Bagaimana Saya Menemukan SORE

Ketidakpuasan saya terhadap industri musik mainstream Indonesia sejak tahun 1990-an selalu membawa saya pada beberapa alternatif pelarian. Pertama, saya beralih pada musik mainstream Indonesia pada masa yang lebih cerah dan beragam, yakni era 1960an hingga 1980an. Era ‘pop kreatif’ (meminjam istilah Bens Leo) pada akhir 1970an hingga akhir 1980an selalu menjadi era yang berkesan bagi saya, terutama karena saya ‘kebagian ujungnya’ sebagai seorang anak SD yang dengan suara fals menyanyikan ‘Keraguan’ yang ditulis Erwin Saladin dan dipopulerkan oleh Trie Utami. Untuk alternatif pertama ini saya berterima kasih tak terhingga kepada almarhum ayah saya yang selalu menyediakan album-album musik Indonesia berkualitas yang masih terus saya dengarkan sampai hari ini. Kedua, saya beralih pada genre-genre musik yang memang miskin peminat di Indonesia, seperti jazz, walaupun untuk alternatif kedua ini saya lebih sering beralih mendengarkan musisi-musisi asing. Ketiga, saya mulai mengakrabi jalur independen sebagai jalur yang bisa lebih menyodorkan keberagaman musik dan terbebas dari cengkeraman pasar. Saya merasa sangat bodoh baru bisa mengenal karya awal Pas Band di akhir tahun 1998, tetapi sekaligus juga merasa sangat lega dan gembira karena musik mereka menawarkan wacana baru dalam khazanah pengetahuan musik saya (halah!).

Tahun 2005 adalah suatu masa yang saya sebut sebagai masa jahiliyah bagi telinga saya karena tidak ada satupun band dan penyanyi mainstream yang berkenan mampir di telinga saya (bahkan hingga hari ini pun belum ada, maaf) dan hubungan saya dengan karya-karya independen sedang merenggang. Pada suatu sore yang kusam di akhir tahun 2005 karena saya baru selesai bertengkar dengan pacar saya, saya menyengajakan diri menonton teve (sesuatu yang jarang saya lakukan sejak tahun 2004) dan memilih saluran Global TV yang pada waktu itu sedang menyiarkan MTV 100% Indonesia (ke mana ya program ini sekarang?). Sebuah video musik monokrom dengan filter biru muda kusam menarik perhatian saya. Hibriditas musiknya langsung menyengat saya dan membawa beberapa nama ke dalam benak saya: The Beatles, Beach Boys, Chicago, Blood Sweat and Tears, The Rollies, A. Riyanto, Eros Djarot, dan Jockie Soerjoprajogo. Saya ingat betul bahwa nama band ini sangat singkat dan judul lagunya pun singkat, sayangnya beberapa hari kemudian saya benar-benar lupa. Selama beberapa bulan, saya mencoba mengingat-ingat walaupun tidak berhasil, sambil menunggu siapa tahu Global TV akan kembali menyiarkan video musik tersebut yang saya yakini berasal dari sebuah band independen. Dengan hanya berbekal sedikit petunjuk, seperti nuansa filter biru kusam, solo saksofon yang meliuk-liuk, dan dua kata dari refrain lagu itu (Salahkah diriku…), saya bertanya pada Hidayat Syah, sahabat saya yang menjadi referensi musik independen Indonesia bagi saya. Perlu diketahui, Hidayat inilah yang memperkenalkan saya pada band-band independen Indonesia yang namanya semuanya berawalan ‘the’: The Adams, The Brandals, The Miskins, dan The S.I.G.I.T (yang menurut saya saat itu sangat cerdas, sangat nyeni, dan lirik bahasa Inggrisnya bagus). Hidayat menjawab dengan logat Betawi yang kental (darahnya tulen Batusangkar, Sumatera Barat): “mungkin band yang lu cari itu SORE. Gue juga udah pernah liat videoklipnya sekali, setelah itu kagak pernah lagi. Album penuhnye udeh keluar lumayan lama, tapi gue juga belon dapet, nunggu kiriman dari Jakarte.” Saya jawab: “Mungkin juga, Yat. Gue mau nungguin video itu lagi deh. Kalo lu udah dapet albumnya SORE itu, gue pinjem ye.” Hidayat jawab lagi: “Sip, dah, cuy.”

Alih-alih menemukan video musik yang sama, saya malah memperoleh video klip lain dari SORE, band yang disinggung Hidayat. Lagunya berjudul Somos Libres (waktu itu saya belum tahu artinya) dan setting video musiknya seperti film-film tahun 1940an atau 1950an. Nah, sekarang saya bisa melihat para personel SORE ini. Semuanya nampak padat berisi dan sama sekali tidak ada yang terlihat menarik secara fisik. Okelah, dari penampilan sudah qualified bahwa ini adalah band yang sama sekali bukan ‘nampang doang’, semuanya terlihat seperti pemusik berdedikasi dan yang paling menarik, tentu saja, adalah pemandangan dua pemain gitar dan pemain bas yang bermain kidal. Nah, setelah ‘judging a book by its cover’ saya mencoba menikmati setengah lagu Somos Libres dengan serius. Riff gitar Somos Libres menonjok saya dengan keras. Struktur lagunya, pemilihan suara-suaranya yang vintage, dan penggunaan brass section yang efektif meyakinkan saya bahwa inilah band yang sama dalam video musik biru kusam itu.

Pada pertengahan tahun 2006, saya berhasil meminjam dua buah album, entah dari siapa dan entah dengan cara apa, saya lupa. Yang pertama adalah Original Soundtrack Janji Joni dan yang kedua adalah album pertama SORE, Centralismo. Memang sudah sangat terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Original Soundtrack Janji Joni tiba di tangan saya dalam bentuk kaset tak bersampul sehingga agak susah mengetahui band apa yang sedang saya dengarkan, lagipula potongan-potongan dialog dari film Janji Joni mendistraksi konsentrasi saya (dan saya tidak memperhatikan ‘Funk the Hole’ di situ, sialan!). Centralismo datang dalam bentuk CD dengan kemasan yang utuh dan desain sampul yang menarik pula. Saya hanya punya sedikit kesempatan untuk mendengarkan Centralismo secara utuh karena dua alasan. Pertama, album ini memang tidak bisa langsung dicerna habis dalam sekali mendengarkan. Sebagai pendengar setia jazz dan rock progresif saya amat mafhum akan hal ini. Kedua, saya harus segera mengembalikan album ini kepada pemiliknya. Saya akhirnya menemukan bahwa lagu yang selama ini saya cari berjudul ‘Lihat.’ ‘Somos Libres’ mungkin adalah lagu baru terbaik yang pernah saya dengarkan pada kurun waktu 2005 – 2006. ‘Lirih’ memberikan definisi baru tentang kepedihan bagi saya. ‘Etalase’ membawa saya kepada nostalgia yang hadir di hadapan saya layaknya foto sepia yang dibingkai dengan sangat indah. Banyak momen lain yang cukup sulit dijelaskan ketika mendengarkan Centralismo, tetapi semuanya memperkuat eklektisitas SORE. Saya bisa mendengar jazz di situ, power pop di sini, psikedelia di sana, keroncong di atas, rock di bawah, musik kamar di kiri, dan brass section yang soulful di kanan. Saya pun berkenalan dengan para personel SORE, yang semuanya kebagian bernyanyi di album ini. SORE memecah hegemoni frontman-vocalist yang selama ada pada band-band di Indonesia.

Beberapa lama setelah saya mengembalikan Centralismo dan isinya hampir menguap dari kepala saya karena saya terlalu banyak bernyanyi ‘Halo Beni’, seorang teman (sekarang kampiun SORE) bernama Anna Wahyudi memperdengarkan kepada saya semacam rekaman rumahan berisi lagu-lagu The Beatles yang dibawakan oleh SORE secara akustik. Saya tidak tahu apakah ini hanya serangkaian rekaman pribadi yang bocor atau memang sengaja dipajang di internet, yang jelas saya hanya numpang mendengarkan. Rekaman ini berisi lima lagu The Beatles, direkam secara langsung dalam sebuah sesi informal dan nyeleneh. Gitar pada lagu ‘Norwegian Wood’ terdengar agak fals, yang langsung diakui oleh sahutan Ade Firza Paloh(terdengar seperti suaranya Ade). Yang paling saya ingat dari beberapa lagu ini adalah vokal Awan Garnida Kartadinata, yang bukan hanya mirip Paul McCartney, tetapi juga berada pada range yang sama, terutama pada lagu Blackbird. Bravo Awan! Baru kemudian saya tahu bahwa Awan adalah ‘Paul McCartney’ dalam band G-Pluck, band tribute The Beatles terbaik di Asia Tenggara. Setelah mendengarkan beberapa kali, saya tidak tahu ke mana perginya rekaman ini, toh saya juga akan merasa bersalah apabila saya memilikinya. Adik saya yang pertama, Tyar Ratuannisa, juga sempat ikut mendengarkan rekaman ini. Efek rekaman ini ternyata cukup dalam dan membuat adik saya menjadi penggemar SORE potensial. Sayangnya, setelah beberapa lama, SORE mengendap dalam alam bawah sadar saya untuk waktu yang cukup lama.

Saya menemukan SORE kembali ketika saya membeli dan menonton VCD original Berbagi Suami, yang musiknya digarap oleh personel SORE, Mondo Gascaro dan ‘Bemby’ Gusti Pramudya Dwi Mulya. Ternyata ada musik yang sangat bagus dalam film itu dan saya menemukan kembali ‘No Fruits for Today’, lagu SORE yang sing-along dan mungkin paling diingat. Lagu ini sangat bersalah dalam mengubah citra SORE. Tanpa mengindahkan signifikansi liriknya, banyak yang menyukai lagu ini dan merasa telah mengenal SORE. Saya pernah bertanya kepada seseorang yang mengaku pernah mendengarkan SORE dan yang bisa ia lakukan hanyalah menyanyikan refrain ‘No Fruits for Today.’ Well, you either love or hate this song. I cannot choose. I do both. ‘Pergi Tanpa Pesan’ adalah mutiara sesungguhnya yang hanya bisa ditemukan pada soundtrack Berbagi Suami, balada dengan nuansa era Ismail Marzuki yang kental yang terus terngiang-ngiang sampai sekarang.

Tahun berlalu, 2008 tiba dan Anna Wahyudi kembali berjasa dalam hidup saya. Ia mungkin orang pertama di kampus saya yang memiliki Ports of Lima, album kedua SORE. Sayangnya, saya hanya sempat melihat sampul albumnya saja. Baru beberapa hari kemudian saya mendengarkan ‘Ernestito’ secara berjamaah. ‘Ernestito’ mengingatkan saya pada The Band dan Blood Sweat and Tears dan menjadi cinta pertama saya pada Ports of Lima. ‘Bogor Biru’ memberikan suasana nglangut yang biasanya hanya saya rasakan ketika mendengarkan karya-karya Jockie Soerjoprajogo yang bernuansa senja. ‘Senyum dari Selatan’ adalah trek favorit saya. Melodinya mendayu tapi liriknya menghunjam. Sentuhan vokal Tika yang lirih menambah kepedihan dan struktur lagunya tidak repetitif tapi terus menjalar memuncak hingga akhirnya kembali kepada keheningan dengan suara vibraphone yang lamat-lamat. Dan, perlu diketahui bahwa saya mudah sekali terbius oleh penggunaan suara vibraphone dalam lagu rock atau pop (lagu Rolling Stones favorit saya adalah Under My Thumb). Entah mengapa, ‘Setengah Lima’ mengingatkan saya pada lagu Koes Plus yang sangat psikedelik ‘Hari yang Indah.’ Yang jelas, kedua lagu ini memang mampu membuat saya mati suri. Untuk pemilihan suara, saya sangat suka ‘Layu’, lagu upbeat yang pedih. Alih-alih menggunakan solo gitar pada break-nya, ‘Layu’ menggunakan suara pizzicato string yang dipadukan dengan gitar akustik, menghasilkan suara yang menyerupai beberapa dulcimer yang dimainkan secara unison. Hanya satu kata yang bisa saya ucapkan: masterful! There is never a dull moment in Ports of Lima. Semua lagu sepertinya dikerjakan dengan intensitas yang sama tingginya, bahkan lagu yang paling sepi sekalipun, ‘Apatis Ria.’ Ketika majalah Rolling Stone Indonesia menggelari Ports of Lima sebagai album Indonesia terbaik 2008, saya hanya bisa berkata ‘it is altogether proper and fitting.’

Tanpa saya sadari, adik saya, Tyar, juga menaruh perhatian besar kepada SORE, terutama setelah ia khatam mendengarkan Centralismo. Setelah sekian lama kami menjadi penggemar setia The Beatles, kami kembali menemukan kesamaan selera dalam SORE. Adik saya memperoleh pengalaman musik yang benar-benar berbeda dengan mendengarkan SORE. Karena SORE, optimisme saya terhadap musik Indonesia tumbuh kembali dan saya tahu ke mana harus menoleh: SORE telah menawarkan romantisme yang selama ini hanya bisa saya peroleh dari mendengarkan musik Indonesia pada era-era sebelumnya. Dahaga saya punah. Dua album SORE bagi saya adalah dosis yang lebih dari cukup untuk mati suri dengan perasaan campur aduk. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya nanti setelah SORE mengeluarkan album ketiga, keempat, dan seterusnya. Bersama adik saya, saya terus melengkapi katalog SORE kami dan mendengarkan ‘Funk the Hole’ dengan intensitas penuh akhirnya dapat saya lakukan. Boleh dikatakan bahwa saya baru benar-benar menyerap dan meresapi musik SORE secara menyeluruh pada pertengahan hingga akhir tahun 2008. Sekali lagi, memang sudah sangat terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Maka jadilah kami berdua Kampiun SORE yang belum sempurna: sampai November 2008 kami belum pernah menonton SORE secara langsung!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s