Chicago: the Band

Sulit untuk mengungkapkan apa genre musik favorit saya dan tentu sulit juga mengungkapkan apa band favorit saya. Secara umum, sejak saya rutin mendengarkan dan mengoleksi musik, saya menyukai musisi-musisi atau grup-grup musik yang tidak stagnan, terus menerus bereksperimen dan tidak takut mengambil langkah ekstrim untuk mencapai kesuksesan, ideal ataupun komersial. Ketika saya ingin membicarakan band yang seperti ini, saya sebenarnya ingin membicarakan Chicago, bukan King Crimson. Tunggu dulu, kata mereka yang merasa mengenal musik Chicago, bukankah Chicago adalah sekumpulan bapak-bapak yang menulis dan memainkan banyak lagu balada percintaan orang dewasa (dewasa maksudnya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu). Setelah membaca kalimat sebelum ini, Anda mungkin akan langsung terpikir lagu “Hard To Say I’m Sorry”, “You’re the Inspiration”, “If You Leave Me Now” (yang mengawali segala balada-baladaan sukses ini), “Song for You” atau, ini yang paling buruk, “You Come to My Senses.”

Tentu saja saya menulis ini dalam rangka masuknya Chicago ke dalam jajaran band dan musisi Rock and Roll Hall of Fame. Ini penghargaan yang pantas, mengingat Chicago telah melalui perjalanan yang panjang dan pelbagai eksperimen dalam musik sejak tahun 1967 (tidak pernah resmi bubar), walaupun tentu saja mungkin masih ada yang sulit menerima kenyataan bahwa band yang sukses dengan lagu seperti “Hard To Say I’m Sorry” berbagi kehormatan ini dengan band-band yang lebih “cadas”: yang satu dengan “Surrender” dan yang lain dengan “Smoke on the Water.”

Apakah Chicago pernah cadas? Jawabannya tentu pernah, walau jauh sebelum masa mereka sukses membuat lagu percintaan bapak-bapak dan juga dalam definisi yang berbeda dengan cadasnya power pop/pub rock-nya Cheap Trick dan hard rock-nya Deep Purple, dua band yang juga masuk Rock and Roll Hall of Fame tahun ini. Robert Lamm, pendiri, pemain kibor dan salah satu vokalis Chicago, bahkan lebih kurang berkata bahwa mungkin kehormatan untuk Chicago ini terbatas pada masa delapan album pertama Chicago, artinya masa pra-“If You Leave Me Now”, walaupun saya tidak keberatan jika penghargaan ini dimaksudkan untuk menghargai seluruh perjalanan Chicago selama hampir 49 tahun, seperti halnya saya tidak keberatan apabila apapun yang dirilis oleh Cheap Trick dan Deep Purple pada akhir 80an hingga awal 90an diperhitungkan sebagai sumbangsih mereka terhadap dunia rock and roll. Pun saya tidak keberatan apabila Chicago tidak masuk ke dalam jajaran Rock and Roll Hall of Fame, sama halnya dengan saya tidak peduli King Crimson akan pernah masuk ke dalam jajaran itu atau tidak.

Akan tetapi, penghargaan Rock and Roll Hall of Fame ini setidaknya penting untuk sesaat bagi saya, karena ia kembali menyadarkan saya mengapa saya mulai mencintai band ini dan pula membangkitkan kembali kecintaan saya kepada band ini, yang sedikit terkikis karena saya akhir-akhir ini lebih sering “mantengin” formasi King Crimson baru dan yang tidak terlalu baru (karena Bill Rieflin, salah satu dari tiga penabuh dram, belum lama ini cabut untuk istirahat) menginterpretasi ulang karya-karya lama mereka.

chisingles

Sampul album kompilasi Chicago khayalan saya, yang menghimpun semua single Chicago semasa mereka masih dikontrak oleh Columbia Records (1969-1980)

Mengoleksi Chicago

Saya mengenal Chicago pertama kali pada akhir dekade 80an, tentu saja, melalui lagu-lagu sukses mereka di kaset-kaset kompilasi yang sengaja dirilis untuk mereka yang suka lagu-lagu pelan dan juga untuk mereka yang gampang terlenakan oleh lagu-lagu cinta, dengan judul-judul seperti Hits in Our Hearts (ada “If You Leave Me Now” di sini), Slow Chart Hits (“Hard To Say I’m Sorry”), Slow 1-3 (“Song for You”) dan …This One’s for You (“Love Me Tomorrow”). Mengingat kembali perkenalan-perkenalan tersebut, menurut saya itulah perkenalan pertama yang buruk, saya rasa, karena saya menganggap Chicago adalah band spesialis balada. Perkenalan yang buruk ini diperburuk dengan pemutaran lagu “You Come to My Senses” beberapa kali di radio selama 1991-1992. Akan tetapi sampai saya beranjak remaja, saya selalu menganggap bahwa “If You Leave Me Now” dan “Hard To Say I’m Sorry” adalah lagu-lagu cinta yang elegan, walaupun mungkin terkesan terlalu dewasa liriknya untuk remaja tanggung seperti saya. Alhasil, dua lagu Chicago inilah yang paling sering saya putar ketimbang lagu-lagu Chicago lain.

Semuanya berubah ketika bapak saya membeli kaset Heart of Chicago pada tahun 1997. Kaset ini memuat lagu-lagu terbaik Chicago sejak tahun 1967. Waktu itu saya baru saja naik kelas tiga SMP dan saya selalu menganggap kaset ini adalah hadiah naik kelas terbaik bagi saya, walaupun kasetnya sendiri tidak pernah diserahkan kepada saya sebagai hadiah. Dari kaset inilah saya pertama kali tahu bahwa Chicago sudah dibentuk sejak tahun 1967 dan sudah rekaman sejak tahun 1969, seperti yang tercantum dalam kredit untuk beberapa lagu. Dua lagu pertama, “You’re the Inspiration” dan “If You Leave Me Now” tentu sudah terlalu familiar bagi telinga saya. Lagu ketigalah, “Make Me Smile” yang dirilis tahun 1970, yang memberitahu saya bahwa Chicago semula adalah band dengan ciri musikal yang berbeda, bahkan hanya enam tahun sebelum “If You Leave Me Now.”  “Make Me Smile” membuat saya menyejajarkan Chicago dengan band-band rock beralat musik tiup yang sudah pernah mampir ke telinga saya walaupun hanya beberapa lagu, seperti Blood, Sweat and Tears dan Tower of Power.

Lagu “Does Anybody Really Know What Time It Is?” dan “Saturday in the Park” membuat saya lebih kepincut karena tiga hal: sensitivitas pop Chicago yang lebih tinggi ketimbang dua band yang saya sebut (dan Robert Lamm adalah penulis melodi pop yang sangat apik), gebukan dram Danny Seraphine yang lebih bertenaga dan ramai (walau Bobby Colomby dan Joseph Garibaldi mungkin secara teknis lebih baik), dan yang paling penting adalah integrasi alat musik tiup dalam musik mereka. Tentu Tower of Power dan Blood, Sweat and Tears juga dikenal karena seksi alat musik tiup mereka, tetapi bagi saya kehadiran seksi tiup di dua band ini adalah konsekuensi karena Tower of Power memainkan funk dan soul yang kerap membutuhkan liukan melodi alat musik tiup sementara Blood, Sweat and Tears lebih terpengaruh swing big band dan bebop yang tak bisa hidup tanpa alat musik tiup. Chicago adalah kasus yang sedikit berbeda. Tentu kita akan menemukan pelbagai pengaruh jazz, funk dan soul dalam musik Chicago, tetapi musik mereka yang lebih eklektik (dan juga lebih ngepop sekaligus lebih terdengar rock n’ roll) justru sengaja mencipta ruang untuk diisi oleh alat musik tiup, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penyuplai melodi utama dan bagian integral, sesuatu yang selalu dipikirkan oleh para penulis lagu Chicago ketika sebuah lagu sedang dalam proses penciptaan. Bolehlah saya berargumen bahwa The Beatles hanya membuat satu lagu bagus dengan seksi tiup yang terintegrasi, “Got To Get You into My Life,” sementara Chicago terus menerus melakukannya, setidaknya sampai akhir dekade 1970an.

Selama setahun sampai Heart of Chicago II dirilis, saya berburu album-album Chicago. Saya ingat justru album Chicago yang pertama saya dapat adalah album studio terakhir mereka sebelum Heart of Chicago, yakni Night and Day. Untuk pertama kalinya di dalam sampul album itu saya melihat foto para personil Chicago, maklum waktu itu internet belum memasyarakat dan di sekitar rumah saya belum ada warnet. Sayangnya, beberapa nama yang tercantum di sampul kaset Heart of Chicago sudah tidak lagi bersama Chicago, antara lain Peter Cetera, yang sudah saya kenal bahkan sebelum mengenal personil Chicago lain, Danny Seraphine, yang gebukan dramnya memesona saya, dan Terry Kath, gitaris dan penyanyi lagu “Make Me Smile” yang menyadarkan saya bahwa Chicago bukanlah sekadar suara Peter Cetera (yang menyanyikan hampir semua lagu Chicago yang saya sebutkan di paragraf pertama, kecuali “You Come to My Senses”).  Album Chicago kedua saya adalah Twenty 1, yang masih tersedia di toko kaset bersama Night and Day. Formasi yang merekam album ini lebih kurang sama dengan formasi Night and Day, plus gitaris DaWayne Bailey, yang penampilannya mengingatkan saya pada si kembar Nelson yang juga terkenal di awal 90an. Saya lebih menikmati album ini daripada Night and Day, justru karena album ini lebih terdengar seperti musik Chicago lama: lagu pop dengan melodi yang kuat plus seksi tiup yang integral, berbeda dengan Night and Day yang berisi cover version lagu-lagu big band dari dekade 1930an hingga 1950an, yang tentu saja tidak hidup tanpa kehadiran seksi musik tiup. Sayangnya, di album Twenty 1 ini pulalah terdapat lagu “You Come to My Senses”, mungkin lagu balada Chicago yang paling membosankan. Untungnya lagu ini ada di sisi A, trek ketiga, dan setelah lagu ini, sisa materinya lebih berterima untuk kuping saya, terutama lagu “God Save the Queen” (yang bukan lagunya Sex Pistols).

Pada paruh kedua 1998, Heart of Chicago II dirilis. Saya sendiri lebih menyukai materi volume dua ini karena lebih banyak lagu dari masa awal Chicago yang memperkuat pengetahuan saya bahwa Chicago adalah band yang cukup “mengerikan,” misal lagu “I’m A Man” dari tahun 1969 yang sepertinya adalah jam track dari Chicago dengan solo dram dari Danny Seraphine dan “25 or 6 to 4” yang sangat menonjok, dengan dram trek dobel yang riuh dan solo panjang gitar wah-wah dari Terry Kath yang cukup mengoyak telinga dan emosi (untuk versi yang lebih mengoyak, silakan cek penampilan lagu ini di YouTube saat Chicago menyambangi Tanglewood, California pada tahun 1970. Terima kasih kembali). Plus, album kompilasi kedua ini juga berisi lagu-lagu pop/power ballad menyenangkan dari paruh pertama 70an, seperti “Feelin’ Stronger Every Day”, “I’ve Been Searching So Long”, dan “Call on Me”, yang menunjukkan bahwa Chicago dipenuhi penulis lagu pop mumpuni. Sayangnya, krisis ekonomi masih berimbas pada produksi kaset di Indonesia yang pada waktu itu mulai lesu. Kualitas produksi sampul dan pita kaset Heart of Chicago II tidak sebaik Heart of Chicago, dan hanya kurang dari setahun pita kaset Heart of Chicago II saya pun sudah tidak prima lagi untuk didengar.

Kehadiran warung internet pertama di dekat tempat tinggal saya pada awal tahun 1999 juga banyak membantu saya menyelami informasi tentang Chicago. Saya ingat, hal pertama yang saya lakukan setelah berhasil mengakses laman situs band Chicago adalah membaca sejarah band ini beserta para personelnya di masa lalu dan saat ini. Lewat laman sejarah ini pula saya mendapati bahwa Terry Kath telah tiada pada tahun 1978 karena kecelakaan dengan senjata api (sungguh akhir yang tragis). Beberapa gitaris datang dan pergi menggantikan Terry (salah satunya adalah DaWayne Bailey yang penampilannya Nelson banget), sampai akhirnya pada 1995 Chicago merekrut Keith Howland sebagai gitaris tetap hingga saat ini (yang pula mencatat rekor sebagai gitaris Chicago paling awet). Hal kedua yang saya lakukan adalah menyimpan laman diskografi Chicago berisi seluruh rilisan Chicago hingga saat itu (dalam format complete HTML, agar seluruh gambar desain sampulnya dapat terbuka) dan menyalinnya ke dalam disket (ya, floppy disk 3.5 inci, 1.44 MB), yang memakan waktu cukup lama mengingat kecepatan akses internet saat itu. Saya menggunakan laman diskografi ini sebagai panduan mengoleksi album-album Chicago, terutama tentu saja yang dirilis sebelum tahun 1991.

Pada tahun yang sama pada bulan September, Chicago baru saja merilis singel “Back to You.” Tentu saja memperoleh singel ini tidak semudah memperoleh sebuah singel hari ini, yang sudah bisa di-stream di Spotify atau Soundcloud atau dibeli di iTunes. Saya pertama kali mendengar “Back to You” di sebuah radio internet, tentu dengan kualitas rendah dan koneksi internet yang acakadut. Penjualan mp3 legal dan (tentu saja) pengunduhan mp3 ilegal belum populer saat itu. Sayangnya lagi, lagu “Back to You” tidaklah populer dan hampir tidak pernah diputar di radio-radio di Bandung. Seingat saya, lagu ini pernah saya dengar satu kali di sebuah radio yang biasanya memutar lagu-lagu adult contemporary. Sialnya, saya mendengar lagu itu di mobil, sehingga saya tidak bisa merekamnya ke dalam kaset. Beruntung seorang teman saya menjadi semacam marketer jasa rekam lagu. Jasa ini cukup populer pada akhir tahun 1990an hingga awal 2000an. Umumnya sang penyedia jasa punya daftar lagu yang cukup berlimpah (yang diperoleh dengan cara mengunduh dari internet karena dia punya koneksi internet cepat, yang sangat langka pada waktu itu). Pemesan lagu kemudian memilih sejumlah lagu untuk direkam ke dalam pita kaset atau CD audio. Umumnya jasa ini digunakan untuk membuat mixtape (atau mixdisc) berisi lagu-lagu cinta untuk dihadiahkan kepada pujaan hati. Saya menggunakannya untuk tujuan lain: memiliki lagu “Back to You” sekaligus lagu-lagu lain yang di Indonesia adalah “one hit wonders” (tapi sejujurnya saya lupa lagu apa saja yang saya pesan; kasetnya pun entah di mana). Singel “Back to You” ini kemudian dirilis oleh Chicago Records dalam album live Chicago XXVI (mungkin sebagai lagu bonus, karena lagu ini tidak direkam di panggung), yang sialnya tidak dirilis di Indonesia.

Masih pada tahun 1999, waktu itu saya baru saja naik kelas dua SMA (waktu itu SMU) dan mulai punya keberanian (dan sedikit uang jajan) untuk mampir ke pasar loak Cihapit yang letaknya hanya lima menitan berjalan kaki dari sekolah saya. Tentu di pasar Cihapit inilah saya mulai memperoleh album-album Chicago bekas. Saya ingat benar, kaset Chicago pertama yang saya peroleh di Cihapit adalah Chicago 16. Saya ingat pula Chicago 16 saya dirilis oleh perekam Hins Collection, yang dikenal kerap mempertahankan desain sampul album asli dan urutan lagu, plus beberapa lagu ditambahkan, biasanya dari album sebelumnya dari band yang sama(atau dari album setelahnya bila kasetnya adalah rilisan ulang). Chicago adalah salah satu album Chicago tersukses dan di dalamnya terdapat dua lagu yang sudah saya kenal sebelumnya, “Hard To Say I’m Sorry” dan “Love Me Tomorrow.” Tentunya saya tidak menemukan materi sejenis “Make Me Smile”, “25 or 6 to 4”, atau bahkan “Just You N’ Me.” Saya cukup mafhum Chicago 16 adalah album game changer dari Chicago, dengan gaya musik yang dirombak habis dengan harapan band ini akan kembali sukses di dekade 1980an (album ini dirilis tahun 1982), setelah serangkaian ketidakberuntungan yang menimpa Chicago sejak akhir 1970an, salah satu yang terberat adalah kematian Terry Kath, gitaris sekaligus front man pada konser-konser mereka.

Kaset Chicago saya berikutnya adalah Chicago XIV, album studio Chicago sebelum 16 (album XV adalah kompilasi greatest hits, yang akhirnya saya peroleh dalam bentuk rilisan lokal resmi). Ini adalah album Chicago yang menurut saya biasa-biasa saja, malah kurang mengasyikkan jika dibandingkan dengan 16. Di dalamnya ada lagu “Song for You” yang cukup tenar di Indonesia (tapi sebenarnya kurang tenar di Amerika Serikat, dan termasuk salah satu single Chicago paling jeblok), tapi favorit saya hanya “Upon Arrival” yang melodinya sederhana dan liriknya naratif, tentang mereka yang menunggu kedatangan orang-orang tercinta di bandara. Sisanya bisa dibilang tidak melekat kuat di ingatan saya, kecuali “Where Did the Lovin’ Go” yang kemudian saya temukan muncul dalam kompilasi The Heart of Chicago versi Eropa (bukan Heart of Chicago yang saya sebutkan di atas). Beberapa kaset Chicago saya setelahnya adalah kaset-kaset Chicago baru yang masih tersedia di beberapa kota lain. Bapak saya, yang tahu bahwa saya menggandrungi Chicago, selalu saya pesani kaset Chicago setiap ada dinas atau proyek di kota lain. Salah satu yang paling berkesan adalah kaset Chicago Live at Toronto Rock Festival. Kaset ini sebenarnya berisi rekaman bootleg, alias bukan rekaman resmi, dari penampilan Chicago di Toronto Rock and Roll Revival pada tanggal 13 September 1969. Walaupun bukan album live resmi dan kualitas rekamannya seadanya, saya sangat bahagia bisa mendengar penampilan live Chicago di masa awal mereka, terutama sekali penampilan lagu “25 or 6 to 4” yang waktu itu belum dirilis secara resmi, dengan solo gitar Terry Kath yang menurut saya lebih sinting daripada versi studionya.

Meluasnya penggunaan internet dan populernya format mp3 pada awal tahun 2000an membantu saya menambal banyak lubang dalam pengetahuan saya tentang musik Chicago. Melalui format mp3 (yang ilegal, tentunya), saya bisa mendengarkan album pertama hingga keempat Chicago (yang merupakan album live mereka di Carnegie Hall yang prestisius itu), sambil tetap berupaya mengumpulkan rilis fisiknya, walaupun sampai hari ini saya akui saya belum memiliki rilis fisik album pertama hingga album keempat Chicago, baik dalam format kaset maupun CD (saya tidak mengoleksi LP). Album pertama saya miliki dalam format digital dari HD tracks, sementara album kedua hingga keempat saya dengarkan lewat Spotify. Saya pun kurang yakin apakah keempat album ini pernah dirilis di Indonesia dalam format kaset, mengingat album pertama hingga ketiga adalah double album, sementara album keempat adalah quadruple album. Permasalahan dengan double album adalah ketidakcocokan durasi dengan durasi kaset pada umumnya yang digunakan oleh para perekam kaset di Indonesia, yakni 60 dan 90 menit. Double album Chicago umumnya berdurasi sekitar 67 menit, sehingga tidak mungkin merekam keseluruhan double album ke dalam pita kaset 60 menit tanpa memotong atau menghilangkan satu lagu atau lebih. Pita kaset 90 menit tentu durasinya terlalu panjang dan pada masa itu (1970an) belum terlampau populer. Kaset Chicago tertua yang saya miliki adalah kaset Chicago VI (secara resmi dirilis tahun 1973, mungkin dirilis di Indonesia pada tahun yang sama atau setahun setelahnya), yang aslinya dirilis sebagai album tunggal (durasinya sekitar 44-46 menit). Ketika direkam ke kaset, album ini memenuhi satu setengah sisi kaset. Sisa setengah sisi B diisi oleh perekam dengan beberapa lagu dari band lain. Kaset Chicago VII saya tidak memuat lagu “Prelude to Aire” dengan lengkap karena keterbatasan pita kaset. Durasi album ganda Chicago ini sekitar 63 menit dan ketika dipaksakan untuk muat dalam pita 60 menit (yang sebenarnya bisa merekam 61 menit lebih sedikit), terpaksa ada satu lagu yang harus dikorbankan, menghilang sebelum waktunya.

Membeli CD audio impor pada waktu itu pun bukan solusi yang murah dan bersahabat, karena harganya pada awal tahun 2000an adalah 8-9 kali lipat harga kaset bekas di pasar Cihapit dan 3-4 kali harga kaset baru. Sampai saya lulus kuliah, saya tidak pernah membeli satu pun CD album Chicago dari uang saku saya sendiri. CD Chicago pertama saya adalah Chicago Greatest Hits 1982-1989, yang dibelikan oleh bapak saya. Berikutnya adalah CD Greatest Hits Chicago versi Jepang, yang merangkum kurun waktu 1969-1974, yang kami (saya dan bapak) peroleh di pasar Cihapit. Barulah setelah saya bekerja, saya mulai membeli CD album Chicago, setiap ada (uang) yang tersedia.

Sampai saat ini pun saya masih melengkapi koleksi album Chicago saya, walau tidak seintens dahulu. Sebagai orang Indonesia yang mengoleksi Chicago di Indonesia, saya harus pula memahami bagaimana band ini dipahami dan diinterpretasi oleh industri rekaman (terutama industri rekaman bajakan) di Indonesia pra-1988 (karena setahu saya kaset Chicago pertama yang beredar secara resmi di Indonesia adalah Chicago 19 yang dirilis pada tahun 1988). Apabila ada kesempatan dan ketersediaan dana, saya selalu berusaha mengoleksi dua versi kaset Chicago pra 1988: versi resmi yang beredar (baik kaset impor maupun kaset lokal rilis ulang) dan versi para perekam Indonesia (umumnya perekam album Chicago adalah Aquarius dan Perina (umumnya album Chicago era CBS/Columbia, artinya 1969-1980) dan Hins Collection (album era Reprise/Full Moon/Warner Music, 1982-1986), semata untuk mendengarkan perbedaan kualitas rekaman dan yang paling asyik justru adalah mencermati lagu-lagu apa yang ditambahkan oleh masing-masing perekam untuk memenuhi pita kaset. Aquarius umumnya memberi bonus beberapa lagu dari band yang lebih kurang “sealiran” dengan Chicago. Menariknya, Chicago sendiri jarang sekali bertahan dalam gaya musik yang konsisten dari satu album ke album lainnya. Jadi misalnya ketika Chicago sedang banyak ber-soft rock, misal di album X, bonusnya adalah Peter Frampton yang juga ber-soft rock dan sedang tenar kala album X dirilis. Ketika Chicago sedang asyik berdisko di album 13, pendampingnya juga adalah band disko. Hins Collection umumnya lebih memilih untuk memasukkan lagu-lagu Chicago dari satu atau dua album sebelumnya yang telah lebih dulu populer, misal di album 16 disertakan beberapa lagu dari album XIV dan di album 17 disertakan pula lagu-lagu dari album XIV dan 16.

Mengoleksi Chicago telah pula memberi saya semacam tantangan, kesabaran dan keasyikan tersendiri, mengingat kaset Chicago cukup sulit diperoleh jika dibandingkan dengan kaset Deep Purple, misalnya, yang lebih banyak diburu baik oleh penjual dan kolektor kaset sehingga permintaan dan penawarannya lebih tinggi. Saya akui saya memang seorang kolektor yang sloppy (kalaulah memang saya boleh disebut kolektor), tetapi pengalaman mengoleksi Chicago telah memberikan saya semacam intensitas dan intensi dalam mengoleksi, bukan semata mengoleksi secara sembarang apa yang saya anggap bersejarah dan/atau enak didengar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s