Tagged: bandung

Lagu Bulan Ini: Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang) oleh Swami, juga tentang Bandung, dan Distopia

Beralih dari pembicaraan beberapa bulan lalu tentang lagu yang pertama saya nyanyikan ketika bapak saya merekam suara saya untuk kali pertama, kali ini saya akan bercerita tentang lagu yang pertama kali bikin saya merinding dan menitikkan air mata bahkan ketika saya belum sepenuhnya paham musik dan liriknya. Seiring saya bertambah tua, kemerindingan dan cercah air mata saya tidak juga pudar ketika sendiri di suatu malam saya duduk dan lagu ini diputar atau terputar (karena daftar putar lagu yang diprogram acak).

“Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang)” adalah lagu keempat di sisi pertama (karena saya pertama kali memutarnya dalam format kaset) dari album pertama Swami, kolektif musik yang bolehlah dibilang salah satu supergrup rock Indonesia, yang awalnya terdiri atas Iwan Fals (vokal, gitar akustik), Sawung Jabo (vokal, gitar akustik), Nanoe (gitar bas), Naniel Yakin (seruling, rekorder, perkusi, vokal), dan Innisisri (dram, perkusi) dibantu oleh Jerry Soedianto (gitar listrik) dan Tatas (kibor). “Esek Esek Udug Udug” bolehlah dibilang sebagai lagu balada pelan yang mendinginkan tegangan dan gelombang panas yang ditimbulkan oleh tiga lagu rock berenergi tinggi di awal album: “Bento”, “Bongkar”, dan “Badut”.

Butuh waktu tahunan bagi saya untuk sadar bahwa “Esek Esek Udug Udug” sebenarnya adalah penerjemahan dalam kata irama utama dari lagu ini, dengan bunyi esek-esek yang berasal dari alat perkusi kocokan (shaker) dan bunyi udug-udug berasal dari kendang/ketipung yang muncul sejak tengah lagu. Subjudul dalam kurung “Nyanyian Ujung Gang” sesungguhnya sangat tepat, setidaknya bagi saya. Dibandingkan dengan tiga lagu pertama yang terdengar luas, ramai dan megah, “Esek Esek Udug Udug” terdengar sempit dan agak klaustrofobik, seolah dinyanyikan dalam lingkaran di ujung sebuah gang di larut malam ketika tidak ada lalu lintas, atau mungkin gang itu memang buntu. Ramuannya pun lebih sederhana, dengan gitar akustik, gitar bas, dan shaker, walaupun di akhir lagu instrumen-instrumen lain merambah masuk tanpa merusak kesahajaan yang terbangun di awal lagu.

Beberapa kali pertama saya mendengar lagu ini, sebagai seorang anak kelas satu SD di tahun 1989, saya ingat sering terdiam mungkin untuk menghayati lagu ini, alih-alih ikut bernyanyi seperti halnya ketika saya mendengar “Bento” dan “Bongkar”. Di saat yang hampir bersamaan, rumah keluarga besar kami, yang dibeli dan dibangun oleh almarhum kakek (aki) dibuldoser oleh pemerintah kota untuk kemudian dibangun pusat perkantoran dan pertokoan. Di depan sebuah warung, di ujung suatu gang sewaktu rumah itu masih ada, adik bungsu ibu saya sering nongkrong bersama remaja-remaja tetangga, bermain gitar dan bernyanyi macam-macam lagu, termasuk lagu-lagu Iwan Fals.

“Esek Esek Udug Udug” adalah satu-satunya lagu di album Swami yang tidak dinyanyikan oleh Iwan Fals dan/atau Sawung Jabo. “Esek Esek Udug Udug” adalah lagunya Naniel, dinyanyikan oleh Naniel dengan bantuan harmoni vokal teman-teman satu bandnya. Mungkin suara Naniel yang lirih, dan juga kesempitan dan kesederhanaan lagu ini, yang membuat saya merinding, sedikit sedih dan jengah tetapi penasaran untuk memahami lagu ini.

Beberapa tahun berselang, dan kaset Swami masih sering disetel di rumah dan di dalam mobil, kami menengok Lebak Gede, tepatnya kampung di belakang dan bawah hutan kota Babakan Siliwangi. Kampung yang semula sangat padat dengan rumah kos-kosan ini sudah separuh digusur oleh pemerintah kota. Para penghuninya berangsur-angsur pindah; salah satu keluarga yang masih bertahan adalah keluarga yang dahulu menyewakan satu kamar di rumah mereka untuk tempat tinggal bapak dan ibu sewaktu mereka baru mulai berumah tangga. Kami berkunjung sebenarnya untuk urusan penuh kedukaan. Ibu kos orang tua saya meninggal dunia belum lama berselang; ia adalah ibu untuk bapak saya selama masa-masa sulit kuliah di ITB dan awal berumah tangga. Dua anak lelaki kembarnya, Wowo dan Ato, sudah seperti adik bagi bapak saya (yang tak punya adik) dan seperti paman bagi saya. Keluarga mereka adalah salah satu keluarga yang terakhir pindah, sebelum wilayah itu ditutup dan kemudian ketika dibuka menjelma jadi Sasana Budaya Ganesa dan Sarana Olah Raga ITB.

Di kampung di Lebak Gede itu, gang-gang memendek, ujungnya semakin dekat. Semakin sedikit remaja yang nongkrong untuk sekadar merokok atau bermain gitar dan bernyanyi. Suara aliran sungai Cikapundung semakin jelas di telinga, peredamnya baik yang alami maupun buatan manusia telah rata dengan tanah. Wowo dan Ato memancing beberapa ekor ikan mas, sebagian dimasak untuk makan malam, sebagian untuk kami bawa pulang. Tetapi mereka tidak memancing di sungai Cikapundung dekat rumah; tak ada ikan besar di situ, hanya air yang keruh dan sampah  plastik, kantong keresek dan botol air mineral. Saya berjalan ke tepi sungai untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Wowo dan Ato benar; seketika saya bersenandung dua baris dari “Esek Esek Udug Udug”:

Mengalir sungai-sungai plastik, jantung kota
Menjadi hiasan yang harusnya tak ada

Saya melihat sekeliling, tembok-tembok batu baru berdiri, dinding-dinding yang membuat kampung yang semula akrab menjadi asing. Walaupun tak tepat benar, saya kembali bersenandung dari “Esek Esek Udug Udug”, “Selamat datang, kawan, di belantara batu.”

Saya kemudian menjadi siswa SD kelas enam, bersiap untuk Ebtanas. Pulang agak sore setelah pelajaran tambahan, dan memilih berjalan santai untuk menyegarkan pikiran sebelum akhirnya pulang naik angkot Margahayu Raya-Ledeng dari bilangan Jalan Supratman. Di perempatan Supratman-Ahmad Yani, angkot berhenti pada lampu merah. Dua pengamen mendekat; satu orang bergitar, yang lain membawa botol kecil minuman probiotik entah berisi pasir atau beras, yang menjadikannya alat perkusi. Mereka bernyanyi “Esek Esek Udug Udug”; tak sampai dua ratus lima puluh meter dari tempat mereka bernyanyi, adalah bekas rumah aki dan nini saya, tempat ibu saya dilahirkan. Saya merasa mata saya berkaca-kaca dan basah; saya berpura-pura tertidur dengan kepala tertunduk terbekap tas ransel.

Selama bertahun-tahun berselang, saya selalu berusaha kembali ke “Esek Esek Udug Udug” dan selalu merenung, merinding, dan terkadang menitikkan air mata; ia bukan hanya lagu yang menarik bagi saya secara artistik, tetapi lebih dari itu, “Esek Esek Udug Udug” adalah lagu yang atmosfer musik dan liriknya membantu saya memahami permasalahan di sekitar saya, termasuk yang memengaruhi keluarga saya dan kota tempat kami tinggal. “Esek Esek Udug Udug” mungkin tidak diciptakan oleh Naniel untuk kota Bandung dan gang-gangnya, tetapi ia selalu membawa saya kembali ke rumah keluarga kami yang telah digusur, rumah keluarga Wowo dan Ato, dan ratusan keluarga lain, yang kini sudah tak ada lagi, hutan kota yang semakin terancam, pembangunan Bandung Utara yang semakin marak dan tak terkendali, dan sungai Cikapundung yang tercemar. Saya terkadang berpikir, mungkin asosiasi yang saya bangun cenderung terlalu banal, emosional, atau sentimental, tetapi mungkin inilah cara saya untuk tetap diingatkan tentang masalah-masalah yang tidak hanya terjadi di masa lampau, tapi juga terus berlangsung sampai saat ini: lingkungan urban yang semakin padat, mendesak, dan tak sehat baik secara jasmani maupun rohani.

Beberapa tahun belakangan ini, sebagai penekun fiksi sains, saya pun tetap kembali ke “Esek Esek Udug Udug”; ia adalah karya fiksi sains, visi distopis masa depan yang bersandar pada gagasan-gagasan megah tentang belantara batu dan robot-robot bernyawa, tetapi abai pada perkara-perkara dasar yang memungkinkan segala kehidupan (bukan hanya hidup manusia) terus berlangsung: udara yang bersih, air yang jernih, dan ketenangan serta keheningan.

 

Esek Esek Udug Udug (Nyanyian Ujung Gang)

(Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel)

menangis embun pagi yang tak lagi bersih
jubahnya yang putih tak berseri ternoda
daun daun mulai segan menerima
apa daya tetes embun terus berjatuhan

mengalir sungai sungai plastik di jantung kota
menjadi hiasan yang harusnya tak ada
udara penuh dengan serbuk tembaga
topeng topeng pelindung harus dikenakan

dinding desa ku dinding kotaku
dinding negriku yaaaa

robot robot bernyawa tersenyum menyapaku
selamat datang kawan di belantara batu
kulanjutkan melangkah antara bising malam
mencari tempat mencari harapan

aku melihat aku bertanya
aku terluka yaaaaaaaaaaaaaa

wahai kawan hei kawan bangunlah dari tidurmu
masih ada waktu untuk kita berbuat
luka di bumi ini milik bersama
buanglah mimpi-mimpi
buanglah mimpi-mimpi (buang)
buanglah mimpi-mimpi (buanglah)

Advertisements

What I Miss, pt. 1

I have been away from Bandung, my hometown, for almost two years now. Within the last three months, I have been having the most serious homesickness I have ever had. I’ll tell you what I am missing.

IMG_20160325_085504_HDR

This area around the city square

This is not exactly the city square, which is a sight of fake plastic grass and a smell of a million naked feet. The street next to it, the Dalem Kaum street, is my favorite weekdays destination but also my least favorite weekend destination. Go here on a free Tuesday; parking is a breeze, street food carts reduced to those whose snacks are actually delectable and affordable, and shops empty (although some were no more because of a great fire two years ago).

IMG_20160430_125459

Warung Tegal (Warteg) is a national institution. It is a simple, very affordable food stall with seats for very few number of people; you can find a warteg in almost every metropolitan city in Java and some other islands. The namesake comes from the small city of Tegal in Central Java, known for their people who venture into other areas of Indonesia to introduce and establish their culinary heritage. It sells a variety of traditional and signature Javanese dishes, lots of saucy curry-style dishes and deep-fried goodness, to be served alongside steamed rice. My favorite dish that is almost always available in every warteg is salt-cured skipjack tuna fillet cooked in red chili pepper sauce. This particular Braga Jaya Warung Tegal is located in downtown Bandung; its pricing is on the more expensive side but still affordable for people from almost every walk of life.

IMG_20160430_173929

S.14: this warm and cozy library and events venue

S.14 is an emerging intellectual institution in my city. It is an independent library and event space, often hosting talks and tiny acoustic concerts, such as the one pictured above, my buddy Oscar Lolang’s first ever concert featuring the amazing Jon Kastela (sitting, left)’s soothing voice. S.14 is currently on hiatus as the owners, spouses Aminuddin Siregar (a.k.a. Ucok) and Herra Pahlasari, are in the Netherlands where Ucok is taking his Ph.D. at the University of Leiden.

IMG_20160325_074948

Kupat Tahu, my go-to breakfast dish.

This particular one is from a stall in the neighborhood market, about 15 minutes walk from home. The dish originated from the regency of Tasikmalaya, about 110 kms to the southeast of Bandung; most people selling the dish throughout Indonesia hailed from the very same town where the dish was first concocted. The dish consists of slices (or dices) of a dense rice cake (the kupat) and pieces of flash-fried succulent yellow tofu (the tahu); mung bean sprouts are typically added before everything is doused in watery peanut sauce and sweet soy sauce. Another popular variation of the dish is tahu petis, which is similar to kupat tahu with the only difference being the addition of petis (smooth fermented shrimp paste) into the peanut sauce. This dish is particularly a breakfast fare, and most stalls or carts that sell this dish close down shop before noon.

IMG_20160325_082148

This second breakfast of chocolate milk and local doughnuts

Sometimes the kupat tahu just doesn’t cut it and when you’re in downtown area around 9 am, you feel like having a quick and sweet second breakfast. People on Java in general are not particularly fond of dairy products thus finding fresh dairy products is generally tricky. Luckily the dairy stalls downtown, just about a five-minute walk from the city square, serve fresh whole milk every morning delivered from Pangalengan, a small town just outside of my city known for its fresh milk and dairy products. The chocolate milk in the picture does not come flavored, and flavored syrups are added to the fresh milk right before it is served. Popular flavors include chocolate, strawberry, mocha, and vanilla. These stalls also serve cookies, cakes, and pastries, whose ingredients include the very same kind of milk they serve fresh. My favorites are the doughnuts, which are smaller yet denser than American-style doughnuts, with toppings and glazing that are not as sweet as their American counterparts.

IMG_20160415_192539_HDR

This particularly filling dessert called Pisang Ijo

Pisang Ijo (lit. Green Banana) comes from the province of South Sulawesi, but it is getting more popular in Java in the recent years. It is mainly a dessert, but it can also be quite filling considering the ingredients. The titular green banana is made with a particularly soft and sweet variety of banana, encased in a pancake-like dough made of rice flour colored green from pandan leaves extract. What gives the dessert its unique combination of flavor is the creamy and rich custard sauce. Sometimes sweet syrup is added, although the custard itself is already sweet enough, as well as chocolate sprinkles and crushed peanuts. It is served cold with ice cubes or shaved ice.

IMG_20160514_125349

This amazing hand-pulled noodles from Singapore

Okay, this is another food item not originally from my city, but this is the closest thing to having easy access to hand-pulled noodles whenever you want it. (And I always want it.) Mie Tarik King is a Singaporean chain that specializes in making their noodles hand-pulled and fresh on the counter. They offer a variety of soups and stir-fried noodles; all of which are good, but my favorite is the one pictured, which is the sweet-ish soy-sauce-based chicken broth with sweet stir-fried chicken, fried wonton bits, and kangkung (water spinach), an always welcome vegetable addition to any Chinese-style noodle soup. Kangkung may or may not be illegal in the US; if it is really illegal, then it is a crime committed to Southeast Asian Chinese food lovers in the US, who miss out on a vegetable that may be as addictive as weed.

IMG_20160604_194435

This simple yet delectable fried rice with crackers and pickled cucumbers (not pickles!)

Okay, this is not even in my city, but in Jatinangor, the college town where I worked in. This fried rice stall opens late in the afternoon and stays open well into the wee hours of the morning. It cannot get simpler than this: rice, pre-prepared spice mix (which the owners spend all morning mixing), scrambled eggs, and tiny pieces of pulled chicken. The wok taste, the smokiness is what makes the simplicity so delicious.

IMG_20160712_113531_HDR

This Tegal soto, which is my go-to sick dish

As mentioned above, Warung Tegal is a national institution, but few Warung Tegals actually serve the Tegal variety of soto, a national dish which invariably consists of a meat-based broth with rich spices, which includes at least one kind of meat, be it chicken, beef, or mutton. The Tegal soto is usually a chicken soto, with also a chicken-based broth enriched by thick coconut milk. The Tegal soto is perhaps comparable in appearance to the Jakartan Betawi soto, but the Betawi soto usually lacks turmeric; the Tegal soto is exactly characterized by its turmeric smell and taste which go hand-in-hand with the rich coconut milk. This particular Tegal soto from Jatinangor includes a healthy amount of pulled, stewed chicken, potato cubes, fresh scallions, and emping crackers. In this picture, it is served alongside a plate of steamed rice sprinkled with fried shallots and a piece of deep-fried tempe. Any kind of soto is typically comfort food, and the Tegal soto is one for when I feel a little under the weather.

As we roam further from my city, in part 2 I’ll include more things that I miss that do not come from or are not available in my city!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!

 

 

Obituary 1: Suangsih (193? – August 22, 2016)

Kami biasa memanggilnya Wa Acih atau Bi Acih atau terkadang Wa Aceu. Ia adalah kakak lain ibu dari ibu kandungku. Walaupun berbeda ibu, hubungan wa Acih dan ibu kandungku sangat dekat dan wa Acih sangat menyayangi adik-adiknya. Sejak menikah, wa Acih memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Setidaknya dua minggu sekali, wa Acih selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kota Bandung menengok keluarga adik-adiknya.

Sejak dulu sampai terakhir bertemu beberapa bulan lalu, wa Acih adalah salah satu anggota keluarga terlucu dalam keluarga besar kami. Kemampuan dan staminanya dalam membanyol, terutama dalam Bahasa Sunda, sulit ditandingi oleh anggota-anggota keluarga lain. Inilah yang membuat wa Acih sering dirindukan, terutama ketika beberapa tahun terakhir wa Acih didera diabetes dan tidak bisa lagi terlampau lincah bepergian ke kota Bandung.

Kabar kepergian wa Acih saya peroleh dari sepupu saya lewat grup WhatsApp keluarga sepulang kuliah hari pertama di semester pertama saya di University of Kansas, Amerika Serikat. Sungguh malam itu adalah malam yang hampa, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa seorang diri selepas sholat Isya yang terlampau malam. Tidak ada kesempatan untuk berkunjung, mengantar ke pembaringan terakhir, dan berdoa bersama sambil berbela sungkawa dan menghibur anggota-anggota keluarga yang ditinggalkan.

Saya sempat banyak melamun di hari berikutnya dan sedikit kurang focus belajar di hari kedua kuliah. Akan tetapi, keesokan harinya saya teringat salah satu banyolan terlucu Wa Acih, yang sulit untuk diceritakan kembali di sini karena alih kode yang sulit dijelaskan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sunda. Saya pun tertawa-tawa sendiri sepulangnya ke apartemen dan bisa mengenang Wa Acih pada saat terlucunya. Dalam ketiadaan pun ia tetap lucu, dan saya yakin Wa Acih akan tertawa-tawa bahagia sesampainya nun di sana. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

It is unfortunate that I should begin my updates on my first month in Lawrence with the sad news of the passing of my aunt. We usually called her Wa Acih or Bi Acih (lit. Aunty Acih) or less commonly, Wa Aceu. She was my mother’s half-sister from my grandfather’s previous marriage. Despite coming from a different mother, she loved her half-sisters very dearly. Since getting married in the early 1970s, Wa Acih decided to live in Majalaya, a suburban district of Bandung regency. At least once a month, Wa Acih went to Bandung city to visit the families of her sisters.

At least until several months ago, when I met her for the last time, she was one of the funniest family members in our extended family. Her ability and stamina to create jokes, especially in Sundanese, is hard to be matched by other relatives. This is what my relatives missed the most about Wa Acih, especially since in the past couple of years, she could not visit Bandung city at will due to diabetes.

The news of Wa Acih’s passing was relayed by a cousin through the family WhatsApp group, in the evening of the first day of class in my first semester at the University of Kansas. The night suddenly turned hollow, nothing else to do except for praying alone after the Isya prayer late at night. There was no opportunity to visit the internment and pray together in a congregation while expressing condolences and consoling the surviving family members.

I spent the following day pensively and even became less focused on the second day of class. The next day, however, I suddenly remembered one of Wa Acih’s funniest jokes, which is difficult to tell here because it involves code switching from Indonesian to Sundanese. I laughed all by myself once I got to my apartment and I was glad I could remember Wa Acih at her funniest. Even in her absence, she remains funny, and I am sure she will laugh happily once she gets up there. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Harry Roesli dan Kisah-kasih di Kaset Kumpulan Lagu Partai PIB

???????????????????????????????

Ceritanya ini disclaimer: mudah-mudahan tidak apa-apa saya menulis tentang kaset yang ada bau-bau politiknya. Saya tidak bermaksud mengagungkan atau menjelekkan tokoh-tokoh tertentu atau partai dan pandangan politik tertentu. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata saya di bawah ini yang menyinggung siapa saja yang merasa (pernah) terkait.

Salah satu karya rekam terakhir almarhum Harry Roesli (yang paling akhir kalau tidak salah ada di Jangan Pilih Politisi Busuk,setahu saya), yang  mungkin juga salah satu yang paling tidak disangka-sangka di dalam karir almarhum yang selalu penuh dengan kejutan-kejutan, tertuang di kaset ini. Setelah sekian lama menduga-duga aliansi politik Harry Roesli, akhirnya beliau berlabuh di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) yang didirikan alm. Sjahrir, ekonom berpengaruh dan aktivis mahasiswa di masa kanak-kanak Orde Baru. Mengenai pilihan politik Harry Roesli, saya enggan berkomentar. Mungkin almarhum tertarik oleh ketokohannya Sjahrir, yang memang dikenal cerdas dan bersih. Selanjutnya, lebih baik saya berkomentar tentang album ini saja, yang sebenarnya adalah album yang dicetak dan diedarkan secara terbatas pada tahun 2003. Saya ingat keluarga saya memperoleh kaset ini setelah suatu kesempatan bersilaturahmi ke DKSB (mungkin di bulan Ramadhan di tahun itu atau mungkin kesempatan lain, saya lupa tepatnya).

Di album ini, Harry Roesli menyumbangkan dua lagu yang menurut hemat saya adalah lagu-lagu terpenting di album ini: “Hymne Partai PIB” dan “Mars Partai PIB.” Penting karena sepertinya para anggota PIB harus hapal kedua lagu ini. Hehehe. Mengenai per-himne-an, Harry Roesli memang tidak perlu diragukan lagi. Harry Roesli menciptakan himne untuk beberapa sekolah di Bandung, selain tentunya ia juga kerap menghasilkan lagu-lagu yang himnik dan antemik. Himne-himnenya terkesan megah, bahkan ketika dinyanyikan secara acapella sekalipun. Begitu pula kesan yang saya dapat ketika mendengarkan kedua lagu karya Harry Roesli di kaset ini, megah tapi tidak terkesan bombastis, dengan iringan musik yang minimal dan dinyanyikan sendiri oleh Harry Roesli dengan penghayatan yang mungkin hanya ia yang punya. Nah, di kaset ini karya-karya Harry Roesli berselang-seling dengan lagu-lagu karya… Obbie Messakh! Walaupun Harry Roesli dan Obbie Messakh tidak berduet di album ini, kapan lagi ada kesempatan mendengarkan keduanya dalam satu kaset yang sama (yang bukan mixtape tentu saja, walaupun saya ragu juga ada yang bikin mixtape menggabungkan Harry Roesli dan Obbie Messakh)? Dan, seolah tidak ada lagu lain, setelah “Mars Partai PIB” yang megah, Obbie Messakh melanjutkan dengan “Kisah-kasih di Sekolah” yang bikin saya bertanya-tanya hubungan lagu ini dengan partai PIB. Obbie Messakh juga menulis “Langgam Partai PIB” dan di side B ia mengaransemen ulang lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh Meggi Z., “Lebih Baik Sakit Gigi” dengan lirik refrain yang di-PIB-PIB-kan dan cukup bikin geli. Komposer ketiga yang terlibat dalam album ini adalah pianis Marusya Nainggolan, yang bersama Marusya Chamber Orchestra menyanyikan satu lagu ciptaan sendiri yang agak sedikit mengingatkan pada lagu-lagu tongue-in-cheek-nya Bimbo dan dengan bernas mengiringi Taufik Darusman (wartawan senior, penyair, kakaknya Chandra Darusman dan tentunya sepupunya Mogi Darusman), yang menyanyikan dua puisinya dengan suara yang seperti Chandra Darusman agak kurang latihan. Hehehe.

Berikutnya, seperti yang mungkin kita semua tahu, Partai PIB tidak memperoleh kesempatan menempatkan wakil di Senayan, tak lama kemudian Harry Roesli wafat, Sjahrir sibuk sebagai konsultan ekonomi pemerintah sampai ia wafat tahun 2008, dan Obbie Messakh pun semakin jarang berkunjung ke Bandung (dia punya rumah dekat rumah lama saya). Akan tetapi, kaset ini tetap jadi suvenir berharga bagi saya karena tiga musisi berkaliber (dengan kaliber masing-masing, tentu saja) berkumpul dan disatukan oleh satu pandangan politik yang sama, dan saya menikmati himne karya Harry Roesli sebagai himne terakhir yang ia ciptakan dengan segala ke-Harry-Roesli-annya.

Janto, the Unsung Hero

L-R: Soman Lubis, Bhagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo, Benny Soebardja

L-R: Soman Lubis, Bhagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo, Benny Soebardja

Janto Diablo just added me as a friend on facebook and we had a short chat afterwards. And my heart leapt up. He sang lead on two songs, shared vocal duties on two more songs, played bass and flute and provided backing vocals in Shark Move’s only album, Ghede Chokra’s, released in perhaps 1970 or 1971. His outstanding contribution to the album is often overshadowed by the fact that the band was directed by prog luminary Benny Soebardja, who would go on to break new grounds and scored longer success with the proto-prog-metal outfit Giant Step.

The songs that he sang, the bluesy and improvisational “Harga” (in which Janto also played a wicked flute solo) and the anti-drug song (!) “Madat” are perhaps two of the best rock ballads ever to grace my life. The bass guitar riff and solo of “Evil War” will be forever etched in my mind. His high-pitched, bluesy vocal work is tinged here and there with Sundanese intonation and inflection, making his voice all the more unique.

Janto Diablo (born Janto Suprapto) hailed from Bandung and has been living in the city ever since. He started his career in music in the 1960s. Later in the decade, Janto formed and performed with Diablo, a rather tenacious yet short-lived rock band. Shortly thereafter, he became known as Janto Diablo. The nickname was carried over to his next band, Shark Move, after Diablo folded in early 1970. Shark Move folded too only over a year later, after some of the members left, including keyboardist Soman Lubis who later joined aspiring God Bless. Benny Soebardja eventually called it a day for the band and moved on to form Giant Step. After Shark Move, Janto was involved in a number of musical projects before settling on working for Aktuil production house, as well as having a long backstage career as a stage manager and later as a concert promoter. One of the concerts that he managed early in his career was the bustling Deep Purple Concert in 1975 in Istora Senayan, Jakarta.

35 years after they called it quits, Shark Move reunited in a tribute to the late Gito Rollies, former lead singer of fellow Bandung band The Rollies and a legendary artist on his own right. Shark Move went on to perform in a full-scale reunion concert, titled Shark on the Move (a reference to Giant Step’s album, Giant on the Move, and the fact that the reunion featured also several songs by Giant Step) featuring a fixed Shark Move line-up along with performances from former Giant Step members and Benny Soebardja’s sons playing an expanded repertoire of Shark Move and Giant Step songs. Shark Move still performs occasionally up to this day with revolving line-ups, with Benny and Janto as the mainstays. Amazingly, Janto’s voice has changed very little after more than forty years. He still sings “Madat” with the same bravado found in Ghede Chokra’s:

Kini telah kuniatkan

Persetan dengan goda dan rintangan

Segala omong kosong tentang kasih dan sayang

Persetan dengan cinta dan perdamaian

‘Kan kuserbu musuh biar seribu

‘Kan kubunuh, ‘kan kubunuh, ‘kan kubunuh…

Sarapan Favorit: Tahu Petis Pasar Sumber Hurip Margahayu Raya

Entah berapa banyak orang Singaparna, Tasikmalaya yang berjualan kupat tahu di seantero Bandung. Yang jelas, di Margahayu Raya saja, di tempat saya tinggal, ada lima (atau mungkin lebih) pedagang kupat tahu. Para pedagang kupat tahu ini ada yang berjualan berkeliling, ada juga yang menyewa tempat semi permanen. Salah satu tempat makan kupat tahu yang paling ramai di Margahayu Raya adalah kupat tahu di Pasar Sumber Hurip Margahayu Raya, letaknya di tepat setelah pintu masuk utara pasar Sumber Hurip, Jl. Rancabolang. Tukang kupat tahu ini juga menyediakan varian kupat tahu favorit saya, yakni tahu petis. Umumnya, pedagang kupat tahu yang menyewa tempat semi permanen atau permanen tidak hanya berjualan kupat tahu saja, tapi juga berjualan setidaknya salah satu dari dua varian kupat tahu: kupat sayur atau tahu petis. Di tukang kupat tahu ini, hanya tersedia kupat tahu standar (seperti biasa dengan tahu kuning, kupat/lontong, tauge, bumbu kacang, dan kecap) dan tahu petis.

Biasanya saya datang ke tukang kupat tahu ini sekitar pukul 9 atau 10. Apabila saya datang lebih pagi, biasanya tempat ini ramai sekali, terutama oleh mereka yang memesan kupat tahu untuk dibawa pulang. Memesan tahu petis perlu kesabaran ekstra, karena biasanya si akang penjualnya melayani para pembeli kupat tahu terlebih dahulu, mengingat kupat tahu lebih gampang diracik, hanya tinggal memotong tahu dan kupat, menambahkan tauge, dan membubuhkan bumbu kacang yang sudah disiapkan malam sebelumnya. Sementara tahu petis membutuhkan persiapan yang lebih panjang. Tahu petis Tasikmalaya adalah varian kupat tahu dengan bumbu khusus yang merupakan gabungan bumbu kacang kering, petis, air, dan beberapa komposisi lain, umumnya bawang putih dan cabe rawit. Petis sendiri dapat dikatakan sebagai hasil olahan udang yang lebih halus daripada terasi (mungkin bahasa Inggrisnya refined shrimp paste. Mungkin). Aroma udang pada petis tidak semenyengat aroma terasi. Aroma udang pada petis lebih halus dan subtil, aroma yang, buat saya, membangkitkan selera makan.

Kupat Tahu Petis nu matak kapengpeongan.

Kupat Tahu Petis nu matak kapengpeongan.

Bumbu tahu petis di kupat tahu Sumber Hurip ini tidak encer juga tidak terlalu kental, dengan aroma petis yang cukup menggugah, bersanding dengan aroma bumbu kacang. Potongan tahunya besar-besar, empuk, gurih dan dijamin masih hangat karena langsung diangkat dari penggorengan, ditambah kupat yang padat dan tauge yang segar. Buat saya ini sarapan yang sempurna, apalagi ditambah dengan suasana yang cukup ramai dengan orang-orang dari berbagai golongan, terutama para pemilik lapak di pasar yang menyempatkan sarapan, para pekerja yang sengaja berangkat kesiangan untuk mencicipi kupat tahu atau tahu petis, dan juga si mas penjual gudeg teman selapak tukang kupat tahu, yang sering mengobrol dengan saya karena kami sama-sama penggemar Koes Plus.

Warung Sate Solo Madu Mekar

Senin, 15 Februari 2010
(telah dimuat sebelumnya di ensiklonangor.blogspot.com)

Sebagai surganya jajanan murah dan beraneka bagi mahasiswa, Jatinangor telah sekian lama mengalami defisit sate. Tanpa mempertimbangkan tukang-tukang sate keliling, jumlah warung sate dari Sukawening hingga perbatasan Jatinangor – Cileunyi benar-benar dapat dihitung dengan jari. Akan tetapi, keterbatasan jumlah ini bukan berarti di Jatinangor tidak ada tempat nyate yang enak. Salah satu tempat yang perlu diperhitungkan adalah warung sate Solo Madu Mekar. Warung sate ini, sesuai dengan namanya, menawarkan sate dengan citarasa manis yang merebak khas sate Jawa Tengahan, lengkap dengan dua pilihan saus yang legit, sambal kecap dengan jebakan rawit di mana-mana dan bumbu kacang yang sedikit gurih. Pilihan dagingnya pun beragam, daging kambing, sapi, dan ayam, walaupun daging yang lain-lain tidak ada, seperti daging kalong, monyet, dan wirog. Daging yang disajikan dijamin matangnya pas dan lembut atau empuk-eyub, seperti kata Haryoto Kunto.
Selain sate yang maknyus, warung ini juga menyediakan menu-menu lain yang tak kalah lekkernya, seperti tongseng dan gulai. Untuk mereka yang suka sesuatu yang unik, tersedia menu tongseng kering dan tonglai (tongseng campur gulai). Tongseng kering bisa jadi menu yang harus dicoba. Tongseng kering dimasak lebih lama daripada tongseng biasa, sehingga kuahnya mengering dan bumbunya lebih menyerap ke dalam daging, serta jebakan rawitnya lebih merata gigitannya.
Warung ini cukup luas, bisa menampung lebih dari 30 orang, dan buka dari pukul 4 sore hingga larut malam, sehabisnya daging. Selain makanan, warung ini pun menyediakan minuman yang biasanya diharapkan ada di sebuah warung sate, seperti teh manis dan seduhan jeruk peras, baik panas maupun dingin (asal jangan pesan es jeruk hangat atau es teh manis panas). Jika berminat, minuman baru hasil inovasi kawan kami, Ilyas Agusta (http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=100000148053394&ref=ts), yang diberi nama Teh Merica dapat diracik sendiri di warung ini, tetapi tentu saja kami tidak merekomendasikannya karena sejauh ini minuman tersebut baru diuji coba oleh Ilyas seorang saja. (red/sandya maulana)

Tambahan (22 Desember 2012):

Selain di Jatinangor, warung sate Madu Mekar juga ada di Cileunyi, tidak seberapa jauh dari Jatinangor. Letaknya dekat Yomart Cileunyi, tidak jauh dari pertigaan terminal Cileunyi ke arah Cinunuk. Menu yang ditawarkan lebih kurang sama, dan di kedua Madu Mekar ini sekarang ada menu sate dan tongseng kelinci. Sayangnya, Warung Madu Mekar Cileunyi lebih sempit dan tidak senyaman warung Madu Mekar di Jatinangor.

Sate Sapi Madu Mekar. Enak, cenderung manis, matangnya pas, gajih (bongkahan lemak) sedikit.

Sate Sapi Madu Mekar. Enak, cenderung manis, matangnya pas, gajih (bongkahan lemak) sedikit.