Tagged: cassette

Harry Roesli dan Kisah-kasih di Kaset Kumpulan Lagu Partai PIB

???????????????????????????????

Ceritanya ini disclaimer: mudah-mudahan tidak apa-apa saya menulis tentang kaset yang ada bau-bau politiknya. Saya tidak bermaksud mengagungkan atau menjelekkan tokoh-tokoh tertentu atau partai dan pandangan politik tertentu. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata saya di bawah ini yang menyinggung siapa saja yang merasa (pernah) terkait.

Salah satu karya rekam terakhir almarhum Harry Roesli (yang paling akhir kalau tidak salah ada di Jangan Pilih Politisi Busuk,setahu saya), yang  mungkin juga salah satu yang paling tidak disangka-sangka di dalam karir almarhum yang selalu penuh dengan kejutan-kejutan, tertuang di kaset ini. Setelah sekian lama menduga-duga aliansi politik Harry Roesli, akhirnya beliau berlabuh di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) yang didirikan alm. Sjahrir, ekonom berpengaruh dan aktivis mahasiswa di masa kanak-kanak Orde Baru. Mengenai pilihan politik Harry Roesli, saya enggan berkomentar. Mungkin almarhum tertarik oleh ketokohannya Sjahrir, yang memang dikenal cerdas dan bersih. Selanjutnya, lebih baik saya berkomentar tentang album ini saja, yang sebenarnya adalah album yang dicetak dan diedarkan secara terbatas pada tahun 2003. Saya ingat keluarga saya memperoleh kaset ini setelah suatu kesempatan bersilaturahmi ke DKSB (mungkin di bulan Ramadhan di tahun itu atau mungkin kesempatan lain, saya lupa tepatnya).

Di album ini, Harry Roesli menyumbangkan dua lagu yang menurut hemat saya adalah lagu-lagu terpenting di album ini: “Hymne Partai PIB” dan “Mars Partai PIB.” Penting karena sepertinya para anggota PIB harus hapal kedua lagu ini. Hehehe. Mengenai per-himne-an, Harry Roesli memang tidak perlu diragukan lagi. Harry Roesli menciptakan himne untuk beberapa sekolah di Bandung, selain tentunya ia juga kerap menghasilkan lagu-lagu yang himnik dan antemik. Himne-himnenya terkesan megah, bahkan ketika dinyanyikan secara acapella sekalipun. Begitu pula kesan yang saya dapat ketika mendengarkan kedua lagu karya Harry Roesli di kaset ini, megah tapi tidak terkesan bombastis, dengan iringan musik yang minimal dan dinyanyikan sendiri oleh Harry Roesli dengan penghayatan yang mungkin hanya ia yang punya. Nah, di kaset ini karya-karya Harry Roesli berselang-seling dengan lagu-lagu karya… Obbie Messakh! Walaupun Harry Roesli dan Obbie Messakh tidak berduet di album ini, kapan lagi ada kesempatan mendengarkan keduanya dalam satu kaset yang sama (yang bukan mixtape tentu saja, walaupun saya ragu juga ada yang bikin mixtape menggabungkan Harry Roesli dan Obbie Messakh)? Dan, seolah tidak ada lagu lain, setelah “Mars Partai PIB” yang megah, Obbie Messakh melanjutkan dengan “Kisah-kasih di Sekolah” yang bikin saya bertanya-tanya hubungan lagu ini dengan partai PIB. Obbie Messakh juga menulis “Langgam Partai PIB” dan di side B ia mengaransemen ulang lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh Meggi Z., “Lebih Baik Sakit Gigi” dengan lirik refrain yang di-PIB-PIB-kan dan cukup bikin geli. Komposer ketiga yang terlibat dalam album ini adalah pianis Marusya Nainggolan, yang bersama Marusya Chamber Orchestra menyanyikan satu lagu ciptaan sendiri yang agak sedikit mengingatkan pada lagu-lagu tongue-in-cheek-nya Bimbo dan dengan bernas mengiringi Taufik Darusman (wartawan senior, penyair, kakaknya Chandra Darusman dan tentunya sepupunya Mogi Darusman), yang menyanyikan dua puisinya dengan suara yang seperti Chandra Darusman agak kurang latihan. Hehehe.

Berikutnya, seperti yang mungkin kita semua tahu, Partai PIB tidak memperoleh kesempatan menempatkan wakil di Senayan, tak lama kemudian Harry Roesli wafat, Sjahrir sibuk sebagai konsultan ekonomi pemerintah sampai ia wafat tahun 2008, dan Obbie Messakh pun semakin jarang berkunjung ke Bandung (dia punya rumah dekat rumah lama saya). Akan tetapi, kaset ini tetap jadi suvenir berharga bagi saya karena tiga musisi berkaliber (dengan kaliber masing-masing, tentu saja) berkumpul dan disatukan oleh satu pandangan politik yang sama, dan saya menikmati himne karya Harry Roesli sebagai himne terakhir yang ia ciptakan dengan segala ke-Harry-Roesli-annya.

Advertisements

Sebuah Jawaban: Favourite’s Group vol. 2

(foto menyusul karena saya sedang tidak di rumah untuk beberapa lama)

Saya menulis kembali di sini karena saya merasa perlu menceritakan ulang percakapan saya dengan mas Budi Warsito pada tanggal 14 Oktober 2014 lalu, dengan ditambahi bumbu-bumbu lain yang tidak ada di percakapan kami pada waktu itu. Percakapan diawali dengan sebuah pertanyaan penting dari Mas Budi, “Hehe, boleh dibagi di sini ceritanya, satuuu saja, kaset yg Bung Sandya sangat sukai, yg akan Bung sering putar dan jaga baik2 hingga akhir hayat nanti?”

Jawaban saya adalah kaset Favourite’s Group vol. 2, dengan side B album pertama AKA karena saya punya kenangan yang sangat panjang dengan kaset ini. Jawaban saya mungkin terlalu cliched dan mainstream karena biasanya orang-orang yang ditanya oleh Mas Budi selalu menjawab dengan album-album berat dengan nama-nama “susah” (mungkin karena beban pencitraan), sementara saya dengan enteng menjawab dengan sebuah album dari band pop Indonesia, yang ngepop banget. Untungnya saya tidak terbebani pencitraan sebagai seorang hipster kolektor kaset eksotik (memang bukan) dan jawaban saya jujur, seperti halnya si Eti.

Saya penggemar berat the Favourite’s Group sejak masih di bangku taman kanak-kanak. Setiap hari sehabis magrib saya selalu memutar kaset The Best of Favourite’s Group vol. 1 (produksi 1986 kalau tidak salah) dan ikut bernyanyi (terutama lagu ini: “Siapa yang berdosa? Tak dapat ku berkata. Siapa yang bersalah? Susah ditelaah. Mari kita, kita renungkaaan.”), tetapi sayang suatu hari kaset itu putus dan sebagian rekamannya terhapus karena tape JVC lama di rumah ngadat. Untuk menggantikan kaset itu, Favourite’s Group vol. 2 (yang sebenarnya sudah ada sejak saya belum lahir) inilah yang sering disetel. Setiap bepergian jauh, kaset ini selalu dibawa, seringkali karena keinginan saya, bukan keinginan bapak saya sebagai pemilik kaset ini, untuk mendengarkannya di perjalanan.

Sepertinya karena bapak saya tahu saya lebih suka Favourite’s Group daripada dia, kaset ini adalah kaset pertama yang dia wariskan kepada saya. Agak berat menerimanya karena saya tahu kaset Favourite’s Group vol. 2 itu adalah kenangan masa remajanya dengan teman-teman sekampung sebelum hijrah ke Bandung. Sewaktu bapak bereuni dengan teman-teman sekelompok teaternya di Losari, Cirebon, album ini pun diputar sebagai musik latar.

Menjelang awal tahun kedua di SMU (dulu begitu namanya), saya merasa perlu belajar bermain gitar sebagai bentuk aktualisasi diri seorang remaja (cieee). Lagu pertama yang saya ulik dengan gitar adalah “Creep”-nya Radiohead, dengan bantuan seorang teman yang mengajari saya bentuk kord minor. Lagu kedua adalah “Mimpi Sedih”-nya Favourite’s Group. Ini lagu yang kord-kordnya mudah, bahkan lebih mudah daripada “Creep,” tetapi megahnya (dan juga menye-menyenya) mengalahkan “Creep.” Dulu Pablo Honey dan kaset Favourite’s Group ini berdampingan. Pablo Honey entah ke mana, dipinjam dan tak dikembalikan lagi, tapi teman-teman sebaya saya tidak pernah ada yang meminjam Favourite’s Group vol. 2 ini. Lagipula mana ada remaja tanggung di penghujung milenium kedua yang mau mendengarkan the Favourite’s Group? Hampir semua sedang larut, entah dalam 13 atau Californication (atau sebagian kecil larut dalam Utopia, seperti teman sebangku saya. Hehehe).

Akan tetapi, lagu favorit saya di album ini bukan “Mimpi Sedih,” tetapi “Lagu Gembira” segera setelah “Mimpi Sedih.” Jadi, setelah bermimpi sedih lalu berlagu gembira. Cukup membingungkan. Ada gerakan-gerakan yang tidak diduga-duga muncul yang membuat saya sangat gembira (!) setiap mendengar lagu ini. Ketika saya belajar menulis dan mengaransemen lagu, baru saya paham ini sepertinya adalah kejeniusan A. Riyanto dan mungkin lagu ini adalah lahan eksperimennya. Di tengah-tengah lagu tiba-tiba ada progresi kord mundur per setengah not (sampai sekarang saya belum tahu namanya) yang dengan mulus sekali masuk ke refrain yang berirama ala “La Bamba,” tapi kemudian interlude-nya jadi terdengar murung karena nada dasarnya berubah jadi minor sebelum kembali ke intro yang ceria. Uniknya si La Bamba-La Bambaan itu tidak diulang setelah verse kedua, sehingga lagunya jauh sekali dari kesan norak dan klise. Progresi kordnya sinting, berbeda drastis dengan “Mimpi Sedih” dan memberi banyak pelajaran tentang bagaimana membuat lagu yang catchy dengan progresi kord yang cukup njelimet (kualitas yang saya temukan juga di karya-karya Yockie Suryoprayogo).

Di album Favourite’s Group vol. 2 ini ada pula sebuah lagu spoken words yang judulnya “Sajak untuk Seorang Gadis yang Sedih” dengan iringan musik pop instrumental orkestral ala 70an awal. Saya kemudian terpikir untuk membacakan kembali “Sajak” ini dengan latar musik yang sama sekali berbeda, elektrik dan sedikit industrial. Si spoken word “Sajak” ini ditulis oleh Is Haryanto, dan cemennya minta ampun. Sepertinya kecemenan inilah yang menjadi ciri khas Is Haryanto di kemudian hari. Hahaha. Karena waktu itu judulnya musik eksperimental, jadi saya bereksperimen saja menabrakkan musik elektronik yang mekanikal dengan sajak cinta cemen karya Is Haryanto ini. Maka kemudian jadilah rekaman elektronik lo-fi pertama saya. Rekaman ini kemudian dikirimkan ke kompetisi musik eksperimental pada tahun 2004, yang diselenggarakan oleh kolektif musik eksperimental Pemuda Elektrik (yang kemudian sebagiannya atau mungkin 2/3 atau 3/4nya kita kenal sebagai SL*T (Sungsang Lebam Telak)).

Bagaimana dengan lagu-lagu lain di album ini? Killers. Indonesian mainstream pop at my personal best. Semuanya diaransemen dengan ketat, eklektik, tidak terlalu manis atau gurih dan menurut saya malah lebih terpoles daripada album-album Favourite’s Group berikutnya. Di kesempatan lain saya akan membahas satu per satu ketujuh lagu lain yang ada di album ini, dan juga membandingkan lagu-lagu ini dengan album yang ada di sisi B, yakni AKA volume 1. Yang jelas, album inilah jawaban jujur saya dari pertanyaan yang diajukan mas Budi Warsito di awal percakapan kami. Jika Anda punya, dengarkan dan apresiasi kembali. Mungkin Anda akan menemukan bahwa Favourite’s Group (setidaknya di formasi pertama mereka) adalah a different beast altogether (susah nih diterjemahkannya).