Bee Gees 1st at its 50th

Bee Gees 1st was released fifty years ago yesterday. Contrary to its own title, it was not the Bee Gees’ first long-play or full-length release. It was titled and marketed as such to mark the then-quintet’s (the three brothers and two other unrelated musicians) first foray into the international music market, following their considerable success in the brothers’ adopted homeland Australia with a string of singles and a couple of long-plays.

bee_gees27_1st

As an album released in both the US and the UK in 1967, it was facing stiff creative competition from many great albums also released in the same year (just look at Robert Christgau’s list of influential 1967 albums (https://www.robertchristgau.com/xg/rs/albums1967-07.php); How dare he missed July and not included 1st?), including that little album called Sgt. Pepper and the Lonely Hearts Club Band just released in the preceding month of June. However, the singles persevered and the Bee Gees went on to become pop sensations themselves as the hits kept coming.

1st also marked the Bee Gees’ first taste at international pop stardom, with the singles taken off the album charting highly in many places, including the now-classic “Holiday”, “New York Mining Disaster 1941”, “To Love Somebody”, and “I Can’t See Nobody”. The longevity of these singles and the brothers’ subsequent chart success have somewhat overshadowed the excellence of the rest of the album, which showcases that the brothers were an energetically psychedelic songwriting powerhouse.

1st is certainly not a very unified and conceptual effort compared to the likes of Sgt. Pepper and the Moody Blues’s Days of Future Passed, but it is a journey through the many creative possibilities that the brothers explored throughout the album. The album opens with “Turn of the Century”, a note on the fascination of the late Victorian era accompanied with a clever orchestration and studio production that imparts an old record sound; Robin Gibb’s trembling voice only strengthens this image. The bleak and haunting yet beautiful melody of “Holiday” soon follows. Just after “Holiday” ends with a cold “dee dee dee dee dee”, a loud drum fill suddenly segues into “Red Chair Fade Away” , a short psychedelic trip, with odd time signatures and far out lyrics. “One Minute Woman” is a sappy ballad that shouldn’t have had any place in the album, but somehow it just works thanks to Barry Gibb’s excellent delivery. This is again contrasted with the following “In My Own Time” which hails back to the garage-y sound they explored in Australia combined with a certain strain of Revolver/Rubber Soul Beatlesque influence. Bringing the contrast game even further, the album continues with the eerie “Every Christian Lion-hearted Man Will Show You” which opens with a haunting Mellotron intro and Barry Gibb singing in Latin in a very low register, resembling a Gregorian chant, which is then broken off by guitar strumming and a clever three-part harmony melody. Up to this point, it is evident that the brothers (particularly Barry and Robin) excelled at any kind of form they experimented in, had two magnificent singers in Barry and Robin (whose unique voice is further explored in “Craise Finton Kirk Royal Academy of Arts”, a Kinks-ish tune), and had a strong three-part harmony (with Maurice giving the ample low end to the two singers) which would soon become their trademark characteristic.

“New York Mining Disaster 1941” continues the bleak but beautiful approach of “Holiday”, and adds an interesting narrative quality through its lyrics of a monologue of a person trapped in a mine shaft, inspired by actual mining disasters. At this point, it can also be concluded that Barry and Robin are lyricists who took very interesting, rather unusual points of view in their often narrative lyrics, which was also evident in the following “Cucumber Castle”, a rather puzzling story of a person and his attachment to his property, accompanied by a dramatic orchestration. “To Love Somebody” and “I Can’t See Nobody” prove that the then-current proto-psychedelic wave wasn’t the Bee Gees’ only influence. These were certainly influenced by that decade’s soul music and R&B, particularly Motown; it is interesting to hear that the former song showcases Barry at his most soulful, while the latter portrays Robin in a very similar light. Between these two is “I Close My Eyes” a very catchy and enjoyable psychedelic romp. “Please Read Me” follows the same vein as “Red Chair” but with the vocal harmony sustained throughout the song. The album ends with the excellent “Close Another Door” which starts out with Robin’s lamenting voice which suddenly burst into a rocking middle, and ends tastefully in orchestration and Robin’s majestic ad-libbed cadenza.

1st is a truly swirling journey from start to end. It is an album I would definitely recommend to people starting to get interested in psychedelic music, people who appreciate crafty songwriting and harmony singing, and even casual Bee Gees listeners who want to find out more than the brothers’ usual One Night Only set. It is also an album from 1967 I would definitely recommend among many other great albums released in that very crowded year in popular music in English.

Berburu CD Musik di Lawrence (bagian 1)

Satu hal yang dulu saya impikan untuk dilakukan di Amerika Serikat dan sekarang sering saya lakukan adalah adalah thrift shopping, berburu barang-barang bekas (dan terkadang baru) dengan harga sangat miring di berbagai tempat. Di Lawrence, Kansas tempat saya tinggal, terdapat beberapa thrift stores, toko-toko yang khusus menjual barang-barang sumbangan dengan harga miring, misalnya jaringan nasional seperti Goodwill dan Salvation Army serta pula toko-toko lokal seperti St. John’s Rummage Shop dan Social Service League. Sebagian hasil penjualan barang-barang ini umumnya disumbangkan untuk program-program kemanusiaan seperti pengentasan kemiskinan dan pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Akan tetapi, thrifting tidak hanya berhenti di thrift stores saja. Ada banyak kesempatan untuk berburu barang-barang murah dengan harga sangat miring di tempat-tempat lain, semisal di garage sale yang bisa jadi diadakan oleh perorangan atau komunitas pada akhir pekan. Garage sale jadi semacam kegiatan akhir pekan favorit bagi kami, berkunjung ke garasi tetangga yang menjual sebagian barang yang sudah tidak digunakannya lagi dengan harga sangat murah dan terkadang bisa ditawar.

Bisnis ritel di Amerika Serikat saat ini melesu dan thrifting menjalar ke toko-toko yang akan bangkrut. Toko-toko yang akan tutup ini umumnya melakukan liquidation sale, menjual semua aset dengan harga sangat miring. Salah satu jaringan department store yang sudah bangkrut di Lawrence adalah Hastings, yang sempat saya kunjungi pada bulan Oktober lalu sebelum tutup selamanya pada bulan November. Yang akan tutup berikutnya sepertinya adalah jaringan toko pakaian JC Penney, yang saat ini sedang melakukan liquidation sale.

Saya berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan thrifting ini dengan mengoleksi musik dalam format CD. Mengapa CD? Tentunya karena CD lebih mudah ditemui di Amerika Serikat daripada kaset, yang banyak saya koleksi di Indonesia. Harga CD di thrift stores pun lebih bersahabat, umumnya berkisar hanya dari 50 sen hingga 2 dolar saja per CD, dan di garage sale bisa jadi malah lebih murah, bahkan untuk album yang bisa dibilang langka, setidaknya langka bagi saya yang tidak pernah menemukan album tersebut di Indonesia. Sebagai pendengar musik rock klasik, tujuan utama saya dalam berburu CD adalah album-album yang rock 60an dan 70an yang kerap dianggap klasik, tetapi saya pun terkadang juga membeli album-album yang menurut saya menarik atau punya nilai emosional dan nostalgik.

Saya pertama kali berburu CD di Hastings, toko yang saya sebut di atas, sekitar sebulan sebelum toko itu tutup. Seluruh koleksi CD diobral dengan harga mulai dari 80 sen saja. Berikut ini adalah beberapa CD yang saya peroleh di Hastings, selain juga beberapa DVD, buku komik, dan pakaian.

Blood, Sweat and Tears – Child Is Father to the Man (1968, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142159_HDR

Album ini adalah salah satu album yang telah lama masuk ke dalam daftar album yang paling ingin saya miliki, dan saya menemukannya di Hastings dengan harga hanya sedolar saja! Ini adalah album pertama Blood, Sweat and Tears, band yang didirikan oleh Al Kooper yang awalnya populer karena suara organ yang ikonik di single elektrik pertama Bob Dylan, “Like a Rolling Stone”, padahal Al Kooper sendiri awalnya adalah seorang gitaris. Di Indonesia, Blood, Sweat and Tears dikenal pertama kali lewat lagu “I Love You More Than You’ll Ever Know” yang bluesy, single pertama dari album ini. Akan tetapi, album ini lebih dari sekadar blues dan suara organ Hammond. Ini mungkin adalah salah satu album rock paling eksploratif dengan sentuhan orkestra, blues, jazz, aroma psikedelik yang kental, dan seksi tiup yang integral (sebelum Chicago datang setahun kemudian). Ini adalah album yang unik dan mungkin terbaik dalam sejarah Blood, Sweat and Tears, karena setelah ini Al Kooper memilih mundur dari band yang didirikannya dan Blood, Sweat and Tears memilih jalur yang lebih komersial tetapi tidak pernah seinovatif ini.

King Crimson – In the Court of the Crimson King: An Observation by King Crimson 40th Anniversary Edition (1969, versi rilis CD 2009)

IMG_20170607_142133_HDR

Ia teriak karena disimpan di atas sprei polkadot.

IMG_20170607_142359_HDR

CD 2 dengan foto masing-masing personel di sebelah kanan

IMG_20170607_142430_HDR

CD 1 dengan lanjutan lukisan sampul depan di sebelah kiri

Ketika saya melihat album ini di rak Hastings, saya hampir berteriak, seperti lukisan Barry Godber yang menjadi sampul album ini. In the Court of the Crimson King edisi khusus 40 tahun, 2 CD, baru hanya seharga $1.78 pula! Ini adalah album yang cukup sulit didapat di Indonesia, yang ketika tersedia pun umumnya harganya cukup mahal. Bagi para pendengar rock progresif, ini adalah salah satu album pelopor dalam eksplorasi progresif. Ini adalah album yang tetap segar dan menua dengan sangat baik; putar “21st Century Schizoid Man” dan sulit untuk tidak mengira bahwa Tool, Porcupine Tree, dan Mars Volta terpengaruh oleh band ini. Hasil remix stereo Steven Wilson (ya, Steven Wilson dari Porcupine Tree) di edisi ini membuat album ini terdengar lebih segar dan detil. Bagi yang menginginkan pengalaman yang lebih dekat dengan versi tahun 1969, CD 2 berisi edisi master orisinil yang pernah dirilis sebelumnya pada tahun 2004.

Kula Shaker – K (1996, edisi CD pertama)

IMG_20170607_142103_HDR

K adalah album yang saya dengar dalam berbagai fase hidup saya sejak saya masih SMP (walaupun pada waktu itu saya masih belum bisa menikmati album ini sepenuhnya) lewat kaset pinjaman dari seorang teman sekelas, tetapi ini juga album yang tidak pernah saya punya dalam format apapun sampai saat ini. Ini adalah album yang masih saya nikmati sampai sekarang, terutama sejak saya membeli CD ini bulan Oktober lalu. Secara musikal, ini adalah rock Inggris (atau Britpop, terserah deh) psikedelik yang sangat bagus dan secara personal, ini adalah album yang penuh nostalgia.

New Kids on the Block – Step by Step (1990, versi rilis CD 2000)

IMG_20170607_142229_HDR

“I really think it’s just a matter of tiiiiimeee… Step by step, ooh baby, you’re always on my mind.”

Akhir tahun 1990 bagi saya adalah serial animasi New Kids on the Block di TPI pada Minggu pagi dan video klip “Step by Step” dan “Tonight” di malam hari. Di antara dua tayangan tersebut, saya biasa menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman yang kerap berbaju gombrong ala Danny Wood atau Jordan Knight atau bertopi hitam seperti Donnie Wahlberg. Album pertama yang orang tua saya belikan khusus untuk saya adalah album Step by Step dalam format kaset. Walaupun kegemaran saya akan NKOTB tidak berlanjut hingga saya remaja, Step by Step menurut saya masih salah satu album pop terbaik pada masanya dan album boyband terbaik dari segi musik. Ketika saya menemukan album ini dalam format CD di Hastings, tentunya tidak ada pilihan lain selain membelinya (lagipula harganya hanya sedolar)!

Sampai jumpa di artikel berburu CD musik berikutnya dengan CD-CD yang saya temukan di thrift stores!

 

 

 

Senandung Damba Smaradhana

Selamat Hari Musik Nasional (walaupun agak terlambat)!

Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional 2017, saya mengunggah sebuah lagu berjudul “Senandung Damba Smaradhana.” Sila dengarkan lagu ini dengan meng-klik tombol play pada kotak Soundcloud di bawah ini:

Bagi saya (sebagai pemain musik dan pencipta lagu paruh waktu), tidak ada cara yang lebih pantas untuk merayakan Hari Musik Nasional selain dengan menghormati para tokoh musik yang memengaruhi saya dalam menggubah musik. “Senandung Damba Smaradhana” adalah lagu yang saya tulis sebagai upaya penghormatan tersebut.

Sejak saya mulai bisa mengapresiasi musik bertahun-tahun lalu, saya selalu ingin bisa menulis lagu pop seperti yang dihasilkan dan ditampilkan oleh triumvirat Guruh Soekarno Putra – Chrisye – Yockie Suryoprayogo. Tentu triumvirat paling berbahaya dalam sejarah musik Indonesia menurut saya, Eros Djarot – Chrisye – Yockie Suryoprayogo, telah juga memengaruhi saya dan membentuk selera musik saya, tetapi juga ada senyawa kimiawi yang kuat antara Guruh – Chrisye – Yockie. Komposisi Guruh sangat khas; melodi dan irama lagu-lagunya selalu dipengaruhi musik Bali tetapi dengan cara yang halus dan tidak intrusif (tentunya pasca-Guruh Gipsy). Lirik-lirik lagunya pun khas, walaupun cukup sulit diakses karena ia banyak dipengaruhi kosa kata Sansekerta dan bahasa Bali. Ia adalah prototipe Katon Bagaskara di departemen penulisan lirik.

Sejak menyanyikan “Chopin Larung” di album Guruh Gipsy, Chrisye adalah penafsir mumpuni karya-karya Guruh dan kemungkinan besar adalah penyanyi yang paling sering menyanyikan lagu-lagu Guruh. Di setiap era karir Chrisye, kita selalu menemukan satu karya Guruh Soekarno Putra yang menjadi lagu klasik, dari “Kala Sang Surya Tenggelam” di tahun 1970an, “Sendiri” di tahun 1980an, hingga “Kala Cinta Menggoda” di tahun 1990an. Yockie Suryoprayogo sebagai penata musik dan produser Chrisye di masa awal karirnya (1977-1983), menurut saya juga adalah seorang penafsir Guruh yang mumpuni. Karya Guruh yang pertama ia tafsir untuk album solo pertama Chrisye, Sabda Alam, adalah sebuah pertaruhan. Mereka yang familiar dengan Guruh Gipsy akan mafhum bahwa Yockie merombak ulang secara musikal lagu “Smaradhana”, lagu balada pop penutup album Guruh Gipsy, dan menjadikannya lagu hustle upbeat yang lincah, dengan penekanan pada piano. Karena album Sabda Alam lebih sukses secara komersial dan lebih mudah diakses (karena cukup sering dirilis ulang dalam berbagai format), bagi banyak pendengar Chrisye (termasuk saya), “Smaradhana” versi Sabda Alam adalah perkenalan pertama mereka dengan triumvirat Guruh-Chrisye-Yockie.

Menurut saya, “Smaradhana” adalah lagu jatuh cinta yang sempurna. Irama hustle-nya seolah perlambang lonjakan-lonjakan dalam dada. Progresi kordnya rumit tetapi presentasi lagunya terdengar sederhana dan tidak terdengar pretensius, tetapi juga terdengar progresif di saat yang sama. Fokus suara lagu pada denting piano (dengan sentuhan clavinet/harpsichord pada rif pembuka) dan bel (atau segitiga logam) yang dilatari suara gitar lamat-lamat dengan chorus yang jernih, menyediakan kebeningan seperti seorang yang memandang kekasihnya secara langsung. Lirik lagunya seolah tidak meminta untuk dimengerti (kecuali jika anda ingin dan punya waktu untuk membuka kamus dan buku mitologi Hindu Bali), hanya kata asmara dan cinta yang terdengar jelas, seolah menunjukkan betapa njelimetnya mendeskripsikan pengalaman jatuh cinta; ia sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan ketika ia diungkapkan, kata-kata terumitlah yang terlintas.

Dalam kekaguman kepada lagu inilah saya menulis “Senandung Damba Smaradhana.” Saat itu tahun 2005, saya baru saja lulus kuliah dan sedang pula jatuh cinta. Saya ingin menulis lagu cinta, tetapi pengetahuan saya tentang menulis lagu pop sungguh kopong. Selama beberapa tahun ketika kuliah, karena pertemanan dan pergaulan saya lebih banyak terlibat dalam musik yang lebih eksperimental. Pada awalnya, “Senandung Damba Smaradhana” adalah sebuah puisi tanpa nada dan irama yang saya tulis setelah membolak-balik buklet lirik lagu album Sabda Alam, sehingga pengaruh terbesar saya dalam menulis lirik lagu ini adalah Guruh Soekarno Putra dan Junaedi Salat. Saya banyak meminjam kata-kata dalam bahasa Sansekerta dan juga meminjam beberapa karakter dari mitologi Hindu.

Saya mendengarkan lagu “Smaradhana” berulang-ulang dan bahkan kemudian menguliknya sebisa saya, dengan perbendaharaan kord yang terbatas. Ketidaktepatan pengulikan lagu inilah yang kemudian justru menjadi dasar progresi kord untuk lagu “Senandung Damba Smaradhana.” Karena saya tidak bisa menyanyi, maka untuk penampilan lagu ini saya meminta bantuan dari Unoy (Chusnul Chotimah, sekarang vokalis unit reggae solid dari Malang, Tropical Forest) untuk menyanyikannya pada acara syukuran kelulusan saya suatu hari di bulan Oktober 2005. Itulah penampilan pertama dan terakhir dari lagu pop pertama saya (yang saya sangka pun akan jadi lagu pop terakhir saya), setidaknya dalam kurun waktu enam tahun.

Setelah bermusik listrik selama beberapa tahun, saya bosan dan ingin kembali menulis lagu pop. Saya kemudian menulis beberapa lagu, dan kemudian mengajak Dhea untuk menyanyikannya dan juga Rayhan untuk merekamnya dan sekaligus membantu saya dengan aransemen, terutama aransemen vokal. Pada saat itulah, saya berpikir untuk merekam “Senandung Damba Smaradhana”, kali ini dengan suara Dhea, sentuhan synthesizer dan aransemen vokal oleh Rayhan. Proses perekaman vokal lagu ini cukup sulit, terutama karena “liukan” progresi kord di awal lagu membentuk melodi dasar yang kurang lazim untuk musik pop kini, menurut Rayhan. Versi yang saya unggah hari ini direkam pada sesi ketiga rekaman DYA, yang merupakan versi campur aduk dari backing track Oktober 2011, synthesizer dan vokal Desember 2011, dan gitar bulan September 2012. Saat ini saya tengah mengerjakan versi yang kemungkinan besar menjadi versi terakhir dari lagu ini dan bersiap melepaskan keintiman saya dengan “Senandung Damba Smaradhana” yang telah berlangsung hampir 12 tahun. Selamat menikmati!

 

 

Coffee in Lawrence part One: The Shops

One of my greatest concerns when I have to move in to a new place is access to good coffee. I am no all-rounder when it comes to coffee (meaning I can’t just enjoy any coffee) and I’m not a snob either. When I moved to the US, specifically in Lawrence, Kansas, I suspected the prevalence of Starbucks in the area (not a fan; I’m always a Dunkin’ guy), yet I believed that I would come across a number of independent, locally-owned (not to mention hippie-ish) coffee shops since Lawrence is a college town full of vibrant hipster atmosphere (perhaps).

Where to go

Well, my suspicion wasn’t wrong when I first came here in Lawrence. Starbucks are easy to find whenever Dillon’s grocery stores are, since in Lawrence they’re allied. If Starbucks is your thing and you crave for a cold venti of frappucino while in Lawrence, just head to one of the Dillon’s stores closest to you. Of, if you’d rather have your coffee while sitting down, you can visit the Starbucks at downtown Lawrence on the historic Massachusetts Street. I can never say much about Starbucks’s coffee; I always consider most of their non-sweetened offerings watery and their sweetened ones saccharine. If you think their cold brew is good, most other coffee shops in Lawrence blow it out of the water. Now, let’s move on to the places that blow Starbucks out of the water.

Dunkin’ Donuts

img_20160810_060852_hdr

My standard Dunkin’ Donut fare. This is an Americano with cream because my stomach was not feeling well at that time.

img_20160731_112620_hdr

My last Indonesian Dunkin’ fix

When I was in Indonesia, I was always a Dunkin’ guy. Why? Their hot coffee (essentially an Americano) tastes great, although it may not be consistent from one store to another. Here in Lawrence, there are only two Dunkin’ stores; one is on the West 6th Street and Michigan, the other is on the West 23rd and Louisiana. Even though the West 6th Dunkin’ is much closer to where I live (about three blocks away), I always prefer the West 23rd Dunkin’ for several reasons. The first is better coffee; the brew at West 23rd Dunkin’ seems to be stronger, darker and thicker which is evident when you order either an espresso or an Americano. The second is more professional service and barrista-ship (is this even a word?). Do try Dunkin’s cold brew. I always prefer it over their iced coffee.

The Roasterie Air-Roasted Coffee (https://www.theroasterie.com/)

img_20160829_114812_hdr

The Roasterie’s paper shot cup. It can hold up up to two shots of espresso.

The Roasterie is the official coffee partner of the University of Kansas (KU). It originates from neighboring Kansas City. You can find it almost everywhere on campus, at the Memorial Union building, the many foodcourts and the libraries. Their beans are locally sourced and they employ KU students, meaning that they provide much-needed on campus employment. Their coffee I sometimes find hit-and-miss. If you have to go for The Roasterie, settle for their dark roast Americano/drip coffee or their espresso if you prefer something stronger and briefer (I usually go for the double espresso). Their regular and decaf options are too light for my taste. For a KU student, paying for their regular roast and decaf is also considered unnecessary, except if you want some of their more unconventional offerings, such as the Bavarian or cinnamon coffee. Since The Roasterie is the official coffee provider for KU events, you can always get the regular and decaf for free at almost any university events that serve free refreshments.

Java Break (http://thejavabreak.com/home/)

img_20161125_135643_hdr

Java Break was the first coffee shop I visited in Lawrence and I can’t say much about it. It has a great place downtown, at the basement of a historic building, very spacious and hippie-ish. The barrista is nice, albeit grumpy-looking and sleepless because the place is open 24 hours. I haven’t tried many of their coffee drinks, but their regular coffee is even weaker, in my opinion, than The Roasterie’s regular. Their Java Break specialty (with some interesting spices) tastes nice, but it is a bit watery. However, if you happen to be downtown late at night and in need of some not-so-serious coffee and a place to hang out without resorting to one of the bars, Java Break may be the place for you.

UPDATE: I went to Java Break yesterday to study with some friends and I had a cup of Lawrence Slammer (pictured with a KU Jayhawks cap) for the first time. It was good! It’s a shot espresso diluted with the Java Break regular coffee, and it’s a great idea! It’s even better with a dash of turbinado (raw cane sugar) and a pinch of cinnamon powder!

La Prima Tazza (http://laprimatazza.com/)

La Prima Tazza is located just across the street from the downtown Starbucks and is easily the better of the two. It is housed in a historic building with a great vintage atmosphere that somewhat manages to not be too hipsterrific, which perhaps explains why it attracts people from different age groups instead of only the hippie youngsters. There are many house blends to choose from, but if the drip coffee is not your thing, the espresso is strong and rich. Making it a macchiato is even better. If you feel a little adventurous, you can try one of the coffee specialties. I have only tried the Indonesian specialty, a drink that I never actually found in Indonesia. It’s a strong and flavorful drink, a mixture of two shots of espresso and spiced milk. Give it a try!

Alchemy (http://www.alchemyks.com/)

img_20160813_134742_hdr

The best cold brew I’ve had so far

Alchemy is a locally owned coffee and bake shop. It is a quieter place altogether because it is located a little inside, about ten blocks away from the downtown coffee places listed here. I came to Alchemy for the hyped cold brew and it delivers! It is perhaps the best, the richest cold brew I have had so far, bar none. I forgot to ask about the beans and the method used, because I was there when it was about to close. Alchemy also makes the best blueberry pie I have ever had! My biggest gripe with Alchemy is the rather unfortunate operating hours, opening too early (at 7 am) and closing too soon (at 6 pm) which prevents me from having a refreshing glass of cold brew after classes. Still, I’ll be back and have more awesome coffee drinks to go with the blueberry pie!

I will continue to explore Lawrence and its surrounding areas for more coffee. So, I will keep this page updated! See you!

 

 

 

Obituary 1: Suangsih (193? – August 22, 2016)

Kami biasa memanggilnya Wa Acih atau Bi Acih atau terkadang Wa Aceu. Ia adalah kakak lain ibu dari ibu kandungku. Walaupun berbeda ibu, hubungan wa Acih dan ibu kandungku sangat dekat dan wa Acih sangat menyayangi adik-adiknya. Sejak menikah, wa Acih memutuskan untuk tinggal bersama suaminya di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Setidaknya dua minggu sekali, wa Acih selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kota Bandung menengok keluarga adik-adiknya.

Sejak dulu sampai terakhir bertemu beberapa bulan lalu, wa Acih adalah salah satu anggota keluarga terlucu dalam keluarga besar kami. Kemampuan dan staminanya dalam membanyol, terutama dalam Bahasa Sunda, sulit ditandingi oleh anggota-anggota keluarga lain. Inilah yang membuat wa Acih sering dirindukan, terutama ketika beberapa tahun terakhir wa Acih didera diabetes dan tidak bisa lagi terlampau lincah bepergian ke kota Bandung.

Kabar kepergian wa Acih saya peroleh dari sepupu saya lewat grup WhatsApp keluarga sepulang kuliah hari pertama di semester pertama saya di University of Kansas, Amerika Serikat. Sungguh malam itu adalah malam yang hampa, tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa seorang diri selepas sholat Isya yang terlampau malam. Tidak ada kesempatan untuk berkunjung, mengantar ke pembaringan terakhir, dan berdoa bersama sambil berbela sungkawa dan menghibur anggota-anggota keluarga yang ditinggalkan.

Saya sempat banyak melamun di hari berikutnya dan sedikit kurang focus belajar di hari kedua kuliah. Akan tetapi, keesokan harinya saya teringat salah satu banyolan terlucu Wa Acih, yang sulit untuk diceritakan kembali di sini karena alih kode yang sulit dijelaskan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sunda. Saya pun tertawa-tawa sendiri sepulangnya ke apartemen dan bisa mengenang Wa Acih pada saat terlucunya. Dalam ketiadaan pun ia tetap lucu, dan saya yakin Wa Acih akan tertawa-tawa bahagia sesampainya nun di sana. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

It is unfortunate that I should begin my updates on my first month in Lawrence with the sad news of the passing of my aunt. We usually called her Wa Acih or Bi Acih (lit. Aunty Acih) or less commonly, Wa Aceu. She was my mother’s half-sister from my grandfather’s previous marriage. Despite coming from a different mother, she loved her half-sisters very dearly. Since getting married in the early 1970s, Wa Acih decided to live in Majalaya, a suburban district of Bandung regency. At least once a month, Wa Acih went to Bandung city to visit the families of her sisters.

At least until several months ago, when I met her for the last time, she was one of the funniest family members in our extended family. Her ability and stamina to create jokes, especially in Sundanese, is hard to be matched by other relatives. This is what my relatives missed the most about Wa Acih, especially since in the past couple of years, she could not visit Bandung city at will due to diabetes.

The news of Wa Acih’s passing was relayed by a cousin through the family WhatsApp group, in the evening of the first day of class in my first semester at the University of Kansas. The night suddenly turned hollow, nothing else to do except for praying alone after the Isya prayer late at night. There was no opportunity to visit the internment and pray together in a congregation while expressing condolences and consoling the surviving family members.

I spent the following day pensively and even became less focused on the second day of class. The next day, however, I suddenly remembered one of Wa Acih’s funniest jokes, which is difficult to tell here because it involves code switching from Indonesian to Sundanese. I laughed all by myself once I got to my apartment and I was glad I could remember Wa Acih at her funniest. Even in her absence, she remains funny, and I am sure she will laugh happily once she gets up there. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Sebulan di Lawrence – First Month in Lawrence

Sebulan lalu (sudah lewat satu hari sebenarnya), saya berangkat dari Tanjungsari, Sumedang menuju Lawrence, Kansas, Amerika Serikat. Saya akan tinggal cukup lama di Lawrence, karena saya terdaftar sebagai mahasiswa purna waktu di program doktoral Sastra Inggris, Department of English, University of Kansas, yang artinya saya akan tinggal selama 4-5 tahun hingga program saya selesai. Hidup di sebuah kota kecil di tengah Amerika Serikat tentu berbeda dengan hidup di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Indonesia, dan tentu terasa semakin berbeda karena sebulan ini saya hidup sendirian, jauh dari keluarga (istri dan anak saya akan menyusul nanti), sahabat-sahabat, serta kolega-kolega. Akan tetapi, saya berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, kawan-kawan baru dan cara belajar baru. Karena saya tidak harus bekerja di sela-sela kelas, (sepertinya) saya pun akan punya waktu untuk menulis dan mengunggah sesuatu di blog saya yang sudah cukup berdebu karena lama ditinggalkan. Selamat membaca!

IMG_20160803_073718

Sorry for the eyesore! In front of the Kansas Union, a hub for students of KU and Lawrence community.

A month ago (a month and one day, to be exact), I left Tanjungsari, Sumedang, Indonesia for Lawrence, Kansas, United States of America. I am going to stay for quite a while in Lawrence, since I have been enrolled as a full-time student in the PhD in English Literature program, Department of English at the University of Kansas. This means that I am going to live in Lawrence for the duration of my program, which usually takes 4-5 years. Living in a small city in the middle of the US is certainly different from living in a small city in West Java, Indonesia and it is even more different since currently I have been living alone, far from my family (my wife and son will catch up soon), friends and colleagues. However, I am adjusting to living and studying here, while making new friends along the way. Since I don’t have to work in between classes (except for homework, that is), I can allocate time to write something and get this blog up and running after gathering dust for several months. Enjoy reading!

Chicago: the Band

Sulit untuk mengungkapkan apa genre musik favorit saya dan tentu sulit juga mengungkapkan apa band favorit saya. Secara umum, sejak saya rutin mendengarkan dan mengoleksi musik, saya menyukai musisi-musisi atau grup-grup musik yang tidak stagnan, terus menerus bereksperimen dan tidak takut mengambil langkah ekstrim untuk mencapai kesuksesan, ideal ataupun komersial. Ketika saya ingin membicarakan band yang seperti ini, saya sebenarnya ingin membicarakan Chicago, bukan King Crimson. Tunggu dulu, kata mereka yang merasa mengenal musik Chicago, bukankah Chicago adalah sekumpulan bapak-bapak yang menulis dan memainkan banyak lagu balada percintaan orang dewasa (dewasa maksudnya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu). Setelah membaca kalimat sebelum ini, Anda mungkin akan langsung terpikir lagu “Hard To Say I’m Sorry”, “You’re the Inspiration”, “If You Leave Me Now” (yang mengawali segala balada-baladaan sukses ini), “Song for You” atau, ini yang paling buruk, “You Come to My Senses.”

Tentu saja saya menulis ini dalam rangka masuknya Chicago ke dalam jajaran band dan musisi Rock and Roll Hall of Fame. Ini penghargaan yang pantas, mengingat Chicago telah melalui perjalanan yang panjang dan pelbagai eksperimen dalam musik sejak tahun 1967 (tidak pernah resmi bubar), walaupun tentu saja mungkin masih ada yang sulit menerima kenyataan bahwa band yang sukses dengan lagu seperti “Hard To Say I’m Sorry” berbagi kehormatan ini dengan band-band yang lebih “cadas”: yang satu dengan “Surrender” dan yang lain dengan “Smoke on the Water.”

Apakah Chicago pernah cadas? Jawabannya tentu pernah, walau jauh sebelum masa mereka sukses membuat lagu percintaan bapak-bapak dan juga dalam definisi yang berbeda dengan cadasnya power pop/pub rock-nya Cheap Trick dan hard rock-nya Deep Purple, dua band yang juga masuk Rock and Roll Hall of Fame tahun ini. Robert Lamm, pendiri, pemain kibor dan salah satu vokalis Chicago, bahkan lebih kurang berkata bahwa mungkin kehormatan untuk Chicago ini terbatas pada masa delapan album pertama Chicago, artinya masa pra-“If You Leave Me Now”, walaupun saya tidak keberatan jika penghargaan ini dimaksudkan untuk menghargai seluruh perjalanan Chicago selama hampir 49 tahun, seperti halnya saya tidak keberatan apabila apapun yang dirilis oleh Cheap Trick dan Deep Purple pada akhir 80an hingga awal 90an diperhitungkan sebagai sumbangsih mereka terhadap dunia rock and roll. Pun saya tidak keberatan apabila Chicago tidak masuk ke dalam jajaran Rock and Roll Hall of Fame, sama halnya dengan saya tidak peduli King Crimson akan pernah masuk ke dalam jajaran itu atau tidak.

Akan tetapi, penghargaan Rock and Roll Hall of Fame ini setidaknya penting untuk sesaat bagi saya, karena ia kembali menyadarkan saya mengapa saya mulai mencintai band ini dan pula membangkitkan kembali kecintaan saya kepada band ini, yang sedikit terkikis karena saya akhir-akhir ini lebih sering “mantengin” formasi King Crimson baru dan yang tidak terlalu baru (karena Bill Rieflin, salah satu dari tiga penabuh dram, belum lama ini cabut untuk istirahat) menginterpretasi ulang karya-karya lama mereka.

chisingles

Sampul album kompilasi Chicago khayalan saya, yang menghimpun semua single Chicago semasa mereka masih dikontrak oleh Columbia Records (1969-1980)

Mengoleksi Chicago

Saya mengenal Chicago pertama kali pada akhir dekade 80an, tentu saja, melalui lagu-lagu sukses mereka di kaset-kaset kompilasi yang sengaja dirilis untuk mereka yang suka lagu-lagu pelan dan juga untuk mereka yang gampang terlenakan oleh lagu-lagu cinta, dengan judul-judul seperti Hits in Our Hearts (ada “If You Leave Me Now” di sini), Slow Chart Hits (“Hard To Say I’m Sorry”), Slow 1-3 (“Song for You”) dan …This One’s for You (“Love Me Tomorrow”). Mengingat kembali perkenalan-perkenalan tersebut, menurut saya itulah perkenalan pertama yang buruk, saya rasa, karena saya menganggap Chicago adalah band spesialis balada. Perkenalan yang buruk ini diperburuk dengan pemutaran lagu “You Come to My Senses” beberapa kali di radio selama 1991-1992. Akan tetapi sampai saya beranjak remaja, saya selalu menganggap bahwa “If You Leave Me Now” dan “Hard To Say I’m Sorry” adalah lagu-lagu cinta yang elegan, walaupun mungkin terkesan terlalu dewasa liriknya untuk remaja tanggung seperti saya. Alhasil, dua lagu Chicago inilah yang paling sering saya putar ketimbang lagu-lagu Chicago lain.

Semuanya berubah ketika bapak saya membeli kaset Heart of Chicago pada tahun 1997. Kaset ini memuat lagu-lagu terbaik Chicago sejak tahun 1967. Waktu itu saya baru saja naik kelas tiga SMP dan saya selalu menganggap kaset ini adalah hadiah naik kelas terbaik bagi saya, walaupun kasetnya sendiri tidak pernah diserahkan kepada saya sebagai hadiah. Dari kaset inilah saya pertama kali tahu bahwa Chicago sudah dibentuk sejak tahun 1967 dan sudah rekaman sejak tahun 1969, seperti yang tercantum dalam kredit untuk beberapa lagu. Dua lagu pertama, “You’re the Inspiration” dan “If You Leave Me Now” tentu sudah terlalu familiar bagi telinga saya. Lagu ketigalah, “Make Me Smile” yang dirilis tahun 1970, yang memberitahu saya bahwa Chicago semula adalah band dengan ciri musikal yang berbeda, bahkan hanya enam tahun sebelum “If You Leave Me Now.”  “Make Me Smile” membuat saya menyejajarkan Chicago dengan band-band rock beralat musik tiup yang sudah pernah mampir ke telinga saya walaupun hanya beberapa lagu, seperti Blood, Sweat and Tears dan Tower of Power.

Lagu “Does Anybody Really Know What Time It Is?” dan “Saturday in the Park” membuat saya lebih kepincut karena tiga hal: sensitivitas pop Chicago yang lebih tinggi ketimbang dua band yang saya sebut (dan Robert Lamm adalah penulis melodi pop yang sangat apik), gebukan dram Danny Seraphine yang lebih bertenaga dan ramai (walau Bobby Colomby dan Joseph Garibaldi mungkin secara teknis lebih baik), dan yang paling penting adalah integrasi alat musik tiup dalam musik mereka. Tentu Tower of Power dan Blood, Sweat and Tears juga dikenal karena seksi alat musik tiup mereka, tetapi bagi saya kehadiran seksi tiup di dua band ini adalah konsekuensi karena Tower of Power memainkan funk dan soul yang kerap membutuhkan liukan melodi alat musik tiup sementara Blood, Sweat and Tears lebih terpengaruh swing big band dan bebop yang tak bisa hidup tanpa alat musik tiup. Chicago adalah kasus yang sedikit berbeda. Tentu kita akan menemukan pelbagai pengaruh jazz, funk dan soul dalam musik Chicago, tetapi musik mereka yang lebih eklektik (dan juga lebih ngepop sekaligus lebih terdengar rock n’ roll) justru sengaja mencipta ruang untuk diisi oleh alat musik tiup, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penyuplai melodi utama dan bagian integral, sesuatu yang selalu dipikirkan oleh para penulis lagu Chicago ketika sebuah lagu sedang dalam proses penciptaan. Bolehlah saya berargumen bahwa The Beatles hanya membuat satu lagu bagus dengan seksi tiup yang terintegrasi, “Got To Get You into My Life,” sementara Chicago terus menerus melakukannya, setidaknya sampai akhir dekade 1970an.

Selama setahun sampai Heart of Chicago II dirilis, saya berburu album-album Chicago. Saya ingat justru album Chicago yang pertama saya dapat adalah album studio terakhir mereka sebelum Heart of Chicago, yakni Night and Day. Untuk pertama kalinya di dalam sampul album itu saya melihat foto para personil Chicago, maklum waktu itu internet belum memasyarakat dan di sekitar rumah saya belum ada warnet. Sayangnya, beberapa nama yang tercantum di sampul kaset Heart of Chicago sudah tidak lagi bersama Chicago, antara lain Peter Cetera, yang sudah saya kenal bahkan sebelum mengenal personil Chicago lain, Danny Seraphine, yang gebukan dramnya memesona saya, dan Terry Kath, gitaris dan penyanyi lagu “Make Me Smile” yang menyadarkan saya bahwa Chicago bukanlah sekadar suara Peter Cetera (yang menyanyikan hampir semua lagu Chicago yang saya sebutkan di paragraf pertama, kecuali “You Come to My Senses”).  Album Chicago kedua saya adalah Twenty 1, yang masih tersedia di toko kaset bersama Night and Day. Formasi yang merekam album ini lebih kurang sama dengan formasi Night and Day, plus gitaris DaWayne Bailey, yang penampilannya mengingatkan saya pada si kembar Nelson yang juga terkenal di awal 90an. Saya lebih menikmati album ini daripada Night and Day, justru karena album ini lebih terdengar seperti musik Chicago lama: lagu pop dengan melodi yang kuat plus seksi tiup yang integral, berbeda dengan Night and Day yang berisi cover version lagu-lagu big band dari dekade 1930an hingga 1950an, yang tentu saja tidak hidup tanpa kehadiran seksi musik tiup. Sayangnya, di album Twenty 1 ini pulalah terdapat lagu “You Come to My Senses”, mungkin lagu balada Chicago yang paling membosankan. Untungnya lagu ini ada di sisi A, trek ketiga, dan setelah lagu ini, sisa materinya lebih berterima untuk kuping saya, terutama lagu “God Save the Queen” (yang bukan lagunya Sex Pistols).

Pada paruh kedua 1998, Heart of Chicago II dirilis. Saya sendiri lebih menyukai materi volume dua ini karena lebih banyak lagu dari masa awal Chicago yang memperkuat pengetahuan saya bahwa Chicago adalah band yang cukup “mengerikan,” misal lagu “I’m A Man” dari tahun 1969 yang sepertinya adalah jam track dari Chicago dengan solo dram dari Danny Seraphine dan “25 or 6 to 4” yang sangat menonjok, dengan dram trek dobel yang riuh dan solo panjang gitar wah-wah dari Terry Kath yang cukup mengoyak telinga dan emosi (untuk versi yang lebih mengoyak, silakan cek penampilan lagu ini di YouTube saat Chicago menyambangi Tanglewood, California pada tahun 1970. Terima kasih kembali). Plus, album kompilasi kedua ini juga berisi lagu-lagu pop/power ballad menyenangkan dari paruh pertama 70an, seperti “Feelin’ Stronger Every Day”, “I’ve Been Searching So Long”, dan “Call on Me”, yang menunjukkan bahwa Chicago dipenuhi penulis lagu pop mumpuni. Sayangnya, krisis ekonomi masih berimbas pada produksi kaset di Indonesia yang pada waktu itu mulai lesu. Kualitas produksi sampul dan pita kaset Heart of Chicago II tidak sebaik Heart of Chicago, dan hanya kurang dari setahun pita kaset Heart of Chicago II saya pun sudah tidak prima lagi untuk didengar.

Kehadiran warung internet pertama di dekat tempat tinggal saya pada awal tahun 1999 juga banyak membantu saya menyelami informasi tentang Chicago. Saya ingat, hal pertama yang saya lakukan setelah berhasil mengakses laman situs band Chicago adalah membaca sejarah band ini beserta para personelnya di masa lalu dan saat ini. Lewat laman sejarah ini pula saya mendapati bahwa Terry Kath telah tiada pada tahun 1978 karena kecelakaan dengan senjata api (sungguh akhir yang tragis). Beberapa gitaris datang dan pergi menggantikan Terry (salah satunya adalah DaWayne Bailey yang penampilannya Nelson banget), sampai akhirnya pada 1995 Chicago merekrut Keith Howland sebagai gitaris tetap hingga saat ini (yang pula mencatat rekor sebagai gitaris Chicago paling awet). Hal kedua yang saya lakukan adalah menyimpan laman diskografi Chicago berisi seluruh rilisan Chicago hingga saat itu (dalam format complete HTML, agar seluruh gambar desain sampulnya dapat terbuka) dan menyalinnya ke dalam disket (ya, floppy disk 3.5 inci, 1.44 MB), yang memakan waktu cukup lama mengingat kecepatan akses internet saat itu. Saya menggunakan laman diskografi ini sebagai panduan mengoleksi album-album Chicago, terutama tentu saja yang dirilis sebelum tahun 1991.

Pada tahun yang sama pada bulan September, Chicago baru saja merilis singel “Back to You.” Tentu saja memperoleh singel ini tidak semudah memperoleh sebuah singel hari ini, yang sudah bisa di-stream di Spotify atau Soundcloud atau dibeli di iTunes. Saya pertama kali mendengar “Back to You” di sebuah radio internet, tentu dengan kualitas rendah dan koneksi internet yang acakadut. Penjualan mp3 legal dan (tentu saja) pengunduhan mp3 ilegal belum populer saat itu. Sayangnya lagi, lagu “Back to You” tidaklah populer dan hampir tidak pernah diputar di radio-radio di Bandung. Seingat saya, lagu ini pernah saya dengar satu kali di sebuah radio yang biasanya memutar lagu-lagu adult contemporary. Sialnya, saya mendengar lagu itu di mobil, sehingga saya tidak bisa merekamnya ke dalam kaset. Beruntung seorang teman saya menjadi semacam marketer jasa rekam lagu. Jasa ini cukup populer pada akhir tahun 1990an hingga awal 2000an. Umumnya sang penyedia jasa punya daftar lagu yang cukup berlimpah (yang diperoleh dengan cara mengunduh dari internet karena dia punya koneksi internet cepat, yang sangat langka pada waktu itu). Pemesan lagu kemudian memilih sejumlah lagu untuk direkam ke dalam pita kaset atau CD audio. Umumnya jasa ini digunakan untuk membuat mixtape (atau mixdisc) berisi lagu-lagu cinta untuk dihadiahkan kepada pujaan hati. Saya menggunakannya untuk tujuan lain: memiliki lagu “Back to You” sekaligus lagu-lagu lain yang di Indonesia adalah “one hit wonders” (tapi sejujurnya saya lupa lagu apa saja yang saya pesan; kasetnya pun entah di mana). Singel “Back to You” ini kemudian dirilis oleh Chicago Records dalam album live Chicago XXVI (mungkin sebagai lagu bonus, karena lagu ini tidak direkam di panggung), yang sialnya tidak dirilis di Indonesia.

Masih pada tahun 1999, waktu itu saya baru saja naik kelas dua SMA (waktu itu SMU) dan mulai punya keberanian (dan sedikit uang jajan) untuk mampir ke pasar loak Cihapit yang letaknya hanya lima menitan berjalan kaki dari sekolah saya. Tentu di pasar Cihapit inilah saya mulai memperoleh album-album Chicago bekas. Saya ingat benar, kaset Chicago pertama yang saya peroleh di Cihapit adalah Chicago 16. Saya ingat pula Chicago 16 saya dirilis oleh perekam Hins Collection, yang dikenal kerap mempertahankan desain sampul album asli dan urutan lagu, plus beberapa lagu ditambahkan, biasanya dari album sebelumnya dari band yang sama(atau dari album setelahnya bila kasetnya adalah rilisan ulang). Chicago adalah salah satu album Chicago tersukses dan di dalamnya terdapat dua lagu yang sudah saya kenal sebelumnya, “Hard To Say I’m Sorry” dan “Love Me Tomorrow.” Tentunya saya tidak menemukan materi sejenis “Make Me Smile”, “25 or 6 to 4”, atau bahkan “Just You N’ Me.” Saya cukup mafhum Chicago 16 adalah album game changer dari Chicago, dengan gaya musik yang dirombak habis dengan harapan band ini akan kembali sukses di dekade 1980an (album ini dirilis tahun 1982), setelah serangkaian ketidakberuntungan yang menimpa Chicago sejak akhir 1970an, salah satu yang terberat adalah kematian Terry Kath, gitaris sekaligus front man pada konser-konser mereka.

Kaset Chicago saya berikutnya adalah Chicago XIV, album studio Chicago sebelum 16 (album XV adalah kompilasi greatest hits, yang akhirnya saya peroleh dalam bentuk rilisan lokal resmi). Ini adalah album Chicago yang menurut saya biasa-biasa saja, malah kurang mengasyikkan jika dibandingkan dengan 16. Di dalamnya ada lagu “Song for You” yang cukup tenar di Indonesia (tapi sebenarnya kurang tenar di Amerika Serikat, dan termasuk salah satu single Chicago paling jeblok), tapi favorit saya hanya “Upon Arrival” yang melodinya sederhana dan liriknya naratif, tentang mereka yang menunggu kedatangan orang-orang tercinta di bandara. Sisanya bisa dibilang tidak melekat kuat di ingatan saya, kecuali “Where Did the Lovin’ Go” yang kemudian saya temukan muncul dalam kompilasi The Heart of Chicago versi Eropa (bukan Heart of Chicago yang saya sebutkan di atas). Beberapa kaset Chicago saya setelahnya adalah kaset-kaset Chicago baru yang masih tersedia di beberapa kota lain. Bapak saya, yang tahu bahwa saya menggandrungi Chicago, selalu saya pesani kaset Chicago setiap ada dinas atau proyek di kota lain. Salah satu yang paling berkesan adalah kaset Chicago Live at Toronto Rock Festival. Kaset ini sebenarnya berisi rekaman bootleg, alias bukan rekaman resmi, dari penampilan Chicago di Toronto Rock and Roll Revival pada tanggal 13 September 1969. Walaupun bukan album live resmi dan kualitas rekamannya seadanya, saya sangat bahagia bisa mendengar penampilan live Chicago di masa awal mereka, terutama sekali penampilan lagu “25 or 6 to 4” yang waktu itu belum dirilis secara resmi, dengan solo gitar Terry Kath yang menurut saya lebih sinting daripada versi studionya.

Meluasnya penggunaan internet dan populernya format mp3 pada awal tahun 2000an membantu saya menambal banyak lubang dalam pengetahuan saya tentang musik Chicago. Melalui format mp3 (yang ilegal, tentunya), saya bisa mendengarkan album pertama hingga keempat Chicago (yang merupakan album live mereka di Carnegie Hall yang prestisius itu), sambil tetap berupaya mengumpulkan rilis fisiknya, walaupun sampai hari ini saya akui saya belum memiliki rilis fisik album pertama hingga album keempat Chicago, baik dalam format kaset maupun CD (saya tidak mengoleksi LP). Album pertama saya miliki dalam format digital dari HD tracks, sementara album kedua hingga keempat saya dengarkan lewat Spotify. Saya pun kurang yakin apakah keempat album ini pernah dirilis di Indonesia dalam format kaset, mengingat album pertama hingga ketiga adalah double album, sementara album keempat adalah quadruple album. Permasalahan dengan double album adalah ketidakcocokan durasi dengan durasi kaset pada umumnya yang digunakan oleh para perekam kaset di Indonesia, yakni 60 dan 90 menit. Double album Chicago umumnya berdurasi sekitar 67 menit, sehingga tidak mungkin merekam keseluruhan double album ke dalam pita kaset 60 menit tanpa memotong atau menghilangkan satu lagu atau lebih. Pita kaset 90 menit tentu durasinya terlalu panjang dan pada masa itu (1970an) belum terlampau populer. Kaset Chicago tertua yang saya miliki adalah kaset Chicago VI (secara resmi dirilis tahun 1973, mungkin dirilis di Indonesia pada tahun yang sama atau setahun setelahnya), yang aslinya dirilis sebagai album tunggal (durasinya sekitar 44-46 menit). Ketika direkam ke kaset, album ini memenuhi satu setengah sisi kaset. Sisa setengah sisi B diisi oleh perekam dengan beberapa lagu dari band lain. Kaset Chicago VII saya tidak memuat lagu “Prelude to Aire” dengan lengkap karena keterbatasan pita kaset. Durasi album ganda Chicago ini sekitar 63 menit dan ketika dipaksakan untuk muat dalam pita 60 menit (yang sebenarnya bisa merekam 61 menit lebih sedikit), terpaksa ada satu lagu yang harus dikorbankan, menghilang sebelum waktunya.

Membeli CD audio impor pada waktu itu pun bukan solusi yang murah dan bersahabat, karena harganya pada awal tahun 2000an adalah 8-9 kali lipat harga kaset bekas di pasar Cihapit dan 3-4 kali harga kaset baru. Sampai saya lulus kuliah, saya tidak pernah membeli satu pun CD album Chicago dari uang saku saya sendiri. CD Chicago pertama saya adalah Chicago Greatest Hits 1982-1989, yang dibelikan oleh bapak saya. Berikutnya adalah CD Greatest Hits Chicago versi Jepang, yang merangkum kurun waktu 1969-1974, yang kami (saya dan bapak) peroleh di pasar Cihapit. Barulah setelah saya bekerja, saya mulai membeli CD album Chicago, setiap ada (uang) yang tersedia.

Sampai saat ini pun saya masih melengkapi koleksi album Chicago saya, walau tidak seintens dahulu. Sebagai orang Indonesia yang mengoleksi Chicago di Indonesia, saya harus pula memahami bagaimana band ini dipahami dan diinterpretasi oleh industri rekaman (terutama industri rekaman bajakan) di Indonesia pra-1988 (karena setahu saya kaset Chicago pertama yang beredar secara resmi di Indonesia adalah Chicago 19 yang dirilis pada tahun 1988). Apabila ada kesempatan dan ketersediaan dana, saya selalu berusaha mengoleksi dua versi kaset Chicago pra 1988: versi resmi yang beredar (baik kaset impor maupun kaset lokal rilis ulang) dan versi para perekam Indonesia (umumnya perekam album Chicago adalah Aquarius dan Perina (umumnya album Chicago era CBS/Columbia, artinya 1969-1980) dan Hins Collection (album era Reprise/Full Moon/Warner Music, 1982-1986), semata untuk mendengarkan perbedaan kualitas rekaman dan yang paling asyik justru adalah mencermati lagu-lagu apa yang ditambahkan oleh masing-masing perekam untuk memenuhi pita kaset. Aquarius umumnya memberi bonus beberapa lagu dari band yang lebih kurang “sealiran” dengan Chicago. Menariknya, Chicago sendiri jarang sekali bertahan dalam gaya musik yang konsisten dari satu album ke album lainnya. Jadi misalnya ketika Chicago sedang banyak ber-soft rock, misal di album X, bonusnya adalah Peter Frampton yang juga ber-soft rock dan sedang tenar kala album X dirilis. Ketika Chicago sedang asyik berdisko di album 13, pendampingnya juga adalah band disko. Hins Collection umumnya lebih memilih untuk memasukkan lagu-lagu Chicago dari satu atau dua album sebelumnya yang telah lebih dulu populer, misal di album 16 disertakan beberapa lagu dari album XIV dan di album 17 disertakan pula lagu-lagu dari album XIV dan 16.

Mengoleksi Chicago telah pula memberi saya semacam tantangan, kesabaran dan keasyikan tersendiri, mengingat kaset Chicago cukup sulit diperoleh jika dibandingkan dengan kaset Deep Purple, misalnya, yang lebih banyak diburu baik oleh penjual dan kolektor kaset sehingga permintaan dan penawarannya lebih tinggi. Saya akui saya memang seorang kolektor yang sloppy (kalaulah memang saya boleh disebut kolektor), tetapi pengalaman mengoleksi Chicago telah memberikan saya semacam intensitas dan intensi dalam mengoleksi, bukan semata mengoleksi secara sembarang apa yang saya anggap bersejarah dan/atau enak didengar.

Yockie Suryoprayogo – Selamat Jalan Kekasih (c. 1984)

IMG_20150712_103231

Jika saya ditanya siapa idola segala idola saya di blantika musik tanah air, saya akan dengan mantap menjawab Yockie Suryoprayogo. Akan tetapi, selama belasan tahun menggemari Yockie, saya belum pernah berjodoh dengan satu pun kaset album solo Yockie kecuali Jurang Pemisah (yang kadar ke-solo-annya berkurang karena dewasa ini Musica merilis ulang Jurang Pemisah di dalam katalognya Chrisye). Saya mengetahui kiprah solo Yockie, di luar kolaborasinya dengan Chrisye, God Bless, Kantata, Swami, dan beberapa penyanyi yang diproduserinya, melalui berkas-berkas mp3 yang direkam dari kaset oleh para pengunggah di jagat Multiply (sekarang sudah almarhum). Akhirnya kemarin, saya memperoleh kaset ini: album Selamat Jalan Kekasih.

Kaset-kaset Yockie memang sulit didapat, terutama sekali karena ia tidak sekomersil mantan kolaboratornya Chrisye, yang album-albumnya terus menerus dirilis ulang (bahkan sekarang masih tersedia dalam format CD). Sepertinya bagi Yockie masing-masing albumnya adalah kesempatan untuk bereksperimen dan menunjukkan arah musik pribadinya yang tidak tersentuh oleh kompromi dengan label dan musisi-musisi lain (walaupun album-albumnya kemungkinan adalah hasil negosiasi dengan label tempat ia bernaung sebagai produser, pencipta lagu, dan pengarah musik). Dengan demikian, album-album Yockie (pasca Musik Saya Adalah Saya) seolah menjadi produk sampingan kesuksesannya menggarap musik untuk, antara lain, Chrisye, Vina Panduwinata, dan Dian Pramana Poetra.

Album ini saya duga dikerjakan dan dirilis dalam waktu hampir bersamaan dengan album Chrisye yang berjudul Sendiri (akhir 1984). Maklum, sudah langka tidak ada angka tahunnya pula. Mendengarkan kedua album ini beriringan, saya jadi membayangkan berakhirnya era kolaborasi Eros Djarot-Chrisye-Yockie Suryoprayogo (ECY) yang sukses secara musikal dan komersil selama tiga album (ketiganya dianggap sebagai album Chrisye), yang menurut Yockie sendiri adalah perpisahan yang sangat pedih (pernah ia tuturkan sendiri di akun Multiply miliknya). Yockie dan Chrisye berpisah, sementara Eros masih berusaha untuk menjalin kerjasama dengan keduanya secara terpisah. Album Sendiri sebagian besar adalah kolaborasi Eros dan Chrisye tanpa Yockie, sementara album Selamat Jalan Kekasih adalah kolaborasi Eros dan Yockie tanpa Chrisye. Kedua album ini pun bahkan didukung Uce Hudioro pada drums dan Addie MS untuk urusan orkestrasi.

Berbeda dengan album Yockie sebelumnya, Punk Eksklusif, yang merupakan eksplorasi lebih liar dari ragam reggae dan ska yang sebelumya nongol di album Resesi dan Metropolitan-nya ECY, album ini lebih kalem. Yockie lebih sering masuk ranah adult contemporary pop di album ini dan garapan musiknya lebih menunjukkan fusion pop jazz/cool jazz/jack jazz rabbit apapun itu lah, tapi yang jelas ini album galau tetapi dewasa, atau menunjukkan kegalauan yang dewasa (halah). Kegalauan ini terasa sejak lagu pertama, Selamat Jalan Kekasih, yang umumnya kita kenal sebagai salah satu lagu wajibnya Chrisye yang kerap diputar di teve ketika mengantarkan almarhum ke alam kekal. Di album ini, Selamat Jalan Kekasih tentu tampil berbeda. Suara Yockie (yang tentu tidak semerdu suara Chrisye) justru terdengar lebih sedih, ditambah dengan synth yang bermain di oktaf yang sangat rendah dan string yang juga bermain di wilayah yang sama turut menambah kemuraman lagu ini. Sepertinya bukan tanpa alasan Yockie memilih lagu yang ditulisnya bersama Eros ini. Ia seperti mengucapkan selamat jalan untuk sahabatnya yang terkasih yang tengah mengejar cita-cita komersial dan melihat dirinya sendiri menatap masa depan dengan arah musik yang baru.

Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu ‘tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan

Does It Really Happen to You? To Me? To Chris Squire?

Prawacana

Di bawah ini adalah tulisan saya (yang bisa jadi akan sangat panjang) tentang album band Yes berjudul Drama, lagu-lagu kesukaan saya di album itu, dan semacam obituari untuk Chris Squire yang baru saja meninggalkan kita semua.

Sampul album Drama karya Roger Dean, salah satu sampul album favorit saya, terutama karena ada macan kumbangnya.

SATU

Saya pertama kali berkenalan dengan cabang musik yang acap disebut rock progresif (bapak saya dan teman-temannya menyebutnya art rock; ada juga sempalan lain yang menyebutnya musik nuansamatik, istilah yang enggan saya pakai karena terdengar lebih mirip sepeda motor daripada musik) pada pertengahan 90an melalui sebuah kaset non-lisensi lokal milik bapak saya (untuk tidak menyebut bajakan) keluaran Yess dengan judul album Yessongs oleh band Yes. Ketika saya berkenalan dengan internet beberapa tahun kemudian, barulah saya sadar bahwa sampul album ini tidak bersesuaian dengan isinya. Jadi selama ini saya sudah mengenali lagu-lagu yang saya dengar dengan judul yang salah! Ya ampun! Barulah saya sadar bahwa album yang saya dengarkan judulnya sangat bersahaja: The Yes Album yang merupakan album ketiga Yes (jadi dua album sebelumnya mungkin tidak dianggap album; entahlah). Pun pada waktu itu saya belum sadar bahwa Yes ini adalah band yang sama yang lagunya “Owner of a Lonely Heart” ada di salah satu kaset kompilasi New Hits of ’83 yang ada di rak yang sama.

Dari hasil mengacak-acak koleksi kaset bapak saya dan lapak-lapak kaset di pasar loak Cihapit, saya berhasil menemukan beberapa album Yes keluaran Yess, yang melibatkan empat formasi Yes yang di dalamnya ada orang-orang ini: Jon Anderson, Chris Squire, Steve Howe, Tony Kaye, Bill Bruford, Rick Wakeman, Alan White, dan Patrick Moraz (silakan susun sendiri formasi-formasinya dan terka album Yes apa saja yang saya miliki pada waktu itu). Kala itu, Yes adalah band pertama yang saya telusuri di internet dan patokan koleksi kaset saya adalah laman frequently asked question tentang Yes di alt.music.yes (sekarang sudah tidak ada dan diarsipkan di http://www.bondegezou.co.uk/amy_faq.htm) dan Yeshoo, mesin pencari berbasis Yahoo! khusus untuk segala hal yang berkaitan dengan Yes (mesin pencari ini juga sudah almarhum). Saya pun aktif mengikuti forum Yes resmi dan sempat mengeluh tentang album Fragile saya (keluaran Yess) yang tidak punya lagu We Have Heaven (reprise), dan akhirnya saya sadar memiliki album bootleg atau non-lisensi bisa jadi sangat membanggakan dan sekaligus memalukan. Sebagai pengagum suara surgawi Jon Anderson, saya pun turut mengoleksi beberapa album solo Jon, serta juga beberapa album Rick Wakeman, serta mengunduh beberapa lagu dalam format mp3 dengan bitrate rendah karena hanya itu yang mungkin dilakukan dengan koneksi internet yang disediakan oleh Centr*n atau Kosong Delapan Kosong Sembilan Delapan Sembilan Empat Kali. Pencapaian terbesar saya dalam kegemaran saya akan Yes saat itu adalah berhasil meracuni bekas teman sebangku (bekas sebangku, bukan bekas teman) saya sewaktu SMP dengan musik Yes.

Pola koleksi Yes saya yang berkisar pada era klasik Yes (1971-1976) mengalami perubahan signifikan ketika di penghujung 90an saya membeli (lagi-lagi di pasar Cihapit) Yes Greatest Hits keluaran King’s Records (yang kemudian dikenal sebagai label perilis kompilasi tembang kenangan) yang bersampul album Tormato yang pada waktu itu belum saya punya. Saya membeli Greatest Hits itu terutama karena banyak lagu yang berasal dari album-album Yes di akhir 70an dan awal 80an yang pada waktu itu sulit dicari (atau mungkin saya yang kurang getol mencari). Saya pun berkenalan dengan “Going for the One” (dari album Going for the One), “Madrigal” (dari Tormato), dan yang paling penting “Does It Really Happen” dari album Drama. “Does It Really Happen” adalah lagu terakhir di muka dua dalam kompilasi Greatest Hits itu, dan saya selalu senang bukan main dan puas sepuas-puasnya ketika menutup pemutaran kaset Greatest Hits itu dengan “Does It Really Happen.” Dari “Does It Really Happen” pula saya menelusuri bahwa Jon Anderson dan Rick Wakeman sempat keluar dari Yes setelah album Tormato dirilis. Duet The Buggles, Trevor Horn dan Geoff Downes, kemudian menggantikan mereka berdua, lalu kemudian jadilah album Yes pertama (kala itu masih album Yes satu-satunya) tanpa suara Jon Anderson. Saya pun kala itu baru tahu juga bahwa “Video Killed the Radio Star” adalah hit pertama The Buggles dan videonya adalah video musik pertama yang ditayangkan MTV (sebagai remaja akhir 90an saya selalu menyangka “Video Killed the Radio Star” adalah lagu band alternatip The President of the United States of America).

Perjalanan dari “Video Killed the Radio Star” The Buggles ke “Does It Really Happen” Yes adalah seperti perjalanan dari bumi ke orbit, musykil tapi logis. Di situ saya menemukan perpaduan dua generasi, dua era yang berkelindan dengan mesra. Saya menemukan bahwa Trevor Horn dan Geoff Downes adalah dua musisi dan pencipta musik jempolan, bukan semata “one hit wonder” dan bukan hanya sesumbar bahwa mereka adalah penggemar Yes sejati. Trevor Horn tentu saja bukan Jon Anderson yang suaranya gemerincing lonceng kahyangan. Geoff Downes juga bukan keyboard wizard yang permainannya cerewet seperti Rick Wakeman. Kendati demikian, kepribadian cair yang mereka suntikkan ke dalam Yes telah membawa perubahan dalam musik Yes, yang nantinya akan mempengaruhi arah musik band ini selama dekade 1980an.

Akan tetapi, hal terpenting yang saya sadari dari mendengarkan “Does It Really Happen” berulang-ulang adalah bahwa Yes bisa berjalan tanpa Jon Anderson, tetapi tidak tanpa Chris Squire. Musik Yes pada “Does It Really Happen” dikendalikan dan sekaligus dimediasi oleh permainan gitar bas Chris Squire. Betul, Chris memang agak pamer di lagu ini; riff utama lagu ini adalah riff gitar bas sederhana tiga not (bisa disebut dua not, karena not yang terakhir hanya berbeda oktaf dengan not kedua) yang mengalir dominan sepanjang lagu tanpa terdengar monoton, lalu dilanjutkan dengan refrain yang basisnya adalah melodi gitar bas, dan ditutup dengan solo gitar bas yang menurut saya keren (maklum waktu itu saya masih jarang mendengar solo gitar bas). Ini bukan berarti Chris Squire hanya mengendalikan lagu “Does It Really Happen” saja, tetapi ternyata ia sudah memainkan peran yang serupa selama ia bergabung dengan Yes. Hanya saja selama saya mendengarkan Yes, saya selalu teralihkan oleh suara Jon Anderson, glissando-nya Rick Wakeman, atau kelebatan (bisa kelebat-an dan juga ke-lebat-an) jari-jari Steve Howe di atas fret. Saya pun kembali mendengarkan The Yes Album, album Yes pertama yang saya dengarkan secara utuh, dan mencari Chris Squire di situ. Ternyata ia ada di situ selama ini, menjadi kemudi sekaligus jangkar setiap lagu, suara metalik tebal dengan selimut tipis distorsi yang membentengi setiap komposisi. Ia melakukan itu di setiap album Yes yang saya tahu! Saya pun kemudian meminjam album solo Chris Squire, Fish Out of Water, dari paman saya, dan ternyata Chris Squire melakukan hal yang serupa, bahkan lebih, di album solo pertamanya itu.

Hal lain yang saya sadari dari Fish Out of Water adalah bahwa Chris Squire adalah penyanyi dengan suara yang khas. Saking khasnya ia bernyanyi di lapis kedua, saya berani bilang bahwa Yes paling terdengar seperti Yes ketika Chris Squire ikut bernyanyi harmoni. Siapapun vokalisnya, seksi vokal Yes adalah seksi vokal Yes ketika suara Chris Squire masuk (para pemuja Jon Anderson, silakan benci saya sekarang). Tidak percaya? Silakan simak “Machine Messiah” dari Drama atau “Fly from Here” dari Fly from Here (dengan vokalis Benoit David). Akhirnya, saya harus berterima kasih sangat kepada Chris Squire karena ia bukan hanya mengubah cara saya menikmati musik Yes, tetapi juga mengubah cara saya menikmati musik secara keseluruhan; saya jadi menyadari pentingnya peran pemain gitar bas dalam suatu band, terutama band rock, dan membuat saya memiliki banyak idola baru: John Paul Jones, Geddy Lee, Gary Thain, John Wetton, Greg Lake, dan Tony Levin. Saya pun semakin sadar bahwa harmoni dalam aransemen vokal suatu band rock bukanlah semata pemanis, tetapi justru kerap menjadi bagian integral dari identitas sonik suatu band: bukan hanya pada Chris Squire dengan Jon Anderson, Trevor Horn, Benoit David, atau Jon Davison, tetapi juga pada Tony atau Yok Koeswoyo dengan Yon Koeswoyo sampai Rudy Schenker dengan Klaus Meine.

DUA

Pada awal tahun 2000an, selera musik saya bergeser seiring pergeseran status saya menjadi seorang pelajar universitas. Selepas mengalami kesulitan berpura-pura menjadi anak band, saya lebih mendalami pilihan saya untuk menjadi penggubah musik elektronik dan eksperimental. Lewat rekomendasi buku-buku dan teman-teman, saya kemudian lebih sering mengakrabi Brian Eno, Kraftwerk, Can, King Crimson era Discipline, Talking Heads, ditambah sedikit Joy Division dan Spandau Ballet (!). Saya masih mendengarkan Yes, tetapi cukup jarang  mendengarkan album-album “klasik” mereka. Playlist Yes saya isinya hampir selalu shuffle album Drama, 90125, dan 9012Live, ditambah beberapa lagu dari Going for the One dan Tormato. Ya, 90125 bukan album yang buruk. Saya serius.

(Bagian kedua masih akan disambung)

 

 

What I Did with a Guitar When I Was Young

When I was young and my heart was an open book… Okay, that was not it. I never was and never am a guitar player. I picked up guitar back in 2000 and, until today, I never managed to get past basic chords and scales. However, in 2003 and 2004, I had a very strong drive to create some guitar-driven music, which was mainly fueled by the surrounding experimental and noise music scene at that time, which circled around toying with a guitar or guitars, unusual instruments and electronic embellishments. Since I had almost no budget to afford a guitar, I borrowed two guitars on two separate occasions. The first one was borrowed from Dody (Hermayadi Ardisoma), my neighbor and senior at the university, some time in 2003. It was a generic-looking black Samick guitar, whose sound I have taken to like. The second was borrowed from a friend of mine (name classified) during KKN (field work) in 2004. It was a Japan-made ivory Fender Telecaster that had been sitting in his cupboard for almost a year. It was a bit rusty and dirty, but useable.

The recording process was amateurish at best: guitar directly plugged into computer soundcard without external DAC/pre-amp or interface. This accounts for some noise that was later reduced during editing and mixing process. Takes were recorded using SoundForge (back then it was SonicFoundry’s, not yet Sony’s), and synthesizer and drum tracks were created on Fruity Loops (now FL Studio). These were all finally mixed and mastered, if you can call them mixing and mastering, on SoundForge. So, voila, here are six tracks from a person who could not actually play guitar. The seventh track is a bonus track featuring my friend, Andy Dwi (a real guitarist) on guitar with me on piano and drum programming. Pardon the lack of melody and virtuosity. Consider you’ve been warned.

Fanfare for the Self
Sandya Maulana: synthesizer, guitar, drum programming

The Room Re-revisited (including the Madcaps) (2009 remix)
Sandya Maulana: guitar, ballpoint caps, synthesizer

After All
Sandya Maulana: guitars, synthesizer, drum programming

Dinosaurs in D
Sandya Maulana: guitar, vocals, treatment, drum programming
Contains performances of excerpts from “I Know What I Like” by Genesis and samples of “Closer to the Heart” by Rush

Is It?
Sandya Maulana: Synthesizer, TS808, guitar, drum programming

The Room Revisited (including the Schedule)
Sandya Maulana: guitar, treatment, computer keyboard

Self-Indulgent Blues
Sandya Maulana: piano, synthesizer, drum programming
Andy Dwi: guitar