Tagged: band

Lagu Minggu Ini: “Aku Tak Berdosa” (Favourite’s Group)

Minggu lalu dan minggu ini saya rindu sekali pada satu lagu yang dulu sering saya dengarkan waktu saya masih kecil; saking sukanya saya pada lagu itu, ketika alm. bapak merekam suara saya untuk pertama kali, saya nyanyikan lagu itu. Dengan kekuatan YouTube, akhirnya saya temukan lagu yang saya rindukan itu, bahkan sekaligus dalam album orisinalnya yang ditransfer dari piringan hitam dengan cermat oleh bung John Kwa Indonesia, yang sebelumnya dikenal telah pula mengunggah diskografi lengkap Koes Bersaudara dan Koes Plus. Lagu yang saya kangeni adalah lagu pertama di album bertajuk Favourite’s Group Vol(ume) 4, yang dirilis sekitar tahun 1974 (umumnya album-album pop Indonesia pada masa itu tidak berangka tahun).

 

Seingat saya, lagu ini pertama kali saya dengar bukan dari Volume 4, tapi dari kaset kompilasi bertajuk The Very Best of Favourite’s Group. Almarhum bapak membeli kaset itu karena seleksi lagunya sangat bagus dan lebih banyak berfokus pada formasi klasik Favourite’s Group (dijelaskan sedikit di bawah), formasi yang paling ia suka. Saya mulai ikut-ikutan memutar kaset itu dan menyukai banyak lagu di dalamnya, di antaranya lagu “Aku Tak Berdosa” ini, “Ma Onah”, “Cinta Monyet”, dan “Cari Kawan Lain”.

Jadi, siapa saja sebenarnya anggota formasi klasik Favourite’s Group? Favourite’s Group pertama didirikan pada tahun 1972 atas cetusan A. Riyanto, pencipta lagu, pemain kibor, dan produser veteran yang telah menulis banyak lagu sukses pada 1960an dan awal 1970an dan mengiringi beberapa penyanyi di studio rekaman bersama band-nya 4 Nada; beberapa penyanyi yang paling sukses ditanganinya adalah Tetty Kadi dan Arie Koesmiran. Formasi pertama Favourite’s Group bisa dikatakan adalah 4 Nada yang berganti nama, dan ditambah Mus Mulyadi sebagai penyanyi utama (walau A. Riyanto ikut pula bernyanyi beberapa lagu). Formasi pertama hanya bertahan sampai album pertama mereka usai direkam. Is Haryanto (dram) dan Harry Toos (gitar) bergabung untuk rekaman album kedua, dan Mus Mulyadi mengisi posisi gitar bas, instrumen yang ia mainkan sewaktu masih bergabung dengan band Ariesta Birawa. Tommy WS (bas) bergabung untuk album ketiga dan seterusnya, dan lengkaplah formasi klasik Favourite’s Group. Formasi ini awalnya hanya merekam dua album, Volume 3 dan 4, sebelum Mus Mulyadi memutuskan untuk fokus bersolo karir. Formasi ini kemudian bereuni pada tahun 1978 dan merilis beberapa album hingga pengunduran diri Harry Toos pada tahun 1989.

Lagu “Aku Tak Berdosa” dari Volume 4 ini mungkin lagu Favourite’s Group’s yang paling (atau mungkin salah satu yang paling) psikedelik dan bergitar. Lagu ini dibuka dengan melodi gitar sederhana yang berulang selama setengah menit yang mendadak dipotong oleh distorsi gitar satu not, diikuti dengan gitar ritem yang terdengar mirip “Hi Ho Silver Lining”-nya Jeff Beck Group. Lagu kemudian berlanjut dengan lirik utama yang dinyanyikan oleh A. Riyanto dan Mus Mulyadi, lirik dan melodi yang membius saya sewaktu saya kelas satu SD dan memutar kaset ini hampir setiap hari sepulang sekolah.  Refrain lagu ini dinyanyikan oleh A. Riyanto yang sepertinya terlalu memaksakan pita suaranya untuk mencapai nada tinggi, tapi menurut saya justru inilah bagian paling krusial sekaligus paling menggelikan dari lagu ini. Bagian refrain lagu ini kemudian mendadak pindah ke bagian bridge yang sangat sepi, dan sangat psikedelik, sebelum kembali lagi ke refrain. Lagu ini diakhiri dengan solo gitar Harry Toos hingga akhirnya menghilang dan selesai. Singkatnya, ini adalah lagu keren dan unik dalam katalog lagu  Favourite’s Group; lagu ini cenderung lebih keras dengan aransemen yang lebih longgar, cukup berbeda dibandingkan lagu-lagu balada mereka yang cenderung simfonik atau lagu-lagu upbeat mereka yang terasa lebih ringan dan umumnya dipengaruhi unsur musik keroncong atau dolanan Jawa.

Selama bertahun-tahun sejak tahun 1989 saya berusaha memahami maksud lirik lagu ini (lihat di bawah), tetapi terlalu banyak interpretasi bermunculan di benak saya. Apakah ini lagu tentang dosa asal (original sin)? Apakah ini lagu tentang kepolosan manusia di tengah alam, dan kemudian membandingkan dirinya dengan kepolosan alam? Apakah lagu ini ungkapan terima kasih pada Tuhan atas anugerah hidup dan penebusan dari dosa? Entahlah. Saat ini saya sebaiknya menikmati saja lagu keren ini.

Aku Tak Berdosa

(A. Riyanto)

*
Siapa yang berdosa
Tak dapat ku berkata
Siapa yang bersalah
Susah ditelaah
Mari kita
Kita renungkan

(Ulang *)

Refrain 1:
Siapakah harus berdosa?
Siapakah harus dicela
Bila rambut panjang terurai?

Mengapa tidak kau restui?
Mengapa tidak kau hayati
Indah dan bebas dan alam ini?

Bridge:
Pohon lebat daunnya
Begitu pun rambutku
Telah diciptakanNya sejak dahulu

Refrain 2:
Di mana tempatku berdiri
Indahnya alam kunikmati
Syukur pada Tuhan Yang Esa

(Ulang *, Bridge, Refrain 2, dan *)

 

 

Advertisements

Indonesian Classic Song of the Week: “Aku Tak Berdosa” by Favourite’s Group

This week I’ve been longing to listen to a song of my childhood, a song I was so fond of that when my father recorded my voice for the first time on our first tape recorder when I was a first grader, it was the voice of me singing this song. With the magic of YouTube, I found somebody had digitally transferred the album the song is on from a very good vinyl copy. The credit goes to John Kwa Indonesia, the uploader. The song is the first track on this album called Favourite’s Group Vol(ume) 4, which was released some time in 1974.

 

But I remember that I didn’t hear this song for the first time from this particular album, but rather from a compilation album called The Very Best of Favourite’s Group. My father bought the album in 1989 because he loved the selection of songs, which are basically the Favourite Group’s songs that he grew up with. I began playing the album over and over mainly because of two songs, “Ma Onah” (perhaps more on this later) and this song.

So, let’s get things straight first: who were the Favourite’s Group? The Favourite’s Group was somewhat of an early Indonesian pop supergroup of the 1970s. It formed in 1972 out of veteran (even at that time) songwriter, keyboardist, and studio A&R person A. Riyanto’s idea of turning the backing band of his recording studio into an independent, hitmaking pop sensation. The band’s first album was instantly successful due to Riyanto’s presence and immaculate pop songwriting and production, Mus Mulyadi’s strong and unique vocal work, and the band’s high degree of musicianship, owing to the fact that it consisted of experienced session musicians. The original incarnation of the band didn’t stick around for too long, leaving A. Riyanto and Mus Mulyadi to complete the line-up with what is considered the classic Favourite’s Group line-up with Harry Toos on guitar, Is Haryanto on drums, and later Tommy WS on bass guitar by the time their third album rolled. It was unusual for Indonesian bands of the early 1970s to title their album, so each album is only called a volume with a corresponding number, so the Favourite’s Group first album is called Volume 1, second album Volume 2, and so on. The classic line-up recorded Volume 3 and 4 before Mus Mulyadi decided to focus on his solo career.

The song “Aku Tak Berdosa” from Volume 4 is perhaps the Favourite’s Group’s most psychedelic-sounding and guitar-centric song. The song starts with a simple clean electric guitar melody that goes on for about half a minute before getting abruptly cut by a long single note on distorted electric guitar, followed by a rhythm guitar pattern reminiscent of Jeff Beck’s “Hi Ho Silver Lining” and then the main verse of the song, sung in harmony by A. Riyanto and Mus Mulyadi. The melody of this main verse was the melody that captivated me as a kid for whatever reason. The chorus of the song is sung by A. Riyanto attempting to reach a high note and straining his vocal cords, but I always find this part fitting albeit a little cringey. The chorus then breaks down into a quieter middle eight section before coming full force into the chorus with different lyrics. The song ends with a guitar solo that fades out. In short, it was a great and unique song in the Favourite’s Group catalogue; it is an almost all-out rocking psychedelic and somewhat loose track in the band’s usually tight and more symphonic approach to their music arrangements.

And by the way, the lyrics just don’t seem to make sense while the title means “I’m Not Sinful” or “I’m Free of Sins”, or “I’m Innocent”; if you’re new to the Indonesian language, the lyrics will sound even more like random jumbled phrases. Is this a song about a person freed from the original sin? Is this a song about the innocence of man amidst nature or compared to the innocence of nature? Is this a song of gratitude to God for the gift of life and innocence? Was the band on something when they wrote and recorded this song? I don’t know. What’s important is that this song is awesome and brings back good memories.

 

 

“Sekarang kau tinggal aku…”, Yon Koeswoyo (1940-2018)

koes18

Foto Koes Plus favorit saya dari sampul album Volume 8: in action, kiri-kanan: Tony Koeswoyo (gitar, kibor, vokal), Yon Koeswoyo (vokal, gitar), Yok Koeswoyo (gitar bas, vokal), Murry (dram, vokal).

Saya selalu berpikir bahwa suatu saat saya akan menulis tentang Koes Plus (dan juga tentang Koes Bersaudara), mungkin lewat satu racauan di blog saya atau mungkin secara lebih akademik ketika saya sudah tidak terlalu disibukkan dengan studi. Banyak yang bisa dibicarakan tentang Koes Plus: mereka salah satu ikon counterculture sekaligus ekses budaya populer Indonesia; romantisme mereka tentang Nusantara (di antaranya melalui lagu-lagu Nusantara yang berjilid-jilid itu) tentunya pantas ditelisik; suka atau tidak, peran mereka sebagai kepanjangan tangan sekaligus komentator Orde Baru melalui musik populer (seperti yang pernah dibahas secara umum, seingat saya oleh Budiarto Shambazy beberapa tahun lalu) juga perlu lebih ditelaah. Akan tetapi, saat ini saya sebaiknya memendam dulu segala gagasan tersebut dan berkubang dalam berbagai kenangan sebagai seorang pecinta musik Koes Plus, karena setelah 5 Januari 2018, Koes Plus seperti yang saya (dan kita yang familiar dengan musik mereka) kenal mungkin tidak akan ada lagi. Pada 5 Januari kemarin Yon Koeswoyo, penyanyi utama dan gitaris ritmis Koes Bersaudara dan Koes Plus, berpulang. Mengucapkan selamat jalan kepada Yon Koeswoyo adalah juga mengucap selamat jalan kepada Koes Plus yang saya tahu, yang diperjuangkan oleh Yon hingga akhir hayatnya.

Sampai menjelang nafas akhirnya, Yon adalah satu-satunya anggota asli Koes Plus yang aktif bermusik. Kakak pertamanya, Tony Koeswoyo, sudah terlebih dahulu berpulang pada 1987. Yok Koeswoyo sudah cukup lama undur diri dari kegiatan bermusik dan hanya sesekali bergabung dalam kesempatan tertentu. Terakhir kali tiga anggota asli Koes Plus manggung bersama adalah pada konser Unplugged Koes Plus tahun 2013. (Walau ketiganya terkadang kurang kompak dan kurang latihan dalam beberapa lagu, ini adalah konser yang intim dan penuh canda spontan). Tak lama setelah konser ini, Murry berpulang. Setelah itu, dan bahkan sebelumnya ketika Murry sakit, Koes Plus adalah Yon Koeswoyo. Bahkan jauh sebelumnya ketika mereka masih utuh berempat, Yon Koeswoyo adalah suara Koes Plus (dan juga Koes Bersaudara), walaupun terkadang Tony, Yok, dan Murry pula bergiliran menyanyi.

Saya bukan hanya terbiasa dengan suara Yon; saya suka suara Yon karena mungkin ia adalah penyanyi Indonesia dengan suara yang paling jujur, tanpa teknik vokal yang istimewa atau njelimet; walaupun terkadang terdengar pengaruh Everly Brothers dan Barry Gibb (tentu bukan falsetonya) dalam suaranya, Yon tidak pernah terdengar berusaha terlalu keras untuk terdengar seperti orang lain. Yon Koeswoyo adalah Yon Koeswoyo. Sebagai orang Jawa (lahir di Tuban, Jawa Timur), ia tidak pernah kehilangan kejawaannya dalam bernyanyi, bahkan dalam lagu Koes Plus yang paling rock n’ roll dan berbahasa Inggris sekalipun. Saya dan almarhum bapak kerap menertawakan kejawaan intonasi dan pengucapan Yon, tapi kami juga tidak memungkiri bahwa kejawaan suaranya itulah yang membuat kami sangat menyayangi suara Yon. Seperti suara vokalnya, permainan gitarnya pun jujur, polos dan sederhana. Akan tetapi, penggemar Koes Plus mafhum bahwa suara dan genjrengan gitar Yon adalah dua unsur yang tetap membuat Koes Plus bertahan setelah Tony dan Murry berpulang serta Yok undur diri.

Saya tumbuh diiringi musik Koes Bersaudara dan Koes Plus, seperti halnya almarhum bapak saya yang juga tumbuh bersama musik Koes Bersaudara dan Koes Plus ketika ia masih kanak-kanak dan remaja. Lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah musik akhir pekan di keluarga kami, dinyanyikan bersama-sama dalam karaokean di depan televisi pada Sabtu malam dan diputar lewat kaset atau CD pada Minggu pagi untuk menemani beres-beres rumah. Dalam perjalanan ke luar kota dengan mobil, selalu terselip setidaknya satu kaset atau CD kompilasi “The Best of” atau “Lagu-lagu Terbaik” Koes Plus.

Ketika saya mulai bermusik secara amatir untuk hobi, saya memilih bermain dram; pilihan ini dipengaruhi terutama oleh dua penabuh dram: John Bonham (Led Zeppelin) dan Murry (Koes Plus). Salah satu impian saya sebagai seorang penabuh dram adalah membawakan lagu-lagu Koes Plus, tetapi sebagai seorang pemuda di awal tahun 2000an tentunya saya kerap terjebak membawakan lagu-lagu terkini pada masa itu (terkitu?). Baru pada paruh kedua 2000an, saya bertemu dengan teman-teman yang juga bersemangat mengikuti jejak almarhum bapak saya ketika ia muda dulu: membentuk band tribute amatir Koes Plus. (Bapak saya pun dulu menabuh dram dan ia mengakui bahwa Murry sangat mempengaruhi permainan dramnya.) Kami berlima hampir berhasil. Sayangnya karena kami terlalu sibuk, kami lumayan jarang latihan dan akhirnya dari semula berlima kami menjadi hanya bertiga. Sebagai band garasi (bukan Garasi) power trio, kami sempat bermusik serius-tidak serius (lebih banyak tidak seriusnya) dengan nama Tiga Pemuda Idaman Gadis Manis Diterpa Gelombang Cinta di Lautan Asmara Nun Jauh di Sana (nama yang sungguh serius). Walaupun kami banyak berlatih lagu-lagu garage rock 1960an dan juga lagu-lagu Cream, sebenarnya yang paling sering kami bawakan di panggung adalah “Kelelawar” dan “Mobil Tua”, yang tentu saja adalah lagu-lagu Koes Plus.

Ketika saya mulai coba-coba menulis lagu, tentunya saya memulai dengan sederhana dengan tiga atau empat kord saja, seperti yang kerap dilakukan Koes Plus. Memang saya kemudian menjadi lumayan pretensius dan bereksperimen ketika mulai menulis lagu untuk dinyanyikan oleh rekan satu band saya, tapi saya selalu merasa bahwa saya berutang pada Koes Plus yang membuka jalan. Saya terutama sekali berutang pada Yon Koeswoyo dengan lagu-lagunya yang bersahaja.

Yon Koeswoyo adalah seorang pencipta lagu yang produktif, dan banyak lagunya bersama Koes Plus tetap didengar sampai hari ini. Album-album Koes Plus selepas album pertama umumnya menampilkan Tony dan Yon sebagai pencipta lagu utama yang mengisi dua pertiga atau tiga perempat bagian, sementara sepertiga atau seperempat bagian lain dibagi antara Murry dan Yok atau diisi dengan lagu-lagu yang ditulis bersama. Menurut saya, lagu-lagu Yon adalah penyeimbang sempurna lagu-lagu Tony. Lagu-lagu Tony cenderung diaransemen dengan lebih pekat, dengan bunyi-bunyian yang lebih kaya dan pengaruh dari berbagai genre musik, dan juga kerap menyelipkan melodi atau progresi kord yang agak rumit dan “pintar” untuk ukuran lagu pop. Lagu-lagu Yon lebih sederhana dan terus terang (dan Tony sebagai pengaransemen dan produser sebagian besar lagu Koes Plus paham benar pentingnya menjaga kesederhanaan lagu-lagu Yon), kendati kerap terdengar lebih kontemplatif. Saya mengagumi semuanya dan bagi saya Koes Plus sebagai entitas penghasil musik adalah keseimbangan antara kedua pencipta lagu utamanya yang diselaraskan oleh kontribusi dari kedua anggota lain. Seperti halnya saya mengagumi karya-karya Tony dengan segala eksperimentasinya, saya mengagumi karya-karya Yon seperti saya mengagumi suaranya: sama-sama jujur, sederhana, dan polos.

Ketika Distantyearningalert (band saya kala itu) akan manggung untuk pertama kali sebagai entitas pop elektronik dengan seorang vokalis pada tahun 2009, saya berpikir untuk me-reka ulang “Kau Tinggalkan Aku” karya Yon Koeswoyo, yang intro vibraphone-nya selalu berdenting di telinga saya. “Kau Tinggalkan Aku” memang bukan lagu Koes Plus yang populer, tetapi buat saya ia istimewa secara musikal. “Kau Tinggalkan Aku” adalah lagu yang sangat singkat tetapi sangat atmosferik, dengan melodi yang sederhana yang melengkapi lirik yang sangat singkat tentang kekecewaan karena ditinggalkan oleh seorang yang dicintai. Kesederhanaan dan kesingkatan lagu ini menghindarkannya dari kecengengan, dan aransemen dan instrumentasinya yang minim dengan hanya mengandalkan gitar ritmis, vibraphone (!), dan dram yang sedikit dibekap menghadirkan kekosongan dan kekecewaan dengan sangat efektif. Setiap mendengar lagu ini, saya selalu terkesima oleh ambiens yang dihasilkan dari kesederhanaan dan kekosongannya.

 

Ketika Distantyearningalert menjadi trio pada tahun 2011, kami memutuskan untuk merekam “Kau Tinggalkan Aku” dengan memodifikasi musik dasar yang saya susun di tahun 2009. Sialnya, sesi rekaman “Kau Tinggalkan Aku” tidak terselamatkan ketika harddisk kami rusak, dan kami tidak pernah lagi berkumpul bersama untuk merekam ulang. Mungkin dalam waktu dekat saya akan kembali mengakses musik dasar untuk “Kau Tinggalkan Aku” dan mencoba merekam vokal untuk lagu itu dengan bantuan seorang teman, dan mungkin saya akan mengunggahnya sebagai penghormatan terakhir saya untuk Yon Koeswoyo. Mungkin juga tidak. Mungkin saja tulisan blog yang tidak terstruktur dengan baik ini adalah penghormatan saya, untuk saat ini, bagi Koes Plus dan Yon Koeswoyo yang saya tahu, karena “sekarang kau tinggal aku”.

Kau Tinggalkan Aku

Yon Koeswoyo

Kau katakan padaku
Bersedia menunggu… Oh.

Sekarang kau tinggal aku
Putus harapanku

Doaku untukmu slalu berbahagia
Kau katakan padaku setia padaku
Tetapi janjimu palsu
Hancurkan hatiku
Doaku untukmu slalu berbahagia
La… La la la la la la la La la la la la la la

 

 

 

 

Double Review: Peter Cetera’s First Two Albums – Part One: Peter Cetera (1981)

If you have been following my blogs for quite a while (chances are you haven’t), you would know that I’m a big fan of the band Chicago. Yes, that Chicago that used to be rock with horns badasses then turned into a middle-of-the-road rock champion, and then an AOR ballad band, and then a band too persistent to quit (still touring after all these years). Out of all the former and current members of Chicago, only Peter Cetera and Robert Lamm maintain solo careers (and also Bill Champlin, if we consider that The Sons of Champlin is his band, and not actually a collective of musicians who reunited after Champlin left Chicago) that can be considered rather existing yet hardly consistent. Lamm, however, is still in Chicago and his outputs over the years were rather sparse since he is busy touring. Cetera, on the other hand, left Chicago in 1985 largely because he was too busy touring with Chicago and didn’t have time to spend with his family and solo material.

Peter Cetera (1981)

 

When Chicago was on hiatus after the catastrophic failure of their XIV album (1980), Cetera (I’ll call him PC too in this review) had already been working on his eponymous solo album. As the band was moving to a new label, Full Moon/Warner Bros., Cetera had to buy the rights for his own album from Chicago’s old label (Columbia) to continue working and later release it under Chicago’s new label. He eventually completed the album with the help of session musicians. No original Chicago members were involved in making the album. The only involvement from Chicago’s side was Chris Pinnick’s, who played guitar on most of the tracks in the album; Pinnick was Chicago’s guitar player at that time, but was never considered an official member. Another notable contribution is from Carl Wilson, the Beach Boys’ guitarist, who co-wrote and played guitar on one song.

The album was released in 1981 with almost no fanfare. Warner Bros. refused to promote the album. Up to that point, Cetera’s prominence in the band had become evident in terms of songwriting and musical direction, and his expertise in writing ballads certainly sat in well with the label and producer David Foster (yes, that David Foster, the hit man), who radically changed the sound of the band and certainly called for another smashing hit in the form of a Cetera ballad, which he did previously with “If You Leave Me Now”, “Baby, What a Big Surprise”, and to a certain extent “No Tell Lover”. Warner was afraid that Cetera would get very successful on his own, thus jeopardizing the fate of the Chicago album in the works. As a result, the album did not sell well due to lack of promotion and it remained a somewhat obscure release. Outside of the US, particularly in Indonesia, the album is even more unknown. I only found out about the album in the early 2000s, in the form of an imported cassette tape which I didn’t buy because it was ridiculously expensive and marked rare.

The album itself is actually musically very good and is often an underrated output in Cetera’s catalog. Although still a product of its time, the album’s sound holds up very well. It is overall more well thought of than the half-baked Chicago XIV and despite strands of similarities, it is still quite refreshingly different from Chicago 16 that comes after it. To my surprise (and perhaps to the surprise of everyone familiar with Cetera’s work in Chicago and after), this is not an album of saccharine ballads. The first song and the lone single from the album, “Livin’ in the Limelight”, is a straightforward hard-hitting guitar-distortion-and-synth rock anthem, with sarcastic lyrics on fame and excesses. The awesome pyrotechnical guitar solo was contributed by none other than Steve Lukather of Toto, who was also in the studio to record some of his guitar work for the upcoming Chicago 16. The song happened because Pete wanted to rock sometimes, and this is a logical and more fully realized continuation of his half-baked (did I use this adjective earlier for the XIV album?) “Hold On” in XIV. The song peaked at number six on the Billboard Mainstream Rock chart, and for that one moment in his life, Peter Cetera was a mainstream rockstar! Nevertheless, the lack of promotion for the album meant that was it and no further singles were released from the album.

The subsequent songs are not as hard-hitting as the first, but they are very competently written and recorded. The rock ballad co-written by Carl Wilson, “I Can Feel It” is certainly not the most exciting song in the album, but it certainly is very slick and is a great change of pace from “Livin’ in the Limelight”. The album also shows that Cetera could work well in a rather original way without Chicago and the elements that he experimented with in Chicago do work better in a solo career setting. “Livin’ in the Limelight” is one example, while his P.C. Moblee voice is another. As strange as it sounds, P.C. Moblee was a persona that Peter Cetera created when he sang songs in the lower register of his voice, mainly for Chicago XIII. This “experiment” resulted in perhaps the cringiest moments in the nearly cringe-worthy Latin-discoish album, with Moblee’s voice sounding either very inadequately restrained or very wrongly sexually charged like cheap cool jazz music accompanying adult movies. However, this album shows that Moblee could work! Use it on a New Wave/white reggae-ish song (“How Many Times”), and it’s done! Use it rather sparingly in a song that’s bombastic and unabashedly sensual, and you got “Holy Moly”!” Both songs are well done, and they show that PC could make good use of his whole vocal range with the right melody and arrangements.

My personal favorite of this album is the fifth track, “Mona Mona”, whose more organic and fluid movement seem to contrast the contemporary (early 80’s) electronic sounding previous four tracks. It is a fun and short, no-nonsense upbeat pop gem. It sounds like something that Chicago could’ve done back in the day, but it could also have been a song that Chicago rejected for sounding too fun. The horn arrangements here are minimal but effective, and the sax solo is nothing short of amazingly fitting; the song shows that PC could do horns too, and it’s a shame that this fun song never made it into Chicago’s repertoire. Chicago did perform “Livin’ in the Limelight” during their 1982 tour for Chicago 16 for good measure, but that was it.

The sixth track, “On the Line” sounds really familiar to me when I first listened to it; it was released as the B-side to “Glory of Love” later in 1986 (more on this later), so it might have had some radio airplay back in the day when I was still a toddler. Both “On the Line” and the following track “Not Afraid To Cry” show that PC still loved country music, as these two were thinly veiled attempts at creating country-ish songs. PC’s love for country music was most evident in his early songs with Chicago, such as “Where Do We Go From Here”, “What Else Can I Say”, and “In Terms of Two”. “On the Line” was more refreshing in terms of musical exploration; it closes with a guitar solo that erupts somewhat surprisingly into a speedy synthesizer run. The prog-ish side of PC continues with the “Evil Eye”/”Practical Man”. I put a slash between the two songs because they are actually a two-part suite. It starts out as a Cetera rocker (“Evil Eye”) with an excellent Cetera bridge that segues into a short Cetera acapella choir (excellent vocal arrangement), which then breaks down into a slow drawn-out intro of “Practical Man” which is a staple proggy move. The break down parts interchange with the faster singing parts. The suite doesn’t take itself very seriously (which is a good thing), and it ends with an interplay between festive horns (in the fashion of “Mona Mona”) and fat synthesizer solo. It is a great short suite that showcases the gamut of PC’s musical exploration. The album ends with “Ivy Covered Walls”, a relaxing ballad that really does not do much, but it is excellent in its minimalism. It is a great cooling down move after the busy pace that starts with the outro of “On the Line”.

Peter Cetera’s first album is an excellent album, one that I would perhaps call one of his best solo albums. The songwriting and arrangements, mostly done by PC himself, are excellent. The album itself seems to be divided into two parts; if you want big 80s AOR (adult-oriented rock) sound, go with the first four tracks, but if you want more organic, band-oriented and fluid sound, go with the rest of the album. I myself prefer the second part, but the first part is well done and was, at the time, the more commercial draw of the album. Too bad the album wasn’t promoted enough by the record label, presumably in fear of PC hitting it big by himself, and it was almost totally eclipsed by PC’s sophomore effort five year later.

If you are a self-confessed lover of Peter Cetera’s music but you missed this album for whatever reason, you should listen to this album; you might end up not liking the album too much for its too early-80s sound (particularly the first four tracks) or the lack of uplifting ballads PC was later known for, but you will surely acknowledge that he was a very inventive songwriter and a damn fine rock singer. If you do not like Peter Cetera’s music in general for its saccharine and AORish content, this album might not change your mind, but it might refresh you with some interesting things that Cetera did at the very beginning of his solo career. Speaking of AORish, the second part of this review will deal with Cetera’s second, and more successful, solo album, Solitude/Solitaire. See you then!

 

 

Bee Gees 1st at its 50th

Bee Gees 1st was released fifty years ago yesterday. Contrary to its own title, it was not the Bee Gees’ first long-play or full-length release. It was titled and marketed as such to mark the then-quintet’s (the three brothers and two other unrelated musicians) first foray into the international music market, following their considerable success in the brothers’ adopted homeland Australia with a string of singles and a couple of long-plays.

bee_gees27_1st

As an album released in both the US and the UK in 1967, it was facing stiff creative competition from many great albums also released in the same year (just look at Robert Christgau’s list of influential 1967 albums (https://www.robertchristgau.com/xg/rs/albums1967-07.php); How dare he missed July and not included 1st?), including that little album called Sgt. Pepper and the Lonely Hearts Club Band just released in the preceding month of June. However, the singles persevered and the Bee Gees went on to become pop sensations themselves as the hits kept coming.

1st also marked the Bee Gees’ first taste at international pop stardom, with the singles taken off the album charting highly in many places, including the now-classic “Holiday”, “New York Mining Disaster 1941”, “To Love Somebody”, and “I Can’t See Nobody”. The longevity of these singles and the brothers’ subsequent chart success have somewhat overshadowed the excellence of the rest of the album, which showcases that the brothers were an energetically psychedelic songwriting powerhouse.

1st is certainly not a very unified and conceptual effort compared to the likes of Sgt. Pepper and the Moody Blues’s Days of Future Passed, but it is a journey through the many creative possibilities that the brothers explored throughout the album. The album opens with “Turn of the Century”, a note on the fascination of the late Victorian era accompanied with a clever orchestration and studio production that imparts an old record sound; Robin Gibb’s trembling voice only strengthens this image. The bleak and haunting yet beautiful melody of “Holiday” soon follows. Just after “Holiday” ends with a cold “dee dee dee dee dee”, a loud drum fill suddenly segues into “Red Chair Fade Away” , a short psychedelic trip, with odd time signatures and far out lyrics. “One Minute Woman” is a sappy ballad that shouldn’t have had any place in the album, but somehow it just works thanks to Barry Gibb’s excellent delivery. This is again contrasted with the following “In My Own Time” which hails back to the garage-y sound they explored in Australia combined with a certain strain of Revolver/Rubber Soul Beatlesque influence. Bringing the contrast game even further, the album continues with the eerie “Every Christian Lion-hearted Man Will Show You” which opens with a haunting Mellotron intro and Barry Gibb singing in Latin in a very low register, resembling a Gregorian chant, which is then broken off by guitar strumming and a clever three-part harmony melody. Up to this point, it is evident that the brothers (particularly Barry and Robin) excelled at any kind of form they experimented in, had two magnificent singers in Barry and Robin (whose unique voice is further explored in “Craise Finton Kirk Royal Academy of Arts”, a Kinks-ish tune), and had a strong three-part harmony (with Maurice giving the ample low end to the two singers) which would soon become their trademark characteristic.

“New York Mining Disaster 1941” continues the bleak but beautiful approach of “Holiday”, and adds an interesting narrative quality through its lyrics of a monologue of a person trapped in a mine shaft, inspired by actual mining disasters. At this point, it can also be concluded that Barry and Robin are lyricists who took very interesting, rather unusual points of view in their often narrative lyrics, which was also evident in the following “Cucumber Castle”, a rather puzzling story of a person and his attachment to his property, accompanied by a dramatic orchestration. “To Love Somebody” and “I Can’t See Nobody” prove that the then-current proto-psychedelic wave wasn’t the Bee Gees’ only influence. These were certainly influenced by that decade’s soul music and R&B, particularly Motown; it is interesting to hear that the former song showcases Barry at his most soulful, while the latter portrays Robin in a very similar light. Between these two is “I Close My Eyes” a very catchy and enjoyable psychedelic romp. “Please Read Me” follows the same vein as “Red Chair” but with the vocal harmony sustained throughout the song. The album ends with the excellent “Close Another Door” which starts out with Robin’s lamenting voice which suddenly burst into a rocking middle, and ends tastefully in orchestration and Robin’s majestic ad-libbed cadenza.

1st is a truly swirling journey from start to end. It is an album I would definitely recommend to people starting to get interested in psychedelic music, people who appreciate crafty songwriting and harmony singing, and even casual Bee Gees listeners who want to find out more than the brothers’ usual One Night Only set. It is also an album from 1967 I would definitely recommend among many other great albums released in that very crowded year in popular music in English.

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!

 

 

Does It Really Happen to You? To Me? To Chris Squire?

Prawacana

Di bawah ini adalah tulisan saya (yang bisa jadi akan sangat panjang) tentang album band Yes berjudul Drama, lagu-lagu kesukaan saya di album itu, dan semacam obituari untuk Chris Squire yang baru saja meninggalkan kita semua.

Sampul album Drama karya Roger Dean, salah satu sampul album favorit saya, terutama karena ada macan kumbangnya.

SATU

Saya pertama kali berkenalan dengan cabang musik yang acap disebut rock progresif (bapak saya dan teman-temannya menyebutnya art rock; ada juga sempalan lain yang menyebutnya musik nuansamatik, istilah yang enggan saya pakai karena terdengar lebih mirip sepeda motor daripada musik) pada pertengahan 90an melalui sebuah kaset non-lisensi lokal milik bapak saya (untuk tidak menyebut bajakan) keluaran Yess dengan judul album Yessongs oleh band Yes. Ketika saya berkenalan dengan internet beberapa tahun kemudian, barulah saya sadar bahwa sampul album ini tidak bersesuaian dengan isinya. Jadi selama ini saya sudah mengenali lagu-lagu yang saya dengar dengan judul yang salah! Ya ampun! Barulah saya sadar bahwa album yang saya dengarkan judulnya sangat bersahaja: The Yes Album yang merupakan album ketiga Yes (jadi dua album sebelumnya mungkin tidak dianggap album; entahlah). Pun pada waktu itu saya belum sadar bahwa Yes ini adalah band yang sama yang lagunya “Owner of a Lonely Heart” ada di salah satu kaset kompilasi New Hits of ’83 yang ada di rak yang sama.

Dari hasil mengacak-acak koleksi kaset bapak saya dan lapak-lapak kaset di pasar loak Cihapit, saya berhasil menemukan beberapa album Yes keluaran Yess, yang melibatkan empat formasi Yes yang di dalamnya ada orang-orang ini: Jon Anderson, Chris Squire, Steve Howe, Tony Kaye, Bill Bruford, Rick Wakeman, Alan White, dan Patrick Moraz (silakan susun sendiri formasi-formasinya dan terka album Yes apa saja yang saya miliki pada waktu itu). Kala itu, Yes adalah band pertama yang saya telusuri di internet dan patokan koleksi kaset saya adalah laman frequently asked question tentang Yes di alt.music.yes (sekarang sudah tidak ada dan diarsipkan di http://www.bondegezou.co.uk/amy_faq.htm) dan Yeshoo, mesin pencari berbasis Yahoo! khusus untuk segala hal yang berkaitan dengan Yes (mesin pencari ini juga sudah almarhum). Saya pun aktif mengikuti forum Yes resmi dan sempat mengeluh tentang album Fragile saya (keluaran Yess) yang tidak punya lagu We Have Heaven (reprise), dan akhirnya saya sadar memiliki album bootleg atau non-lisensi bisa jadi sangat membanggakan dan sekaligus memalukan. Sebagai pengagum suara surgawi Jon Anderson, saya pun turut mengoleksi beberapa album solo Jon, serta juga beberapa album Rick Wakeman, serta mengunduh beberapa lagu dalam format mp3 dengan bitrate rendah karena hanya itu yang mungkin dilakukan dengan koneksi internet yang disediakan oleh Centr*n atau Kosong Delapan Kosong Sembilan Delapan Sembilan Empat Kali. Pencapaian terbesar saya dalam kegemaran saya akan Yes saat itu adalah berhasil meracuni bekas teman sebangku (bekas sebangku, bukan bekas teman) saya sewaktu SMP dengan musik Yes.

Pola koleksi Yes saya yang berkisar pada era klasik Yes (1971-1976) mengalami perubahan signifikan ketika di penghujung 90an saya membeli (lagi-lagi di pasar Cihapit) Yes Greatest Hits keluaran King’s Records (yang kemudian dikenal sebagai label perilis kompilasi tembang kenangan) yang bersampul album Tormato yang pada waktu itu belum saya punya. Saya membeli Greatest Hits itu terutama karena banyak lagu yang berasal dari album-album Yes di akhir 70an dan awal 80an yang pada waktu itu sulit dicari (atau mungkin saya yang kurang getol mencari). Saya pun berkenalan dengan “Going for the One” (dari album Going for the One), “Madrigal” (dari Tormato), dan yang paling penting “Does It Really Happen” dari album Drama. “Does It Really Happen” adalah lagu terakhir di muka dua dalam kompilasi Greatest Hits itu, dan saya selalu senang bukan main dan puas sepuas-puasnya ketika menutup pemutaran kaset Greatest Hits itu dengan “Does It Really Happen.” Dari “Does It Really Happen” pula saya menelusuri bahwa Jon Anderson dan Rick Wakeman sempat keluar dari Yes setelah album Tormato dirilis. Duet The Buggles, Trevor Horn dan Geoff Downes, kemudian menggantikan mereka berdua, lalu kemudian jadilah album Yes pertama (kala itu masih album Yes satu-satunya) tanpa suara Jon Anderson. Saya pun kala itu baru tahu juga bahwa “Video Killed the Radio Star” adalah hit pertama The Buggles dan videonya adalah video musik pertama yang ditayangkan MTV (sebagai remaja akhir 90an saya selalu menyangka “Video Killed the Radio Star” adalah lagu band alternatip The President of the United States of America).

Perjalanan dari “Video Killed the Radio Star” The Buggles ke “Does It Really Happen” Yes adalah seperti perjalanan dari bumi ke orbit, musykil tapi logis. Di situ saya menemukan perpaduan dua generasi, dua era yang berkelindan dengan mesra. Saya menemukan bahwa Trevor Horn dan Geoff Downes adalah dua musisi dan pencipta musik jempolan, bukan semata “one hit wonder” dan bukan hanya sesumbar bahwa mereka adalah penggemar Yes sejati. Trevor Horn tentu saja bukan Jon Anderson yang suaranya gemerincing lonceng kahyangan. Geoff Downes juga bukan keyboard wizard yang permainannya cerewet seperti Rick Wakeman. Kendati demikian, kepribadian cair yang mereka suntikkan ke dalam Yes telah membawa perubahan dalam musik Yes, yang nantinya akan mempengaruhi arah musik band ini selama dekade 1980an.

Akan tetapi, hal terpenting yang saya sadari dari mendengarkan “Does It Really Happen” berulang-ulang adalah bahwa Yes bisa berjalan tanpa Jon Anderson, tetapi tidak tanpa Chris Squire. Musik Yes pada “Does It Really Happen” dikendalikan dan sekaligus dimediasi oleh permainan gitar bas Chris Squire. Betul, Chris memang agak pamer di lagu ini; riff utama lagu ini adalah riff gitar bas sederhana tiga not (bisa disebut dua not, karena not yang terakhir hanya berbeda oktaf dengan not kedua) yang mengalir dominan sepanjang lagu tanpa terdengar monoton, lalu dilanjutkan dengan refrain yang basisnya adalah melodi gitar bas, dan ditutup dengan solo gitar bas yang menurut saya keren (maklum waktu itu saya masih jarang mendengar solo gitar bas). Ini bukan berarti Chris Squire hanya mengendalikan lagu “Does It Really Happen” saja, tetapi ternyata ia sudah memainkan peran yang serupa selama ia bergabung dengan Yes. Hanya saja selama saya mendengarkan Yes, saya selalu teralihkan oleh suara Jon Anderson, glissando-nya Rick Wakeman, atau kelebatan (bisa kelebat-an dan juga ke-lebat-an) jari-jari Steve Howe di atas fret. Saya pun kembali mendengarkan The Yes Album, album Yes pertama yang saya dengarkan secara utuh, dan mencari Chris Squire di situ. Ternyata ia ada di situ selama ini, menjadi kemudi sekaligus jangkar setiap lagu, suara metalik tebal dengan selimut tipis distorsi yang membentengi setiap komposisi. Ia melakukan itu di setiap album Yes yang saya tahu! Saya pun kemudian meminjam album solo Chris Squire, Fish Out of Water, dari paman saya, dan ternyata Chris Squire melakukan hal yang serupa, bahkan lebih, di album solo pertamanya itu.

Hal lain yang saya sadari dari Fish Out of Water adalah bahwa Chris Squire adalah penyanyi dengan suara yang khas. Saking khasnya ia bernyanyi di lapis kedua, saya berani bilang bahwa Yes paling terdengar seperti Yes ketika Chris Squire ikut bernyanyi harmoni. Siapapun vokalisnya, seksi vokal Yes adalah seksi vokal Yes ketika suara Chris Squire masuk (para pemuja Jon Anderson, silakan benci saya sekarang). Tidak percaya? Silakan simak “Machine Messiah” dari Drama atau “Fly from Here” dari Fly from Here (dengan vokalis Benoit David). Akhirnya, saya harus berterima kasih sangat kepada Chris Squire karena ia bukan hanya mengubah cara saya menikmati musik Yes, tetapi juga mengubah cara saya menikmati musik secara keseluruhan; saya jadi menyadari pentingnya peran pemain gitar bas dalam suatu band, terutama band rock, dan membuat saya memiliki banyak idola baru: John Paul Jones, Geddy Lee, Gary Thain, John Wetton, Greg Lake, dan Tony Levin. Saya pun semakin sadar bahwa harmoni dalam aransemen vokal suatu band rock bukanlah semata pemanis, tetapi justru kerap menjadi bagian integral dari identitas sonik suatu band: bukan hanya pada Chris Squire dengan Jon Anderson, Trevor Horn, Benoit David, atau Jon Davison, tetapi juga pada Tony atau Yok Koeswoyo dengan Yon Koeswoyo sampai Rudy Schenker dengan Klaus Meine.

DUA

Pada awal tahun 2000an, selera musik saya bergeser seiring pergeseran status saya menjadi seorang pelajar universitas. Selepas mengalami kesulitan berpura-pura menjadi anak band, saya lebih mendalami pilihan saya untuk menjadi penggubah musik elektronik dan eksperimental. Lewat rekomendasi buku-buku dan teman-teman, saya kemudian lebih sering mengakrabi Brian Eno, Kraftwerk, Can, King Crimson era Discipline, Talking Heads, ditambah sedikit Joy Division dan Spandau Ballet (!). Saya masih mendengarkan Yes, tetapi cukup jarang  mendengarkan album-album “klasik” mereka. Playlist Yes saya isinya hampir selalu shuffle album Drama, 90125, dan 9012Live, ditambah beberapa lagu dari Going for the One dan Tormato. Ya, 90125 bukan album yang buruk. Saya serius.

(Bagian kedua masih akan disambung)

 

 

What I Did with a Guitar When I Was Young

When I was young and my heart was an open book… Okay, that was not it. I never was and never am a guitar player. I picked up guitar back in 2000 and, until today, I never managed to get past basic chords and scales. However, in 2003 and 2004, I had a very strong drive to create some guitar-driven music, which was mainly fueled by the surrounding experimental and noise music scene at that time, which circled around toying with a guitar or guitars, unusual instruments and electronic embellishments. Since I had almost no budget to afford a guitar, I borrowed two guitars on two separate occasions. The first one was borrowed from Dody (Hermayadi Ardisoma), my neighbor and senior at the university, some time in 2003. It was a generic-looking black Samick guitar, whose sound I have taken to like. The second was borrowed from a friend of mine (name classified) during KKN (field work) in 2004. It was a Japan-made ivory Fender Telecaster that had been sitting in his cupboard for almost a year. It was a bit rusty and dirty, but useable.

The recording process was amateurish at best: guitar directly plugged into computer soundcard without external DAC/pre-amp or interface. This accounts for some noise that was later reduced during editing and mixing process. Takes were recorded using SoundForge (back then it was SonicFoundry’s, not yet Sony’s), and synthesizer and drum tracks were created on Fruity Loops (now FL Studio). These were all finally mixed and mastered, if you can call them mixing and mastering, on SoundForge. So, voila, here are six tracks from a person who could not actually play guitar. The seventh track is a bonus track featuring my friend, Andy Dwi (a real guitarist) on guitar with me on piano and drum programming. Pardon the lack of melody and virtuosity. Consider you’ve been warned.

Fanfare for the Self
Sandya Maulana: synthesizer, guitar, drum programming

The Room Re-revisited (including the Madcaps) (2009 remix)
Sandya Maulana: guitar, ballpoint caps, synthesizer

After All
Sandya Maulana: guitars, synthesizer, drum programming

Dinosaurs in D
Sandya Maulana: guitar, vocals, treatment, drum programming
Contains performances of excerpts from “I Know What I Like” by Genesis and samples of “Closer to the Heart” by Rush

Is It?
Sandya Maulana: Synthesizer, TS808, guitar, drum programming

The Room Revisited (including the Schedule)
Sandya Maulana: guitar, treatment, computer keyboard

Self-Indulgent Blues
Sandya Maulana: piano, synthesizer, drum programming
Andy Dwi: guitar

 

Janto, the Unsung Hero

L-R: Soman Lubis, Bhagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo, Benny Soebardja

L-R: Soman Lubis, Bhagu Ramchand, Sammy Zakaria, Janto Diablo, Benny Soebardja

Janto Diablo just added me as a friend on facebook and we had a short chat afterwards. And my heart leapt up. He sang lead on two songs, shared vocal duties on two more songs, played bass and flute and provided backing vocals in Shark Move’s only album, Ghede Chokra’s, released in perhaps 1970 or 1971. His outstanding contribution to the album is often overshadowed by the fact that the band was directed by prog luminary Benny Soebardja, who would go on to break new grounds and scored longer success with the proto-prog-metal outfit Giant Step.

The songs that he sang, the bluesy and improvisational “Harga” (in which Janto also played a wicked flute solo) and the anti-drug song (!) “Madat” are perhaps two of the best rock ballads ever to grace my life. The bass guitar riff and solo of “Evil War” will be forever etched in my mind. His high-pitched, bluesy vocal work is tinged here and there with Sundanese intonation and inflection, making his voice all the more unique.

Janto Diablo (born Janto Suprapto) hailed from Bandung and has been living in the city ever since. He started his career in music in the 1960s. Later in the decade, Janto formed and performed with Diablo, a rather tenacious yet short-lived rock band. Shortly thereafter, he became known as Janto Diablo. The nickname was carried over to his next band, Shark Move, after Diablo folded in early 1970. Shark Move folded too only over a year later, after some of the members left, including keyboardist Soman Lubis who later joined aspiring God Bless. Benny Soebardja eventually called it a day for the band and moved on to form Giant Step. After Shark Move, Janto was involved in a number of musical projects before settling on working for Aktuil production house, as well as having a long backstage career as a stage manager and later as a concert promoter. One of the concerts that he managed early in his career was the bustling Deep Purple Concert in 1975 in Istora Senayan, Jakarta.

35 years after they called it quits, Shark Move reunited in a tribute to the late Gito Rollies, former lead singer of fellow Bandung band The Rollies and a legendary artist on his own right. Shark Move went on to perform in a full-scale reunion concert, titled Shark on the Move (a reference to Giant Step’s album, Giant on the Move, and the fact that the reunion featured also several songs by Giant Step) featuring a fixed Shark Move line-up along with performances from former Giant Step members and Benny Soebardja’s sons playing an expanded repertoire of Shark Move and Giant Step songs. Shark Move still performs occasionally up to this day with revolving line-ups, with Benny and Janto as the mainstays. Amazingly, Janto’s voice has changed very little after more than forty years. He still sings “Madat” with the same bravado found in Ghede Chokra’s:

Kini telah kuniatkan

Persetan dengan goda dan rintangan

Segala omong kosong tentang kasih dan sayang

Persetan dengan cinta dan perdamaian

‘Kan kuserbu musuh biar seribu

‘Kan kubunuh, ‘kan kubunuh, ‘kan kubunuh…

Sebuah Jawaban: Favourite’s Group vol. 2

(foto menyusul karena saya sedang tidak di rumah untuk beberapa lama)

Saya menulis kembali di sini karena saya merasa perlu menceritakan ulang percakapan saya dengan mas Budi Warsito pada tanggal 14 Oktober 2014 lalu, dengan ditambahi bumbu-bumbu lain yang tidak ada di percakapan kami pada waktu itu. Percakapan diawali dengan sebuah pertanyaan penting dari Mas Budi, “Hehe, boleh dibagi di sini ceritanya, satuuu saja, kaset yg Bung Sandya sangat sukai, yg akan Bung sering putar dan jaga baik2 hingga akhir hayat nanti?”

Jawaban saya adalah kaset Favourite’s Group vol. 2, dengan side B album pertama AKA karena saya punya kenangan yang sangat panjang dengan kaset ini. Jawaban saya mungkin terlalu cliched dan mainstream karena biasanya orang-orang yang ditanya oleh Mas Budi selalu menjawab dengan album-album berat dengan nama-nama “susah” (mungkin karena beban pencitraan), sementara saya dengan enteng menjawab dengan sebuah album dari band pop Indonesia, yang ngepop banget. Untungnya saya tidak terbebani pencitraan sebagai seorang hipster kolektor kaset eksotik (memang bukan) dan jawaban saya jujur, seperti halnya si Eti.

Saya penggemar berat the Favourite’s Group sejak masih di bangku taman kanak-kanak. Setiap hari sehabis magrib saya selalu memutar kaset The Best of Favourite’s Group vol. 1 (produksi 1986 kalau tidak salah) dan ikut bernyanyi (terutama lagu ini: “Siapa yang berdosa? Tak dapat ku berkata. Siapa yang bersalah? Susah ditelaah. Mari kita, kita renungkaaan.”), tetapi sayang suatu hari kaset itu putus dan sebagian rekamannya terhapus karena tape JVC lama di rumah ngadat. Untuk menggantikan kaset itu, Favourite’s Group vol. 2 (yang sebenarnya sudah ada sejak saya belum lahir) inilah yang sering disetel. Setiap bepergian jauh, kaset ini selalu dibawa, seringkali karena keinginan saya, bukan keinginan bapak saya sebagai pemilik kaset ini, untuk mendengarkannya di perjalanan.

Sepertinya karena bapak saya tahu saya lebih suka Favourite’s Group daripada dia, kaset ini adalah kaset pertama yang dia wariskan kepada saya. Agak berat menerimanya karena saya tahu kaset Favourite’s Group vol. 2 itu adalah kenangan masa remajanya dengan teman-teman sekampung sebelum hijrah ke Bandung. Sewaktu bapak bereuni dengan teman-teman sekelompok teaternya di Losari, Cirebon, album ini pun diputar sebagai musik latar.

Menjelang awal tahun kedua di SMU (dulu begitu namanya), saya merasa perlu belajar bermain gitar sebagai bentuk aktualisasi diri seorang remaja (cieee). Lagu pertama yang saya ulik dengan gitar adalah “Creep”-nya Radiohead, dengan bantuan seorang teman yang mengajari saya bentuk kord minor. Lagu kedua adalah “Mimpi Sedih”-nya Favourite’s Group. Ini lagu yang kord-kordnya mudah, bahkan lebih mudah daripada “Creep,” tetapi megahnya (dan juga menye-menyenya) mengalahkan “Creep.” Dulu Pablo Honey dan kaset Favourite’s Group ini berdampingan. Pablo Honey entah ke mana, dipinjam dan tak dikembalikan lagi, tapi teman-teman sebaya saya tidak pernah ada yang meminjam Favourite’s Group vol. 2 ini. Lagipula mana ada remaja tanggung di penghujung milenium kedua yang mau mendengarkan the Favourite’s Group? Hampir semua sedang larut, entah dalam 13 atau Californication (atau sebagian kecil larut dalam Utopia, seperti teman sebangku saya. Hehehe).

Akan tetapi, lagu favorit saya di album ini bukan “Mimpi Sedih,” tetapi “Lagu Gembira” segera setelah “Mimpi Sedih.” Jadi, setelah bermimpi sedih lalu berlagu gembira. Cukup membingungkan. Ada gerakan-gerakan yang tidak diduga-duga muncul yang membuat saya sangat gembira (!) setiap mendengar lagu ini. Ketika saya belajar menulis dan mengaransemen lagu, baru saya paham ini sepertinya adalah kejeniusan A. Riyanto dan mungkin lagu ini adalah lahan eksperimennya. Di tengah-tengah lagu tiba-tiba ada progresi kord mundur per setengah not (sampai sekarang saya belum tahu namanya) yang dengan mulus sekali masuk ke refrain yang berirama ala “La Bamba,” tapi kemudian interlude-nya jadi terdengar murung karena nada dasarnya berubah jadi minor sebelum kembali ke intro yang ceria. Uniknya si La Bamba-La Bambaan itu tidak diulang setelah verse kedua, sehingga lagunya jauh sekali dari kesan norak dan klise. Progresi kordnya sinting, berbeda drastis dengan “Mimpi Sedih” dan memberi banyak pelajaran tentang bagaimana membuat lagu yang catchy dengan progresi kord yang cukup njelimet (kualitas yang saya temukan juga di karya-karya Yockie Suryoprayogo).

Di album Favourite’s Group vol. 2 ini ada pula sebuah lagu spoken words yang judulnya “Sajak untuk Seorang Gadis yang Sedih” dengan iringan musik pop instrumental orkestral ala 70an awal. Saya kemudian terpikir untuk membacakan kembali “Sajak” ini dengan latar musik yang sama sekali berbeda, elektrik dan sedikit industrial. Si spoken word “Sajak” ini ditulis oleh Is Haryanto, dan cemennya minta ampun. Sepertinya kecemenan inilah yang menjadi ciri khas Is Haryanto di kemudian hari. Hahaha. Karena waktu itu judulnya musik eksperimental, jadi saya bereksperimen saja menabrakkan musik elektronik yang mekanikal dengan sajak cinta cemen karya Is Haryanto ini. Maka kemudian jadilah rekaman elektronik lo-fi pertama saya. Rekaman ini kemudian dikirimkan ke kompetisi musik eksperimental pada tahun 2004, yang diselenggarakan oleh kolektif musik eksperimental Pemuda Elektrik (yang kemudian sebagiannya atau mungkin 2/3 atau 3/4nya kita kenal sebagai SL*T (Sungsang Lebam Telak)).

Bagaimana dengan lagu-lagu lain di album ini? Killers. Indonesian mainstream pop at my personal best. Semuanya diaransemen dengan ketat, eklektik, tidak terlalu manis atau gurih dan menurut saya malah lebih terpoles daripada album-album Favourite’s Group berikutnya. Di kesempatan lain saya akan membahas satu per satu ketujuh lagu lain yang ada di album ini, dan juga membandingkan lagu-lagu ini dengan album yang ada di sisi B, yakni AKA volume 1. Yang jelas, album inilah jawaban jujur saya dari pertanyaan yang diajukan mas Budi Warsito di awal percakapan kami. Jika Anda punya, dengarkan dan apresiasi kembali. Mungkin Anda akan menemukan bahwa Favourite’s Group (setidaknya di formasi pertama mereka) adalah a different beast altogether (susah nih diterjemahkannya).