Pertama Kali Nonton SORE zeBand

Tulisan di bawah ini dihasilkan pada bulan Desember 2008:

foto oleh Tyar Ratuannisa, 29 November 2008

SORE memberi saya alasan yang tepat untuk kembali menyambangi panggung-panggung musik yang dipenuhi oleh anak-anak muda (baca: yang usianya lebih muda daripada saya, yang sudah sedikit melewati seperempat abad). Konser musik terakhir yang saya kunjungi adalah konser reuni The Rollies dalam rangka mengenang almarhum Gito Rollies, pada 30 April 2008. The Rollies adalah band yang telah ada dan masih ada sejak tahun 1963 dan tentunya bisa diperkirakan siapa saja yang datang pada konser reuni mereka (sepertinya saya menjadi yang termuda pada waktu itu). Bandung, kota saya, adalah salah satu tempat yang sering disambangi oleh SORE. Akan tetapi, dari sekian banyak kesempatan yang tersedia, saya baru beruntung menonton SORE dua kali. Pada kesempatan pertama di kafe Opulence, saya sedang terlalu disibukkan oleh pekerjaan saya (saya mengajar di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran) sehingga lupa memesan tiket kepada teman saya. Kemudian, saya bermaksud menonton Jakarta Rock Parade untuk tiga tujuan saja: SORE, Efek Rumah Kaca, dan Gipsy yang bereuni (minus almarhum Chrisye, tentu saja). Ketika SORE ternyata mengundurkan diri dari Jakarta Rock Parade, antusiasme saya hilang. Kesempatan berikutnya, 18 Oktober 2008, adalah kesempatan yang seharusnya menjadi lebih baik karena SORE akan bermain untuk sebuah acara gratis di Mal Paris van Java, Bandung. Pada hari itu, nenek saya meninggal dunia dan sepertinya saya tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Barulah pada tanggal 29 November 2008, saya bisa menonton SORE bersama adik-adik saya dalam sebuah acara bernama Symphonesia 2 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Sayangnya, saya agak kecewa pada saat itu karena SORE tampil tidak lengkap. Awan berhalangan dan digantikan oleh Akoy, pemain bas Karon N’ Roll. Ade sedang menderita tifus dan digantikan oleh Dono Firman, sound engineer dan kemudian anggota keenam SORE. Untungnya, ‘Somos Libres’ masih bisa menonjok saya, di tengah kualitas sound yang naik turun. Penyelamat penampilan SORE malam itu adalah lagu terakhir, ‘Funk the Hole’, yang menampilkan Rekti (The S.I.G.I.T.) yang tampil total untuk mengisi posisi Ade. Yang menarik, saya merasa out of place di tengah-tengah penonton yang sebagian besar berusia 18 – 20 tahun, yang jelas-jelas menantikan penampilan band-band lain selain SORE (setelah SORE akan tampil pula Mocca dan Maliq and D’Essentials). I’m too old for the crowd, but never too old for the music. Lagipula para personel SORE rata-rata sudah berkepala tiga walaupun karir band ini terhitung masih bungsu bila dibandingkan dengan Mocca, misalnya. Pendapat ini dinegasikan lagi oleh kenyataan bahwa di kiri-kanan saya terdapat beberapa orang mahasiswa saya, yang tidak bisa melihat konteks ruang dan waktu dan tetap memanggil saya ‘bapak.’  Oh, come on!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s