Category: Reviews

Berburu CD Musik di Lawrence (bagian 1)

Satu hal yang dulu saya impikan untuk dilakukan di Amerika Serikat dan sekarang sering saya lakukan adalah adalah thrift shopping, berburu barang-barang bekas (dan terkadang baru) dengan harga sangat miring di berbagai tempat. Di Lawrence, Kansas tempat saya tinggal, terdapat beberapa thrift stores, toko-toko yang khusus menjual barang-barang sumbangan dengan harga miring, misalnya jaringan nasional seperti Goodwill dan Salvation Army serta pula toko-toko lokal seperti St. John’s Rummage Shop dan Social Service League. Sebagian hasil penjualan barang-barang ini umumnya disumbangkan untuk program-program kemanusiaan seperti pengentasan kemiskinan dan pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Akan tetapi, thrifting tidak hanya berhenti di thrift stores saja. Ada banyak kesempatan untuk berburu barang-barang murah dengan harga sangat miring di tempat-tempat lain, semisal di garage sale yang bisa jadi diadakan oleh perorangan atau komunitas pada akhir pekan. Garage sale jadi semacam kegiatan akhir pekan favorit bagi kami, berkunjung ke garasi tetangga yang menjual sebagian barang yang sudah tidak digunakannya lagi dengan harga sangat murah dan terkadang bisa ditawar.

Bisnis ritel di Amerika Serikat saat ini melesu dan thrifting menjalar ke toko-toko yang akan bangkrut. Toko-toko yang akan tutup ini umumnya melakukan liquidation sale, menjual semua aset dengan harga sangat miring. Salah satu jaringan department store yang sudah bangkrut di Lawrence adalah Hastings, yang sempat saya kunjungi pada bulan Oktober lalu sebelum tutup selamanya pada bulan November. Yang akan tutup berikutnya sepertinya adalah jaringan toko pakaian JC Penney, yang saat ini sedang melakukan liquidation sale.

Saya berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan thrifting ini dengan mengoleksi musik dalam format CD. Mengapa CD? Tentunya karena CD lebih mudah ditemui di Amerika Serikat daripada kaset, yang banyak saya koleksi di Indonesia. Harga CD di thrift stores pun lebih bersahabat, umumnya berkisar hanya dari 50 sen hingga 2 dolar saja per CD, dan di garage sale bisa jadi malah lebih murah, bahkan untuk album yang bisa dibilang langka, setidaknya langka bagi saya yang tidak pernah menemukan album tersebut di Indonesia. Sebagai pendengar musik rock klasik, tujuan utama saya dalam berburu CD adalah album-album yang rock 60an dan 70an yang kerap dianggap klasik, tetapi saya pun terkadang juga membeli album-album yang menurut saya menarik atau punya nilai emosional dan nostalgik.

Saya pertama kali berburu CD di Hastings, toko yang saya sebut di atas, sekitar sebulan sebelum toko itu tutup. Seluruh koleksi CD diobral dengan harga mulai dari 80 sen saja. Berikut ini adalah beberapa CD yang saya peroleh di Hastings, selain juga beberapa DVD, buku komik, dan pakaian.

Blood, Sweat and Tears – Child Is Father to the Man (1968, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142159_HDR

Album ini adalah salah satu album yang telah lama masuk ke dalam daftar album yang paling ingin saya miliki, dan saya menemukannya di Hastings dengan harga hanya sedolar saja! Ini adalah album pertama Blood, Sweat and Tears, band yang didirikan oleh Al Kooper yang awalnya populer karena suara organ yang ikonik di single elektrik pertama Bob Dylan, “Like a Rolling Stone”, padahal Al Kooper sendiri awalnya adalah seorang gitaris. Di Indonesia, Blood, Sweat and Tears dikenal pertama kali lewat lagu “I Love You More Than You’ll Ever Know” yang bluesy, single pertama dari album ini. Akan tetapi, album ini lebih dari sekadar blues dan suara organ Hammond. Ini mungkin adalah salah satu album rock paling eksploratif dengan sentuhan orkestra, blues, jazz, aroma psikedelik yang kental, dan seksi tiup yang integral (sebelum Chicago datang setahun kemudian). Ini adalah album yang unik dan mungkin terbaik dalam sejarah Blood, Sweat and Tears, karena setelah ini Al Kooper memilih mundur dari band yang didirikannya dan Blood, Sweat and Tears memilih jalur yang lebih komersial tetapi tidak pernah seinovatif ini.

King Crimson – In the Court of the Crimson King: An Observation by King Crimson 40th Anniversary Edition (1969, versi rilis CD 2009)

IMG_20170607_142133_HDR

Ia teriak karena disimpan di atas sprei polkadot.

IMG_20170607_142359_HDR

CD 2 dengan foto masing-masing personel di sebelah kanan

IMG_20170607_142430_HDR

CD 1 dengan lanjutan lukisan sampul depan di sebelah kiri

Ketika saya melihat album ini di rak Hastings, saya hampir berteriak, seperti lukisan Barry Godber yang menjadi sampul album ini. In the Court of the Crimson King edisi khusus 40 tahun, 2 CD, baru hanya seharga $1.78 pula! Ini adalah album yang cukup sulit didapat di Indonesia, yang ketika tersedia pun umumnya harganya cukup mahal. Bagi para pendengar rock progresif, ini adalah salah satu album pelopor dalam eksplorasi progresif. Ini adalah album yang tetap segar dan menua dengan sangat baik; putar “21st Century Schizoid Man” dan sulit untuk tidak mengira bahwa Tool, Porcupine Tree, dan Mars Volta terpengaruh oleh band ini. Hasil remix stereo Steven Wilson (ya, Steven Wilson dari Porcupine Tree) di edisi ini membuat album ini terdengar lebih segar dan detil. Bagi yang menginginkan pengalaman yang lebih dekat dengan versi tahun 1969, CD 2 berisi edisi master orisinil yang pernah dirilis sebelumnya pada tahun 2004.

Kula Shaker – K (1996, edisi CD pertama)

IMG_20170607_142103_HDR

K adalah album yang saya dengar dalam berbagai fase hidup saya sejak saya masih SMP (walaupun pada waktu itu saya masih belum bisa menikmati album ini sepenuhnya) lewat kaset pinjaman dari seorang teman sekelas, tetapi ini juga album yang tidak pernah saya punya dalam format apapun sampai saat ini. Ini adalah album yang masih saya nikmati sampai sekarang, terutama sejak saya membeli CD ini bulan Oktober lalu. Secara musikal, ini adalah rock Inggris (atau Britpop, terserah deh) psikedelik yang sangat bagus dan secara personal, ini adalah album yang penuh nostalgia.

New Kids on the Block – Step by Step (1990, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142229_HDR

“I really think it’s just a matter of tiiiiimeee… Step by step, ooh baby, you’re always on my mind.”

Akhir tahun 1990 bagi saya adalah serial animasi New Kids on the Block di TPI pada Minggu pagi dan video klip “Step by Step” dan “Tonight” di malam hari. Di antara dua tayangan tersebut, saya biasa menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman yang kerap berbaju gombrong ala Danny Wood atau Jordan Knight atau bertopi hitam seperti Donnie Wahlberg. Album pertama yang orang tua saya belikan khusus untuk saya adalah album Step by Step dalam format kaset. Walaupun kegemaran saya akan NKOTB tidak berlanjut hingga saya remaja, Step by Step menurut saya masih salah satu album pop terbaik pada masanya dan album boyband terbaik dari segi musik. Ketika saya menemukan album ini dalam format CD di Hastings, tentunya tidak ada pilihan lain selain membelinya (lagipula harganya hanya sedolar)!

Sampai jumpa di artikel berburu CD musik berikutnya dengan CD-CD yang saya temukan di thrift stores!

 

 

 

Does It Really Happen to You? To Me? To Chris Squire?

Prawacana

Di bawah ini adalah tulisan saya (yang bisa jadi akan sangat panjang) tentang album band Yes berjudul Drama, lagu-lagu kesukaan saya di album itu, dan semacam obituari untuk Chris Squire yang baru saja meninggalkan kita semua.

Sampul album Drama karya Roger Dean, salah satu sampul album favorit saya, terutama karena ada macan kumbangnya.

SATU

Saya pertama kali berkenalan dengan cabang musik yang acap disebut rock progresif (bapak saya dan teman-temannya menyebutnya art rock; ada juga sempalan lain yang menyebutnya musik nuansamatik, istilah yang enggan saya pakai karena terdengar lebih mirip sepeda motor daripada musik) pada pertengahan 90an melalui sebuah kaset non-lisensi lokal milik bapak saya (untuk tidak menyebut bajakan) keluaran Yess dengan judul album Yessongs oleh band Yes. Ketika saya berkenalan dengan internet beberapa tahun kemudian, barulah saya sadar bahwa sampul album ini tidak bersesuaian dengan isinya. Jadi selama ini saya sudah mengenali lagu-lagu yang saya dengar dengan judul yang salah! Ya ampun! Barulah saya sadar bahwa album yang saya dengarkan judulnya sangat bersahaja: The Yes Album yang merupakan album ketiga Yes (jadi dua album sebelumnya mungkin tidak dianggap album; entahlah). Pun pada waktu itu saya belum sadar bahwa Yes ini adalah band yang sama yang lagunya “Owner of a Lonely Heart” ada di salah satu kaset kompilasi New Hits of ’83 yang ada di rak yang sama.

Dari hasil mengacak-acak koleksi kaset bapak saya dan lapak-lapak kaset di pasar loak Cihapit, saya berhasil menemukan beberapa album Yes keluaran Yess, yang melibatkan empat formasi Yes yang di dalamnya ada orang-orang ini: Jon Anderson, Chris Squire, Steve Howe, Tony Kaye, Bill Bruford, Rick Wakeman, Alan White, dan Patrick Moraz (silakan susun sendiri formasi-formasinya dan terka album Yes apa saja yang saya miliki pada waktu itu). Kala itu, Yes adalah band pertama yang saya telusuri di internet dan patokan koleksi kaset saya adalah laman frequently asked question tentang Yes di alt.music.yes (sekarang sudah tidak ada dan diarsipkan di http://www.bondegezou.co.uk/amy_faq.htm) dan Yeshoo, mesin pencari berbasis Yahoo! khusus untuk segala hal yang berkaitan dengan Yes (mesin pencari ini juga sudah almarhum). Saya pun aktif mengikuti forum Yes resmi dan sempat mengeluh tentang album Fragile saya (keluaran Yess) yang tidak punya lagu We Have Heaven (reprise), dan akhirnya saya sadar memiliki album bootleg atau non-lisensi bisa jadi sangat membanggakan dan sekaligus memalukan. Sebagai pengagum suara surgawi Jon Anderson, saya pun turut mengoleksi beberapa album solo Jon, serta juga beberapa album Rick Wakeman, serta mengunduh beberapa lagu dalam format mp3 dengan bitrate rendah karena hanya itu yang mungkin dilakukan dengan koneksi internet yang disediakan oleh Centr*n atau Kosong Delapan Kosong Sembilan Delapan Sembilan Empat Kali. Pencapaian terbesar saya dalam kegemaran saya akan Yes saat itu adalah berhasil meracuni bekas teman sebangku (bekas sebangku, bukan bekas teman) saya sewaktu SMP dengan musik Yes.

Pola koleksi Yes saya yang berkisar pada era klasik Yes (1971-1976) mengalami perubahan signifikan ketika di penghujung 90an saya membeli (lagi-lagi di pasar Cihapit) Yes Greatest Hits keluaran King’s Records (yang kemudian dikenal sebagai label perilis kompilasi tembang kenangan) yang bersampul album Tormato yang pada waktu itu belum saya punya. Saya membeli Greatest Hits itu terutama karena banyak lagu yang berasal dari album-album Yes di akhir 70an dan awal 80an yang pada waktu itu sulit dicari (atau mungkin saya yang kurang getol mencari). Saya pun berkenalan dengan “Going for the One” (dari album Going for the One), “Madrigal” (dari Tormato), dan yang paling penting “Does It Really Happen” dari album Drama. “Does It Really Happen” adalah lagu terakhir di muka dua dalam kompilasi Greatest Hits itu, dan saya selalu senang bukan main dan puas sepuas-puasnya ketika menutup pemutaran kaset Greatest Hits itu dengan “Does It Really Happen.” Dari “Does It Really Happen” pula saya menelusuri bahwa Jon Anderson dan Rick Wakeman sempat keluar dari Yes setelah album Tormato dirilis. Duet The Buggles, Trevor Horn dan Geoff Downes, kemudian menggantikan mereka berdua, lalu kemudian jadilah album Yes pertama (kala itu masih album Yes satu-satunya) tanpa suara Jon Anderson. Saya pun kala itu baru tahu juga bahwa “Video Killed the Radio Star” adalah hit pertama The Buggles dan videonya adalah video musik pertama yang ditayangkan MTV (sebagai remaja akhir 90an saya selalu menyangka “Video Killed the Radio Star” adalah lagu band alternatip The President of the United States of America).

Perjalanan dari “Video Killed the Radio Star” The Buggles ke “Does It Really Happen” Yes adalah seperti perjalanan dari bumi ke orbit, musykil tapi logis. Di situ saya menemukan perpaduan dua generasi, dua era yang berkelindan dengan mesra. Saya menemukan bahwa Trevor Horn dan Geoff Downes adalah dua musisi dan pencipta musik jempolan, bukan semata “one hit wonder” dan bukan hanya sesumbar bahwa mereka adalah penggemar Yes sejati. Trevor Horn tentu saja bukan Jon Anderson yang suaranya gemerincing lonceng kahyangan. Geoff Downes juga bukan keyboard wizard yang permainannya cerewet seperti Rick Wakeman. Kendati demikian, kepribadian cair yang mereka suntikkan ke dalam Yes telah membawa perubahan dalam musik Yes, yang nantinya akan mempengaruhi arah musik band ini selama dekade 1980an.

Akan tetapi, hal terpenting yang saya sadari dari mendengarkan “Does It Really Happen” berulang-ulang adalah bahwa Yes bisa berjalan tanpa Jon Anderson, tetapi tidak tanpa Chris Squire. Musik Yes pada “Does It Really Happen” dikendalikan dan sekaligus dimediasi oleh permainan gitar bas Chris Squire. Betul, Chris memang agak pamer di lagu ini; riff utama lagu ini adalah riff gitar bas sederhana tiga not (bisa disebut dua not, karena not yang terakhir hanya berbeda oktaf dengan not kedua) yang mengalir dominan sepanjang lagu tanpa terdengar monoton, lalu dilanjutkan dengan refrain yang basisnya adalah melodi gitar bas, dan ditutup dengan solo gitar bas yang menurut saya keren (maklum waktu itu saya masih jarang mendengar solo gitar bas). Ini bukan berarti Chris Squire hanya mengendalikan lagu “Does It Really Happen” saja, tetapi ternyata ia sudah memainkan peran yang serupa selama ia bergabung dengan Yes. Hanya saja selama saya mendengarkan Yes, saya selalu teralihkan oleh suara Jon Anderson, glissando-nya Rick Wakeman, atau kelebatan (bisa kelebat-an dan juga ke-lebat-an) jari-jari Steve Howe di atas fret. Saya pun kembali mendengarkan The Yes Album, album Yes pertama yang saya dengarkan secara utuh, dan mencari Chris Squire di situ. Ternyata ia ada di situ selama ini, menjadi kemudi sekaligus jangkar setiap lagu, suara metalik tebal dengan selimut tipis distorsi yang membentengi setiap komposisi. Ia melakukan itu di setiap album Yes yang saya tahu! Saya pun kemudian meminjam album solo Chris Squire, Fish Out of Water, dari paman saya, dan ternyata Chris Squire melakukan hal yang serupa, bahkan lebih, di album solo pertamanya itu.

Hal lain yang saya sadari dari Fish Out of Water adalah bahwa Chris Squire adalah penyanyi dengan suara yang khas. Saking khasnya ia bernyanyi di lapis kedua, saya berani bilang bahwa Yes paling terdengar seperti Yes ketika Chris Squire ikut bernyanyi harmoni. Siapapun vokalisnya, seksi vokal Yes adalah seksi vokal Yes ketika suara Chris Squire masuk (para pemuja Jon Anderson, silakan benci saya sekarang). Tidak percaya? Silakan simak “Machine Messiah” dari Drama atau “Fly from Here” dari Fly from Here (dengan vokalis Benoit David). Akhirnya, saya harus berterima kasih sangat kepada Chris Squire karena ia bukan hanya mengubah cara saya menikmati musik Yes, tetapi juga mengubah cara saya menikmati musik secara keseluruhan; saya jadi menyadari pentingnya peran pemain gitar bas dalam suatu band, terutama band rock, dan membuat saya memiliki banyak idola baru: John Paul Jones, Geddy Lee, Gary Thain, John Wetton, Greg Lake, dan Tony Levin. Saya pun semakin sadar bahwa harmoni dalam aransemen vokal suatu band rock bukanlah semata pemanis, tetapi justru kerap menjadi bagian integral dari identitas sonik suatu band: bukan hanya pada Chris Squire dengan Jon Anderson, Trevor Horn, Benoit David, atau Jon Davison, tetapi juga pada Tony atau Yok Koeswoyo dengan Yon Koeswoyo sampai Rudy Schenker dengan Klaus Meine.

DUA

Pada awal tahun 2000an, selera musik saya bergeser seiring pergeseran status saya menjadi seorang pelajar universitas. Selepas mengalami kesulitan berpura-pura menjadi anak band, saya lebih mendalami pilihan saya untuk menjadi penggubah musik elektronik dan eksperimental. Lewat rekomendasi buku-buku dan teman-teman, saya kemudian lebih sering mengakrabi Brian Eno, Kraftwerk, Can, King Crimson era Discipline, Talking Heads, ditambah sedikit Joy Division dan Spandau Ballet (!). Saya masih mendengarkan Yes, tetapi cukup jarang  mendengarkan album-album “klasik” mereka. Playlist Yes saya isinya hampir selalu shuffle album Drama, 90125, dan 9012Live, ditambah beberapa lagu dari Going for the One dan Tormato. Ya, 90125 bukan album yang buruk. Saya serius.

(Bagian kedua masih akan disambung)

 

 

Harry Roesli dan Kisah-kasih di Kaset Kumpulan Lagu Partai PIB

???????????????????????????????

Ceritanya ini disclaimer: mudah-mudahan tidak apa-apa saya menulis tentang kaset yang ada bau-bau politiknya. Saya tidak bermaksud mengagungkan atau menjelekkan tokoh-tokoh tertentu atau partai dan pandangan politik tertentu. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata saya di bawah ini yang menyinggung siapa saja yang merasa (pernah) terkait.

Salah satu karya rekam terakhir almarhum Harry Roesli (yang paling akhir kalau tidak salah ada di Jangan Pilih Politisi Busuk,setahu saya), yang  mungkin juga salah satu yang paling tidak disangka-sangka di dalam karir almarhum yang selalu penuh dengan kejutan-kejutan, tertuang di kaset ini. Setelah sekian lama menduga-duga aliansi politik Harry Roesli, akhirnya beliau berlabuh di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) yang didirikan alm. Sjahrir, ekonom berpengaruh dan aktivis mahasiswa di masa kanak-kanak Orde Baru. Mengenai pilihan politik Harry Roesli, saya enggan berkomentar. Mungkin almarhum tertarik oleh ketokohannya Sjahrir, yang memang dikenal cerdas dan bersih. Selanjutnya, lebih baik saya berkomentar tentang album ini saja, yang sebenarnya adalah album yang dicetak dan diedarkan secara terbatas pada tahun 2003. Saya ingat keluarga saya memperoleh kaset ini setelah suatu kesempatan bersilaturahmi ke DKSB (mungkin di bulan Ramadhan di tahun itu atau mungkin kesempatan lain, saya lupa tepatnya).

Di album ini, Harry Roesli menyumbangkan dua lagu yang menurut hemat saya adalah lagu-lagu terpenting di album ini: “Hymne Partai PIB” dan “Mars Partai PIB.” Penting karena sepertinya para anggota PIB harus hapal kedua lagu ini. Hehehe. Mengenai per-himne-an, Harry Roesli memang tidak perlu diragukan lagi. Harry Roesli menciptakan himne untuk beberapa sekolah di Bandung, selain tentunya ia juga kerap menghasilkan lagu-lagu yang himnik dan antemik. Himne-himnenya terkesan megah, bahkan ketika dinyanyikan secara acapella sekalipun. Begitu pula kesan yang saya dapat ketika mendengarkan kedua lagu karya Harry Roesli di kaset ini, megah tapi tidak terkesan bombastis, dengan iringan musik yang minimal dan dinyanyikan sendiri oleh Harry Roesli dengan penghayatan yang mungkin hanya ia yang punya. Nah, di kaset ini karya-karya Harry Roesli berselang-seling dengan lagu-lagu karya… Obbie Messakh! Walaupun Harry Roesli dan Obbie Messakh tidak berduet di album ini, kapan lagi ada kesempatan mendengarkan keduanya dalam satu kaset yang sama (yang bukan mixtape tentu saja, walaupun saya ragu juga ada yang bikin mixtape menggabungkan Harry Roesli dan Obbie Messakh)? Dan, seolah tidak ada lagu lain, setelah “Mars Partai PIB” yang megah, Obbie Messakh melanjutkan dengan “Kisah-kasih di Sekolah” yang bikin saya bertanya-tanya hubungan lagu ini dengan partai PIB. Obbie Messakh juga menulis “Langgam Partai PIB” dan di side B ia mengaransemen ulang lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh Meggi Z., “Lebih Baik Sakit Gigi” dengan lirik refrain yang di-PIB-PIB-kan dan cukup bikin geli. Komposer ketiga yang terlibat dalam album ini adalah pianis Marusya Nainggolan, yang bersama Marusya Chamber Orchestra menyanyikan satu lagu ciptaan sendiri yang agak sedikit mengingatkan pada lagu-lagu tongue-in-cheek-nya Bimbo dan dengan bernas mengiringi Taufik Darusman (wartawan senior, penyair, kakaknya Chandra Darusman dan tentunya sepupunya Mogi Darusman), yang menyanyikan dua puisinya dengan suara yang seperti Chandra Darusman agak kurang latihan. Hehehe.

Berikutnya, seperti yang mungkin kita semua tahu, Partai PIB tidak memperoleh kesempatan menempatkan wakil di Senayan, tak lama kemudian Harry Roesli wafat, Sjahrir sibuk sebagai konsultan ekonomi pemerintah sampai ia wafat tahun 2008, dan Obbie Messakh pun semakin jarang berkunjung ke Bandung (dia punya rumah dekat rumah lama saya). Akan tetapi, kaset ini tetap jadi suvenir berharga bagi saya karena tiga musisi berkaliber (dengan kaliber masing-masing, tentu saja) berkumpul dan disatukan oleh satu pandangan politik yang sama, dan saya menikmati himne karya Harry Roesli sebagai himne terakhir yang ia ciptakan dengan segala ke-Harry-Roesli-annya.

Sebuah Jawaban: Favourite’s Group vol. 2

(foto menyusul karena saya sedang tidak di rumah untuk beberapa lama)

Saya menulis kembali di sini karena saya merasa perlu menceritakan ulang percakapan saya dengan mas Budi Warsito pada tanggal 14 Oktober 2014 lalu, dengan ditambahi bumbu-bumbu lain yang tidak ada di percakapan kami pada waktu itu. Percakapan diawali dengan sebuah pertanyaan penting dari Mas Budi, “Hehe, boleh dibagi di sini ceritanya, satuuu saja, kaset yg Bung Sandya sangat sukai, yg akan Bung sering putar dan jaga baik2 hingga akhir hayat nanti?”

Jawaban saya adalah kaset Favourite’s Group vol. 2, dengan side B album pertama AKA karena saya punya kenangan yang sangat panjang dengan kaset ini. Jawaban saya mungkin terlalu cliched dan mainstream karena biasanya orang-orang yang ditanya oleh Mas Budi selalu menjawab dengan album-album berat dengan nama-nama “susah” (mungkin karena beban pencitraan), sementara saya dengan enteng menjawab dengan sebuah album dari band pop Indonesia, yang ngepop banget. Untungnya saya tidak terbebani pencitraan sebagai seorang hipster kolektor kaset eksotik (memang bukan) dan jawaban saya jujur, seperti halnya si Eti.

Saya penggemar berat the Favourite’s Group sejak masih di bangku taman kanak-kanak. Setiap hari sehabis magrib saya selalu memutar kaset The Best of Favourite’s Group vol. 1 (produksi 1986 kalau tidak salah) dan ikut bernyanyi (terutama lagu ini: “Siapa yang berdosa? Tak dapat ku berkata. Siapa yang bersalah? Susah ditelaah. Mari kita, kita renungkaaan.”), tetapi sayang suatu hari kaset itu putus dan sebagian rekamannya terhapus karena tape JVC lama di rumah ngadat. Untuk menggantikan kaset itu, Favourite’s Group vol. 2 (yang sebenarnya sudah ada sejak saya belum lahir) inilah yang sering disetel. Setiap bepergian jauh, kaset ini selalu dibawa, seringkali karena keinginan saya, bukan keinginan bapak saya sebagai pemilik kaset ini, untuk mendengarkannya di perjalanan.

Sepertinya karena bapak saya tahu saya lebih suka Favourite’s Group daripada dia, kaset ini adalah kaset pertama yang dia wariskan kepada saya. Agak berat menerimanya karena saya tahu kaset Favourite’s Group vol. 2 itu adalah kenangan masa remajanya dengan teman-teman sekampung sebelum hijrah ke Bandung. Sewaktu bapak bereuni dengan teman-teman sekelompok teaternya di Losari, Cirebon, album ini pun diputar sebagai musik latar.

Menjelang awal tahun kedua di SMU (dulu begitu namanya), saya merasa perlu belajar bermain gitar sebagai bentuk aktualisasi diri seorang remaja (cieee). Lagu pertama yang saya ulik dengan gitar adalah “Creep”-nya Radiohead, dengan bantuan seorang teman yang mengajari saya bentuk kord minor. Lagu kedua adalah “Mimpi Sedih”-nya Favourite’s Group. Ini lagu yang kord-kordnya mudah, bahkan lebih mudah daripada “Creep,” tetapi megahnya (dan juga menye-menyenya) mengalahkan “Creep.” Dulu Pablo Honey dan kaset Favourite’s Group ini berdampingan. Pablo Honey entah ke mana, dipinjam dan tak dikembalikan lagi, tapi teman-teman sebaya saya tidak pernah ada yang meminjam Favourite’s Group vol. 2 ini. Lagipula mana ada remaja tanggung di penghujung milenium kedua yang mau mendengarkan the Favourite’s Group? Hampir semua sedang larut, entah dalam 13 atau Californication (atau sebagian kecil larut dalam Utopia, seperti teman sebangku saya. Hehehe).

Akan tetapi, lagu favorit saya di album ini bukan “Mimpi Sedih,” tetapi “Lagu Gembira” segera setelah “Mimpi Sedih.” Jadi, setelah bermimpi sedih lalu berlagu gembira. Cukup membingungkan. Ada gerakan-gerakan yang tidak diduga-duga muncul yang membuat saya sangat gembira (!) setiap mendengar lagu ini. Ketika saya belajar menulis dan mengaransemen lagu, baru saya paham ini sepertinya adalah kejeniusan A. Riyanto dan mungkin lagu ini adalah lahan eksperimennya. Di tengah-tengah lagu tiba-tiba ada progresi kord mundur per setengah not (sampai sekarang saya belum tahu namanya) yang dengan mulus sekali masuk ke refrain yang berirama ala “La Bamba,” tapi kemudian interlude-nya jadi terdengar murung karena nada dasarnya berubah jadi minor sebelum kembali ke intro yang ceria. Uniknya si La Bamba-La Bambaan itu tidak diulang setelah verse kedua, sehingga lagunya jauh sekali dari kesan norak dan klise. Progresi kordnya sinting, berbeda drastis dengan “Mimpi Sedih” dan memberi banyak pelajaran tentang bagaimana membuat lagu yang catchy dengan progresi kord yang cukup njelimet (kualitas yang saya temukan juga di karya-karya Yockie Suryoprayogo).

Di album Favourite’s Group vol. 2 ini ada pula sebuah lagu spoken words yang judulnya “Sajak untuk Seorang Gadis yang Sedih” dengan iringan musik pop instrumental orkestral ala 70an awal. Saya kemudian terpikir untuk membacakan kembali “Sajak” ini dengan latar musik yang sama sekali berbeda, elektrik dan sedikit industrial. Si spoken word “Sajak” ini ditulis oleh Is Haryanto, dan cemennya minta ampun. Sepertinya kecemenan inilah yang menjadi ciri khas Is Haryanto di kemudian hari. Hahaha. Karena waktu itu judulnya musik eksperimental, jadi saya bereksperimen saja menabrakkan musik elektronik yang mekanikal dengan sajak cinta cemen karya Is Haryanto ini. Maka kemudian jadilah rekaman elektronik lo-fi pertama saya. Rekaman ini kemudian dikirimkan ke kompetisi musik eksperimental pada tahun 2004, yang diselenggarakan oleh kolektif musik eksperimental Pemuda Elektrik (yang kemudian sebagiannya atau mungkin 2/3 atau 3/4nya kita kenal sebagai SL*T (Sungsang Lebam Telak)).

Bagaimana dengan lagu-lagu lain di album ini? Killers. Indonesian mainstream pop at my personal best. Semuanya diaransemen dengan ketat, eklektik, tidak terlalu manis atau gurih dan menurut saya malah lebih terpoles daripada album-album Favourite’s Group berikutnya. Di kesempatan lain saya akan membahas satu per satu ketujuh lagu lain yang ada di album ini, dan juga membandingkan lagu-lagu ini dengan album yang ada di sisi B, yakni AKA volume 1. Yang jelas, album inilah jawaban jujur saya dari pertanyaan yang diajukan mas Budi Warsito di awal percakapan kami. Jika Anda punya, dengarkan dan apresiasi kembali. Mungkin Anda akan menemukan bahwa Favourite’s Group (setidaknya di formasi pertama mereka) adalah a different beast altogether (susah nih diterjemahkannya).

Gotye – Making Mirrors: Memandangi Cermin-cermin, Mencerna Ragam

Artis:                     Gotye

Label:                    Sample ‘n’ Seconds Records, Universal Island Records

Produser:            Wally de Becker

Tahun:                  2012

Rekomendasi:    Eyes Wide Open, State of the Art, Smoke and Mirrors

Percaya atau tidak, saya mendengarkan lagu Gotye (dibaca seperti membaca nama Perancis “Gaultier”) “Somebody That I Used To Know” untuk kali pertama di radio di dalam sebuah angkutan kota yang lumayan lowong, sehingga lagu ini terdengar jelas dan lantang. Lagu ini sudah terkenal selama lebih kurang dua bulan pada waktu saya mendengarkannya pertama kali. Tentu saja pada awalnya saya tidak mengenali lagu ini. Intro dan bagian verse-nya justru mengingatkan saya pada lagu-lagu Peter Gabriel pada masa album 3 dan 4 (Security) antara tahun 1980-1982. Ketika sampai pada refrain, barulah saya mengenali lagu ini sebagai lagu yang pada waktu itu sedang banyak dibicarakan dan dinyanyikan kembali oleh banyak orang, tapi tak ayal bagian refrain ini pun mengingatkan saya pada cara Peter Gabriel umumnya mengawali refrain pada lagu-lagunya. Sesi pertama mendengarkan di angkot ini membuat saya penasaran.

Sepertinya saya tidak perlu bercerita lagi mengenai bagaimana “Somebody That I Used To Know” menjadi “modern and instant classic” dan bagaimana Gotye menjadi selebritas YouTube. Saya justru tidak terlena untuk menyaksikan puluhan, mungkin ratusan, versi lain dari “Somebody That I Used To Know” yang bertebaran di YouTube. Saya justru mencari lagu Gotye lain dan mendapati “Eyes Wide Open,” single pendahulu “Somebody That I Used To Know” yang tidak setenar penerusnya. Pada awalnya saya mengharapkan lagu-lagu yang senafas dengan “Somebody That I Used To Know,” tetapi ketika mendengar “Eyes Wide Open,” ternyata Gotye menyuguhkan sesuatu yang berbeda: video yang canggih (tidak seperti video “Somebody That I Used To Know” yang minimalistik) dan tempo cepat dengan irama serta melodi yang terdengar seperti lagu pop 80an tetapi juga pada saat yang sama mengingatkan pada Keane (!).

Pamer CD-nya ah… Biar keliatan beli, bukan ngunduh.

Ketika akhirnya saya memutuskan membeli album Making Mirrors, yang saya harapkan adalah menemukan keragaman yang mengisi kutub antara “Somebody That I Used To Know” dan “Eyes Wide Open.” Saya sebenarnya cukup senang karena keragaman itu saya temukan ketika pertama kali mendengarkan CD Making Mirrors. Hanya saja, seperti yang banyak dikatakan ulasan-ulasan sebelumnya, album ini memang kekurangan fokus. Sepertinya, Gotye lebih tertarik untuk bereksperimen di setiap lagu daripada mengikuti sebuah konsep yang ajeg. Alhasil, lagu-lagu dalam album ini beragam, walaupun hampir seluruhnya menunjukkan eksperimentasi bebunyian yang dikumpulkan oleh Gotye, baik yang ia mainkan sendiri, berasal dari sample, dan bahkan berasal dari instrumen yang tidak konvensional seperti Winton Musical Fence, pagar sungguhan yang disetem sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk bermain musik.

Album dibuka dengan senandung “Making Mirrors” yang minimalis dan singkat (hanya semenit), dilanjutkan dengan “Easy Way Out” yang menohok dan lumayan berenergi. Lagu ini langsung segue (bahasa Indonesianya apa ya) ke “Somebody That I Used To Know” yang menampilkan Kimbra dengan porsi yang sangat pas. Setelah itu ada “Eyes Wide Open” yang sejauh ini merupakan lagu favorit saya dari album ini. Lagu-lagu lain cukup menarik, walaupun arahnya agak sedikit sulit ditentukan. “Smoke and Mirrors” rif Wurlitzer-nya cukup nyangkut dan agak terasa seperti Pink Floyd tahun 80an, tapi “In Your Light” terlalu terdengar seperti musik pop hari ini. “Save Me” terdengar, sekali lagi, seperti Keane (dengan energi dan struktur lagu yang mirip) tapi dengan vokalis yang register suaranya lebih tinggi. Sementara itu, “Bronte” justru ngelangut, dengan suara Gotye yang lamat-lamat. Lagu “I Feel Better” malah menghentak seperti single-single upbeat Motown, walaupun upaya untuk mereplikasi gaya rekayasa dan produksi Motown yang riuh agak meleset, sehingga pada beberapa titik (terutama pada rif brass section) lagu ini terdengar terlalu bising dan beresiko memekakkan telinga apabila didengar dengan volume tinggi.

Banyak yang mengeluhkan “State of the Art” sebagai lagu yang paling tidak berterima dan bahkan lagu terburuk di dalam album ini. Lagu ini memang cukup aneh mengingat di 11 lagu lain, Gotye menjelajahi jangkauan vokal yang luas dengan suara yang menurut saya cukup memincut. Akan tetapi, di lagu ini ia menutupi suaranya dengan berlapis-lapis efek vokal autotune dan vocoder yang ditingkahi irama reggae elektronik ala tahun 80an. Akan tetapi, menurut saya di lagu ini justru Gotye tidak ingin suaranya dianggap terlalu serius. Dengan lirik yang bercerita tentang kemajuan teknologi digital dalam musik (The marriage of music to computers is quite natural), saya menengarai adanya sindiran dan ironi yang disengaja di lagu ini, yang sebenarnya menurut saya cukup brilian: Gotye menyindir kemajuan teknologi digital dalam musik tetapi dia sendiri menggunakannya dengan sadar, bahkan seluruh alat musik dan teknologi yang ia sebutkan di dalam lirik, semuanya digunakan dalam proses perekaman lagu ini(!)! Gila.

Album ini cocok sekali untuk mereka yang mengharapkan gabungan karya-karya yang eklektik yang semuanya berasal dari pikiran seorang Wouter “Wally” De Becker, nama asli Gotye, yang menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang penyanyi, tetapi juga penulis lagu yang versatile, penata musik, dan musisi multi-instrumentalis. Album ini seolah berisi cermin-cermin yang merefleksikan citra Gotye yang berbeda-beda, yang diwakili oleh lagu-lagu yang beragam dengan corak eksperimentasi yang beragam pula. Menarik untuk ditunggu pada cermin (-cermin) manakah Gotye akan berkaca pada album berikutnya. YA!

D-2/7 09152012