“Sekarang kau tinggal aku…”, Yon Koeswoyo (1940-2018)

koes18

Foto Koes Plus favorit saya dari sampul album Volume 8: in action, kiri-kanan: Tony Koeswoyo (gitar, kibor, vokal), Yon Koeswoyo (vokal, gitar), Yok Koeswoyo (gitar bas, vokal), Murry (dram, vokal).

Saya selalu berpikir bahwa suatu saat saya akan menulis tentang Koes Plus (dan juga tentang Koes Bersaudara), mungkin lewat satu racauan di blog saya atau mungkin secara lebih akademik ketika saya sudah tidak terlalu disibukkan dengan studi. Banyak yang bisa dibicarakan tentang Koes Plus: mereka salah satu ikon counterculture sekaligus ekses budaya populer Indonesia; romantisme mereka tentang Nusantara (di antaranya melalui lagu-lagu Nusantara yang berjilid-jilid itu) tentunya pantas ditelisik; suka atau tidak, peran mereka sebagai kepanjangan tangan sekaligus komentator Orde Baru melalui musik populer (seperti yang pernah dibahas secara umum, seingat saya oleh Budiarto Shambazy beberapa tahun lalu) juga perlu lebih ditelaah. Akan tetapi, saat ini saya sebaiknya memendam dulu segala gagasan tersebut dan berkubang dalam berbagai kenangan sebagai seorang pecinta musik Koes Plus, karena setelah 5 Januari 2018, Koes Plus seperti yang saya (dan kita yang familiar dengan musik mereka) kenal mungkin tidak akan ada lagi. Pada 5 Januari kemarin Yon Koeswoyo, penyanyi utama dan gitaris ritmis Koes Bersaudara dan Koes Plus, berpulang. Mengucapkan selamat jalan kepada Yon Koeswoyo adalah juga mengucap selamat jalan kepada Koes Plus yang saya tahu, yang diperjuangkan oleh Yon hingga akhir hayatnya.

Sampai menjelang nafas akhirnya, Yon adalah satu-satunya anggota asli Koes Plus yang aktif bermusik. Kakak pertamanya, Tony Koeswoyo, sudah terlebih dahulu berpulang pada 1987. Yok Koeswoyo sudah cukup lama undur diri dari kegiatan bermusik dan hanya sesekali bergabung dalam kesempatan tertentu. Terakhir kali tiga anggota asli Koes Plus manggung bersama adalah pada konser Unplugged Koes Plus tahun 2013. (Walau ketiganya terkadang kurang kompak dan kurang latihan dalam beberapa lagu, ini adalah konser yang intim dan penuh canda spontan). Tak lama setelah konser ini, Murry berpulang. Setelah itu, dan bahkan sebelumnya ketika Murry sakit, Koes Plus adalah Yon Koeswoyo. Bahkan jauh sebelumnya ketika mereka masih utuh berempat, Yon Koeswoyo adalah suara Koes Plus (dan juga Koes Bersaudara), walaupun terkadang Tony, Yok, dan Murry pula bergiliran menyanyi.

Saya bukan hanya terbiasa dengan suara Yon; saya suka suara Yon karena mungkin ia adalah penyanyi Indonesia dengan suara yang paling jujur, tanpa teknik vokal yang istimewa atau njelimet; walaupun terkadang terdengar pengaruh Everly Brothers dan Barry Gibb (tentu bukan falsetonya) dalam suaranya, Yon tidak pernah terdengar berusaha terlalu keras untuk terdengar seperti orang lain. Yon Koeswoyo adalah Yon Koeswoyo. Sebagai orang Jawa (lahir di Tuban, Jawa Timur), ia tidak pernah kehilangan kejawaannya dalam bernyanyi, bahkan dalam lagu Koes Plus yang paling rock n’ roll dan berbahasa Inggris sekalipun. Saya dan almarhum bapak kerap menertawakan kejawaan intonasi dan pengucapan Yon, tapi kami juga tidak memungkiri bahwa kejawaan suaranya itulah yang membuat kami sangat menyayangi suara Yon. Seperti suara vokalnya, permainan gitarnya pun jujur, polos dan sederhana. Akan tetapi, penggemar Koes Plus mafhum bahwa suara dan genjrengan gitar Yon adalah dua unsur yang tetap membuat Koes Plus bertahan setelah Tony dan Murry berpulang serta Yok undur diri.

Saya tumbuh diiringi musik Koes Bersaudara dan Koes Plus, seperti halnya almarhum bapak saya yang juga tumbuh bersama musik Koes Bersaudara dan Koes Plus ketika ia masih kanak-kanak dan remaja. Lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah musik akhir pekan di keluarga kami, dinyanyikan bersama-sama dalam karaokean di depan televisi pada Sabtu malam dan diputar lewat kaset atau CD pada Minggu pagi untuk menemani beres-beres rumah. Dalam perjalanan ke luar kota dengan mobil, selalu terselip setidaknya satu kaset atau CD kompilasi “The Best of” atau “Lagu-lagu Terbaik” Koes Plus.

Ketika saya mulai bermusik secara amatir untuk hobi, saya memilih bermain dram; pilihan ini dipengaruhi terutama oleh dua penabuh dram: John Bonham (Led Zeppelin) dan Murry (Koes Plus). Salah satu impian saya sebagai seorang penabuh dram adalah membawakan lagu-lagu Koes Plus, tetapi sebagai seorang pemuda di awal tahun 2000an tentunya saya kerap terjebak membawakan lagu-lagu terkini pada masa itu (terkitu?). Baru pada paruh kedua 2000an, saya bertemu dengan teman-teman yang juga bersemangat mengikuti jejak almarhum bapak saya ketika ia muda dulu: membentuk band tribute amatir Koes Plus. (Bapak saya pun dulu menabuh dram dan ia mengakui bahwa Murry sangat mempengaruhi permainan dramnya.) Kami berlima hampir berhasil. Sayangnya karena kami terlalu sibuk, kami lumayan jarang latihan dan akhirnya dari semula berlima kami menjadi hanya bertiga. Sebagai band garasi (bukan Garasi) power trio, kami sempat bermusik serius-tidak serius (lebih banyak tidak seriusnya) dengan nama Tiga Pemuda Idaman Gadis Manis Diterpa Gelombang Cinta di Lautan Asmara Nun Jauh di Sana (nama yang sungguh serius). Walaupun kami banyak berlatih lagu-lagu garage rock 1960an dan juga lagu-lagu Cream, sebenarnya yang paling sering kami bawakan di panggung adalah “Kelelawar” dan “Mobil Tua”, yang tentu saja adalah lagu-lagu Koes Plus.

Ketika saya mulai coba-coba menulis lagu, tentunya saya memulai dengan sederhana dengan tiga atau empat kord saja, seperti yang kerap dilakukan Koes Plus. Memang saya kemudian menjadi lumayan pretensius dan bereksperimen ketika mulai menulis lagu untuk dinyanyikan oleh rekan satu band saya, tapi saya selalu merasa bahwa saya berutang pada Koes Plus yang membuka jalan. Saya terutama sekali berutang pada Yon Koeswoyo dengan lagu-lagunya yang bersahaja.

Yon Koeswoyo adalah seorang pencipta lagu yang produktif, dan banyak lagunya bersama Koes Plus tetap didengar sampai hari ini. Album-album Koes Plus selepas album pertama umumnya menampilkan Tony dan Yon sebagai pencipta lagu utama yang mengisi dua pertiga atau tiga perempat bagian, sementara sepertiga atau seperempat bagian lain dibagi antara Murry dan Yok atau diisi dengan lagu-lagu yang ditulis bersama. Menurut saya, lagu-lagu Yon adalah penyeimbang sempurna lagu-lagu Tony. Lagu-lagu Tony cenderung diaransemen dengan lebih pekat, dengan bunyi-bunyian yang lebih kaya dan pengaruh dari berbagai genre musik, dan juga kerap menyelipkan melodi atau progresi kord yang agak rumit dan “pintar” untuk ukuran lagu pop. Lagu-lagu Yon lebih sederhana dan terus terang (dan Tony sebagai pengaransemen dan produser sebagian besar lagu Koes Plus paham benar pentingnya menjaga kesederhanaan lagu-lagu Yon), kendati kerap terdengar lebih kontemplatif. Saya mengagumi semuanya dan bagi saya Koes Plus sebagai entitas penghasil musik adalah keseimbangan antara kedua pencipta lagu utamanya yang diselaraskan oleh kontribusi dari kedua anggota lain. Seperti halnya saya mengagumi karya-karya Tony dengan segala eksperimentasinya, saya mengagumi karya-karya Yon seperti saya mengagumi suaranya: sama-sama jujur, sederhana, dan polos.

Ketika Distantyearningalert (band saya kala itu) akan manggung untuk pertama kali sebagai entitas pop elektronik dengan seorang vokalis pada tahun 2009, saya berpikir untuk me-reka ulang “Kau Tinggalkan Aku” karya Yon Koeswoyo, yang intro vibraphone-nya selalu berdenting di telinga saya. “Kau Tinggalkan Aku” memang bukan lagu Koes Plus yang populer, tetapi buat saya ia istimewa secara musikal. “Kau Tinggalkan Aku” adalah lagu yang sangat singkat tetapi sangat atmosferik, dengan melodi yang sederhana yang melengkapi lirik yang sangat singkat tentang kekecewaan karena ditinggalkan oleh seorang yang dicintai. Kesederhanaan dan kesingkatan lagu ini menghindarkannya dari kecengengan, dan aransemen dan instrumentasinya yang minim dengan hanya mengandalkan gitar ritmis, vibraphone (!), dan dram yang sedikit dibekap menghadirkan kekosongan dan kekecewaan dengan sangat efektif. Setiap mendengar lagu ini, saya selalu terkesima oleh ambiens yang dihasilkan dari kesederhanaan dan kekosongannya.

 

Ketika Distantyearningalert menjadi trio pada tahun 2011, kami memutuskan untuk merekam “Kau Tinggalkan Aku” dengan memodifikasi musik dasar yang saya susun di tahun 2009. Sialnya, sesi rekaman “Kau Tinggalkan Aku” tidak terselamatkan ketika harddisk kami rusak, dan kami tidak pernah lagi berkumpul bersama untuk merekam ulang. Mungkin dalam waktu dekat saya akan kembali mengakses musik dasar untuk “Kau Tinggalkan Aku” dan mencoba merekam vokal untuk lagu itu dengan bantuan seorang teman, dan mungkin saya akan mengunggahnya sebagai penghormatan terakhir saya untuk Yon Koeswoyo. Mungkin juga tidak. Mungkin saja tulisan blog yang tidak terstruktur dengan baik ini adalah penghormatan saya, untuk saat ini, bagi Koes Plus dan Yon Koeswoyo yang saya tahu, karena “sekarang kau tinggal aku”.

Kau Tinggalkan Aku

Yon Koeswoyo

Kau katakan padaku
Bersedia menunggu… Oh.

Sekarang kau tinggal aku
Putus harapanku

Doaku untukmu slalu berbahagia
Kau katakan padaku setia padaku
Tetapi janjimu palsu
Hancurkan hatiku
Doaku untukmu slalu berbahagia
La… La la la la la la la La la la la la la la

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s