Category: Releases

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!

 

 

What I Did with a Guitar When I Was Young

When I was young and my heart was an open book… Okay, that was not it. I never was and never am a guitar player. I picked up guitar back in 2000 and, until today, I never managed to get past basic chords and scales. However, in 2003 and 2004, I had a very strong drive to create some guitar-driven music, which was mainly fueled by the surrounding experimental and noise music scene at that time, which circled around toying with a guitar or guitars, unusual instruments and electronic embellishments. Since I had almost no budget to afford a guitar, I borrowed two guitars on two separate occasions. The first one was borrowed from Dody (Hermayadi Ardisoma), my neighbor and senior at the university, some time in 2003. It was a generic-looking black Samick guitar, whose sound I have taken to like. The second was borrowed from a friend of mine (name classified) during KKN (field work) in 2004. It was a Japan-made ivory Fender Telecaster that had been sitting in his cupboard for almost a year. It was a bit rusty and dirty, but useable.

The recording process was amateurish at best: guitar directly plugged into computer soundcard without external DAC/pre-amp or interface. This accounts for some noise that was later reduced during editing and mixing process. Takes were recorded using SoundForge (back then it was SonicFoundry’s, not yet Sony’s), and synthesizer and drum tracks were created on Fruity Loops (now FL Studio). These were all finally mixed and mastered, if you can call them mixing and mastering, on SoundForge. So, voila, here are six tracks from a person who could not actually play guitar. The seventh track is a bonus track featuring my friend, Andy Dwi (a real guitarist) on guitar with me on piano and drum programming. Pardon the lack of melody and virtuosity. Consider you’ve been warned.

Fanfare for the Self
Sandya Maulana: synthesizer, guitar, drum programming

The Room Re-revisited (including the Madcaps) (2009 remix)
Sandya Maulana: guitar, ballpoint caps, synthesizer

After All
Sandya Maulana: guitars, synthesizer, drum programming

Dinosaurs in D
Sandya Maulana: guitar, vocals, treatment, drum programming
Contains performances of excerpts from “I Know What I Like” by Genesis and samples of “Closer to the Heart” by Rush

Is It?
Sandya Maulana: Synthesizer, TS808, guitar, drum programming

The Room Revisited (including the Schedule)
Sandya Maulana: guitar, treatment, computer keyboard

Self-Indulgent Blues
Sandya Maulana: piano, synthesizer, drum programming
Andy Dwi: guitar

 

Electricity in Jatinangor

Berikut ini adalah tulisan saya yang tak terpakai untuk mengantar program Electricity in Jatinangor, 20 Maret 2010:

Poster designed by Galih and Sandya

Di manapun listrik menyala, niscaya sejatinya musik elektronik dapat hidup. Kisahnya yang bermula dari perangai osilasi telah beralih menjadi jejalan perangkat lunak dan cuplikan suara dalam ruang simpan sebuah komputer pangku. Dalam ruang ini, kreasi musik kembali berada di ranah pribadi. Musik kembali kepada perangai nakal dan eksperimental seseorang atau sebuah kolektif kecil. Di tengah keengganan dan kerisihan untuk mengungkap ranah pribadi ini yang cenderung liar dan eksperimental ini, beberapa penekun musik elektronik sepertinya tidak segan untuk berbagi beragam karya yang tercipta dari kamar tidur mereka. Jejaring musik seperti myspace dipenuhi pemuda-pemudi pemalu yang menghasilkan musik luar biasa dari sisi tempat tidur mereka. Komunitas seperti OpenLabs di Bandung membuka jalan bagi para penggiat ini untuk berkumpul, bertukar pikiran, beroleh ilmu, berlatih dan bermain bersama, serta bereksperimen lintas disiplin, seperti memadukan musik dengan visualisasi yang kompleks. Mereka yang sering tertampak di OpenLabs antara lain Bottlesmoker (yang tahun kemarin baru saja menyelesaikan tur Malaysia mereka), Asturiaz, Damina Tilada, Elemental Gaze, Desklap, Europe in de Tropen, These R Fake, dan Slylab. Di luar OpenLabs, masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah. Kemunculan netlabel-netlabel yang begitu terbuka terhadap musik elektronik, seperti In My Room dan Rumpfunk Records, memperluas kesempatan bagi gagasan-gagasan sisi tempat tidur untuk menjadi narasi besar.

Electricity in Jatinangor sejatinya adalah sebuah perkenalan dan sebuah ajakan. Sebuah perkenalan karena musik elektronik sangat jarang ditampilkan di Jatinangor dalam sebuah program yang spesifik sehingga Electricity dapat dianggap sebagai sebuah permulaan baru. Seluruh pemusik yang tampil dalam program ini mengusung keberagaman yang dapat membawa kita kepada suatu perkenalan dengan musik elektronik yang tengah berkembang di sekitar kita, setidaknya dalam kisaran Bandung hingga Tanjungsari. Penampilan sebagian besar pemusik dalam program ini pun akan ditingkahi dengan permainan visualisasi yang telah menjadi satu paket yang padu untuk memanjakan baik mata maupun telinga. Program ini juga adalah sebuah ajakan bagi mereka yang bermusik di sisi tempat tidur untuk keluar dari kamar mereka dan bergabung pada kesempatan berikutnya karena, apabila kondisi kelistrikan di Jatinangor memungkinkan (!), program ini niscaya akan terus berlanjut secara rutin.

Sandya Maulana

Pemuda pemalu yang bisa dikunjungi di www.myspace.com/dyaresidue

ELECTRICITY IN JATINANGOR

NGEUMONG CAFÉ AND LIBRARY

Jl. Raya Jatinangor 235, Jatinangor – Sumedang

Sabtu, 20 Maret 2010

Pukul 19.00 – Selesai

ASTURIAZ

Asturiaz dibentuk di Bandung pada awal tahun 2005. Nama Asturiaz berasal dari sebuah komposisi klasik karya Isaac Albeniz. Nama ini dipilih karena terdengar cocok, bukan karena band ini dipengaruhi oleh karya Isaac Albeniz. Asturiaz terdiri atas tiga pemuda arogan tak berguna yang bekerja sama menghasilkan karya seni yang menggugah intuisi, memaksa kita untuk menutup mata dan menikmati lagu-lagu mereka.

DISTANTYEARNINGALERT/DYA

Distantyearningalert semula adalah sebuah nama untuk kegiatan-kegiatan performance art yang dilakukan Sandya Maulana, tetapi kemudian berubah menjadi sebuah upaya untuk belajar menghasilkan musik, dan hingga kini proses pembelajaran ini masih berlanjut. Distantyearningalert bukanlah sebuah band an sich, tetapi lebih merupakan “cara untuk melakukan sesuatu” melalui musik. Saat ini, cara tersebut ada dua. Yang pertama adalah distantyearningalert, yang menghasilkan musik instrumental yang lebih eksperimental. Yang kedua adalah DYA, sebuah proyek kolaborasi Sandya Maulana pada musik, programing, synthesizer, dan perkusi dan Adyasa Devindra pada lirik, vokal, perkusi, dan gitar akustik, yang lebih berfokus pada menghasilkan lagu-lagu dengan sensitivitas pop yang inventif.

INTERNATIONAL DATELINE

International Dateline berawal dari sebuah gig dadakan di Prefere72 Café Bandung pada tahun 2006. Nama International Dateline dicomot dari judul lagu Ladytron. Beranggotakan Fanny sebagai programmer dan vokal, Ryan sebagai gitaris, dan Inan sebagai gitaris juga, band ini mengusung elektronik pop. Karena kesibukan masing-masing anggota, band ini belum merilis apapun, tetapi musiknya sudah dapat dinikmati di akun myspace mereka, www.myspace.com/internationaldateline.

SLYLAB

Slylab adalah band elektronik/ambient/IDM yang terbentuk pada Mei 2005. Slylab saat ini terbagi menjadi dua. Kedua bagian ini memiliki fokus yang berbeda. Slylab bagian pertama (part 1) beranggotakan Deon pada programing, synthesizer, dan kibor dan Rayhan pada gitar, vokal, noise, dan efek. Slylab part 1 berfokus pada musik yang lebih ambient, eksperimental, dan bising serta kerap memainkan space musik yang kelam dan bermuatan amarah emosional. Slylab bagian dua (part 2) terdiri atas Deon pada programing, synthesizer, kibor, dan gitar dan Devita pada vokal. Musik Slylab part 2 cenderung lebih kalem dengan beat yang konstan, lebih dreamy, dan dipengaruhi melodi shoegaze dan down-tempo.

SPACE AND MISSILE

Space and Missile adalah band rock instrumental dari Bandung yang mengusung genre post-rock. Musik dari band-band seperti Explosions in The Sky, Telefon Tel Aviv, Flica, God Is an Astronaut, Mute Math, Ratatat, dan ediT mempengaruhi Space and Missile baik dari segi aransemen maupun mixing. Proses perekaman dan mixing seluruh lagu Space and Missile dilakukan oleh anggota-anggotanya sendiri, sebuah proses do-it-yourself (DIY) yang dikerjakan dengan perangkat lunak dan keras sederhana, tetapi tidak mengabaikan kualitas musik. Konsep musik produksi kamar membuat anggota-anggota Space and Missile lebih nyaman dalam mengeksplorasi kreativitas penciptaan musik. Space and Missile telah menghasilkan empat buah lagu yang terdapat dalam album mini pertama mereka yang berjudul It Is a Sign of Insanity, dengan single berjudul “Free.”