Tagged: art rock

Does It Really Happen to You? To Me? To Chris Squire?

Prawacana

Di bawah ini adalah tulisan saya (yang bisa jadi akan sangat panjang) tentang album band Yes berjudul Drama, lagu-lagu kesukaan saya di album itu, dan semacam obituari untuk Chris Squire yang baru saja meninggalkan kita semua.

Sampul album Drama karya Roger Dean, salah satu sampul album favorit saya, terutama karena ada macan kumbangnya.

SATU

Saya pertama kali berkenalan dengan cabang musik yang acap disebut rock progresif (bapak saya dan teman-temannya menyebutnya art rock; ada juga sempalan lain yang menyebutnya musik nuansamatik, istilah yang enggan saya pakai karena terdengar lebih mirip sepeda motor daripada musik) pada pertengahan 90an melalui sebuah kaset non-lisensi lokal milik bapak saya (untuk tidak menyebut bajakan) keluaran Yess dengan judul album Yessongs oleh band Yes. Ketika saya berkenalan dengan internet beberapa tahun kemudian, barulah saya sadar bahwa sampul album ini tidak bersesuaian dengan isinya. Jadi selama ini saya sudah mengenali lagu-lagu yang saya dengar dengan judul yang salah! Ya ampun! Barulah saya sadar bahwa album yang saya dengarkan judulnya sangat bersahaja: The Yes Album yang merupakan album ketiga Yes (jadi dua album sebelumnya mungkin tidak dianggap album; entahlah). Pun pada waktu itu saya belum sadar bahwa Yes ini adalah band yang sama yang lagunya “Owner of a Lonely Heart” ada di salah satu kaset kompilasi New Hits of ’83 yang ada di rak yang sama.

Dari hasil mengacak-acak koleksi kaset bapak saya dan lapak-lapak kaset di pasar loak Cihapit, saya berhasil menemukan beberapa album Yes keluaran Yess, yang melibatkan empat formasi Yes yang di dalamnya ada orang-orang ini: Jon Anderson, Chris Squire, Steve Howe, Tony Kaye, Bill Bruford, Rick Wakeman, Alan White, dan Patrick Moraz (silakan susun sendiri formasi-formasinya dan terka album Yes apa saja yang saya miliki pada waktu itu). Kala itu, Yes adalah band pertama yang saya telusuri di internet dan patokan koleksi kaset saya adalah laman frequently asked question tentang Yes di alt.music.yes (sekarang sudah tidak ada dan diarsipkan di http://www.bondegezou.co.uk/amy_faq.htm) dan Yeshoo, mesin pencari berbasis Yahoo! khusus untuk segala hal yang berkaitan dengan Yes (mesin pencari ini juga sudah almarhum). Saya pun aktif mengikuti forum Yes resmi dan sempat mengeluh tentang album Fragile saya (keluaran Yess) yang tidak punya lagu We Have Heaven (reprise), dan akhirnya saya sadar memiliki album bootleg atau non-lisensi bisa jadi sangat membanggakan dan sekaligus memalukan. Sebagai pengagum suara surgawi Jon Anderson, saya pun turut mengoleksi beberapa album solo Jon, serta juga beberapa album Rick Wakeman, serta mengunduh beberapa lagu dalam format mp3 dengan bitrate rendah karena hanya itu yang mungkin dilakukan dengan koneksi internet yang disediakan oleh Centr*n atau Kosong Delapan Kosong Sembilan Delapan Sembilan Empat Kali. Pencapaian terbesar saya dalam kegemaran saya akan Yes saat itu adalah berhasil meracuni bekas teman sebangku (bekas sebangku, bukan bekas teman) saya sewaktu SMP dengan musik Yes.

Pola koleksi Yes saya yang berkisar pada era klasik Yes (1971-1976) mengalami perubahan signifikan ketika di penghujung 90an saya membeli (lagi-lagi di pasar Cihapit) Yes Greatest Hits keluaran King’s Records (yang kemudian dikenal sebagai label perilis kompilasi tembang kenangan) yang bersampul album Tormato yang pada waktu itu belum saya punya. Saya membeli Greatest Hits itu terutama karena banyak lagu yang berasal dari album-album Yes di akhir 70an dan awal 80an yang pada waktu itu sulit dicari (atau mungkin saya yang kurang getol mencari). Saya pun berkenalan dengan “Going for the One” (dari album Going for the One), “Madrigal” (dari Tormato), dan yang paling penting “Does It Really Happen” dari album Drama. “Does It Really Happen” adalah lagu terakhir di muka dua dalam kompilasi Greatest Hits itu, dan saya selalu senang bukan main dan puas sepuas-puasnya ketika menutup pemutaran kaset Greatest Hits itu dengan “Does It Really Happen.” Dari “Does It Really Happen” pula saya menelusuri bahwa Jon Anderson dan Rick Wakeman sempat keluar dari Yes setelah album Tormato dirilis. Duet The Buggles, Trevor Horn dan Geoff Downes, kemudian menggantikan mereka berdua, lalu kemudian jadilah album Yes pertama (kala itu masih album Yes satu-satunya) tanpa suara Jon Anderson. Saya pun kala itu baru tahu juga bahwa “Video Killed the Radio Star” adalah hit pertama The Buggles dan videonya adalah video musik pertama yang ditayangkan MTV (sebagai remaja akhir 90an saya selalu menyangka “Video Killed the Radio Star” adalah lagu band alternatip The President of the United States of America).

Perjalanan dari “Video Killed the Radio Star” The Buggles ke “Does It Really Happen” Yes adalah seperti perjalanan dari bumi ke orbit, musykil tapi logis. Di situ saya menemukan perpaduan dua generasi, dua era yang berkelindan dengan mesra. Saya menemukan bahwa Trevor Horn dan Geoff Downes adalah dua musisi dan pencipta musik jempolan, bukan semata “one hit wonder” dan bukan hanya sesumbar bahwa mereka adalah penggemar Yes sejati. Trevor Horn tentu saja bukan Jon Anderson yang suaranya gemerincing lonceng kahyangan. Geoff Downes juga bukan keyboard wizard yang permainannya cerewet seperti Rick Wakeman. Kendati demikian, kepribadian cair yang mereka suntikkan ke dalam Yes telah membawa perubahan dalam musik Yes, yang nantinya akan mempengaruhi arah musik band ini selama dekade 1980an.

Akan tetapi, hal terpenting yang saya sadari dari mendengarkan “Does It Really Happen” berulang-ulang adalah bahwa Yes bisa berjalan tanpa Jon Anderson, tetapi tidak tanpa Chris Squire. Musik Yes pada “Does It Really Happen” dikendalikan dan sekaligus dimediasi oleh permainan gitar bas Chris Squire. Betul, Chris memang agak pamer di lagu ini; riff utama lagu ini adalah riff gitar bas sederhana tiga not (bisa disebut dua not, karena not yang terakhir hanya berbeda oktaf dengan not kedua) yang mengalir dominan sepanjang lagu tanpa terdengar monoton, lalu dilanjutkan dengan refrain yang basisnya adalah melodi gitar bas, dan ditutup dengan solo gitar bas yang menurut saya keren (maklum waktu itu saya masih jarang mendengar solo gitar bas). Ini bukan berarti Chris Squire hanya mengendalikan lagu “Does It Really Happen” saja, tetapi ternyata ia sudah memainkan peran yang serupa selama ia bergabung dengan Yes. Hanya saja selama saya mendengarkan Yes, saya selalu teralihkan oleh suara Jon Anderson, glissando-nya Rick Wakeman, atau kelebatan (bisa kelebat-an dan juga ke-lebat-an) jari-jari Steve Howe di atas fret. Saya pun kembali mendengarkan The Yes Album, album Yes pertama yang saya dengarkan secara utuh, dan mencari Chris Squire di situ. Ternyata ia ada di situ selama ini, menjadi kemudi sekaligus jangkar setiap lagu, suara metalik tebal dengan selimut tipis distorsi yang membentengi setiap komposisi. Ia melakukan itu di setiap album Yes yang saya tahu! Saya pun kemudian meminjam album solo Chris Squire, Fish Out of Water, dari paman saya, dan ternyata Chris Squire melakukan hal yang serupa, bahkan lebih, di album solo pertamanya itu.

Hal lain yang saya sadari dari Fish Out of Water adalah bahwa Chris Squire adalah penyanyi dengan suara yang khas. Saking khasnya ia bernyanyi di lapis kedua, saya berani bilang bahwa Yes paling terdengar seperti Yes ketika Chris Squire ikut bernyanyi harmoni. Siapapun vokalisnya, seksi vokal Yes adalah seksi vokal Yes ketika suara Chris Squire masuk (para pemuja Jon Anderson, silakan benci saya sekarang). Tidak percaya? Silakan simak “Machine Messiah” dari Drama atau “Fly from Here” dari Fly from Here (dengan vokalis Benoit David). Akhirnya, saya harus berterima kasih sangat kepada Chris Squire karena ia bukan hanya mengubah cara saya menikmati musik Yes, tetapi juga mengubah cara saya menikmati musik secara keseluruhan; saya jadi menyadari pentingnya peran pemain gitar bas dalam suatu band, terutama band rock, dan membuat saya memiliki banyak idola baru: John Paul Jones, Geddy Lee, Gary Thain, John Wetton, Greg Lake, dan Tony Levin. Saya pun semakin sadar bahwa harmoni dalam aransemen vokal suatu band rock bukanlah semata pemanis, tetapi justru kerap menjadi bagian integral dari identitas sonik suatu band: bukan hanya pada Chris Squire dengan Jon Anderson, Trevor Horn, Benoit David, atau Jon Davison, tetapi juga pada Tony atau Yok Koeswoyo dengan Yon Koeswoyo sampai Rudy Schenker dengan Klaus Meine.

DUA

Pada awal tahun 2000an, selera musik saya bergeser seiring pergeseran status saya menjadi seorang pelajar universitas. Selepas mengalami kesulitan berpura-pura menjadi anak band, saya lebih mendalami pilihan saya untuk menjadi penggubah musik elektronik dan eksperimental. Lewat rekomendasi buku-buku dan teman-teman, saya kemudian lebih sering mengakrabi Brian Eno, Kraftwerk, Can, King Crimson era Discipline, Talking Heads, ditambah sedikit Joy Division dan Spandau Ballet (!). Saya masih mendengarkan Yes, tetapi cukup jarang  mendengarkan album-album “klasik” mereka. Playlist Yes saya isinya hampir selalu shuffle album Drama, 90125, dan 9012Live, ditambah beberapa lagu dari Going for the One dan Tormato. Ya, 90125 bukan album yang buruk. Saya serius.

(Bagian kedua masih akan disambung)

 

 

Advertisements