000 rupiah. Harga untuk setengah lusinnya 22.000 rupiah saja. Donat-donat yang dibeli dikemas ke dalam sebuah boks dengan desain hitam putih yang sangat menarik. Terlihat desain aslinya sepertinya dilukis tangan, dengan sedikit bantuan dari software desain. Ini donat-donat yang saya beli:

Doodle Donuts

Doodle Donuts

Sebenarnya hari itu saya beli delapan donat. Salah satu donat yang tidak difoto adalah donat dengan selai durian, yang menurut hemat saya yang bukan penggemar durian, sangat nikmat: donat yang padat dengan lapisan selai durian yang tebal dan kental di atasnya, dengan tekstur selai yang tidak terlalu berjeli dan juga tidak terlalu manis, ditambah aroma durian yang pas dan tidak menyengat. Donat-donat yang lain juga cukup enak menurut saya, terutama donat dengan icing durian-lemon (yang berwarna kuning di foto). Lapisan icing/frosting-nya tebal dan manisnya pas, menjadi teman yang cocok untuk donat yang cukup padat dan agak gurih. Karena adonan yang cukup padat, alhasil setelah makan 3-4 donat akan terasa kenyang, apalagi bila ditemani dengan secangkir kopi hitam atau teh tawar. Mungkin minggu depan saya akan kembali ke Doodle Donuts agak pagi, supaya saya bisa merancang topping donat saya sendiri. Mungkin kita bakal ketemu di sana. Adieu!