Tagged: bandung

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!

 

 

Obituary 1: Suangsih (193? – August 22, 2016)

Kami biasa memanggilnya Wa Acih atau Bi Acih atau terkadang Wa Aceu. Ia adalah kakak lain ibu dari ibu kandungku. Walaupun berbeda ibu, hubungan wa Acih dan ibu kandungku sangat dekat dan wa Acih sangat menyayangi adik-adiknya. Sejak menikah, wa Acih memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Setidaknya dua minggu sekali, wa Acih selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kota Bandung menengok keluarga adik-adiknya.

Sejak dulu sampai terakhir bertemu beberapa bulan lalu, wa Acih adalah salah satu anggota keluarga terlucu dalam keluarga besar kami. Kemampuan dan staminanya dalam membanyol, terutama dalam Bahasa Sunda, sulit ditandingi oleh anggota-anggota keluarga lain. Inilah yang membuat wa Acih sering dirindukan, terutama ketika beberapa tahun terakhir wa Acih didera diabetes dan tidak bisa lagi terlampau lincah bepergian ke kota Bandung.

Kabar kepergian wa Acih saya peroleh dari sepupu saya lewat grup WhatsApp keluarga sepulang kuliah hari pertama di semester pertama saya di University of Kansas, Amerika Serikat. Sungguh malam itu adalah malam yang hampa, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa seorang diri selepas sholat Isya yang terlampau malam. Tidak ada kesempatan untuk berkunjung, mengantar ke pembaringan terakhir, dan berdoa bersama sambil berbela sungkawa dan menghibur anggota-anggota keluarga yang ditinggalkan.

Saya sempat banyak melamun di hari berikutnya dan sedikit kurang focus belajar di hari kedua kuliah. Akan tetapi, keesokan harinya saya teringat salah satu banyolan terlucu Wa Acih, yang sulit untuk diceritakan kembali di sini karena alih kode yang sulit dijelaskan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sunda. Saya pun tertawa-tawa sendiri sepulangnya ke apartemen dan bisa mengenang Wa Acih pada saat terlucunya. Dalam ketiadaan pun ia tetap lucu, dan saya yakin Wa Acih akan tertawa-tawa bahagia sesampainya nun di sana. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

It is unfortunate that I should begin my updates on my first month in Lawrence with the sad news of the passing of my aunt. We usually called her Wa Acih or Bi Acih (lit. Aunty Acih) or less commonly, Wa Aceu. She was my mother’s half-sister from my grandfather’s previous marriage. Despite coming from a different mother, she loved her half-sisters very dearly. Since getting married in the early 1970s, Wa Acih decided to live in Majalaya, a suburban district of Bandung regency. At least once a month, Wa Acih went to Bandung city to visit the families of her sisters.

At least until several months ago, when I met her for the last time, she was one of the funniest family members in our extended family. Her ability and stamina to create jokes, especially in Sundanese, is hard to be matched by other relatives. This is what my relatives missed the most about Wa Acih, especially since in the past couple of years, she could not visit Bandung city at will due to diabetes.

The news of Wa Acih’s passing was relayed by a cousin through the family WhatsApp group, in the evening of the first day of class in my first semester at the University of Kansas. The night suddenly turned hollow, nothing else to do except for praying alone after the Isya prayer late at night. There was no opportunity to visit the internment and pray together in a congregation while expressing condolences and consoling the surviving family members.

I spent the following day pensively and even became less focused on the second day of class. The next day, however, I suddenly remembered one of Wa Acih’s funniest jokes, which is difficult to tell here because it involves code switching from Indonesian to Sundanese. I laughed all by myself once I got to my apartment and I was glad I could remember Wa Acih at her funniest. Even in her absence, she remains funny, and I am sure she will laugh happily once she gets up there. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Harry Roesli dan Kisah-kasih di Kaset Kumpulan Lagu Partai PIB

???????????????????????????????

Ceritanya ini disclaimer: mudah-mudahan tidak apa-apa saya menulis tentang kaset yang ada bau-bau politiknya. Saya tidak bermaksud mengagungkan atau menjelekkan tokoh-tokoh tertentu atau partai dan pandangan politik tertentu. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata saya di bawah ini yang menyinggung siapa saja yang merasa (pernah) terkait.

Salah satu karya rekam terakhir almarhum Harry Roesli (yang paling akhir kalau tidak salah ada di Jangan Pilih Politisi Busuk,setahu saya), yang  mungkin juga salah satu yang paling tidak disangka-sangka di dalam karir almarhum yang selalu penuh dengan kejutan-kejutan, tertuang di kaset ini. Setelah sekian lama menduga-duga aliansi politik Harry Roesli, akhirnya beliau berlabuh di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) yang didirikan alm. Sjahrir, ekonom berpengaruh dan aktivis mahasiswa di masa kanak-kanak Orde Baru. Mengenai pilihan politik Harry Roesli, saya enggan berkomentar. Mungkin almarhum tertarik oleh ketokohannya Sjahrir, yang memang dikenal cerdas dan bersih. Selanjutnya, lebih baik saya berkomentar tentang album ini saja, yang sebenarnya adalah album yang dicetak dan diedarkan secara terbatas pada tahun 2003. Saya ingat keluarga saya memperoleh kaset ini setelah suatu kesempatan bersilaturahmi ke DKSB (mungkin di bulan Ramadhan di tahun itu atau mungkin kesempatan lain, saya lupa tepatnya).

Di album ini, Harry Roesli menyumbangkan dua lagu yang menurut hemat saya adalah lagu-lagu terpenting di album ini: “Hymne Partai PIB” dan “Mars Partai PIB.” Penting karena sepertinya para anggota PIB harus hapal kedua lagu ini. Hehehe. Mengenai per-himne-an, Harry Roesli memang tidak perlu diragukan lagi. Harry Roesli menciptakan himne untuk beberapa sekolah di Bandung, selain tentunya ia juga kerap menghasilkan lagu-lagu yang himnik dan antemik. Himne-himnenya terkesan megah, bahkan ketika dinyanyikan secara acapella sekalipun. Begitu pula kesan yang saya dapat ketika mendengarkan kedua lagu karya Harry Roesli di kaset ini, megah tapi tidak terkesan bombastis, dengan iringan musik yang minimal dan dinyanyikan sendiri oleh Harry Roesli dengan penghayatan yang mungkin hanya ia yang punya. Nah, di kaset ini karya-karya Harry Roesli berselang-seling dengan lagu-lagu karya… Obbie Messakh! Walaupun Harry Roesli dan Obbie Messakh tidak berduet di album ini, kapan lagi ada kesempatan mendengarkan keduanya dalam satu kaset yang sama (yang bukan mixtape tentu saja, walaupun saya ragu juga ada yang bikin mixtape menggabungkan Harry Roesli dan Obbie Messakh)? Dan, seolah tidak ada lagu lain, setelah “Mars Partai PIB” yang megah, Obbie Messakh melanjutkan dengan “Kisah-kasih di Sekolah” yang bikin saya bertanya-tanya hubungan lagu ini dengan partai PIB. Obbie Messakh juga menulis “Langgam Partai PIB” dan di side B ia mengaransemen ulang lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh Meggi Z., “Lebih Baik Sakit Gigi” dengan lirik refrain yang di-PIB-PIB-kan dan cukup bikin geli. Komposer ketiga yang terlibat dalam album ini adalah pianis Marusya Nainggolan, yang bersama Marusya Chamber Orchestra menyanyikan satu lagu ciptaan sendiri yang agak sedikit mengingatkan pada lagu-lagu tongue-in-cheek-nya Bimbo dan dengan bernas mengiringi Taufik Darusman (wartawan senior, penyair, kakaknya Chandra Darusman dan tentunya sepupunya Mogi Darusman), yang menyanyikan dua puisinya dengan suara yang seperti Chandra Darusman agak kurang latihan. Hehehe.

Berikutnya, seperti yang mungkin kita semua tahu, Partai PIB tidak memperoleh kesempatan menempatkan wakil di Senayan, tak lama kemudian Harry Roesli wafat, Sjahrir sibuk sebagai konsultan ekonomi pemerintah sampai ia wafat tahun 2008, dan Obbie Messakh pun semakin jarang berkunjung ke Bandung (dia punya rumah dekat rumah lama saya). Akan tetapi, kaset ini tetap jadi suvenir berharga bagi saya karena tiga musisi berkaliber (dengan kaliber masing-masing, tentu saja) berkumpul dan disatukan oleh satu pandangan politik yang sama, dan saya menikmati himne karya Harry Roesli sebagai himne terakhir yang ia ciptakan dengan segala ke-Harry-Roesli-annya.

Janto, the Unsung Hero

L-R: Soman Lubis, Bhagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo, Benny Soebardja

L-R: Soman Lubis, Bhagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo, Benny Soebardja

Janto Diablo just added me as a friend on facebook and we had a short chat afterwards. And my heart leapt up. He sang lead on two songs, shared vocal duties on two more songs, played bass and flute and provided backing vocals in Shark Move’s only album, Ghede Chokra’s, released in perhaps 1970 or 1971. His outstanding contribution to the album is often overshadowed by the fact that the band was directed by prog luminary Benny Soebardja, who would go on to break new grounds and scored longer success with the proto-prog-metal outfit Giant Step.

The songs that he sang, the bluesy and improvisational “Harga” (in which Janto also played a wicked flute solo) and the anti-drug song (!) “Madat” are perhaps two of the best rock ballads ever to grace my life. The bass guitar riff and solo of “Evil War” will be forever etched in my mind. His high-pitched, bluesy vocal work is tinged here and there with Sundanese intonation and inflection, making his voice all the more unique.

Janto Diablo (born Janto Suprapto) hailed from Bandung and has been living in the city ever since. He started his career in music in the 1960s. Later in the decade, Janto formed and performed with Diablo, a rather tenacious yet short-lived rock band. Shortly thereafter, he became known as Janto Diablo. The nickname was carried over to his next band, Shark Move, after Diablo folded in early 1970. Shark Move folded too only over a year later, after some of the members left, including keyboardist Soman Lubis who later joined aspiring God Bless. Benny Soebardja eventually called it a day for the band and moved on to form Giant Step. After Shark Move, Janto was involved in a number of musical projects before settling on working for Aktuil production house, as well as having a long backstage career as a stage manager and later as a concert promoter. One of the concerts that he managed early in his career was the bustling Deep Purple Concert in 1975 in Istora Senayan, Jakarta.

35 years after they called it quits, Shark Move reunited in a tribute to the late Gito Rollies, former lead singer of fellow Bandung band The Rollies and a legendary artist on his own right. Shark Move went on to perform in a full-scale reunion concert, titled Shark on the Move (a reference to Giant Step’s album, Giant on the Move, and the fact that the reunion featured also several songs by Giant Step) featuring a fixed Shark Move line-up along with performances from former Giant Step members and Benny Soebardja’s sons playing an expanded repertoire of Shark Move and Giant Step songs. Shark Move still performs occasionally up to this day with revolving line-ups, with Benny and Janto as the mainstays. Amazingly, Janto’s voice has changed very little after more than forty years. He still sings “Madat” with the same bravado found in Ghede Chokra’s:

Kini telah kuniatkan

Persetan dengan goda dan rintangan

Segala omong kosong tentang kasih dan sayang

Persetan dengan cinta dan perdamaian

‘Kan kuserbu musuh biar seribu

‘Kan kubunuh, ‘kan kubunuh, ‘kan kubunuh…

Sarapan Favorit: Tahu Petis Pasar Sumber Hurip Margahayu Raya

Entah berapa banyak orang Singaparna, Tasikmalaya yang berjualan kupat tahu di seantero Bandung. Yang jelas, di Margahayu Raya saja, di tempat saya tinggal, ada lima (atau mungkin lebih) pedagang kupat tahu. Para pedagang kupat tahu ini ada yang berjualan berkeliling, ada juga yang menyewa tempat semi permanen. Salah satu tempat makan kupat tahu yang paling ramai di Margahayu Raya adalah kupat tahu di Pasar Sumber Hurip Margahayu Raya, letaknya di tepat setelah pintu masuk utara pasar Sumber Hurip, Jl. Rancabolang. Tukang kupat tahu ini juga menyediakan varian kupat tahu favorit saya, yakni tahu petis. Umumnya, pedagang kupat tahu yang menyewa tempat semi permanen atau permanen tidak hanya berjualan kupat tahu saja, tapi juga berjualan setidaknya salah satu dari dua varian kupat tahu: kupat sayur atau tahu petis. Di tukang kupat tahu ini, hanya tersedia kupat tahu standar (seperti biasa dengan tahu kuning, kupat/lontong, tauge, bumbu kacang, dan kecap) dan tahu petis.

Biasanya saya datang ke tukang kupat tahu ini sekitar pukul 9 atau 10. Apabila saya datang lebih pagi, biasanya tempat ini ramai sekali, terutama oleh mereka yang memesan kupat tahu untuk dibawa pulang. Memesan tahu petis perlu kesabaran ekstra, karena biasanya si akang penjualnya melayani para pembeli kupat tahu terlebih dahulu, mengingat kupat tahu lebih gampang diracik, hanya tinggal memotong tahu dan kupat, menambahkan tauge, dan membubuhkan bumbu kacang yang sudah disiapkan malam sebelumnya. Sementara tahu petis membutuhkan persiapan yang lebih panjang. Tahu petis Tasikmalaya adalah varian kupat tahu dengan bumbu khusus yang merupakan gabungan bumbu kacang kering, petis, air, dan beberapa komposisi lain, umumnya bawang putih dan cabe rawit. Petis sendiri dapat dikatakan sebagai hasil olahan udang yang lebih halus daripada terasi (mungkin bahasa Inggrisnya refined shrimp paste. Mungkin). Aroma udang pada petis tidak semenyengat aroma terasi. Aroma udang pada petis lebih halus dan subtil, aroma yang, buat saya, membangkitkan selera makan.

Kupat Tahu Petis nu matak kapengpeongan.

Kupat Tahu Petis nu matak kapengpeongan.

Bumbu tahu petis di kupat tahu Sumber Hurip ini tidak encer juga tidak terlalu kental, dengan aroma petis yang cukup menggugah, bersanding dengan aroma bumbu kacang. Potongan tahunya besar-besar, empuk, gurih dan dijamin masih hangat karena langsung diangkat dari penggorengan, ditambah kupat yang padat dan tauge yang segar. Buat saya ini sarapan yang sempurna, apalagi ditambah dengan suasana yang cukup ramai dengan orang-orang dari berbagai golongan, terutama para pemilik lapak di pasar yang menyempatkan sarapan, para pekerja yang sengaja berangkat kesiangan untuk mencicipi kupat tahu atau tahu petis, dan juga si mas penjual gudeg teman selapak tukang kupat tahu, yang sering mengobrol dengan saya karena kami sama-sama penggemar Koes Plus.

Warung Sate Solo Madu Mekar

Senin, 15 Februari 2010
(telah dimuat sebelumnya di ensiklonangor.blogspot.com)

Sebagai surganya jajanan murah dan beraneka bagi mahasiswa, Jatinangor telah sekian lama mengalami defisit sate. Tanpa mempertimbangkan tukang-tukang sate keliling, jumlah warung sate dari Sukawening hingga perbatasan Jatinangor – Cileunyi benar-benar dapat dihitung dengan jari. Akan tetapi, keterbatasan jumlah ini bukan berarti di Jatinangor tidak ada tempat nyate yang enak. Salah satu tempat yang perlu diperhitungkan adalah warung sate Solo Madu Mekar. Warung sate ini, sesuai dengan namanya, menawarkan sate dengan citarasa manis yang merebak khas sate Jawa Tengahan, lengkap dengan dua pilihan saus yang legit, sambal kecap dengan jebakan rawit di mana-mana dan bumbu kacang yang sedikit gurih. Pilihan dagingnya pun beragam, daging kambing, sapi, dan ayam, walaupun daging yang lain-lain tidak ada, seperti daging kalong, monyet, dan wirog. Daging yang disajikan dijamin matangnya pas dan lembut atau empuk-eyub, seperti kata Haryoto Kunto.
Selain sate yang maknyus, warung ini juga menyediakan menu-menu lain yang tak kalah lekkernya, seperti tongseng dan gulai. Untuk mereka yang suka sesuatu yang unik, tersedia menu tongseng kering dan tonglai (tongseng campur gulai). Tongseng kering bisa jadi menu yang harus dicoba. Tongseng kering dimasak lebih lama daripada tongseng biasa, sehingga kuahnya mengering dan bumbunya lebih menyerap ke dalam daging, serta jebakan rawitnya lebih merata gigitannya.
Warung ini cukup luas, bisa menampung lebih dari 30 orang, dan buka dari pukul 4 sore hingga larut malam, sehabisnya daging. Selain makanan, warung ini pun menyediakan minuman yang biasanya diharapkan ada di sebuah warung sate, seperti teh manis dan seduhan jeruk peras, baik panas maupun dingin (asal jangan pesan es jeruk hangat atau es teh manis panas). Jika berminat, minuman baru hasil inovasi kawan kami, Ilyas Agusta (http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=100000148053394&ref=ts), yang diberi nama Teh Merica dapat diracik sendiri di warung ini, tetapi tentu saja kami tidak merekomendasikannya karena sejauh ini minuman tersebut baru diuji coba oleh Ilyas seorang saja. (red/sandya maulana)

Tambahan (22 Desember 2012):

Selain di Jatinangor, warung sate Madu Mekar juga ada di Cileunyi, tidak seberapa jauh dari Jatinangor. Letaknya dekat Yomart Cileunyi, tidak jauh dari pertigaan terminal Cileunyi ke arah Cinunuk. Menu yang ditawarkan lebih kurang sama, dan di kedua Madu Mekar ini sekarang ada menu sate dan tongseng kelinci. Sayangnya, Warung Madu Mekar Cileunyi lebih sempit dan tidak senyaman warung Madu Mekar di Jatinangor.

Sate Sapi Madu Mekar. Enak, cenderung manis, matangnya pas, gajih (bongkahan lemak) sedikit.

Sate Sapi Madu Mekar. Enak, cenderung manis, matangnya pas, gajih (bongkahan lemak) sedikit.